
Happy Reading 🌹🌹
Setelah menjenguk Daniel, Rose pulang bersama Dave.
"Kak." Panggil Rose pelan.
"Apa?" Tanya Dave.
"Emm... Kaka tidak marah dengan Rose?" Tanya Rose dengan lirih.
Dave tersenyum, "Marah, tentu saja. Tapi kakak bertemu dengan seorang wanita ternyata dia adalah seorang dokter." Jawab Dave lembut.
"Dokter?" Ulang Rose.
"Iya, dia seorang psikiater." Jelas Dave.
Rose menatap kearah Dave yang masih fokus menyetir, "Maaf." Cicit Rose.
Rose tahu jika Dave memiliki suatu gangguan pada jiwanya, namun Rose malah memperparah hal tersebut.
"Tidak apa-apa." Jawab Dave.
"Kakak berpacaran sekarang dengannya?" Tanya Rose lagi.
"Tidak, kakak akan langsung mengajaknya menikah. Kakak tidak ingin gagal ke-3 kalinya. Bisa-bisa ditertawakan para pembaca." Kelakar Dave.
Rose tertawa kikuk, "Benar juga, pertemukan Rose dengannya." Ucap Rose dengan tersenyum lembut.
"Baiklah, kita akan bertemu secepatnya." Jawab Dave menyanggupi.
"Terima kasih ya Kak." Ucap Rose saat mobil Dave berhenti didepan gerbang mansion Amanda.
"Ya, salam untuk Ayahmu." Jawab Dave dengan tersenyum.
"Iya, Kak. Kakak hati-hati salam juga untuk Tante dan Paman." Ucap Rose.
Segera Rose keluar dari dalam mobil Dave dan berjalan masuk kedalam mansionnya.
Dave menatap punggung Rose hingga hioang dari balik pagar mansionnya.
"Aku berharap kamu selalu bahagia Rose, meskipun aku mencintaimu namun aku tidak dapat memaksanya. Karena hatimu hanya milikmu dan kamu berhak memilih." Ucap Dave dalam hati.
Segera Dave menjalankan mobilnya meninggalkan mansion Amanda.
Sedangkan Rose yang baru saja masuk kedalam mansion, sudah dihadang oleh Ayah Nugroho didepan tangga.
"A---ayah." Ucap Rose tergagap.
Rose langsung menundukkan kepalanya dalam karena melihat wajah dan tatapan mata Ayah Nugroho tengah marah.
__ADS_1
"Masuk kedalam." Ucap Ayau Nugroho tegas.
Rose segera masuk kedalam ruang kerja sang Ayah, Ayah Nugroho dibelakang Rose segera menutup pintu ruangan.
Terdengar langkah kaki semakin mendekat membuat Rose bersusah payah menelan ludahnya, bahkan tangannya sudah keringat dingin begitu juga kedua kakinya merasa lemas.
"Ayah, Rose minta maaf. Maaf membuat Ayah malu karena pembatalan pertunangan dengan Kak Dave." Ucap Rose yang langsung luruh kelantai dengan kedua lutut menopang tubuhnya.
"Rose minta maaf, Ayah. Maafkan Rose." Lanjut Rose dengan kepala tertunduk sedangkan kedua tangannya menyatu untuk memohon ampun kepada sang Ayah.
Ayah Nugroho masih berdiri menatap Rose yang sudah bersimpuh didepannya, sedangkan biliran keringat sudah ada yang menetes dari dahi Rose.
Tidak mendapatkan jawaban dari sang Ayah, membuat Rose semakin yakin jika saat ini Ayahnya sedang marah besar.
"Kamu kenapa, Rose?" Tanya Surya yang baru saja masuk kedalam ruang kerja Ayah Nugroho.
Rose langsung menoleh, terlihat asisten sang Ayah mendekat. Segera Rose berdiri dan bersembunyi dibalik punggung Surya.
"Ada apa sih?" Tanya Surya yang bingung dengan tingkah laku Rose.
"Bagaimana?" Tanya Ayah Nugroho.
"Sudah selesai, Rose sudah bisa pergi dan menetap disana." Jawab Surya menyerahkan dokumen kepada Ayah Nugroho.
Rose menyembulkan kepalanya dan menatap wajah Surya dari samping.
"Pergi? Apa Rose akan dibuang?" Tanya Rose polos.
"Sakit." Cicit Rose pelan.
Ayah Nugroho langsung menyodorkan dokumen kearah Rose, sedega Rose menerima dan membukanya dengan cepat.
Terdapat dokumen universitas Korea, visa, dan pasport.
"Ini?" Tanya Rose dengan bingung.
"Dave sudah datang menjelaskan kenapa kalian memutuskan pertunangan kalian, Ayah memberikanmu kesempatan untuk datang menemui pria itu. Tapi jangan pernah mengejarnya, Ayah ingin kamu dicintai dan saling mencintai. Jika pria itu telah memiliki kekasih ikhlaskan dan fokuslah sekolah atau Ayah yang akan menjemputmu sendiri." Ucap Ayah Nugroho panjang lebar.
Mimik wajah Rose berubah haru, "Terima kasih, Ayah." Ucap Rose dengan memeluk tubuh Ayah Nugroho.
Singkat cerita.
Hari ini adalah hari keberangkatan Rose ke Korea, sebelumnya Rose menemui Daniel saudara kembar Gabriel di Rumah Sakit dan sudah menemui orang tua Dave meminta maaf dengan tulus.
Tidak lupa juga, Rose bertemu dengan dokter yang tengah dekat dengan Dave. Rose menghabiskan waktu bertiga hingga petang dan Rose meminta kepada dokter wanita itu untuk mencintai Dave dengan tulus.
Karena dirinya dan temannya sudah melukai hato Dave secara tidak langsung.
Rose menatap tiket yang berada ditangan kanannya, menghembuskan nafas panjang segera Rose berjalan untuk masuk kedalam pesawat.
__ADS_1
Beruntung, Rose duduk didekat jendela. Hingga dapat melihat kota kelahiran sebelum meninggalkannya.
Melakukan perjalanan berjam-jam membuat Rose tidak merasakan lelah, dengan langkah riang. Rose berjalan keluar bandaran Incheon untuk menemui pengawal yang sudah disiapkan sebelumnya dari Ayah Nugroho.
"Kemana, Non?" Tanya pengawal setelah memasukkan koper majikannya.
"Apartemen saja." Jawab Rose.
Segera pengawal menjalankan mobil meninggalkan area bandara dan menuju kesalah satu kawasan apartemen mewah di negara tersebut.
Terlihat senyum Rose melengkung sempurna memandangi jalanan dan perkantoran yang dulu sempat dia lihat ketika kabur liburan di Korea.
"Sudah sampai, Non." Ucap pengawal.
"Masukkan saja koperku dan kita pergi lagi." Ucap Rose.
Segera pengawal mengambil koper dan meninggalkan Rose sendirian didalam mobil untuk menaruh koper kedalam apartemen.
Hanya 15 menit , kini pengawal telah sampai di mobil Rose lagi.
"Pak, kita ke alamat ini." Rose memberikan secarik kertas kepada pengawal.
Segera mobil mewah itu berjalan meninggalkan basement apartemen mewah dan menuju alamat yang dituju.
Tak berselang lama, Rose telah sampai didepan pagar mansion Kristoff. Rose menyembulkan kepalanya keluar dan para penjaga mansion terlihat masih mengingat gadis yang masih didalam mobil.
"Terima kasih." Ucap Rose kepada penjaga yang membukakan pagar tinggi itu.
Mobil Rose masuk hingga berhenti di pintu utama, "Tunggu disini saja, Pak." Ucap Rose.
Rose keluar dari dalam mobil, terlihat dirinya memandang mansion megah yang berdiri kokoh didepannya.
Rasanya baru seperti kemarin datang ke mansion Kristoff.
Rose segera melangkah memasukin mansion, namun telinganya mendengar benda pecah. Segera Rose mencari sumber suara.
Hingga langkah Rose terhenti dan melihat semua kejadian Kristal dan Stevan, sedangkan wanita sexy yang Rose yakini adalah Eve.
Melihat tangan Kristal yang mulai meneteskan daras segar semakin banyak, membuat Rose segera berlari dan menubruk pundak Eve dengan keras hingga tersungkur.
Tubuhnya gemetar karena baru kali ini melihat kejadian yang membuat hatinya ikut menangis, bagaimana bisa Kristal dapat tenang dengan kejadian ini.
Rose segera membantu dan membawa Kristal keluar dari mansion, setelah mengancam dan menjegal kaki Eve.
Rose berencana memberikan kejutan kepada Kristal karena diam-diam Rose menyusul ke Korea dan juga ingin memastikan berita tentang Gabriel yang akan bertunangan dengan seorang wanita.
...🐾🐾...
...Jangan Lupa Dukungannya...
__ADS_1