Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Vanilla


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Kak." Panggil Rose kepada Gabriel.


Gabriel yang sudah berjalan mengikuti langkah Kristal menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Rose yang berdiri tidak jauh di belakang.


"Apa." Jawab Briel dingin.


Terlihat kedua mata Rose masih menganak sungai, Rose perlahan berjalan mendekat ke arah Gabriel.


"Jangan membuat Tante Kristal sedih, jika Kak Gabriel tidak betak dengan Tante Kristal kembalikan kesini baik-baik atau nanti hubungi Rose saja. Akan Rose jemput sendiri." Ucap Rose panjang lebar.


Sudut bibir Gabriel berkedut, gadis pendek ini apa dia pikir dirinya anak remaja labil.


"Sudah." Jawab Briel singkat.


Rose berjalan mendekat hingga jarak mereka sangat dekat, kedua tangan Rose memegang jas yang dikenakan Gabriel.


"Ap... apa yang kamu lakukan!" Seru Gabriel dengan gugup.


Rose tersenyum licik dan suara yang sangat menjijikkan terdengar.


"Apa yang kamu lakukan kepada jasku!!" Seru Gabriel kesal.


Rose mengeluarkan ingusnya dijas Gabriel dengan sekuat tenaga.


"Itu balasan untuk Kakak, karena sudah membuat aku marah." Jawa Rose dengan membersihkan sisa ingusnya di ujung jas Gabriel yang lain.


Gabriel mendelik kesal dengan kasar Briel melepaskan jasnya dan membuangnya ke lantai begitu saja.


"Cuci sampai bersih dan wangi, jika masih tersisa satu noda saja kamu akan tahu akibatnya." Jawab Briel dengan penuh penekanan.


Briel menendang jasnya sebelum dirinya benar-benar berlalu meninggalkan Rose yang masih berdiri disana.


"Seharusnya aku yang marah, kenapa malah Kak Gabriel yang marah sih." Gerutu Rose kesal dengan memungut jas Gabriel.


Sedangkan Gabriel langsung berjalan menuju kemobilnya, Kristal sudah sejak tadi menunggu Gabriel.


Kristal melihat wajah Gabriel yang kesal seperti bergelayut awan mendung disertai petir.


"Anda, tidak apa-apa?" Tanya Kristal pelan.


Tidak ada jawaban dari Gabriel, pria itu membuka pintu untuk Kristal dan berjalan menuju bagian mobil yang lainnya.


Kristal langsung masuk dan menutup pintunya, begitu juga dengan Gabriel yang sudah menyalakan mesin mobilnya.


Terlihat Kristal meremat ujung dressnya, melihat wajah Gabriel yang terlihat marah membuat pikiran Kristal melayang tak menentu.


Apakah Gabriel marah karena keberadaan dirinya yang akan tinggal satu atap, atau Gabriel marah karena mengetahui jika Rose memiliki kekasih.

__ADS_1


Hanya ada keheningan didalam mobil, hingga akhirnya mobil berhenti di salah satu tempat makan.


"Tante ingin makan apa? hari ini kita beli makanan matang saja dulu, karena di apartemen tidak ada stok sayur." Ucap Briel panjang setelah kebisuan yang melanda.


"Beli apapun yang Anda suka, pasti Saya juga menyukainya." Jawab Kristal pelan.


"Panggil saja Gabriel atau Briel, karena Tante lebih tua dariku." Jelas Gabriel pada Kristal.


"Bolehkah?" Tanya Kristal memastikan.


Gabriel mengangguk dan keluar dari dalam mobil meninggalkan Kristal seorang diri.


"Ya Tuhan." Gumam Kristal lirih air matanya tidak dapat dibendung lagi.


Hatinya merasa sakit dan senang secara bersamaan, sakit karena mengingat perbuatannya dan senang melihat anaknya tumbuh dengan baik.


"Aku harus segera memastikan apakah dia Elbarackku." Gumam Kristal dengan yakin.


Kristal teringat janjinya kepada Daniel sebelum meninggalkan Korea, janjinya yang akan membawa pulang saudara kembarnya.


Tidak membutuhkan waktu lama, Gabriel sudah keluar dari tempat makan dengan dua kantung plastik ditangannya yang berisi makanan.


Dibukanya kursi penumpang untuk menaruh makanan yang sudah dibeli Gabriel.


Posisi Kristal duduk didepan bersama Gabriel, hingga membuat jantung Kristal sejak tadi berdebar dengan cepat.


Gabriel kembali melajukan mobilnya menuju apartemen, hari ini Briel tidak akan lembur dikantor.


"Mungkin, hanya alat mandi." Jawab Kristal pelan.


Gabriel membelokkan mobilnya menuju supermarket yang biasa dilalui jika pulang ke apartemen.


"Ayo, Tan. Gabriel tidak tahu selera Tante." Ucap Gabriel yang sudah membuka pintu terlebih dahulu.


Kristal melepaskan seatbelt nya, dan turun mengikuti Gabriel yang sudah berjalan mendahului Kristal dengan berjalan pelan.


Briel mengambil satu troli sedang dan membawanya masuk.


"Kenapa harus memakai troli, Tante hanya membeli beberapa peralatan mandi saja." Ucap Kristal tidak enak hati.


"Sekalian membeli persediaan makanan, karena diapartemenku hanya tersisa air putih." Jawab Briel acuh.


Kristal mengangguk saja, sifatnya benar-benar seperti Daniel yang terkadang membuatnya merasa jengkel.


Kristal mendengus pelan, jika mengingat hal itu sama persis dengan pria yang membuat masa depannya hancur.


Kini, Kristal dan Gabriel tengah memasuki area peralatan mandi.


Kristal dan Gabriel tidak sengaja mengambil satu sabun dengan wewangian yang sama.

__ADS_1


"Eh, Gabriel suka dengan harum vanilla?" Tanya Kristal.


Briel hanya mengangguk, sedangkan tangannya mengambil dua botol untuk masing-masing.


"Kenapa Gabriel bisa menyukai harum vanilla, bukankah biasanya pria lebih menyukai harum yang maskulin?" Tanya Kristal lagi dengan mengambil pasta gigi.


Gabriel hanya mengendikkan bahunya saja, Briel sendiri juga tidak tahu kenapa lebih menyukai harum vanilla. Harus yang terasa sangat Briel rindukan namun juga menenangkan.


"Tante, juga sangat menyukai harum vanilla. Karena selain harum juga menenangkan siapa saja yang berdekatan dengan Tante." Jelas Kristal kembali.


Gabriel mengangguk setuju dengan ucapan Kristal, mungkin karena hal itu membuat pria kaku tersebut juga menyukai harum vanilla.


"Tante, ambillah satu paket handuk. Karena di apartemen aku tidak mempunyai handuk cadangan." Ucap Briel kepada Kristal.


Kristal tersenyum hangat, ternyata dibalik sikap dinginnya tersimpan sikap yang sangat perhatian dan hangat seperti Daniel.


Kristal mengambil satu set handuk berwarna putih tulang.


"Ambillah yang lain saja, Tan. Karena akan sama dengan milikku." Ucap Gabriel dengan memegang troli.


Kristal terlihat murung, padahal warna kesukaannya adalah warna putih.


Akhirnya Kristal mengambil satu set handuk berwarna pink, Gabriel menghela nafasnya panjang. Warna pink mengingatkan gadis pendek tersebut.


"Ayo, kita kebagian sayur. Apakah ada yang ingin Gabriel beli lagi?" Tanya Kristal pelan.


Gabriel menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju sayur mayur.


Seakan pernah ke sana, dengan cekatan Kristal memilih dan mengambil sayuran yang terjejer rapi di etalase dingin tersebut.


"Jangan mengambil kacang, aku tidak suka." Ucap Briel ketika melihat Kristal ingin memasukkan satu kotak kacang panjang.


Kristal tersenyum dan meletakkan kembali kacang tersebut di etalase, Kristal mengambil jamu enoki sebagai penggantinya.


"Benar-benar sama, selain wajah mereka, sifat dan kesukaannya sama persis." Gumam Kristal dalam hati.


Gabriel berjalan menuju seafood dan daging, terlihat pria jangkung dengan wajah datar nan dingin itu tengah memasukkan beberapa udang kedalam plastik dan juga kerang hijau.


Kristal hanya memandanginya dari jauh, semoga kamu benar Elbarackku. Kita bertiga akan segera berkumpul dan menjadi keluarga yang bahagia, Mama akan menebus semua kesalahan Mama dimasa lalu.


...🐾🐾...


...Maaf teman-teman tidak up tepat waktu. ...


...Tadi pulang dari bimbel, di jalan tuh badan autor lemes bgt sampai rumah langsung tidur. ...


...Bangun tidur punggung rasanya ky ditarik sampe nangis, karena rasanya sakit banget. ...


...Maaf ya teman-teman, semoga alur cerita masih dapat diterima πŸ™...

__ADS_1


Do'anya agar autor selalu diberi kesehatan. Amin.


__ADS_2