
Happy Reading πΉπΉ
Usia kandungan Rose sudah memasuki usia tiga bulan, beruntung selama melewati trimester pertama Rose tidak mengalami mual-mual seperti kebanyakan ibu hamil alami.
Bahkan perut Rose hanya sedikit buncit seperti di gigit semut, dibalik itu semua ada dua orang yang menderita yaitu Gabriel dan Robby.
Rose tidak mengalami mual namun sifat dan sikapnya selalu membuat dunia Gabriel jungkir balik.
Berita kehamilan Rose disambut gembira dan antusias oleh dua keluarga, tidak beda halnya dengan keluarga Amanda.
Ayah Nugroho secara langsung menjemput sang putri untuk pulang di Indonesia, seperti saat hari pernikahannya. Ayah Nugroho kembali berdebat dengan Kakek Kristoff.
"Tidak bisa! Rose harus di mansion Krostoff." Tegas sang Kakek.
"Rose itu anakku, jadi aku berhak membawa Rose pulang sementara waktu." Jawab Ayah Nugroho tidak ingin kalah.
"Ingat, Rose sudah menikah. Jadi Rose hak suaminya." Kakek Kristoff mengingatkan.
"Anda juga tidak berhak melarangku." Telak, Ayah Nugroho mengalahkan sang kakek.
Kakek Kristoff hanya menggerutu kesal karena jawabannya menjadi bomerang untuk dirinya sendiri.
Gabriel hanya menghembuskan nafasnya pasrah, sedangkan Rose mendengar kata Indonesia sudah membayangkan berbagai makanan yang sangat ingin dia makan.
"Rose ingin makan mangga muda dengan sambal garam, ah astaga air liurku bahkan hampir tumpah." Kata Rose tiba-tiba di tengah keheningan.
"Dengar, anakku sedang mengidam. Jadi aku akan membawanya pulang ke Indonesia sementara waktu, aku tidak ingin cucuku ileran." Ayah Nugroho memanfaatkan hawa ngidam sang anak.
"Di sini juga banyak mangga muda." Kakek Kristoff masih mencoba berjuang.
"Tapi, Rose ingin membeli di amang-amang gerobak." Kata Rose polos.
"Itu hanya ada di Indonesia." Timpal Ayah Nugroho.
"Sayang." Cicit Rose.
Gabriel menghembuskan nafasnya kasar, "Baiklah, tapi kita akan ke dokter dulu untuk memastikan apakah sudah dapat melakukan perjalanan jauh. Jika boleh kita akan pergi ke Indonesia." Putus Gabriel yang tidak tega melihat wajah memelas sang istri.
"Yes!" Rose langsung berdiri berjalan dengan wajah riang.
"Kamu mau kemana sayang? Hati-hati kamu sudah tidak sendiri." Kata Gabriel dengan wajah was-was.
"Bersiap-siap, bukankah kita akan ke dokter." Jawab Rose dengan wajah bingung.
Gabriel berdiri dan menghampiri istrinya, "Besok sayang, ini sudah pukul sebelas malam. Ayah pasti juga lelah biarkan Ayah istirahat terlebih dahulu." Ucap Gabriel mencoba memberi pengertian.
Rose sudah siap menangis, "Tapi, aku ingin makan mangganya sekarang." Ucap Rose yang di iringi tangisan.
"Ya!"
" Hey!"
Kakek Kristoff dan Ayah Nugroho meneriaki Gabriel secara bersamaan hingga Briel tersentak kaget.
"Kau! Jangan membuat anakku menangis."
"Benar, dia sedang mengandung cicitku. Cicitku pasti menangis didalam perut karena kamu Papa yang pelit."
Gabriel melebarkan kedua matanya, pelit? sejak kapan Briel pelit. Dirinya hanya memberikan pengertian kepada istrinya saja.
"Loh, kemana mereka?"
Gabriel merasa kehilangan sang istri dan dua calon kakek tersebut. Dengan menggaruk rambutnya yang tidak gatal, Briel berjalan menuju kamarnya untuk meminta tolong kepada Mama Kristal.
Kristal dan Stevan memutuskan untuk kembali bersama setelah acara ulang tahun Gabriel, tentu saja tidak mudah bagi Stevan untuk meyakinkan kedua putranya terlebih mereka sudah dewasa dan berkeluarga.
Kristal dan Stevan dapat kembali bersama karena Rose, Rose tidak ingin jika saat anaknya lahir menjadi bingung dan bertanya kenapa kakek dan neneknya tidak menikah tapi tinggal satu atap.
Dengan berdalil ngidam dan anak, akhirnya saat ulang tahun anak kembanya. Kristal dan Stevan menggelar pernikahan mereka di sebuah gereja yang ada di kota. Tidak ada pesta mewah, karena Kristal dan Stevan sudah cukup bahagia menikah dengan acara keagamaan seperti ini.
Gabriel mencoba menghubungi kedua orangtuanya berharap mendapatkan solusi, bukan solusi yang didapatkan melainkan panggilan operator seperti yang dilakukan Rose bulan lalu.
Briel mendengus kesal, "Tidak ingat usia." Omelnya.
Sedangkan Kakek Kristoff dan lainnya sudah berada di Rumah Sakit, dengan menghubungi dokter kandungan yang ditunjuk untuk menangani sang menantu selama hamil hingga melahirkan.
__ADS_1
Terlihat dokter yang terkantuk-kantuk tetap datang ke Rumah Sakit karena dia tahu bagaimana perangai Gabriel saat istrinya hamil tidak jauh dengan Kakek Kristoff.
"Dok, keluarga Kristoff sudah datang." Ucap seorang suster yang masuk sift malam.
"Untung aku datang lebih dulu." Kata sang dokter lega.
Dokter menyarankan untuk datang ke Rumah Sakit karena peralatannya lebih lengkap, disamping itu apartemen sang dokter juga dekat dari Rumah Sakit sehingga tidak memakan banyak waktu.
Tok
Tok
Tok
"Silahkan masuk." Ucap suster sopan.
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" tanya dokter ramah.
"Aku ingin mengajak anakku kembali ke negara Indonesia, tolong periksa apakah dengan kandungannya saat ini sudah bisa melakukan penerbangan jauh?" Jawab Ayah Nugroho cepat.
"Baiklah, kita periksa dulu. Silahkan Nyonya berbaring di sini." Ucap sang dokter halus.
Rose berjalan dan naik ke atas brangkar dengan dibantu oleh suster karena kembali lagi, kedua kakek tersebut bertengkar hanya masalah membabtu Rose naik ke atas brangkar.
"Maaf, saya buka sedikit ya."
Rose mengangguk, suster membuka pakaian Rose sedikit ke atas hingga menampakkan perut yang sedikit membuncit tersebut.
Dokter mengarahkan alat USG yang sudah dilapisi gel sebelumnya, terlihat tangan dokter berselancar kesana kemari untuk menangkap kondisi kandungan pasien.
"Lihat, Nyonya. Ini sudah sangat jelas. Anda sedang mengandung dua bayi." Dokter menjelaskan dengan wajah yang ikut bahagia.
"Apa! Du-dua bayi?" Seru Ayah Nugroho.
Kakek Kristoff menaikkan dagunya dan sedikit memukul dada, "Ekhm, keturunan premium keluarga Kristoff." Ucapnya sombong π.
Ayah Nugroho berdecih saja mendengarkan Kakek disampingnya itu, "Sayang, Ayah akan punya dua cucu? Hahahaha yes! Dua cucu." Seru Ayah Nugroho dengan perasaan sangat bahagia.
"Hiks, iya Ayah. Rose punya dua anak." Jawab Rose yang sudah menangis bahagia.
"Ayah jangan menangis." Kata Rose pelan.
"Ayah sangat bahagia sayang sampai menangis." Jawab Ayah Nugroho dengan suara serak.
...***...
Rose dan yang lainnya bertolak ke Indonesia tanpa Gabriel. Karena Gabriel harus menunggu Stevan pulang untuk menyerahkan pekerjaan kantor.
"Sayang, jangan pergi." Rengek Gabriel yang berjalan mengikuti langkah kaki sang istri.
"Hanya sebentar sayang, aku akan cepat kembali." Jawab Rose yang sibuk menata pakaiannya.
"Nanti bagaimana denganku." Rengekan Gabriel terus keluar.
"Menunggu Ayah dan Mama sayang. Lalu bagaimana perusahaan yang membutuhkanmu." Kata Rose halus.
"Ada Kak Robby." Jawab Briel dengan wajah memelas.
"Pemilik perusahaan bukan Kak Robby sayang, semua membutuhkan tandatanganmu."
"Aku ingin ikut sayang, ingin ikut." Gabriel terus merengek seperti anak kecil.
"Kenapa kamu seperti ini, jika dilihat orang lain bagaimana?" Tanya Rose heran.
"Aku hanya seperti ini kepada istriku dan anakku bagaimana jika jagoanku merindukanku sayang. Aku tidak bisa menjenguknya jika berjauhan." Keluh Briel.
"Setiap malam kamu sudah menjenguknya, apa masih kurang?" Tanya Rose.
"Tidak, karena kamu semakin tambah sexy." Jawab Briel dengan mere*mat gunung kembar sang istri.
"Aw!"
"Aku akan mengobrol sebentar dengan jagoanku, apakah boleh Momynya pergi meninggalkan Daddynya." Ucap Briel berbisik.
"Mesum!"
__ADS_1
Gabriel menggendong Rose dan merebahkannya di atas temoat tidur, tidak membutuhkan waktu lama ruangan dipenuhi suara erotis dari keduanya.
Semenjak perusahaan berada di tangan pria dingin itu, banyak investor dan perusahaan asing mengajukan kerjasama. Tentu saja Briel dan Robby tidak menyia-nyiakan kesempatan ini agar perusahaan semakin berkembang dengan pesat.
Rose belum memberitahukan jika dirinya hamil kembar. Rose menunggu sampai jenis kelamin sang bayi dapat terlihat dilayar monitor USG, gen dari kekuarga Kristoff memang sudah tidak bisa diragukan.
Suryo yang menjemput Ayah Nugroho dan Rose menaikkan sebelah alisnya, karena melihat Kakek Kristoff juga turut berjalan kearahnya.
"Selamat datang Tuan." Ucap Suryo kepada Kakek Kriatoff.
"Apa kabar, Tuan Suryo." Jawab Kakek Kristoff dengan menepuk pundak.
"Baik." Jawab Suryo.
"Kamu tahu Suryo, aku akan mendapatkan dua cicit." Kata Kakek Kristoff tiba-tiba.
Suryo yang mendengarnya melebarkan kedua matanya dan menatap Ayah Nugroho seakan meminta jawaban apakah telinganya tidak salah dengar.
"Benar, Sur. Aku akan menjadi kakek dari cucu kembar." Ucap Nugroho dengan tertawa bangga.
"Woah, selamat Rose. Aku akan menjadi paman dari anak kembar." Kata Suryo memeluk tubuh keponakannya.
"Jangan keras-keras, nanti cucuku kegencet." Ayah Nugroho menarik lengan Suryo.
"Ck, pelit sekali. Ayo kita segera pulang, Rose kamu ingin makan apa?" Suryo merangkul sang keponakan berjalan meninggalkan kedua kakek dibelakang mereka.
"Rose ingin mangga muda yang dijual pinggir jalan, dengan gerobak dari kaca dan di isi buah-buah yang sudah di kupas dengan diberi es batu." Jawab Rose dengan antusias.
"Let's go!" Seru Suryo.
Kini semuanya sudah berada didalam mobil, terlihat kedua calon Kakek dan Buyut duduk di belakang dengan wajah masam. Sudah susah-susah menjauhkan Rose agar tidak dimonopoli oleh Gabriel tapi kini pupus karena Suryo memonopoli keberadaan Rose.
"Itu ada yang jualan paman." Seru Rose antusias.
Suryo segera meminggirkan mobil yang dia setir di bahu jalan, Rose segera keluar menuju penjual rujak dengan menelan air liurnya yang sudah penuh membayangkan bagaimana renyahnya mangga muda saat dia makan.
"Bang, mangga mudanya masih ada?" Tanya Rose dengan wajah berbinar.
"Masih neng, tapi tinggal empat biji." Jawab si penjual.
"Aku beli semuanya bang. Tidak perlu di iris kupas saja sama minta sambel garamnya yang banyak." Ucap Rose dengan tersenyum lebar.
Segera penjual mengupas dan mencuci mangga muda, tidak lupa memberi sambal garap pada pelanggannya.
"Ngidam ya neng?" Tanya sang penjual.
"Iya." Ucap Rose.
"Berapa semuanya, bang?" Tanya Ayah Nugroho.
"Tiga puluh lima ribu." Jawab sang penjual.
Ketiga pria dewasa seakan berlomba mengeluarkan uang mereka.
"Ini uangnya." Ucapnya bebarengan.
Sang jual bingung sedangkan ketiganya saling melihat seakan berbicara, "Singkirkan uang kalian."
Rose segera mengambil uang pecahan lima puluh dan mata uang Korea karena Kakek Kristoff belum sempat menukarkannya.
"Ini bang, ambil saja kembaliannya." Rose menyerahkan tiga lembar uang kepada penjual dan berlalu begitu saja.
Ketiga pria dewasa juga ikut pergi menuju mobil, "Neng, Pak! Beneran ini untuk saya!" Teriak penjual.
Rose hanya mengacungkan ibu jarinya saja sebagai jawaban.
"Ya Allah, terima kasih neng!" Teriak penjual lagi.
Detik berubah ke menit, menit menjadi jam, jam berjalan ke hari. Tidak terasa Rose sudah dua minggu di Indonesia.
Selama dua minggu pula, ketiga pria dewasa terus berlomba untuk menyenangkan hati Rose, seperti saat ini. Rose tengah jenuh di ruang tengah.
Membuka ponselnya tidak ada panggilan dari sang suami, padahal baru satu menit mereka menyudahi video call karena Briel harus segera meeting dengan kolega dari Australia.
"Aku kangen." Rengek Rose.
__ADS_1
...πΎπΎ...