Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Melamar Rose


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Gabriel mengunci pintu kamar Rose dengan cepat dan berjalan panik ke arah kekasihnya, Rose langsung menyingkap selimut dengan kasar.


"Apa kakak gila hah! Hamil, bagaimana bisa Rose hamil sedangkan kita tidak pernah melakukan hubungan badan." Cecar Rose marah.


"Maaf." Cicit Briel dengan wajah memelas.


Rose membuang nafasnya kasar, dirinya bahkan memijit pelipisnya pelan. Bahagia tentu saja, dirinya bahagia dapat menikah dengan kekasihnya namun alasannya hamil bagaimana jika ayah dan keluarga besar Kristoff kecewa dengan mereka.


Briel berjalan memeluk tubuh Rose dari belakang, tangan kokohnya melingkar di pinggang ramoing Rose.


"Maafkan aku, hanya itu alasan yang terbesit di pikiranku." Ucap Briel pelan dengan dagunya bertumpu di pundak Rose.


"Bagaimana jika mereka tahu Kak, pasti mereka akan kecewa dengan kita terutama aku." Jawab Rose dengan wajah murung dan mata berkaca-kaca.


Briel mengangkat kepalanya dan memutar tubuh Rose hingga merek berhadapan, jemari Briel mengelus pelan wajah Rose yang sendu itu.


"Tenang saja sayang, aku yang akan bertanggung jawab. Setelah kita menikah kota bisa mencetak cucu untuk Ayah Nugroho dan cicit untuk Kakek Kristoff 24/7." Jawab Briel.


Rose memukul pundak Briel dengan kesal, padahal Rose sudah terharu dengan awal kata kekasihnya namun berujung mesum.


"Aw! Tidak apa-apa, kamu boleh memukuliku sayang. Setelah itu kamu akan aku hukum." Ucap Briel dengan meremat gemas kedua pipi Rose.


Cup!


Briel mengecup bibir Rose yang karena perbuatannya menjadi bibir Rose mengerucut lucu.


Cup!


Cup!


Rose mendorong tubuh kekasihnya, bagaimana bisa di saat genting seperti ini kekasihnya tidak mencari jalan keluar.


Gabriel tertawa renyah karena melihat wajah kekasihnya yang kesal menjadi semakin imut di kedua matanya.


"Menyebalkan." Cebik Rose yang menghentakkan kakinya dan berjalan menuju sofa.

__ADS_1


Briel mengikuti langkah Rose seperti anak itik mengikuti induknya.


"Jangan marah sayang, sebentar lagi kita akan menikah." Ucap Gabriel lembut.


"Tapi Kakak belum melamarku! Seharusnya Kakak melamarku romantis begitu, menyematkan cincin yang cantik di jari manisku ini. Tapi, apa ini tiba-tiba di nikahkan karena alasan hamil." Oceh Rose dengan sebal.


"Tunggu dulu." Briel langsung berlari dan melihat satu oersatu pigura foto yang terpajang di kamar kekasihnya.


Rose melihat dengan wajah cemberut, terlihat Gabriel mengambil satu figura dengan memunggungi Rose.


Briel berjalan dengan cepat dan langsung menekuk satu kakinya di bawah Rose. Rose langsung menegakkan duduknya dengan menatap Briel heran.


"Sayang, sebenarnya sudah lama aku ingin melamarmu. Bahkan sejak dirimu sakit dan dipisahkan oleh Ayah Nugroho, mungkin aku bukan pria romantis seperti aktor korea kegemaranmu seperti bias yang membuat rahimmu hangat hanya karena melihatnya. Rose Zia Amanda maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku?" Gabriel berkata panjang lebar dengan penuh harap.


Rose ingin tertawa namun juga terharu secara bersamaan, bagaimana bisa kekasihnya berkata seperti itu saat melamarnya.


"Ya, aku menerimamu." Jawab Rose dengan tersenyum.


"Terima kasih, cup cup cup cup." Briel terlalu bahagia dan langsung mengecuo seluruh wakah kekasihnya dengan gemas.


Gabriel mengeluarhan sebuah logam berwarna silver, ya itu adalah logam dari gantungan foto yang di ambil oleh Gabriel karena berbentuk lingkaran sedangkan ujung runcingnya di beri bunga plastik kecil hiasan yang berada di meja rias Rose.


"Aku ingin yang mahal sebagai gantinya, sayang." Ucap Rose dengan terkekeh geli.


"Tentu saja, aku akan bekerja keras untuk membeli pertambangan berlian." Jawab Gabriel.


Rose tersipu malu, bagaimana bisa pria yang terkenal kaku menjadi ahli gombal seperti ini. Membuat Rose melayang karena ucapan Gabriek, dirinya merasa menjadi wanita paling bahagia dan beruntung meskipun melalui lika-liku yang panjang untuk menemukan jodohnya.


Gabriel mencium bibir Rose dengan penuh perasaan, entah sejak kapan bibir mereka saling beradu dalam irama yang indah. Perlahan tubuh Rose terbaring di atas sofa dan Briel berada di atasnya.


"Jika sampai seperti kemarin, Rose tidak akan membantu lagi." Ucap Rose mengingatkan.


"Tidak apa-apa, karena aku yang akan bekerja kali ini." Jawab Briel dengan suara serak.


Rose tersenyum, Gabriel kembali memangut bibir kekasihnya karena setelah kejadian di dalam kamar mandi kantor saat itu membuat Gabriel menjadi frustasi.


Tubuh kekar Briel yang tersembunyi di balik baju terlihat jelas begitu juga tubuh Rose yang sexy tertutup baju over size kegemarannya. Jemari Briel meraba perlahan punggung Rose membuat Rose merasakan sesnasi yang berbeda selama ini bahkan tubuhnya mulai merasakan panas hingga bola karet milik Rose di remat dengan pelan oleh Briel.

__ADS_1


Ah.


"Sayang, aku tidak kuat lagi." Ucap Briel serak.


"La-lalu aku harus bagaimana." Jawab Rose berkedip cepat.


Briel tidak sadar jika Gabriel sudah melepas celana kerjanya hingga dirunya bertelanjang bulat meski bagian bawah saja.


Gabriel segera memencet sabun cair banyak di tangannya dan dengan cepat menuntun tangan Rose hingga memegang asetnya.


"Aaa!" Seru Rose kaget.


Briel ******* bibir Rose penuh nafsu dan tetap memaksa tangan Rose berada di asetnya, terlihat Briel secara langsung mengajari bagaimana Rose harus membantunya.


Ingin sekali Gabriel menerjang tubuh mungil di depannya, namun mengingat jika Briel begitu mencintai Rose. Briel menutuskan untuk tidak mengambilnya sebeluk menikah, dirinya lebih memilih Rose berkenalan dengan rudal balistiknya.


Perlahan namun pasti, tangan Rose bergerak dengan perlahan dan bertambah cepat karena licinnya sabun cair yang banyak. Gabriel menggeram dalam ciuman itu, tubuhnya sangat panas dan ingin menyemburkan isi rudal balistik miliknya.


Briel menekan tubuh Rose dan mere*mat bola karetnya dengan kuat hingga membuat Rose mende*sah kasar. Rose merasa sesuatu yang hangat mengalir membasahi celana jeansnya.


Briel melepaskan ciumannya dengan nafas terengah-engah dia menatap bibir sang kekasih yang bengkak karena ulahnya.


"Ka-kakak tidak apa-apa." Tanya Rose yang masih kawatir karena teringat ucapan temannya.


"Bolehkan sekali lagi?" Tanya Gabriel kembali.


"Ap-apa Kakak akan mati jika hanya satu kali?" Ucap Rose polos.


Gabriel mengangguk cepat, karena tubuhnya masih merasakan efek obat perangsang. Briel menyalakan shower air hangat karena tubuh Rose sudah cukup bergetar karena hawa dingin.


Sekali lagi, Rose membantu menuntaskan hasrat sang kekasih hingga beberapa kali. Bahkan Rose sudah merengek jika tangannya sangat pegal.


Hingga semburan ke lima, membuat tubuh Gabriel tumbang. Dirinya memeluk tubuh Rose dengan posisi duduk di atas lantai kamar mandi karena keduanya pegal terlalu lama berdiri.


"Hah... Hah... Hah... Terima kasih sayang, maafkan aku." Ucap Gabriel penuh sesal.


"Kakak harus bertanggung jawab karena menodai tangan suciku ini." Jawab Rose dengan wajah cemberut.

__ADS_1


...***...


__ADS_2