
Happy Reading πΉπΉ
Stevani berlari menuju apartemen dan menekan tombol kunci dengan cepat.
Berlari menuju ruang tamu dimana ponselnya disana, dengan panik Stevani mencari nomor kontak yang dapat dia hubungi.
π€ Hal---
π£οΈ Kristal diculik!
π€ Apa!
π£οΈ Cepat kembali.
π€ Baik Nona.
Stevani menghubungi Robby , setelah menghubungi Robby Stevani menghubungi Stevan.
Stevan yang tengah berdebar dengan Eve langsung pergi ketika melihat sang kakak menelfon.
π£οΈ Stevan cepat datang ke apartemen!
π€ Ada apa Ka---
π£οΈ Kristal diculik!
Stevan langsung berlari menuruni anak tangga, berlarimelesat secepat mungkin.
Terdengar suara mesin mobil yang pergi meninggakan mansion dengan kecepatan tinggi.
Eve yang melihat kepanikan Stevan tersenyum dengan bersedekap dada.
"Kita lihat Stevan, bukan hanya kamu yang menangis namun seluruh keluarga Kristoff." Ucap Eve pelan yang diakhiri dengan tawa.
Stevan mengendarai mobil sportnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya kalut bagaimana bisa Kristal diculik dengan pengawalan ketat seperti itu.
Stevani hanya bisa mondar-mandir diruang tamu dengan menggigit ibu jarinya.
"Sial, aku harus berbuat apa!" Teriak Stevani frustasi.
"Berpikirlah Stevani, ayo berfikir!!" Stevani semakin frustasi.
Sedangkan ditempat Agung, Robby langsung menyampaikan jika Kristal diculik.
"Apa! Bagaimana bisa!" Seru Kakek Kriatoff.
"Mohon maaf, Tuan. Kita harus kembali secepatnya." Jawab Robby sopan.
"Gabriel akan pergi lebih dulu, Kek." Ucap Gabriel yang langsung menyambar kunci diatas meja.
Gabriel berlari dari rumah Ayah Agung dengan cepat menuju mobil, perlahan mobil bergerak meninggalkan pelataran rumah Ayah Agung.
Terlihat wajah Gabriel berubah menjadi dingin, tangannya sibuk memasang hadset dan menelfon ketua tim penjaga bayangan.
Ketua Tim yang tengah berada di lokasi bersama tenaga medis untuk memindahkan tubuh Rose dan Jin kerumah sakit menjauh dari kerumunan.
π£οΈ Apa kalian tidak becus bekerja!
π€ Maaf Tuan, kami dihadang oleh banyak bodyguard bayangan juga dari Ketua Kim dan Nyonya Eve.
π£οΈ Apa.
π€ Benar Tuan, bahkan bodyguard yang menjaga di bawah apartemen juga berhasil mereka lumpuhkan dengan sengatan listrik dari alat kejut.
π£οΈ Dimana kalian.
__ADS_1
π€ Kami sedang dijalan Tuan, mencoba melacak keberadaan Nyonya Kristal.
π£οΈ Kirimkan lokasi.
π€ Ba-baik Tuan.
Bodyguard terbata ketika permintaan twrakhir Gabriel, bagaimana jika tahu kekasihnya menjadi korban.
Gabriel memukul kemudi mobilnya dengan keras, "Brengsek!" Umpatnya.
Dengan perasaan amarah yang meletup-letup, Gabriel menginjak gas lebih dalam hingga membelah jalanan yang nampak sepi tersebut.
Disisi lain, Stevan telah sampai di apartemen dengan memarkirkan mobilnya secara serampangan. Stevan berlari menuju lift.
Terlihat Stevan begitu kalut dengan kejadian ini, jemarinya memencet tombol anak panah kebawah.
"Ayo cepatlah." Ucap Stevan frustasi.
Stevan melihat arah kanan dan kiri, pintu darurat. Stevan segera berlari masuk kepintu darurat.
Hanya satu-satunya jalan agar dapat sampai di unit apartemen keluarganya.
Terdengar suara nafas yang begitu kasar mengingat usia Stevan tidak muda lagi, menyeka keringat beberapa kali.
Bahkan pakaian Stevan sudah basah, kedua kakinya serasa tidak kuat lagi untuk menaiki anak tangga.
Tinggal satu lantai lagi, dengan mengumpulkan seluruh sisa tenaganya. Stevan dengan perlahan namun pasti nemaiki setiap anak tangga.
"Hah... hah... hah..." Stevan langsung terbaring diatas lantai yang dingin dengan nafas memburu.
"Kristal." Ucap Stevan.
Stevan segera berdiri dan berjalan ke apartemen keluarganya, menekan pasword pintu apartemen.
Stevan tidak menggubrisnya, "Bagaimana bisa Kriatal diculik Kak, dimana para penjaga." Ucap Stevan dengan nada marah.
"Para pengawal yang menjaga apartemen kalah telak dengan orang suruhan Eve dan Ketua Kim." Jawab Stevani.
"Pengawal bayangan?" Tanya Stevan.
"Tidak tahu." Jawab Stevani jujur.
Stevan menjatuhkan bobot tubuhnya disofa, Stevani yang melihat penampilan adiknya heran.
"Apa kamu habis berlari?" Tanya Stevani dengan menyentuh kemeja Stevan sedikit.
"Stevan naik tangga darurat." Jawab Stevan jujur.
"Bagus, olahragalah agar menjadi pintar." Ucap Stevani dengan bersedekap dada.
Kini Gabriel telah sampai di lokasi yang dikirmkan oleh pengawal bayangannya.
Para pengawal melakukan bow ketika melihat Gabriel tela keluar dari mobil dan berjalan mendekat kearaj mereka.
Terdengar suara pukulan dan tendangan dijalan raya itu, beruntung jalan raya di tutup oleh polisi sementara waktu atas permintaan para pengawal bauangan.
"Apa kalian bodoh hah!" Seru Gabriel sengan wajah merah padam.
"Maaf Tuan, maafkan kami." Jawab ketua pengawal.
Terlihat Gabriel mengguyar rambutnya kebelakang dengan kasar.
"Lacak keberadaan Mamaku melalui cincinnya." Perintah Gabriel dengan menyodorkan ponselnya.
Ketua pengawal mengambil dan mulai menghubungkan ketablet yang dibawa olehnya.
__ADS_1
Terlihat alis ketua kim berkerut dan memastikan sekali lagi jika tidak salah.
"Kenapa lama sekali." Seru Gabriel yang tidak habis pikir memperkerjakan orang bodoh.
"Maaf Tuan, tapi ini menunjukkan jika Nyonya berada didalam apartemen." Jawab ketua pengawal.
Gabriel melebarkan kedua matanya dan mengambil tablet yang berada ditangan ketua pengawal.
Terlihat Gabriel mengzoom sinyal dari cincin tersebut, benar jika cincinnya berada diapartemen.
"Kerahkan seluruh pengawal untuk mencari Mamaku dan tambahkan anggota jika masih kurang. Selama dua puluh empat jam harus sudah ditemukan." Perintah Gabriel kepada ketua pengawal.
"Siap laksanakan." Jawab ketua pengawal.
Gabriel melihat darah yang terlihat masih setengah kering mengerutkan keningnya, "Apakah ada kecelakaan?" Tanya Gabriel.
"Iya Tuan." Jawab ketua pengawal cepat.
Terdengar suara ponsel Gabriel berbunyi terlihat nomor Robby muncul dilayar.
"Berpencar." Ucap Gabriel sebelum pergi mengangkat panggilan Robby.
"Baik." Ketua pengawal dan yang lainnya segera pergi dari hadapan Gabriel.
Sedangkan Gabriel berjalan menuju mobil dan menerima telfon Robby yang sudah berada di jalan bersama yang lainnya kecuali Daniel yang masih tertidur.
π€ Bagaimana, Briel?
π£οΈ Sepertinya mereka sudah mengetahui rencana kita.
π€ Bagaimana bisa.
π£οΈ Mereka mengerahkan pengawal bayangan juga.
π€ Tapi, bagaimana bisa mereka tahu.
π£οΈ Nyonya Kim.
π€ Ah, benar. Sial dia berkhianat!
π£οΈ Briel tunggu di apartemen.
Gabriel menoleh kebelakang melihat kembali darah yang berada di aspal tersebut sebentar sebelum dirinya benar-benar masuk kedalam mobil dan meninggalkan TKP tersebut.
"Bagaimana Robby?" Tanya Kakek Kristoff.
"Ketua Kim dan Eve sudah mengetahui rencana kita Tuan." Jawab Robby jujur.
Kakek Kristoff terlihat menghela nafas.
"Apakah kita tetap melindungi Nyonya Kim?" Tanya Robby kepada Kakek Kristoff.
"Terus lindungi, cukup kita kecolongan satu kali." Jawab Kakek Kristoff.
"Bagaimana menurut Anda?" Tanya Robby pada Agung.
"Aku setuju dengan Tuan Kristoff, beri perlindungan kepada Nyonya Kim dan yakinkan dia jika kita dapat melindunginya beserta Minzy." Ucap Agung yang setuju dengan keputusan Kakek Kriatoff.
"Mungkin kali ini sulit untuk menemuinya, karena Ketua Kim susah memgetahui tentang keamanan Kristal." Timpal Kakek Kristoff.
"Betul, kita harus memikirkan rencana baru agar dapat bertemu dengan Nyonya Kim." Ucap Agung lagi.
Robby mendengarkan seksama dan harus melangkah dengan hati-hati agar tidak salah strategi.
... πΎπΎ...
__ADS_1