
Happy Reading 🌹🌹
Seluruh orang yang berada di dalam ruangan kaget karena teriakan histeris yang keluar dari bibir Eve. Terlihat tubuh Eve bergetar hebat bahkan pelipisnya sudah mulai muncul keringat.
"Ringkus mereka berdua." Seru Nyonya Kim. kepada para polisi.
Segsra para polisi meringsek maju untuk membekuk Ketua Kim dan Eve, Eve semakin menjadi karena baru melihat saja sudah membuatnya hilang kendali.
"Tidak! Aku bukan pembunuhnya! Bukan aku!" Seru Eve memberontak.
"Tenanglah nyonya, nanti bisa jelaskan di kantor polisi." Ucap salah satu petugas.
"Ini semua ulah pria tua itu! Dia yang menyuruhku, aku tidak bersalah." Seru Eve menuding ke arah Ketua Kim.
Para wartawan dan pemegang saham yang tidak tahu apa maksud dari ucapan Eve hanya diam tanpa suara, mereka hanya merekam dan menyiarkan kejadian hari ini.
Para polisi membekuk keduanya dengan paksa, langkah Ketua Kim berhenti tepat di depan Nyonya Kim. Pandangan Ketua Kim tajam ke arah mantan istrinya memberikan isyarat aku akan balas dendam.
"Cepat jalan!" Perinta polisi yang berada di belakangnya.
Ketua Kim mulai kembali berjalan setelah pundaknya di dorong oleh polisi yang membekuknya, sedangkan di dalam ruangan mulai kondusif. Seluruh orang yang berada di dalam ruang rapat terlihat berbaur saling memberikan selamat meskipun dari mereka terlihat masam karena kalah dalam pemilihan.
Eve dan Ketua Kim masuk kedalam mobil yang di bawa oleh ketua polisi dengan penjagaan polisi kanan dan kiri, terlihat Eve hanya menangis dan gemetar.
Kepala polisi melajukan mobilnya bukan ke arah kantor polisi melainkan ke arah lain, "Kalian ingin membawa kali kemana!" Seru Ketua Kim yang sadar ini bukan jalan menuju kantor polisi.
Tidak ada yang menjawab, ketua polisi terus melaju kencang ke suatu tempat. Ketua Kim memberontak dengan menyikut perut polisi yang berada di sebelah kanannya dengan keras.
Bugh!
Ketua Kim langsung mencondongkan tubuhnya untuk menggapai stir mobil, "Apa yang kamu lakukan!" Seru ketua polisi.
"Eve! Bantu ayah atau kamu akan mati." Seru Ketua Kim.
Eve kembali sadar setelah mendengar teriakan suara ayahnya, Eve menghalangi polisi yang menarik tubuh Ketua Kim dari belakang. Terjadilah pergulatan di dalam mobil tersebut terlihat jika mobil yang di tumpangi keduanya tidak berjalan lurus namun zig zag akibat ketua polisi dan Ketua Kim yang memegang kendali saat ini.
Hingga ada satu mobil yang menghadang membuat ketua polisi mengerem mendadak, membuat semuanya terhuyung kedepan.
Eve langsung membuka pintu mobil dan mendorong polisi di sampingnya yang masih terlihat kaget dengan kasar, membuat polisi wanita itu terjatuh dengan keras di jalan raya.
Eve berlari sekuat tenaga dengan kedua tangan di borgol didepan, "Aku tidak ingin mati." Ucapnya.
"Kejar dia!" Seru ketua polisi.
__ADS_1
Kedua polisi mengejar Eve karena harus segera di bawa ke suatu tempat, Eve berlari dengan sesekali melihat ke arah belakang ternyata dua polisi tengah mengejarnya. Eve semakin mempercepat larinya meski sebenarnya tenaga Eve tidak sekuat waktu muda dulu.
Disaat Eve sibuk berlari dan melihat ke arah belakang, tanpa dia sadari dari arah depan sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya. Mobil itu melaju lurus ke arah Eve tanpa gentar sedikitpun hingga akhirnya target tertabrak.
Brak!
Tubuh Eve terpelanting sedikit ke udara dan berguling dari depan mobil hingga kebelakang mobil bahkan berguling beberapa meter dari mobil yang menabraknya.
Ketua Kim yang melihat kecelakaan itu tubuhnya membeku, beruntung ketua polisi dapat meringkus kembali Ketua Kim dan memborgolnya dengan sebuah tiang yang berada di dalam mobil polisi.
"Eve!" Seru Ketua Kim.
Darah menggenang di sekitar kepala Eve, tidak cukup keluar dari kepalanya namun bibir juga dari hidung Eve, bahkan tubuh Eve menggelinjang seperti seekor ayam yang baru di sembelih.
Kedua mata Eve melotot ke arah mobil polisi yang membawa mereka dan seseorang yang keluar dari dalam mobil terlihat berjalan mendekat ke arah Eve. Orang itu berjongkok dengan senyum pedihnya.
"Kamu harus merasakan apa yang putriku rasakan." Ucap pria tersebut dengan air mata yang menetes.
Eve tidak sanggup berkata-kata karena kesadarannya sudah mulai hilang, entah dirinya mati begitu saja atau akan menghadapi penderitaan yang lainnya.
Pria itu berdiri dan melagkah kembali ke arah mobil meninggalkan Eve tergeletak begitu saja, seperti apa yang di lakukan oleh orang-orang jahat yang langsung meninggalkan tubuh Rose saat itu juga.
Ayah Nugroho membalaskan kesakitan putrinya kepada Eve, karena wanita itu membuat Rose harus bertaruh nyawa beberapa hari.
"Bagaimana?" Tanya Suryo.
Suryo menjalankan mobilnya ke bandara setelah dirinya bertukar posisi dengan Ayah Nugroho, Suryo membunyikan klakson ketika melewati beberapa polisi dan mobil polisi. Terlihat polisi melakukan bow kepada mobil asing tersebut.
Beruntung jalan yang di lalui oleh polisi membawa Ketua Kim dan Eve tidak ada CCTV karena ini adalah jalan menuju sebuah hutan yang jarang di lalui oleh orang awam kecuali orang-orang yang ingin pergi berkemah.
Polisi segera menghubungi ambulance karena terhadi kecelakaan lalu lintas di jalanan yang cukup sepi, sedangkan Ketua polisi meninggalkan anak buahnya untuk membawa Ketua Kim ke sebuah bangunan di tengah hutan tempat di mana Kriatal di sekap beberapa hari lalu bersama mobil bodyguard yang menghadang jalan mereka tadi.
Sedangkan kini di perusahaan Kristoff terlihat Kakek Kristoff dan rombongan kembali menuju ruangan CEO. Semuanya berkumpul untuk sedikit merayakan kemenangan mereka.
"Astaga, Stevani hampir mati di dalam sana karena kalian lama muncul." Ucap Stevani mendramatisir.
"Hiperbola sekali." Jawab Gabriel acuh.
Stevani berdecak kesal, "Siapa yang akan mengunjungi mereka di hutan?" Tanya Stevani.
Terlihat semua orang menoleh dan saling pandang, "Bolehkah jika Kristal yang kesana?" Uvap Kristal pelan.
"Apa kamu yakin?" Tanya Stevan.
__ADS_1
Kristal mengangguk pelan, "A-aku hanya ingin tahu kenapa Ketua Kim tega membunuh kedua orang tuaku." Kata Kristal lirih.
"Gabriel akan ikut." Putus Briel.
"Jika begitu aku akan menyusul setelah menjenguk Daniel sebentar di Rumah Sakit." Timpal Stevan pada keduanya.
"Benar, kapan kalian akan menjalankan operasinya?" Tanya Kakek Kristoff.
"Sebenarnya bisa Stevan mulai hari ini, karena hari ini adalah hati penting jadi Stevan mengundurnya besok." Jawab Stevan pelan.
"Bodoh! Kenapa harus di undur-undur lagi biarkan Kristal dan Gabriel saja yang membalas ke mereka kamu mulai menjalani perawatan untuk operasi." Sentak Stevani kepada adiknya.
"Benar apa yang di katakan kakakmu, lebih baik kalian bekerjasama dalam membaginya. Stevan datanglah ke Rumah Sakit dan mulai menjalani perawatan untuk persiapan operasi sesangkan Gabriel akan mendampingi Kristal untuk menemui mereka." Ucap Kakek Kristoff setuju dengan pendapat Stevani.
"Baiklah ayah." Jawab Stevan pelan.
"Jika begitu ayo kita ke Rumah Sakit, aku juga ingin bertemu dengan Minzy karena dia lebih memilih menunggu Daniel daripada Ibunya di rumah." Keluh Nyonya Kim.
Semua orang tertawa begitu juga Nyonya Kim, "Maafkan kami merepotkan putri anda." Ucap Stevan.
"Tidak tentu aku senang karena mereka bisa saling melengkapi, aku juga bersyukur Minzy akan menjadi bagian keluarga kalian." Jawab Nyonya Kim tulus.
"Kita akan menjadi keluarga besar." Ucap Stevani.
Gabriel hanya diam dirinya pergi melangkah meninggalkan ruangam CEO, lebih baik bertemu dengan kekasihnya dan mengutarakan niatan Gabriel untuk mempersuntingnya.
Seulas senyum di bibir Briel terbit, dirinya sudah membayangkan betapa bahagianya Rose saat dilamarnya nanti. Ingin sekali Gabriel melamar kekasihnya secara romantis bukan di Rumah Sakit apalagi ruang rawat namun apa boleh buat garis takdir mereka harus melalui semua ini.
"Gabriel kemana?" Tanya Kristal yang mendapati Gabriel tidak ada di ruangan.
"Dia tadi keluar, mungkin ke Rumah Sakit mengunjungi Rose." Jawab Stevani santai.
Robby melebarkan kedua matanya karena kaget, bagaimana bisa dia kecolongan. Tidak bisa Robby harus mengalihkan perhatian Gabriel.
"Maaf tuan dan nyonya, saya permisi." Pamit Robby.
"Mau kemana, Rob?" Tanya Kakek Krostoff.
Robby membungkuk dan membisikkan sesuatu ke telingan majikannya, membuat Kakek Kriatoff ikut kaget bahkan telinganya di jauhnya kepalanya meboleh ke arah Robby seakan tidak percaya. Robby mengangguk sebagai jawaban jika benar adanya.
"Segeralah pergi." Ucap Kakek Kriatoff.
... 🐾🐾...
__ADS_1