
Happy Reading 🌹🌹
Hari berlalu, setelah mengetahui jika dirinya hamil. Rose diam-diam ingin memberikan kejutan kepada sang suami.
Kini Daniel dan Minzy tengah berkunjung dimansion Kriatoff. Keduanya memutuskan untuk tinggal dimansion Kim karena mengingat jika Mama Minzy hanya tinggal seorang diri, lagipula mansion Kristoff sudah ada Gabriel dan Rose.
"Apakah kalian bisa membantuku?" Tanya Rose kepada keduanya.
"Membantu apa." Jawab Daniel yang duduk merangkul istrinya.
"Menyiapkan ulang tahun suamiku." Kata Rose pelan.
Daniel menaikkan sebelah alisnya heran, "Ulang tahunku masih satu bulan lagi." Jawab Daniel.
"Bukan kamu, tapi suamiku." Sungut Rose.
"Iya, apa kamu lupa jika kami kembar. Otomatis ulang tahun kami bebarengan." Ucap Daniel.
"Kamu juga lupa jika Gabriel selama ini besar dikeluarga Gabdratama." Timpal Rose mengingatkan.
Daniel menghembuskan nafasnya panjang, terlihat wajah sendu yang nampak diwajah tampannya.
"Sayang, kita bisa rayakan ulang tahun Kak Gabriel dua kali." Ucap Minzy menengahi.
"Benar, hari ini ulang tahun suamiku selama tinggal dikeluarga Gandratama. Kemudian sebulan lagi bisa merayakan bebarengan denganmu." Rose setuju dengan ide Minzy.
"Hem, baiklah. Apa yang perlu aku bantu?" Tanya Daniel.
"Sini aku bisikkan."
Ketiganya berdekatan dengan kedua tangan Rose yang merangkul Daniel dan Minzy, sepasang suamintersebut terlihat menganggukkan kepalanya.
...***...
Dikantor Kristoff, terlihat Gabriel tengah sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk. Seakan tidak ada habisnya.
Ponsel Gabriel bergetar, segera Briel membuka pesan yang dia dapatkan dari Mama Ambar. Pesan singkat yang berisikan permintaan maaf belum bisa menghubungi dan ucapan ulang tahun disana.
Kedua mata Gabriel memanas karena tidak dapat merayakan ulang tahun lagi dengan kekuarga Gandratama. Namun, dia tetap akan merayakan ulang tahunnya saat menjadi anak angkat Ayah Agung dan Mama Ambar.
Segera Gabriel menelfon Mama Ambar, mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga karena sudah menjadi Mama terbaik untuknya setelah Mama Kristal.
Sejenak Gabriel melupakan pekerjaannya karena mengobrol dengan kekuarga Gabdratama, termasuk Sky.
Hingga suara ketukan pintu mengharuskan Gabriel mengakhiri telfonnya.
"Aku tutup dulu." Pamit Gabriel.
Terlihat asistennya Robby yang masuk dengan membawa beberapa berkas ditangannya, "Ini berkas kerjasama dari perusahaan lain yang ingin mengajak kita kerjasama." Ucap Robby dengan sopan.
"Letakkan saja disana." Jawab Briel.
"Oh, iya. Aku dengar Rose akan berkunjung keperusahaan." Kata Robby.
"Darimana kamu tau?" Jawab Briel dengan menatap curiga.
"Dia menghubungiku." Kata Robby jujur.
Gabriel mendengus kesal, "Ck, dia bisa menghubungimu tapi tidak menghubungiku." Kesal Gabriel.
__ADS_1
"Ada apa lagi? Kalian bertengkar?" Tanya Robby pura-pura tidak tahu.
"Kakak tahu, hampir dua bulan aku dibuat frustasi dengan permintaan dan sikapnya. Kemarin dia memintaku untuk memisahkan biji buah naga, kemudian minta buah strawberry. Aku membelinya ke supermarket dan memborongnya berharap istriku senang. Namun, itu sebuah petaka bagiku. Rose memintaku untuk mencabuti warna hitam yang melekat di kulit buah strawberry." Gabriel mengeluarkan uneg-unegnya dengan perasaan menggebu berharap Robby bersimpati kepadanya.
"Lalu, bagian mana yang membuat kalian bertengkar?" Tanya Robby dengan mencubit pahanya agar tidak tertawa.
"Rose marah karena buah strawberrynya berlubang, bahkan dia mendiamkanku sejak semalam." Sungut Briel.
Ucapan keduanya terhenti dengan kedatangan Rose yang langsung masuk keruangan sang suami.
"Halo, Kak Robby." Sapa Rose.
"Hay Rose, dengan siapa kamu datang?" Tanya Robby yang berjalan menghampiri Rose dan meninggalkan Gabriel.
"Sendiri, aku ingin bertemu dengan Kakak." Jawab Rose enteng.
"Tunggu diruanganku dulu, aku ingin ke toilet terlebih dahulu." Kata Robby.
"Rose akan duduk disini sebentar karena lelah." Ucap Rose.
"Baiklah." Robby berjalan keluar dari ruangan Gabriel hingga menyisakan sepasang suami istri tersebut.
Gabriel manis menatap tajam ke arah istrinya, terlihat Rose sangat acuh dengan keberadaan dirinya. Terlihat Rose begitu sibuk dengan ponselnya, bibir itu terkadang tersenyum dan mengerucut sebal.
"Dia chattingan dengan siapa." Gumam Briel dengan perasaan cemburu.
"Ekhm." Briel berdehem untuk mencari perhatian sang istri.
Rose memutar kepalanya ke arah Gabriel namun hanya sebentar, karena Rose kembali larut dengan benda pipih yang berada ditangannya.
Segera Gabriel beranjak dari kursi kebanggannya, dengan langkah lebarnya Briel berjalan ke arah Rose dan merebut ponselnya dimasukkan kedalam saku jasnya.
Rose mendongak dengan wajah kesal, segera Rose berdiri.
Kening Gabriel mengkerut sehingga membuat alisnya bergelombang, Kak? Kemana panggilan sayang dan manja untuknya.
"Kak, kembalikan ponselku." Rose kembali bersuara dengan memegang lengan Gabriel.
"Berhenti membuatku kesal Rose, sebenarnya kamu ini kenapa. Apa hanya masalah sepele kamu mendiamkanku, kedatanganmu kekantor hanya ingin menemui Robby dan bermain ponsel begitu." Seru Gabriel kepada istrinya.
Rose hanya berdecih, "Aku sedang ada urusan dengan Kak Robby dan bertukar pesan dengan Minzy. Jangan cemburu berlebihan! Cepat kembalikan ponselku!" Rose berteriak didepan sang suami.
Kedua mata Gabriel membola, kenapa sang istri menjadi arogant seperti ini. Kemana perginya istri pendeknya yang manja dan lemah lembut itu. Teringat kedatangan Rose kekantor hanya ingin menemui Robby menjadi mood Briel kembali buruk.
Gabriel merogoh saku jasnya dan menyerahkan ponsel dengan kasar ditangan Rose, "Ini aku kembalikan, jika hanya bertukar pesan dengan Minzy aku tidak keberatan. Tapi, aku tidak suka kamu mengobrol dan berdekatan dengan pria lain. Coba kita balik posisinya, bagaimana perasaanmu saat kamu tahu aku menemui wanita lain didepanmu." Cecar Gabriel dengan tegas.
Rose menatap lekat kedua bola mata Gabriel, kedua mata Rose berkaca-kaca.
"Si*al, apa aku salah berbicara." Umpat Gabriel dalam hati.
"Aku benci dengan Kakak! Dengan sadar dan niat ingin berselingkuh!" Seru Rose.
Kedua bola mata Gabriel seakan ingin meloncat dari tempatnya, Rose sudah salah paham. Bagaimana bisa Gabriel berselingkuh dengan wanita lain, padahal dia begitu mencintai istri pendeknya ini.
"Benci dan cinta beda tipis! Kamu benci atau cinta padaku? Atau dua-duanya." Ucap Gabriel setelah mengendalikan ekspresinya.
"Enak saja, dua-duanya!" Dengus Rose.
"Sayangku, Rose. Aku meminta maaf karena salah berbicara, tolong hentikan tingkah anehmu ini." Kata Gabriel merayu sang istri.
__ADS_1
"Jadi Kakak menganggapku aneh!" Seru Rose.
Ops! Mulut Gabriel kembali salah bicara lagi sepertinya, istrinya kembali bertambah marah kepadanya. Seharusnya Gabriel yang kesal kenapa menjadi Rose yang uring-uringan?
"Tidak... tidak sayang. Kamu tidak aneh, tolong maafkan aku. Harus beribu kata maaf lagi yang aku ucapkan." Kata Briel yang sudah putus asa.
Briel menghela nafasnya panjang, menghadapi wanita yang dia cintai ketika seperti ini benar-benar melelahkan dan membuat kepalanya pusing!
"Sudahlah, apa yang aku katakan. Kata maafmu sangat mudah diumbar." Jawab Rose tanpa beban.
"Apa!" Seru Briel seakan tidak terima dengan ucapan istrinya.
"Aku ingatkan, ketika hari pernikahan Daniel. Kakak juga melakukan kesalahan dan meminta maaf lalu sekarang kakak ulangi lagi. Sudah cukup, mulai malam ini kita tidur berpisah." Ucap Rose panjang lebar.
"Aku cinta kamu, sayang. Tolong maafkan aku." Kata Gabriel dengan suara rendah seakan mengiba, perlahan Briel mendekat dengan meraih jemari Rose.
"Lepaskan!" Rose menolak sentuhan sang suami.
"Apa maumu sebenarnya!" Briel benar-benar sudah hilang kesabaran.
"Pikir saja sendiri!"
Rose langsung meninggalkan Gabriel diruangannya seorang diri, tidak lupa untuk meyakinkan drama. Rose menutup pintu dengan keras hingga kaca yang berada diruangan sang suami bergetar.
Bahkan Gabriel terlonjak kaget karena sikap Rose saat ini.
Brak!
...***...
Sore hari, Gabriel berjalan keluar menuju devisi keuangan karena tidak segera memberikan laporan keuangan dua bulan terakir.
Percuma menghubungi asistennya Robby karena ruangannya telah kosong, teringat pasti Robby pergi bersama istri tercintanya.
Ingin sekali Gabriel pulang dan menculik istrinya saat ini juga, dirinya tidak rela jika Rose dipandang oleh pria lain selain Gabriel.
Prang!
Suara tong sampah yang ditendang Gabriel dengan keras hingga menghamburkan seluruh isinya.
"Apa-apaan ini hah!" Teriak Gabriel dengan suara dinginnya.
Gabriel kembali tersulut amarah karena melihat para karyawan yang berleha-leha, ada yang memainkan tik tok, game, makan, dan bercengkrama.
Para karyawan langsung berdiri dengan tubuh yang gemetar dan wajah pucat pasi, bahkan beberapa dari mereka sudah keringat dingin.
"Apa aku membayar kalian hanya untuk bermalas-malasan! Jika sudah bosan bekerja disini keluar sekarang juga!" Seru Gabriel lagi.
"Kenapa diam saja!" Ucap Gabriel lagi.
"Maaf pak." Ucap serentak para karyawan dengan menundukkan kepalanya.
"Aku tidak butuh kata maaf kalian! Satu jam laporan selama dua bulan harus sudah di mejaku tanpa kesalahan apapun!" Perintah Gabriel dengan tegas.
Para karyawan menelan ludahnya susah payah, bukan karena laporannya namun atasannya tidak ingin kesalahan apapun.
"Segera bersihkan kekacauan ini, atau aku tendang dari perusahaan Kristoff saat ini juga." Lanjut Gabriel lagi.
Para karyawan di devisi keuangan segera berhamburan untuk membersihkan kekacuan yang mereka buat, kepala devisi segera menghubungi Rose jika rencananya sudah berhasil dilakukan.
__ADS_1
Ya, dalang dibalik semua kejadian ini adalah istri sang CEO sendiri yaitu Rose.
...🐾🐾...