Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Pernikahan Daniel dan Minzy


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Rose keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah cemberut berbeda dengan Gabriel yang terlihat sangat bahagia bahkan bibirnya tersenyum sampai telinga.


Bagaimana tidak cemberut, jika Briel mengatakan satu kali bermain nyatanya dua kali di bawah guyuran shower.


"Tidak ada baju, aku sudah sangat lapar sekali." Ucap Rose dengan kesal.


"Tunggu Kak Robby dulu, dia baru ke sini mengantarkan pakaian untuk kita." Jawab Briel dengan memeluk tubuh pendek istrinya.


Tok


Tok


Tok


"Itu pasti Kak Robby." Briel segera berjalan untuk membukakan pintu kamar hotel.


Cklek


Terlihat Robby datang dengan dua kantong pakaian di tangannya, Robby meneliti penampilan Brieo yang terlihat baru saja keluar kamar mandi.


"Ini baju kalian, apa kalian tidak lapar jam segini baru selesai mandi." Ucap Robby dengan memerika jam tangan yang melingkar di tangan kanannya.


"Tidak." Jawab Briel.


Robby memiringkan kepalanya ke kanan guna melihat ke arah dalam kamar pengantin, Briel langsung menggeser berdirinya menghalangi pandangan Robby.


"Kenapa menginpi, ingin melihat istriku ya." Ucap Briel dingin.


"Cih, untuk apa. Aku hanya ingin melihat bentuk kasur kalian saja." Jawab Robby mencebik.


Briel hanya mendengus langsung menutup pintu tanoa menjawab ucapan Robby, sedangkan Robby yang di depan pintu kamar hotel langsung berlalu dari tempatnya.


"Sayang, ini pakaianmu." Briel meyerahka satu tas berisi pakaian kepada Rose.


Rose menerimanya dan segera keduanya berganti pakaian tanpa ada drama mesum saat ini, Briel tidak ingin menggoda sang istri karena Briel yakin jika sampai istrinya menangis atau pingsan dirinya akan menjadi dadar jagung ditangan mertuanya.


Keduanya kini berjalan keluar menuju restoran hotelbyang berada di bawah, Rose menolak tawaran sang suami yang akan memesan room service karena melihat kamar mereka yang sudah seperti di terjang badai.


Terlihat jika keluarga Kristoff masih berada di sana, tidak ada Agung maupun Ambar lagi.


"Kalian sudah selesai?" Tanya Briel yang baru saja sampai meja makan.


Daniel mendengus kesal, "Menunggumu akan membuat kami mati kelaparan." Sergah Daniel.


Rose hanya diam tsrtunduk malu karena mereka adalah yang terakir datang di meja makan, sedangkan acara sarapan sepertinya sudah selesai.


"Duduklah Rose." Ucap Kristal lembut.


Rose tersenyum dan duduk di samping kursi Kristal begitu juga Gabriel, Briel memanggil pelayan untuk memesan makanan.


"Kenapa kakak ipar menggunakan syal, dinegara ini panas apa Kak Rose tidak kepanasan?" Tanya Daniel.


"Tidak." Jawab Rose cepat.


Kakek Kristoff dan yang lainnya hanya tersenyum penuh arti, "Kakek kira kalian tidak butuh makan." Kelakar Kakek Krostoff.


"Kami bangun kesiangan kek, karena terlalu lelah dengan acara semalam." Jawab Briel datar.


Rose hanya mengangguk saja, tidak mungkin Rose melaporkan bagaimana kebebaran dari ucapan sang Kakek dan Ayah tempo hari.


"Begitu, Kakek percaya karena Rose masih bisa berjalan sampai di sini." Ucap Kakek Kriftoff.


"Kapan Daniel akan menikah?" Tanya Briel mengalihkan topik.


"Bulan depan bukan." Jawab Daniel pada semuanya.


"Kenapa tidak di percepat saja, minggu depan saja." Ucap Gabriel dengan memakan sarapannya.


Minzy batuk tersedak ludahnya sendiri, "Mi-minggu depan." Ulang Minzy.

__ADS_1


"Kakek juga setuju dengan saran El, lebih cepat lebih baik. Nanti kalian dapat pergi berbulan madu bersama-sama." Timpal Kakek Kristoff.


"Tidak. Briel tidak mau berbulan madu seperti rombongan tour." Tolak Briel cepat.


"Aku tahu, kakak takut jika Kak Rose akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama kami bukan." Ucap Daniel dengan wajah mengejek.


"Aku ada misi penting." Jawab Briel tegas.


"Misi apa, El?" Tanya Kristal dengan alis mengkerut.


"Membuat cicit untuk kakek." Jawab Briel frontal.


Uhuk! Uhuk!


Rose tersedak makanannya mendengar jawaban yang meluncur dari mulut suaminya.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Tanya Briel dengan wajah cemas.


Rose menerima air putih yang di sodorkan oleh Briel dan meminumnya hingga tandas.


Plak!


Rose memukul lengan sang suami dengan keras, "Kenapa kamu berbicara seperti itu." Geram Rose.


Rose sangat malu di hadapan keluarga suaminya, seharusnya tidak perlu menjawab seperri itu pasti semuanya sudah mengerti.


"Bagus! Bagus! Kalian harus bertanggung jawab dengan kebohongan kalian, buatkan aku cicit sebanyak mungkin." Ucap Kakek Kristoff dengan tertawa.


"Benar, Daniel juga akan membuatkan cicit untuk kakek agar mansion Kristoff ramai." Timpal Daniel dengan mantap.


Minzy mencubit pinggang Daniel karena dirinya juga malu terlebuh mereka belum menikah.


"Ya! Kamu nikahi dulu Minzy baru memikirkan anak." Seru Rose yang kemudian menatap tajam ke arah Briel.


...***...


Seminggu berlalu, setelah perhelatan pernikahan Gabriel dan Rose kini di sebuah balroom hotel mewah yang seharusnya dilaksanakan satubhulan lagi di percepat sesuai permintaan sang Kakek.


Hari ini adalah hari pernikahan Daniel dan Minzy, terlihat gedung dengan nuansa putih keseluruhannya. Warna putih adalah pilihan keduanya tanpa campur tangan kekuarga, karena putuh melambangkan kesucian.


Di dua kamar hotel berbeda terlihat Daniel dan Minzy tengah di rias oleh MUA yang sudah handal dalam bidangnya.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Daniel, hanya polesan sedikit bedak juga liptin transparan karena bibur Daniel sudah merah alami.


"Sudah selesai Tuan, anda tingga memasang pin bunga ini." Perias memberika kotak plastik berisi pin yang terbuat dari bunga segar.


"Baik, terima kasih." Jawab Daniel.


Perias keluar dari ruangan tersebut hingga menyisakan Daniel beserta Gabriel didalam sana.


Daniel berdiri di depan kaca dengan memasang pin bunga yang senada dengan buket bunga pengantin wanita.


"Apa kamu gugup?" Tanya Briel.


"Sedikit." Jawab Daniel jujur.


"Ikuti aku, agar gugupmu hilang."


Gabriel mengajarkan metode yang di dapatkannya dari Kakek Kriatoff, karena sang Kakek dan keluarganya sibuk didalam balroom hotel sehingga membuat Briel yang menemani Daniel.


"Bagaimana, apakah masih gugup?" Tanya Briel kembali.


"Tidak Kak." Jawab Daniel sedikit berbohong.


Sedangkan Rose berada di kamar Minzy karena sang suami menemani saudara kembarnya, terlihat Rose tersenyum melihat Minzy yang masih di rias oleh MUA.


Rose masih bisa merasakan betapa gugup dan bahagianya saat seminggu yang lalu dirinya resmi menjadi istri seorang Gabriel.


Wajah Rose tiba-tiba menjadi panas karena mengingat hal-hal mesum suaminya setelah resmi menikah, Rose bahkan membayangkan aoakah Daniel akan semesum kakaknya.


"Kenapa kamu tertawa, Rose?" Tanya Minzy yang melihat kakak iparnya terkekeh aendiri melalui kaca rias.

__ADS_1


"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya mengingat hal lucu aaja." Jawab Rose yang masih terkekeh.


Tidak mungkin Rose mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya kepada Minzy.


"Sudah selesai Nona." Ucap sang MUA.


"Terima kasih." Jawab Minzy.


Rose berdiri dari duduknya dan menatao lekat wajah Minzy di pantulan cermin, "Wah, kamu sangat cantik sekali." Ucap Rose.


"Benarkah?" Tanya Minzy senang.


Rose mengangguk, "Aku yakin Daniel akan sangat terpukau dengan kecantikanmu ini. Bahkan tidak akan mengenalimu." Jawab Rose dengan gaya hiperbolanya.


Minzy tersenyum senang, namun kedua mata Minzy memanas. Mengingat jika sang Ayah sudah tiada dan di hari pernikahannya dirinya akan berjalan di altar hanya sendiri tanpa didampingi siapapun.


"Ke-kenapa kamu menangis Minzy?" Tanya Rose panik.


"Tidak apa-apa Rose, aku hanya sangat bahagia saja." Jawab Minzy berbohong di balik senyumnya.


"Jangan menangis." Ucap Rose yang berjobgkok dengan membawa tisu di tangannya.


Rose menyeka air mata Minzy dengan pelan namun tangis Minzy senakin deras, perasaannya begitu sakit dan sesak saat ini. Meski sang ayah sangat jahat kepada Ibunya juga orang lain, namun ayah tetaplah ayah yang menjadi cinta pertama anak perempuan.


"A-aku rindu ayah." Ucap Minzy yang akhirnya lolos dari bibirnya di iringi tetesan air mata.


Rose menatap dalam kedua mata Minzy yang kemudian merengkuh tubuh gadisbyang akan menjadi adik iparnya tersebut.


"Menangislah." Kata Rose dengan pelan sembari menepuk punggung Minzy.


Minzy menangis meluapkan perasaan sedihnya dipelukan Rose, kedua tangan Minzy sudah melingkar di punggung Rose yang membungkuk di hadapannya.


Tok


Tok


Tok


"Ada orang datang, kamu hapus dulu airmatamu mungkin acaranya akan di mulai. Akan aku panggilkan kembali MUA." Kata Rose yang melerai pelukannya.


Minzy mengangguk dan menyeka air matanya oerlahan, terlihat hidung merah dan mata sembab akibat tangisannya.


Cklek.


"Ayah." Ucap Rose.


"Apakah Minzy sudah siap?" Tanya Stevan.


"Sebentar lagi, Rose harus memanggil MUA duku sebentar." Jawab Rose yang langsung meninggalkan ruangan Minzy.


Stevan hanya menatap punggung Rose yang mulai menjauh dan melangkah masuk kedalan kamar Minzy, terlihat calon menantunya tengah membersihkan sesuatu di matanya.


"Kamu habis menangis?" Tanya Stevan yang menatap wajah Minzy dengan memiringkan kepala.


Minzy menggeleng pelan meski dirinya ketahuan berbohong.


Stevan berjalan mendekat dan duduk di kursi yang di gunakan oleh MUA tadi, "Ayah tahu pasti kamu ingat Ketua Kim, pasti setiap impian anak gadis ingin mebikah dengan diantarkan oleh sang Ayah. Ayah minta maaf karena kesalahan masalalu membuatmu kehilangan Ketua Kim. Untuk itu, Ayah akan mengantarkanmu ke altar karena Ayah sekarang adalah Ayahmu." Stevan berkata panjang lebar dengan lembut kepada Minzy.


"Apa Ayah memaafkan Ayahku?" Tanya Minzy dengan suara serak.


"Tentu saja, karena Ayah juga memiliki kesalahan meaki bukan kepada Ketua Kim." Jawab Stevan cepat.


"Hiks... terima kasih Ayah." Minzy kembali menangis dan memeluk tubuh Stevan.


Meskipun Minzy hanya diam dan berbaur dengan keluarga Kristoff seakan baik-baik saja, namun dalam hati Minzy. Minzy merasa sangat bersalah kepada Kristal dan kekuarganya akibat ketamakan dan obsesi sang Ayah membuat orang lain menderita.


"Ssttt... ssstt.... tenanglah Minzy. Ini hari bahagiamu dengan Daniel jangan sampai Daniel melihatmu menangis bisa-bisa Ayah akan di hajar olehnya." Kelakar Stevan.


Tanpa Stevan dan Minzy ketahui, di balik pintu hotel berdiri seorang wanita yang ikut menangis karena merasa sangat terharu.


...🐾🐾...

__ADS_1


...Jangan lupa mampir ke novel teman autor yaa...



__ADS_2