
Happy Reading 🌹🌹
Tiga bulan berlalu.
Keadaan Daniel sudah membaik begitu juga Stevan, hubunga Stevan dengan Gabriel juga sudah baik hanya saja memang sifat Gabriel begitu dingin tak tersentuh.
Namun begitu, Stevan tidak kecewa karena Stevani sang kakak memberitahu jika Gabriel menuruni sikap dari Stevan sendiri. Membuat Stevan yang awalnya sedih menjadi bahagia jika benar-benar ada yang menuruni sifatnya.
Tok
Tok
Tok
Terdengar ketukan pintu terdengar nyaring, Kristal membuka pintu ruang kerja yang dulu di gunakan oleh Kakek Kristoff kini sudah bergabti menjadi ruangan Gabriel.
Ya, meskipun Stevan dan Daniel sudah pulih keduanya enggan untuk meneruskan perusahaan keluarga. Stevan beralasan jika dirinya sudah tua dan hanya ingin di rumah menemani sang ayah.
Tidak jauh berbeda dengan Daniel, yang ingin menghabiskan waktunya bersama Minzy.
"El, makan dulu." Ucap Kristal lembut.
Gabriel melepaskan kacamatanya dan menutup berkas yang baru saja dia baca, "Ya mah, nanti El akan makan." Jawab Gabriel.
Kristal berjalan mendekat ke arah sang putra, "Istirahat dulu. Kamu jangan terlaku sibuk bekerja hingga melupakan kesehatanmu sendiri, bagaimana jika kamu sakit ketika Rose kembali." Ucap Kristal membujuk.
"Hem, baiklah." Gabriel babgkit dari duduknya dan berjalan bersama sang Ibu.
Terlihat di meja makan sudah lengkap kekuarga Kristoff hanya Stevani sudah kembali pulang setelah urusannya selesai.
"Maaf membuat menunggu lama." Ucap Gabriel yang duduk di sebrang Daniel.
"Ck, kak jangan terlaku gila kerja. Apa kakak takut kita jatuh miskin?" Tanya Daniel berdecak malas.
"Benar dan ginjalmu akan aku jual untuk bedtahan hidup." Jawab Gabriel dengan malas.
Daniel langsung memegang perutnya dengan raut wajah yang takut.
Gabriel menutar bolanya malas, "Itu lambung." Ucapnya.
Kakek Kristoff tergelak karena kedua cucunya, yang satu bersifat hangat satunya beraifat dingin. Benar-benar membuat orang jadi sering kebelet pipis (anyang-anyangen 🤣).
"Sudah jangan menggoda kakakmu lagi." Ucap Stevan.
Daniel hanya tertawa saja dan segera memakan makanan yang sudah di ambilkan oleh sang Ibu, tidak beda halnya dengan yang lain. Kristal begitu perhatian kepada empat pria keluarga Kristoff.
"Kakek dengar, Go Eun sudah kembali ke Seoul." Ucap sang Kakek dalam makan malam ini.
Daniel yang mendengar wajahnya begitu ceria, "Benarkah? Lalu kenapa dia tidak datang ke mansion?" Tanya Daniel cepat.
"Tidak tahu, mungkin besok." Jawab sang kakek.
"Jika begitu, Daniel yang akan datang kerumahnya." Ucap Daniel yang sudah tidak sabar bertemu teman dekatnya.
Gabriel hanya mendengarkan saja karena tidak kenal dengan wanita yang tengah di bicarakan oleh Kakek Kristoff.
"El, kamu harus datang bersama Minzy. Mama tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kalian karena sebentar lagi kalian akan menikah." Ucap Kristal mengingatkan sang putra.
"Iya Mah, Daniel akan bersama Minzy." Jawab Daniel menurut.
"Kapan kalian akan menggelar pernikahan?" Tanya Stevan kepada Daniel.
"Apakah tidak terlalu cepat, Minzy juga baru memulai karirnya." Ucap Daniel.
Stevan meletakkan alat makannya dan meminum air putih yang berada di depan hingga tandas.
"El, segeralah menikah dengan Minzy karena Go Eun sudah kembali. Ayah tidak ingin kamu akan bernasib sama dengan pernikahan ayah, menikah dengan wanita yang salah. Pikirkan baik-baik kamu ingin terus bersama Minzy atau Go Eun? Ayah tahu selama ini Go Eun menaruh hati padamu." Ucap Stevan panjang lebar dengan wajah serius.
Kristal dan Kakek Kriatoff yang mendengarnya kaget, keduanya berteman selama ini tidak pernah keluar mansion dan hanya mengobrol di taman belakang saja.
"Tidak mungkin ayah, darimana ayah tau jika Go Eun suka kepada Daniel. Sedangkan dirinya meninggalkan Daniel tanpa pamit." Jawab Daniel dengan tawa pelannya.
"Mencium pria dewasa, apa itu tidak memiliki perasaan Daniel. Sudah, Ayah hanya ingin mengatakan pikirkan baik-baik pernikahanmu dan selami perasaanmu. Apakah kamu mencintai Minzy atau hanya sekedar rasa kasihan saja." Ucap Stevan yang menyeka ujung bibirnya dan beranjak dari kursi makan.
Kakek Kristoff dan Kristal melihat kepergian Stevan dengan raut wajah yang tidak terbaca dan mengalihkan pandangan mereka ke arah Daniel yang terlihat tengah berfikir serius.
__ADS_1
Daniel terpaku dengan ucapan sang ayah, seakan bernostalgia. Go Eun memang pernah sekali mencium bibir Daniel dan itu sangat singkat mungkin hanya satu detik, itu hanya sebagai tanda kasih sayang seorang sahabat.
Gabriel menyudahi makan malamnya dan mengangkat telfon dari Robby dengan cepat.
"Halo, kak." Ucap Gabirel.
"El, besok kita harus terbang ke Amerika karena kolega kita tengah sakit." Ucap Robby.
"Baiklah, siapkan saja semuanya Kak." Jawab Gabriel.
"Besok pagi aku jemput di mansion." Ucap Robby.
Gabriel hanya menjawab berdehem aaja kemudian mematikan sambungan telfon secara sepihak.
"Apa kalian akan pergi dinas?" Tanya Kakek Kristoff.
"Hemm, Briel akan pergi ke Amerika." Jawab Gabriel.
"Kapan, El?" Tanya Kristal.
"Besok pagi Mah, sekarang Gabriel harus kembali bekerja untuk menyelesaikan proposalnya." Jawab Gabriel yang sudah berjalan meninggalkan ruang makan.
...***...
Mentari mulai bangun darinperuaduannya, perlahan membumbung tinggi hingga menyinari bumi yang berselimut malam kini menjadi terang.
Di mansion Kristoff seperti biasa mereka melakukan sarapan terlebih dahulu kini Minzy dan Robby ikut bergabung dengan mereka.
Minzy terlihat telaten membantu Kristal dalam menyajikan makanan maupun mengambilkan makanan untuk Daniel, terlihat serasi dan romantis.
Daniel hanya tersenyum mendapatkan perhatian seperti biasanya dari Minzy tunangannya. Di dalam hati dan pikirannya tengah berkecamuk dengan ucapan Stevan waktu makan malam kemarin.
Benarkan Go Eun memiliki perasaan kepadanya atau itu hanya sesuatu hal yang biasa di antara pertemanan wanita dan pria. Jika di pikir lagi tidak mungkin Daniel menyakiti Minzy yang selama ini telah berjuang untuk mendapatkannya bahkan menantinya hingga sembuh.
Daniel menggaruk pelipisnya pelan, kepalanya pusing harus berkata apa jika Go Eun datang ke mansion atau ketika mereka bertemu.
"Ada apa sayang, apa kamu tidak suka makannya?" Tanya Minzy pelan.
"Eh, tidak. Aku suka hanya sedang banyak fikiran saja." Jawab Daniel.
Daniel tertawa kaku, "Benar, iya tidak boleh memikirkan hal yang tidak berguna." Jawab Daniel mengulang ucapan Minzy.
Semua kembali kenaktivitas dan pikiran kita masing-masing hingga suara sepatu hak tinggi memecahkan keheningan di mansion Kristoff.
"Selamat pagi." Sapanya dengan wajah yang tersenyum cerah.
Seluruh orang yang berkumpul di ruang makan menolehkan kepalanya ke sumber suara, terlihat wanita yang cantik, tinggi semampai, kulit putih, mata sipit dan hidung mancung. Untuk tubuh ukuran proporsional.
Wanita itu tengah berdiri dengan membawa buah tangan di tangannya, mengenakan dres ketat berwarna hitam juga sepatu hak tinggi.
"Go Eun." Seru Daniel.
Daniel langsung beranjak dari duduknya dan berlari menghampiri teman satu-satunya tersebut, "Aku sangat senang kamu kembali" Ucap Daniel girang bahkan mereka sudah berpelukan di depan semua keluarga Kristoff termasuk Minzy.
Hati Minzy begitu perih, meskipun sudah tahu jika mereka bersahabat dekat namun tetap saja Minzy merasa cemburu. Bagi Minzy tidak ada yang murni berteman antara pria dan wanita di dunia ini.
"Aku juga senang bertemu denganmu El." Jawab Go Eun.
"Ayo kita sarapan." Daniel menggandeng tangan Go Eun menuju ruang makan.
Go Eun memberikan salam kepada Kakek Kristoff, Kristal dan juga Stevan. Namun pandangannya menjurus ke arah Minzy, terlihat sekali jika keduanya mendengus kesal.
"Aku Go Eun sahabat Daniel, selamat atas pertunangan kalian." Ucap Go Eun ramah kepada Minzy.
"Terima kasih, silahkan duduk." Jawab Minzy.
Daniel yang ingin duduk di samping Go Eun di cegah oleh Minzy dengan memegang tangan Daniel, menariknya untuk duduk di kursinya kembali. Sedangkan Go Eun duduk di samping Robby berhadapan dengan Gabriel.
"Ini putra Tante dan Paman itu ya, aku melihatnya di TV." Ucap Go Eun dengan memasang senyum seratus wattnya tersebut.
"Benar, kenalkan dia Gabriel saudara kembar dari Daniel." Jawab Kristal lembut.
"Halo, aku Go Eun." Ucapnya dengan mengulurkan tangan di depan Gabriel.
Gabriel melihatnya sejenak dan meminum air putih hingga tandas, "Aku selesai." Ucap Gabriel tanpa membalas uluran tangan Go Eun.
__ADS_1
Robby dan Minzy yang melihatnya melipat dalam bibir mereka, bagaimana malunya Go Eun saat ini karena tidak di gubris oleh Gabriel pria kaku itu.
Go Eun menggigit bibirnya dalam dan menarik tangannya kembali, melihat pria yang berwajah datar tersebut naik ke lantai dua.
"Jangan di ambil hati sikap kakakku ya, Kak Gabriel memang seperti itu dia hanya akan luluh dengan kekasihnya saja." Ucap Daniel mencoba menenangkan Go Eun.
"O-oh benarkah, beruntung sekali wanita itu." Jawab Go Eun terbata.
"Benar, kekasih Kak Gabriel sangat cantik juga lucu. Bahkan kami berteman baik." Timbal Minzy dengan ekspresi yang gemas seakan ada boneka didepannya.
"Memang kamu pernah bertemu Rose, sayang?" Tanya Daniel.
Minzy menginjak kaki Daniel, karena kenyataannya Minzy hanya bertemu ketika Rose berada di Rumah Sakit. "Tentu saja sudah sayangku, bahkan kami belanja bersama. Lihat ini adalah jam tangan pilihan kekasih Kak Gabriel." Tunjuk Minzy pada jam tangannya.
"Ah, begitu. Aku senang jika kamu dekat dengan Rose." Ucap Daniel mengacak rambut Minzy pelan.
Go Eun mendengarkannya dengan pikiran yang kusut, benarkah Gabriel memiliki kekasih namun di lihat di meja makan tidak ada wanita selain dirinya, Minzy juga Kristal.
"Pasti Rose sangat mengasikkan ya, lalu di mana dia? Aku tidak melihatnya di sini." Tanya Go Eun.
"Rose sedang sa---"
Ucapan Daniel terhenti karena sikutan dari Minzy, "Rose sedang berjalan-jalan ke luar negri." Jawab Minzy cepat.
"Wah sayang sekali aku tidak bisa bertemu dengannya." Ucap Go Eun dengan wajah sedih.
Minzy hanya mencebik kesal didalam hati, "Ck, tidak akan aku biarkan kamu dekat dengan keluarga Kristoff dasar racun." Umpat Minzy dalam hati.
Minzy tidak menyukai Go Eun karena penampilan dan sikapnya, melihat penampilan Go Eun saja membuat Minzy hampir tersedak. Kenapa pagi-pagi mengenakan dres seketat itu bahkan berdandan yang berlebihan. Sebagai seorang wanita tentu tahu akal bulus dan tipu daya dari Go Eun.
Terdengar langkah dari lantai dua, Gabriel kembali turun dengan mengenakan jasnya. Karena tadi Gabriel hanya mengenakan pakaian rumahnya saja.
"El, kamu sudah siap?" Tanya Kristal yang berjalan mendekat ke arah Gabriel.
"Ya Mah, Gabriel berangkat dulu." Ucap Gabriel kepada Kristal.
"Hati-hati sayang, jangan lupa makan. Robby kamu harus ingatkan Gabriel makan." Kata Kristal kepada Gabriel dan Robby.
Gabriel berjalan ke arah keluarganya yang masih menyelesaikan sarapan mereka, Briel berpamitan kepada Stevan juga Kakek Kristoff.
"Kakak hati-hati." Ucap Daniel yang sudah memeluk tubuh Gabriel.
"Ya, kamu juga harus berhati-hati." Jawab Gabriel.
Daniel tertawa renyah, "El hanya di mansion kenapa harus hati-hati." ucapnya.
"Kak Gabriel." Panggil Go Eun yang di lewati begitu saja oleh Gabriel.
Gabriel menoleh dan terlihat Go Eun berdiri dari duduknya berjalan mendekat ke arah Gabriel.
Bruk!
Go Eun jatuh hingga di atas tubuh Gabriel, karena Go Eun mendorong Gabriel agar tidak dapat berdiri seimbang.
"Ma-maaf, Go Eun tersandung." Ucap Go Eun lirih.
Hingga datang seorang gadis yang sudah sangat familiar suaranya di keluarga Kristoff.
"Halo, sayangku!" Seru Rose dari pintu utama.
Deg
Jantung Gabriel terasa terhenti dirinya mendongak menatap kekasihnya yang berdiri terpaku dengan membawa koper di tangan kanannya.
Langsung saja Gabriel mendorong Go Eun dari atas tubuhnya dengan kasar dan bangkit dari atas lantai.
Rose tersenyum dan berlari ke arah Gabriel dengan melempar koper miliknya hingga roda koper entah membawanya kemana.
Rose merentangkan kedua tangannya dengan senyum yang bahagia.
Bruk!
"Kakak, Rose pulang." Ucap Rose lirih.
...🐾🐾...
__ADS_1