
Happy Reading 🌹🌹
"Ayah, kita mampir beli bunga dulu." Ucap Rose yang telah selesai menyeka air matanya.
"Iya, Nak." Jawab Ayah Nugroho.
Hingga pembicaraan mereka berdua terhenti karena mendengar suara isak tangis di depan.
"Loh, Mang Asep kenapa?" Tanya Rose yang mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Mang Asep sedih Non." Jawab Mang Asep dengan sesenggukan.
"Sabar Mang, sabar... besok cari kekasih yang lain lagi. Mati satu tumbuh seribu Mang." Ucap Rose dengan menepuk pundak Mang Asep.
"Hah?" Mang Asep berkedip cepat otaknya berpikir kenapa sampai kekasih.
"Sudah Mang Asep tidak perlu bersedih, di sebelah rumah kita sepertinya ada pembantu baru. Mang Asep bisa gebet." Ucap Rose semakin melantur.
Air mata Mang Asep seketika kering karena dia malah bingung, Nona Mudanya beranggapan dia jomblo kah? Tapi sebenarnya memang jomblo sejak lahir sih.
"Siap Non, tapi Nona yang harus jadi mak coblangnya ya?" Jawab Mang Asep mengikuti alur pembicaraan Rose.
"Siap, potong gaji sebulan ya Mang." Jawab Rose dengan gelak tawa.
Ketiga orang yang ada di dalam mobil akhirnya dapat tertawa setelah keheningan yang melanda.
"Mang kenapa jalannya zig zag?" Tanya Ayah Nugroho.
"Itu Tuan, anu. Mobil di belakang kita sejak tadi memengikuti kita terus bahkan mencoba menyalip kita." Jawab Mang Asep yang masih fokus menyetir.
Rose menolehkan kepalanya ke arah mobil yang di maksud oleh sopir keluarganya. Tetapi belum sempat Rose melihat mobil yang di kendarai Mang Asep berbelok.
Rose kembali duduk dengan tenang dan memikirkan mobil yang mengikutinya tadi, "Apakah dia orang jahat, ah sudahlah orang tidak penting." Gumam Rose dalam hati.
Mang Asep memberhentikan mobil majikannya di sebuah pasar tradisional, karena sejak tadi Mang Asep tidak melihat toko bunga disana.
"Tuan.. Nona.. maaf sepertinya kita tidak akan menemukan toko bunga disini. Mang Asep akan turun membelikan bunga yang biasa untuk menyekar di pasar saja ya." Jawab Mang Asep sopan.
"Tidak apa-apa Asep, pergilah." Jawab Nugroho pelan.
"Rose ikut Mang." Rose sudah membuka pintunya dan keluar.
Mang Asep kaget dan melihat ke arah Nugroho, hanya anggukan kepala yang dia dapatnya. Yang menandakan jika tidak apa-apa.
Akhirnya Mang Asep dan Rose masuk ke sebuah pasar tradisional mencari bunga untuk menyekar.
__ADS_1
"Nah, disana Non. Tempat nenek-nenek yang duduk di lantai itu." Tunjuk Mang Asep ke tempat pojok pasar.
"Ayo Mang." Ajak Rose.
Disisi lain, Gabriel telah sampai di pelataran panti asuhan. Dengan segera Briel mematikan mesin mobil dan membuka pintu, tidak lupa sebuah papebag berada di tangannya.
"Selamat siang om." Sapa seorang anak laki-laki yang melihat kedatangan Gabriel.
"Siang juga." Jawab Gabriel dengan wajah datar.
"Om mau mencari Kak Putri, Bu Siti, atau Om-om yang ada di dalam panti? Tanya anak laki-laki itu polos.
Om-om. Gumam Gabriel
" Om-om siapa? Apa ada tamu didalam?" Tanya Gabriel menyelidik.
"Itu, om-om yang semalam bobok disini." Jawab anak itu lagi.
"Iya, om mau ketemu sama om-om itu." Ucap Gabriel dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Om memanggil om-om, menggelikan. Batin Gabriel.
"Kak Gabriel sudah datang." Ucap Putri yang berjalan kearah Gabriel.
Berial menaikkan sebelah tangan kanannya yang membawa sebuah paperback dan berjalan menghampiri Putri kemudian menyerahkannya.
Briel hanya mengangguk dan segera berjalan ke arah dapur, karena perutnya sudah sangat lapar. Sejak semalam belum memakan apapun kecuali sekaleng soda dingin.
Terlihat Bu Siti tengah menyiapkan makanan untuk Gabriel, karena mengetahui kabar kedatangan Gabriel dari anak panti.
"Nak, Briel. Ayo duduk, Ibu buatkan teh hangat dulu." Ucap Bu Siti yang telah selesai menyiapkan makanan untuk Gabriel.
"Maaf merepotkan." Jawab Gabriel tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, maaf hanya masakan sederhana yang ada disini Nak. Semoga saja kamu menyukai masakan Ibu." Ucap Bu Situ dengan menuangkan air panas di dalam gelas.
Gabriel hanya mengangguk dan mulai mengambil nasi juga beberapa sayur yang belum pernah dia lihat dan coba.
"Ini minumnya, pelan-pelan saja makannya. Ibu tinggal dulu." Pamit Bu Situ kepada Gabriel setelah meletakkan segelas teh hangat di meja.
Lagi-lagi hanya anggukan kepala yang Briel berika sebagai jawabannya. Tangannya mendendok sayur sedikit dan mencicipinya.
"Enak." Gumam Briel dalam hati.
Gabriek makan dengan lahap, meskipun kedua alisnya sering naik turun dan mengkerut sebagai tanda mengekspresikan rasa sayur yang dia makan.
__ADS_1
Tak membutuhkan waktu lama, makanan dan minuman yang di sajikan untuk Gabriel sudah tandas.
Bahkan Gabriel sampai tidak kuat untuk menegakkan tubuhnya, "Aku jadi mengantuk." Gumam Gabriel.
Tepukan di pundak mengagetkan Gabriel, kepalanya menoleh terlihat pria kutub yang sudah siap untuk pergi.
"Ayo." Ucap Sky datar.
Tanpa menjawab Gabriel sudah tahu, lantas Briel berdiri dari duduknya dan berpamitan kepada Bu Siti juga beberapa anak yang berpapasan dengannya.
Mobil sedan tersebut melaju cukup kencang menuju jalan raya. Hingga akhirnya mereka telah sampai di jalan raya.
Dengan sabar Briel menjalankan mobilnya karena tengah terjebak macet.
Sudah cukup lelah Briel di perjalanan harus mendengarkan lagi perdebatan di antara kedua manusia yang duduk di kursi belakang.
"Aku merasa ingin menenggelamkan mereka di palung mariana." Kesal Briel dalam hati.
"Eh, kenapa menjadi sepi?" Ucap Briel dalam hati.
Gabriel yang awalnya fokus menyetir dan mengumpat kedua manusia yang duduk di belakang tersebut, matanya melirik di kaca spion tengah mobil. Terlihat Istri Sky yang tengah memajukan bibirnya seperti bebek.
Briel melipat bibirnya kedalam agar tawanya tidak meledak, karena baru satu menit mendengarkan pasangan tersebut berdebat di menit berikutnya melihat tingkah konyol keduanya.
Suara ghoib muncul secara perlahan, Gabriel kembali melirik kaca tengah mobil.
Terlihat dua kepala yang menyatu, hanya kepala bagian belakang Sky saja yang terlihat dan sedikit jidat Putri.
"Si*l, apa mereka tidak menganggap keberadaanku. Dasar tidak berprikemanusiaan ada jomblo disini!" Batin Briel berteriak.
Briel hanya dapat menelan ludahnya susah payah, bagaimanapun dirinya juga pria normal. Bahkan Briel sudah melonggarkan dasi yang dia kenakan.
Karena aktivitas dibelakang yang semakin membuat dalam diri Briel meronta-ronga sekaligus membuat tubuhnya panas dingin. Dengan kesal Briel mengerem mobil yang tengah dia kendarai secara mendadak.
"Apa kamu mau membuatku mati, Briel." Ucap Sky dengan suara dingin bercampur kesal.
"Maaf Tuan, tadi ada kucing garong lewat sehingga membuat saya mengerem secara mendadak. Konon katanya jika kita sampai menabrak kucing hingga mati, kita harus melakukan ritual agar tidak tertimpa nasib sial." Jawab Gabriel tenang namun dalam hati tersenyum lebar.
"Aku yang bernasib sial karenamu, sudah jalankan lagi mobilnya menuju kantor." Kata Sky dengan kesal.
Gabriel menjalankan kembali mobil dengan tertawa puas di dalam hati, jika di gambarkan dalam bentuk emoji adalah emoji yang memiliki tanduk dan berwarna merah.
...**...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1