Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Kakek Kristoff dan Gabriel


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Robby meencari taxi online untuk menuju Rumah Sakit, karena keadaan yang sangat mendesak. Robby tidak bisa langsung meminta tolong kepada koleganya.


"Bagaimana, Rob?" Tanya kakek Kristoff.


"Taxi sedang menuju kesini, Tuan." Jawab Robby.


"Yasudah, ayo cepat kita turun." Ucap kakek Kristoff.


Robby langsung membopong tubuh Daniel tersebut dengan susah payah, "El, bisa jalan sendiri kak." Ucap Daniel lirih.


"Diamlah, El." Ucap Robby.


Kakek Kristoff langsung mengambil cairan infus yang menggantung di atas tempat tidur, segera keduanya berjalan keluar dari unit apartemen untuk menaiki lift menuju lantai dasar.


Terlihat Daniel dengan tubuh yang semakin lemas, bahkan tanpa Robby dan kakek Kristoff sadari. Daniel kembali mengeluarkan darah dari hidungnya.


Daniel hanya diam, tidak berbicara maupun melakukan pergerakan karena takut jika membuat kedua pria berbeda usia tersebut semakin khawatir.


Tubuhnya serasa ditusuk jutaan jarum, yang sangat menyakitkan. Daniel hanya memejamkan kedua matanya dan mengetatkan kedua giginya untuk menahan rasa sakit yang mendera.


Hingga lift tiba di lantai dasar, terlihat seorang sopir taxi sudah menunggu dibawah.


Langsung Robby masuk di kursi penumpang dengan membawa botol infus.


Sedangkan kakek Kristoff duduk kursi dengan dengan pengemudi.


.


.


.


Tanpa menunggu lama, taxi telah sampai di Rumah Sakit yang menjadi tujuan mereka.


Segera seorang dokter dan dua perawat mendekat ke arah taxi yang membawa Daniel.


Dokter yang melihat keadaan Danie langsung panik, "Segera bawa ke UGD." Seru dokter.


Segera dua perawat mendorong brangkat dimana Daniel sudah dibaringkan dengan sedikit berlari, karena keadaan pasien yang semakin lemah.


Kakek Kristoff yang melihatnya ikut panik, tapi Robby berusaha menenangkan bosnya.


"Tuan, tenanglah. Tuan Muda hanya kelelahan, ayo kita kesana." Ucap Robby pelan.


kakek Kristoff berjalan beriringan dengan Robby menuju UGD dimana Daniel dibawa.


Cukup lama mereka menunggu di depannruang perawatan, hingga seorang dokter pria keluar.


"Bagaimana keadaan, cucuku?" Tanya kakek Kristoff langsung.

__ADS_1


"Keadaannya sangat lemah, Tuan. Kami sudah mengambil sempel darahnya dan sudah mengirimkannya ke bagian laboratorium. Mohon untuk bersabar." Ucap sang dokter dengan pelan.


Kakek Kristoff langsung terduduk karena merasa kedua kakinya lemas, bagaimana jika El harus menjalani terapi yang menyakitkan itu lagi.


Kakek Kristoff harus menjawab apa kepada Kristal jika menantunya itu pulang.


Robby yang melihat bosnya, segera mengucapkan Terima kasih kepada dokter dan berjongkok di depan kakek Kristoff.


"Tuan, Anda harus kuat. Jika, Anda bersedih siapa yang akan menjaga Tuan Muda. Nyonya Kristal sedang pergi, Saya akan segera temukan Nyonya." Kata Robby kepada kakek Kristoff dengan tulus.


Terlihat kedua mata senjata sudah menitikan air mata, "Aku harus bagaimana, Robby?" Tanya kakek Kristoff dengan terisak pelan.


"Anda harus kuat, Tuan. Nyonya Kristal berada di negara ini. Akan segera Saya temukan, Saya sudah menghubungi anak buah kita untuk menuju ke Indonesia. Saat ini mereka masih dalam perjalanan." Jawab Robby dengan panjang lebar.


Kakek Kristoff semakin tergugu di kursi, Robby mendekat dan memeluk tubuh pria tua yang sudah banyak berjasa bagi keluarga mereka.


"Tuan, kita harus segera menghadiri rapat dengan perusahaan Gandratama. Biarkan suster yang menjaga Tuan Muda saat ini." Ucap Robby.


Kakek Kristoff menyeka air matanya, "Ayo." Jawab kakek Kristoff.


Meskipun hatinya sedang bersedih, kakek Kristoff harus profesional dalam bekerja.


Robby segera berdiri dan membenarkan jasnya, begitu juga kakek Kristoff.


Keduanya berjalan meninggalkan ruangan Daniel, dan meminta tolong kepada salah satu suster untuk menjaganya selama mereka pergi.


.


.


.


"Ck, apa. kamu tidak salah waktu?" Tanya Sky yang sudah moodnya rusak.


"Tidak." Jawab Briel singkat.


"Kita sudah menunggu cukup lama disini, tetapi mana orangnya?" Tanya Sky yang sudah kesal.


"Baru sepuluh menit." Jawab Briel dengan melihat ke arah arlojinya.


"Sudah, membuang-buang waktuku saja. Aku akan kembali ke kantor, kamu tangani rapat kali ini." Ucap Sky yang sudah beranjak dari kursinya.


"Tiga kali lipat." Ucap Briel.


Sky hanya melambaikan tangannya mendengar ucapan Gabriel, terserah Briel ingin meminta bonus berapa kali lipat toh juga perusahaan mereka sendiri.


Sky membuka pintu dan menutupnya tanpa menoleh ke arah saudaranya.


Briel hanya mendengus kesal, hanya ditinggal sendiri padahal ini rapat dengan penyuplai material terbesar di Korea.


Sedangkan di luar restoran, kakek Kristoff dan Robby telah sampai. Mereka terlihat tergesa-gesa karena sudah sangat terlambat.

__ADS_1


Langsung saja Robby menyanpaikan kepada pelayan restoran jika sudah membuat janji pertemuan dengan perusahaan Gandratama.


"Silahkan, ikuti saya Tuan." Ucap pelayan restoran dengan ramah.


Ketiganya berjalan menuju ruangan VIP dimana biasanya tempat para pengusaha melakukan pertemuan penting dan rahasia.


"Kita sudah sampai, Tuan. Silahkan masuk." Ucap sang pelayan dengan membukakak pintu ruangan.


Gabriel yang mendengar suara pintu terbuka, langsung menoleh ke arah sumber suara.


Terlihat dua pria berjas hitam sudah berdiri menatap dirinya disana, langsung saja Briel berdiri dan menyambut kedua tamunya.


Sedangkan pelayan yang berada di belakang langsung menutup pintu untuk menjaga privasi tamu restoran mereka.


"Silahkan duduk, Tuan." Ucap Briel sopan.


Sedangkan kakek Kristoff dan Robby masih terpaku dengan pria yang berdiri di hadapan mereka.


Bagaikan pinang dibelah dua, benar-benar mirip dengan Daniel mereka yang terkapar di Rumah Sakit saat ini.


"Tuan." Panggil Gabriel sedikit menaikkan suaranya.


"Maaf." Jawab Robby.


Robby kembali ke dunia nyata, langsung menepuk lengan kakek Kristoff dengan pelan.


Kini ketiganya sudah duduk di sebuah meja dengan di temani minuman untuk mereka.


"Baiklah, Saya tidak perlu berbasa basi. Perusahaan Gandratama mengajukan kerjasama dengan perusahaan biji beji dari keluarga Kristoff.


Mengingat perusahaan Gandratama bergerak di bidang properti, tentu saja kami selalu membutuhkan besi dan baja yang bagus dengan harga yang relatif rendah." Ucap Briel membuka rapatnya hari ini.


"Siapa namamu?" Tanya kakek Kristoff kepada Gabriel.


"Saya, asisten Tuan Sky. Gabriel." Jawab Briel dengan cepat.


"Apa kamu memiliki orang tua?" Tanya kakek Kristoff lagi.


Raut wajah Gabriel berubah menjadi dingin, "Tuan, saat ini Saya sedang bekerja bukan melamar pekerjaan." Jawab Briel dingin.


"Maaf, Tuan. Sepertinya bos saya hanya ingin mengenal Anda lebih dekat." Ucap Robby kepada Gabriel.


"Saya tidak tertarik, jika tidak ingin melanjutkan rapat. Bisa lain waktu." Ucap Gabriel telak.


"Silahkan teruskan." Ucap kakek Kristoff.


Dengan wajah yang dingin dan datar, suara yang deep. Gabriel menjelaskan tentang perusahaan Gandratama dan keuntungan apa yang akan di miliki oleh perusahaan Kristoff.


Robby mendengar dan memperhatikan dengan seksama, bahkan membaca proposal yang sudah di buat ulang dengan sempurna.


Sedangkan kakek Kristoff masih menatap wajah yang sangat mirip dengan sang cucu, dari raut wajahnya bahkan suaranya hampir sama.

__ADS_1


...🐾🐾...


__ADS_2