Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
AML Berubah CLL


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Dua jam lamanya, Gabriel dan koleganya melakukan rapat.


"Baiklah, deal." Ucap kakek Kristoff tanpa basa basi.


Gabriel terpaku, sedetik kemudian tersenyum hangat.


"Terima kasih, kami akan mengirimkan kontraknya melalui email." Jawab Gabriel.


"Besok, besok kita bertemu lagi untuk menandatanganinya." Ucap kakek Kristoff.


"Baik, lebih cepat lebih baik." Kata Gabriel yang setuju dengan permintaan koleganya.


Terlihat, Gabriel membereskan berkas-berkasnya untuk membawanya kembali ke kantor.


"Bisakah, kita makan siang bersama?" Tanya kakek Kristoff kepada Gabriel.


Gabriel melihat ke arah arlojinya, "Baiklah, Tuan. Tapi saya tidak bisa berlama-lama." Jawab Gabriel yang sekali lagi menyetujui permintaan kakek Kristoff.


Terlihat senyum melengkung sempurna di bibir tua kakek Kristoff.


Seorang pelayan segera masuk setelah ketiganya memesan makanan.


"Berapa usiamu Gabriel, sepertinya masih sangat muda." Ucap kakek Kristoff.


"28 tahun." Jawab Gabriel singkat.


Jantung kakek Kristoff berdetak cepat, tidak mungkin ada sesuatu hal yang tidak sengaja di dunia ini.


"Wah, di usia mudamu kamu sudah menjadi seorang sekertaris." Ucap kakek Kristoff seakan bangga.


Gabriel menganggukkan kepalanya, dan menyesap kopi yang hanya tersisa setengahnya.


"Apakah, kamu memiliki saudara?" Tanya kakek Kristoff lagi.


"Sebenarnya, apa tujuan Anda." Jawab Gabriel dengan menatap datar ke arah pria tua yang duduk didepannya.


"Tidak ada, aku hanya sangat kagum terhadapmu saja." Ucap kakek Kristoff dengan tertawa pelan.


Gabriel kembali diam, sembari menunggu pesanan mereka Briel hanya melihat ponselnya saja.


Terlihat sepi seperti kuburan, tidak ada pesan masuk meskipun hanya dari operator sekalipun.


Sedangkan Robby asisten kakek Kristoff sejak tadi hanya diam mengamati gerak gerik Gabriel.


Sama halnya dengan kakek Kristoff yang sejak tadi juga mengamati dan mencoba mencari informasi lebih jauh tentang pria didepannya.


Hingga akhirnya suara pintu di buka, terlihat pelayan membawa troli makanan.


Dengan pelan dan sopan, pelayan menghidangkan pesanan di atas meja.


"Silahkan dinikmati, Tuan." Ucap pelayan dengan undur diri dari ruangan VIP tersebut.

__ADS_1


Ketiganya langsung duduk dengan tegap dan mengambil makanan masing-masing yang sudah mereka pesan.


"Jika kurang cocok dengan makanannya, jangan sungkan sampaikan kepada Saya." Ucap Gabriel kepada koleganya.


"Ya, Terima kasih." Jawab kakek Kristoff dan Robby bersamaan.


Ketiganya mulai memakan makanan mereka, setiap suapan yang di lakukan Gabriel tidak luput dari pandangan kakek Kristoff.


Bagaimana pria tersebut menyingkirkan kacang polong dan wortel di piringnya.


"Kenapa, kebiasaan mereka sama." Gumam kakek Kristoff dan Robby.


Gabriel makan dengan tenang, tidak memperdulikan pandangan koleganya. Yang penting selesai dengan cepat dan segera pergi dari sini.


.


.


.


"Terima kasih, untuk jamuannya Tuan." Ucap Robby kepada Gabriel.


"Saya juga mengucapkan terima kasih, Tuan. Biarkan di antarkan oleh orang Saya, akan Saya tinggalkan satu sopir bersama kalian." Jawab Gabriel.


"Baik, terima kasih atas kebaikan kalian." Kata kakek Kristoff tulus.


"Sama-sama, jika begitu Saya permisi dulu." Ucap Gabriel sekaligus pamit undur diri.


"Robby." Panggil kakek Kristoff.


"Ya, Tuan." Jawab Robby.


"Apa kamu memikirkan, apa yang sedang aku pikirkan?" Tanya kakek Kristoff.


"Mereka sangat mirip, bagaikan pinang dibelah dua." Jawab Robby jujur.


"Cari tahu tentangnya secepatnya, Robby." Perintah kakek Kristoff.


"Laksanakan, Tuan." Jawab Robby.


Mobil yang di sediakan oleh perusahaan Gandratama telah sampai didepan keduanya, segera kakek Kristoff dan Robby masuk dan menuju Rumah Sakit.


Sedangkan Gabriel fokus menyetir menuju perusahaan Gandratama. Hingga mobilnya berhenti di lampu merah.


Dengan menoleh sekeliling, pandangan Gabriel terkunci pada mobil yang dia kenali. Secepat kilat Gabriel mengacuhkannya.


"Bukan urusanku, bukan urusanku." Gumam Briel dalam hati.


Melihat lampu telah menyala hijau, segera Gabriel menancap gas mobilnya.


.


.

__ADS_1


.


Kini, Robby dan Kakek Kristoff telah sampai di Rumah Sakit.


Terlihat keduanya telah masuk di ruangan seorang dokter.


"Bagaimana hasilnya?." Tanya kakek Kristoff tidak sabar.


"Cucu, Anda terkena Leukimia sejak usia berapa, Tuan?" Tanya sang dokter.


" Ketika di fonis mungkin sekitar usia enak atau tujuh tahun, dok. Sebelumnya kami kira hanya penyakit ringan karena gejalanya cucu Saya sering demam tinggi." Jawab kakek Kristoff jujur.


"Kondisinya saat ini masuk stadium dua, Tuan. Yang awalnya acute myeloid leukemia (AML) berubah menjadi kronis atau chronic lymphocytic leukemia (CLL)." Jelas sang dokter dengan menunjukkan hasil laboratorium.


Kakek Kristoff bergetar mendengarkan penjelasan dokter, kedua matanya sudah memanas hingga menitikan air matanya.


"Ba... bagaimana bisa, Dok. Cucu saya sudah cukup lama tidak kambuh." Tanya kakek Kristoff dengan suara bergetar.


"Ini karena perubahan atau mutasi DNA pada sel di sumsum tulang. Mutasi ini menyebabkan sumsum tulang memproduksi terlalu banyak limfosit yang tidak normal dan belum matang." Jelas dokter kepada kakek Kristoff.


Kakek Kristoff seakan bibirnya kelu untuk berbicara.


"Dok, apa yang harus kami lakukan? Apakah dengan kemoterapi akan mematikan penyakit tersebut." Tanya Robby dengan tenang.


"Bisa, dapat di lakukan dengan tiga cara yaitu kemoterapi, terapi target, dan transplantasi sum-sum tulang." Jawab dokter memberikan tiga opsi.


"Dari tiga opsi, cara mana yang tidak membuat cucuku kesakitan dokter?" Tanya kakek Kristoff yang sudah mengis.


"Setiap pengobatan ada efek sampingnya, Tuan. Transplantasi sum-sum tulang juga harus melalui kemoterapi paling tidak 1-2 Minggu sebelum operasi." Jawab dokter menjelaskan.


"Kemoterapi akan dilakukan dengan pemberian obat, baik melalui suntikan maupun diminum, untuk membunuh sel kanker."


"Terapi target juga dilakukan dengan pemberian obat-obatan. Namun, obat yang diberikan dalam terapi ini berfungsi untuk menghambat protein yang digunakan sel kanker untuk bertahan dan berkembang."


"Sedangkan transplantasi sum-sum tulang dilakukan dengan mengganti sel sumsum tulang yang rusak dengan sumsum tulang sehat sendiri atau dari pendonor." Lanjut dokter menjelaskan perbedaan tiga pengobatan kepada kakek Kristoff dan Robby.


Terlihat Kakek Kristoff diam dan berfikir, jika transplantasi sum-sum tulang. Berarti harus mencari pendonor yang cocok untuk Daniel.


"Dok, untuk transplantasi sum-sum tulang. Apakah harus satu darah dengan cucu Saya?" Tanya kakek Kristoff.


"Tidak harus, Tuan. Bisa yang tidak sedarah, namun untuk mencari transplantasi sum-sum tulang tidaklah mudah." Jawab sang dokter.


"Jika begitu, lakukan kemoterapi terlebih dahulu. Kami meminta tolong kepada pihak Rumah Sakit untuk mencarikan pendonor, tetapi kami juga akan mencarinya juga." Ucap kakek Kristoff dengan penuh harap.


"Baik, Tuan. Kami akan melakukan pemeriksaan bertahap." Jawab sang dokter.


Mimisan yang terus-menerus terjadi juga bisa menjadi gejala leukimia.


Orang dengan leukemia sering pula mengalami memar dan juga mudah berdarah.


Leukimia adalah kanker sel darah putih, yang menghambat darah putih dalam melawan infeksi. Ketika seseorang memiliki leukemia, sumsum tulangnya tidak mampu memproduksi sel-sel darah merah yang cukup dan trombosit untuk memasok kebutuhan tubuh. (Sumber : Halo Dokter)


...🐾🐾...

__ADS_1


__ADS_2