Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Hari Bahagia


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Di dalam kamar yang terpisah dengan ruang acara, terlihat dua pria beda usia, setelah MUA dan orang butik keluar karena telah selesai mempersiapkan calon pengantin.


“Astaga, apakah semua orang yang mau menikah akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini? Tapi, kenapa aku bisa segugup ini? Padahal aku sudah sangat sering menghadapi situasi setegang ini saat aku menemui kolega baru atau akan memulai bisnis dengan kolega yang sangat berpengaruh dalam perusahaan. Hanya saja, kenapa rasanya berbeda dan jauh lebih menegangkan saat ini?” Gumam Gabriel dengan meremat kedua tangannya yang sudah dingin seperti kutub utara.


Kakek Kristoff yang melihat Gabriel sangat gugup langsung mendekatinya dan duduk di sampingnya sambil menepuk-nepuk punggungnya.


“Ambillah nafas, lalu buanglah dengan perlahan dan lakukan beberapa kali agar suasana hatimu menjadi tenang. Kakek tahu saat ini pasti kamu merasa sangat gugup, sama seperti Kakek saat menikahi Nenekmu. Begitu juga dengan semuanya yang akan melakukan pernikahan pasti akan merasakan hal yang sama” ucap Kakek Kristoff sambil tersenyum kecil.


“Lalu apa yang Kakek lakukan saat Kakek ada di posisiku seperti ini?” tanya Gabriel dengan wajah penasaran.


“Kakek hanya memejamkan kedua mata sambil menarik nafas dan membuangnya secara perlahan beberapa kali sampai aku merasa hatiku mulai tenang, dan ketika sudah mulai tenang maka Kakek akan mengingat semua masa-masa indah bersama Nenekmu yang mana itu akan membuat Kakek semakin bersemangat untuk segera menikahinya.” Jawab Kakek Kristoff panjang lebar untuk membuat Gabriel mengerti.


“Baiklah, Briel akan mengikuti cara Kakek.” Ucap Gabriel sambil memejamkan kedua matanya menarik nafas dan membuangnya perlahan, lalu ia mencoba untuk mengingat masa-masa indah bersama Rose.


...***...


Gabriel berjalan keluar menuju Balroom bersama Kakek Kristoff karena tinggal sepuluh menit lagi acara inti atau acara sacral akan segera di laksanakan.


Gabriel selama berjalan menuju Balroom terus membuang nafasnya sesuai cara sang Kakek, “Kamu pasti bisa Briel.” Ucapnya dalam hati.


Seorang Pendeta sudah berada di atas panggung dan berada di tengah-tengah dengan membawa kitab ditangannya.


“Astaga, cantiknya Putri kecilku ini. Benar-benar terlihat bagaikan seorang putri yang ada di dalam dongeng.” Ledek Ayah Nugroho untuk mencairkan suasana yang mana Ayah Nugroho sangat tahu jika saat ini perasaan Rose pasti sedang dalam keadaan gugup.


“Ayah, ishh.. jangan coba-coba menggodaku ya, Rose tahu Rose memang sudah cantik dari lahir seperti Bunda.” Jawab Rose dengan cemberut.


“Tapi, kali ini Rose benar-benar tidak percaya diri. Rose takut jika Rose akan terlihat biasa saja jika di sandingkan oleh Kak Gabriel nanti di depan pendeta.” ucap Rose dengan wajah berubah sendu.


“Siapa yang bilang jika Putri Ayah yang cantik ini tidak bisa di sandingkan dengan Gabriel? Dimana orangnya? Biar Ayah gibeng sekalian tuh orang yang berani bilang anak kesayanganku tidak pantas dengan Gabriel. Mana orangnya sini suruh datang ke depanku biar aku panggang bolak-balik.” Celetuk Ayah Nugroho sambil menunjukkan ancang-ancang kudanya yang seakan-akan ingin menyerang lawannya.


Sampai Rose yang melihatnya pun ikut tertawa gemas saat sang Ayah mencoba bersikap lucu di depan sang anak agar tidak membuatnya semakin tegang.


Hingga kini, Rose sudah mulai tenang dan tidak lagi setegang saat pertama Ayah Nugroho menemuinya.


“Baiklah Tuan Putri kecilku yang cantik, semua orang sudah menunggu ingin menyaksikan betapa cantiknya seorang Rose yang kini benar-benar akan menjadi topik perbincangan para wanita lantaran mereka sangat iri melihat kecantikan anak kesayanganku ini.”


Ayah Nugroho bersikap layaknya seorang Raja yang menjulurkan tangannya untuk membawa Tuan Putri kecilnya datang ke sebuah istana yang mana, di sana sudah terdapat seorang Pangeran tampan dan juga gagah.


Rose hanya tertawa kecil melihat kelakuan sang Ayah yang begitu lucu, hingga membuat Rose merasa bahagia di hari spesialnya. Sampai seketika tangan Rose menerima uluran tangan Ayah Nugroho, dan membuat Ayah Nugroho menempelkannya di lengan kanannya sambil menoleh ke arah Rose dengan tersenyum.


“Sudah siap Tuan Putri?” tanya Ayah Nugroho yang diangguki oleh Rose sambil tersenyum canggung.


Kemudian, mereka berjalan perlahan dengan diikuti oleh beberapa wanita cantik sebagai dayang-dayang Tuan Putri yang cantik jelita.


Pintu utama terbuka lebar, terlihat siluet seorang wanita dengan gaun bak tuan putri dari negeri dongeng dengan seorang pria dengan gagah seperti raja berdiri disampingnya.


Perlahan keduanya berjalan menuju arah panggung dengan tangan wanita itu menggandeng tangan pria di sampingnya, atensi para tamu undanangan dan Gabriel terkunci pada keduanya.


__ADS_1


Sorot lampu mulai mengenai tubuh keduanya, Rose terlihat tersenyum dengan lembut di balik kerudung putih transparan yang menutupi wajah cantiknua kearah Gabriel dan Ayah Nugroho yang tanpa ekspresi namun berwibawa.



Briel yang melihatnya terpaku menatap wanita yang dia cintai akan menjadi pendamping hidupnya, kedua mata Gabriel memanas dengan bibir bergetar. Briel terlihat mengigit tangannya yang mengepal.


Gabriel menangis, menangis bahagia karena mimpinya satu per satu dapat dia gapai. Berkumpul dengan keluarga dan menikahi wanita yang dia cintai juga mencintainya.


Keluarga besar Gandratama, Kristoff, Kim, dan Danuarta terlihat mengusap ujung mata mereka. Karena terbawa suasana yang mengharu biru, melihat Gabriel yang biasa berwajah datar dan serius dalam bekerja kini seolah menjadi pria paling cengeng di dunia.


Ayah Nugroho dan Rose sudah berdiri tidak jauh dari Gabriel. Kedua mata Rose mengembun dirinya begitu bahagia dapat dicintai oleh pria hebat seperti Gabriel.


“Aku serahkan putri kecilku ini kepadamu, tolong jaga dia dan berikan dia kebahagiaan melebihi kebahagiaan yang aku berikan saat dia masih kecil hingga saat ini. Jangan sekali-kali kau mencoba untuk menyakitinya, atau aku akan kembali mengambil putriku dari genggamanmu. Meskipun aku harus berduel dan mempertaruhkan nyawaku padamu, namun kebahagiaan putriku jauh di atas segalanya. Paham!” tegas Ayah Nugroho yang membuat Rose meneteskan air matanya yang tidak terlihat lantaran ia memakai tutupan kepala.


“Aku akan membuatnya bahagia selagi nyawaku masih ada di tempatnya, dan aku tidak akan pernah menyakiti orang yang sangat aku cintai. Karena Rose merupakan detak jantungku yang mana, di saat Rose terluka maka disitulah detak jantungku akan berhenti untuk selamanya.” Ucap Gabriel yang berhasil membuat Ayah Nugroho tersenyum ke arahnya.


Bahkan semuanya pun tak terasa meneteskan air matanya menyaksikan betapa indahnya penyerahan seorang Putri cantik kepada seorang Pangeran yang tampan dan juga sangat romantis.


Sampai seketika Ayah Nugroho sedikit menjauh dan kini hanyalah menyisakan sang pendeta dan juga kedua mempelai pengantin. Yang mana sang pendeta langsung membacakan janji-janji suci kepada kedua mempelai.


Maka tibalah saatnya untuk meresmikan perkawinan saudara. Saya persilahkan saudara masing-masing menjawab pertanyaan saya.


Gabriel Putra Gabdratama Kriatoff, maukah saudara menikah dengan Zia Rose Amanda yang hadir di sini dan mencinfainya dengan setia seumur hiduo baik dalam suka maupun dalam duka?


Ya, saya mau.


Zia Rose Amanda, maukah saudara menikah dengan Gabriel Putra Gandratama Krostoff yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka mauoun dalam duka?


Ya, saya mau.


Seorang anak kecil datang mendekati Gabriel untuk memberikan kotak kecil berwarna merah dengan bentuk hati yang mana Gabriel langsung menerima dan membukanya di hadapan Rose.


Sebuah cincin bertahtakan berlian yang sangat langka dengan desain yang begitu indah membuat semua wanita merasa iri melihat keromantisan Gabriel terhadap istrinya.


Gabriel mengucapkan, " Zia Rose Amanda, cincin ini aku berikan kepadamu sebagai lambang cinta kasih dan kesetiaanku."


Gabriel langsung memasangkan cincin tersebut ke dalam jari manis Rose sesuai dengan perintah sang pendeta, dan saatnya semua orang bersorak penuh bahagia yang mana membuat kedua pengantin turut bahagia.


“Ayo! Buka tudungnya, lalu cium!” Seru Daniel dengan keras.


Para tamu undangan semakin riuh menyetujui ucapan Daniel.


Cium!


Cium!


Cium!


Sorak semua para tamu undangnya yang membuat Gabriel melirik ke arah sang Pendeta seakan-akan ingin meminta izin dengan kode matanya. Yang mana sang Pendeta pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Dengan perlahan Gabriel memegang tudung Rose hingga membuat Rose sedikit membungkukkan tubuhnya bersamaan dengan terbukanya tudung tersebut yang kini memperlihatkan betapa indahnya ciptaan Tuhan.

__ADS_1


Gabriel benar-benar terpesona menatap wajah Rose, yang mana Rose pun juga sama lantaran dia begitu kagum dengan ketampanan Gabriel yang terlihat sangat manis.


Hingga Gabriel berjalan satu langkah mendekatinya dan tangan satunya memegang pinggul Rose serta satunya lagi membimbing tangan Rose agar melingkah di lehernya.


Dengan hitungan ke tiga yang di lontarkan semua para tamu, akhirnya Gabriel mencium bibir Rose dalam keadaan keduanya sambil memejamkan kedua matanya menikmati ******* demi ******* yang kini menjadi gigitan kecil.



Gabriel yang begitu gemas langsung mengangkat tubuh Rose hingga memutarnya dengan ciuman mereka yang tidak lepas.


Namun, sudah beberapa detik lamanya kini Gabriel melepaskan lumatannya sambil memutari tubuh Rose yang terlihat benar-benar sangat manis. Mereka berdua terlihat sangat bahagia dengan keadaan Rose yang merentangkan kedua tangannya melambung tinggi saat Gabriel selalu memutari tubuhnya.


“I love you, Gabriel!” Pekik Rose yang seakan-akan begitu bahagia atas hari jadi mereka sebagai pasangan suami istri.


“I love you to, istriku Nyonya Gabriel!” Sahut Gabriel dengan wajah yang sangat bahagia.


Sehingga tak terasa semua orang ikut tertawa penuh harus melihat pasangan yang begitu romantis.


Tak berlangsung lama, akhirnya Gabriel menurunkan Rose secara perlahan dan mereka pun langsung mendekati keluarganya untuk meminta restu satu sama lain yang mana semuanya menangis penuh harus melihat Gabriel dan Rose benar-benar sudah resmi.


Selang beberapa jam, akhirnya sesi acara selanjutnya di mulai yang mana semua orang mengucapkan selamat kepada pasangan suami istri yang baru saja sah.


Sampai tak terasa kini, sudah di ujung acara yang mana waktunya kedua pengantin harus beristirahat karena dari tadi mereka sudah terlihat sangat lelah lantaran harus menerima tamu sebegitu banyaknya.


Hingga membuat kaki Rose terasa sangat pegal, bahkan Rose selalu mengeluh cape yang membuat Gabriel langsung mengambil ahli agar dia yang akan menyambut semua para tamu sedangkan Rose hanya duduk sambil bersalaman.


"Sayang, aku capek." Rengek Rose kepada suaminya.


"Duduk dulu, biar aku yang selesaikan semuanya sayang." Jawab Briel menuntun Rose untuk duduk dan dirinya berjongkok mengecek pergelangan kaki Rose.


Terlihat bagian belakang kaki Rose lecet karena tidak terbiasa menggunakan hak tinggi.


"Apakah sakit?" Tanya Briel mendongakkan kepalanya.


Terlihat sang istri mengangguk dengan wajah lelahnya, "Tunggu sebentar lagi sayang." Ucap Briel lagi mengecup dahi Rose.


Penghujung acara, Rose berdiri sedikit menjauh dari Gabriel dengan memunggungi para tamu undangan. Terlihat para tamu langsung berkerumun di depan terutama yang belum menikah.


MC mengintruksi hitungan agar Rose melempatkan buket bunga ke arah belakang sebelum pengantin meninggalkan acara.


"Satu, dua, tiga!" Seru MC.


Rose langsung melemparkan sekuat tenaganya ke arah belakang, para tamu singel berteriak untuk berebut. Namun semuanya terdiam saat bungan itu jatuh di pangkuan seorang pria yang duduk tidak jauh dari kerumunan.


Tuk!


Pria itu hanya berkedip cepat, semua yang mengenal pria tersebut bertepuk tangan dengan cepat dan terlihat tersenyum karena pria itu hanya termagu dengan pepegang buket bunga di tangan kanannya.


Kedua pengantin pun meninggalkan tempat acara pernikahan dengan perasaan bahagia, yang mana acara tersebut masih di ambil ahli oleh Kakek Kristoff, Ayah Nugroho, Stevan dan yang lainnya untuk menemani kolega lainnya yang masih ada di tempat acara.


__ADS_1


__ADS_2