
Happy Reading πΉπΉ
Terlihat Rose menghela nafasnya dengan kasar, pikirannya tengah kalut.
Rose terngiang dengan ucapan Ayahnya tadi malam.
"Apakah dengan pergi ke luar negri, aku dapat melupakannya." Gumamnya dalam hati.
Rose melalui hari ini dengan pikiran yang kusut.
"Rose, ayo makan siang." Tepukan temannya membuat Rose tersadar dari lamunannya.
"Kalian saja, aku ingin pulang." Jawab Rose dengan wajah lesu.
"Apa kamu sakit Rose?" Tanya temannya.
"Tidak, aku hanya tidak bersemangat saja hari ini." Jawab Rose jujur.
"Kalau begitu aku antar saja. Ayo." Ucap temannya lagi.
"Terima kasih, tapi aku sudah menghubungi sopir keluargaku." Tolak Rose halus.
"Baiklah, jika begitu kami pergi dulu Rose." Pamit teman-teman Rose.
Rose hanya mengangguk sebagai jawaban, segera saja Rose mengemasi peralatan belajarnya kedalam tas ransel.
Rose berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari dalam kelas, meninggalkan kampusnya hari ini.
Dengan langkah gontai, Rose berjalan menyusuri setiap lorong kampus yang di laluinya dengan sesekali menghela nafas berat.
Tidak terasa langkah kakinya menuntun Rose sampai di gerbang depan kampus, Rose membalikkan tubuhnya melihat gapura yang menjulang tinggi dengan tulisan universitas.
Terik matahari menyilaukan mata Rose, tangan kirinyanterulur ke atas guna menghalau cahaya yang menyilaukan itu.
"Apa aku harus meninggalkanmu." Gumam Rose dengan memandangi tulisan universitasnya.
Tanpa di sadari Rose, dari kejauhan terlihat mobil hitam yang memandangi gerak gerik Rose sejak keluar dari gerbang kampusnya.
Bahkan saat ini Rose kembali berjalan menyusuri pinggir jalan raya dengan sesekali menendang apapun yang bertemu dengan ujung sepatunya.
Orang tersebut segera menjalankan mobilnya untuk mendekat ke arah Rose, melihat kedatangan mobil yang sangat orang itu kenal.
Rose yang merasa ada mobil berjalan pelan di sampingnya menghentikan langkah kaki pendeknya dan menoleh ke arah kanan.
Alisnya naik ke atas, kaca mobil depan diturunkan secara otomatis dari dalam.
Karena cuaca yang terik, membuat Rose harus menyipitkan matanya agar dapat melihat siapa yang ada di dalam.
"Kakak." Ucap Rose.
"Cepat masuk." Ucap Gabriel.
Ya, pria yang sejak tadi menunggu Rose adalah Gabriel.
Rose segera membuka pintu mobil depan dan masuk dengan cepat, karena merasa kulitnya terbakar.
Sedangkan dari jarak yang cukup dekat, Dave mencengkram stir mobilnya melihat Gabriel menjemput Rose.
Siapa yang tidak tahu mobil keluarga Gandratama, plat nomornya di buat khusus meskipun harus merogoh kocek yang sangat dalam.
Sedangkan Gabriel hanya melihat dari spion tengah dengan senyum semiriknya.
"Aku pastikan, kalian tidak akan pernah kembali Dave." Ucap Gabriel dalam hati.
__ADS_1
Langsung saja Gabriel menjalankan mobilnya, meskipun tidak tahu kemana Briel akan membawa Rose pergi.
"Kakak, kita mau kemana?" Tanya Rose yang sudah selesai memasang seat belt.
"Neraka." Jawab Briel acuh.
"Ck.. ck.. pantas saja setan dan jin itu berbeda." Ucap Rose dengan menggelengkan kepalanya.
Briel menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Rose.
"Apa bedanya? Sama-sama terbuat dari api hanya penyebutannya saja yang berbeda." Kata Gabriel dengan mendengus kesal.
"Tentu saja berbeda, setan itu dari api sedangkan jin itu dari BTS." Jawab Rose enteng.
"Jin... BTS?" Batin Gabriel memikirkan jawaban Rose.
"Sepertinya selain kamu pendek tapi juga bo*doh." Ucap Gabriel dengan nada mengejek.
Rose memajukan bibirnya dan membuka galeri HP miliknya.
"Kakak yang kurang wawasan, Jin BTS saja tidak tahu. Nih lihat." Rose menyodorkan HP di depan Gabriel.
(Pip... pip... pip... mantan mau lewat π)
Beruntung mereka berhenti tepat lampu merah menyala, sehingga membuat Gabriel menoleh dan melihat ke arah layar HP milik Rose.
"Siapa dia? Apa dia kekasih barumu?" Tanya Gabriel dengan pandangan penuh selidik.
Rose mencebikkan bibirnya, "Tentu bukan, dia saja tidak tahu jika Rose ada di dunia. Dia ini artis Korea yang sangat terkenal, musiknya menebus Bealbord Amerika mengalahkan Justin Bieber." Jelas Rose dengan senyum lebar bahkan mencium layar HP miliknya.
Gabriel menghela nafasnya lega, saingannya cukup Dave tidak ada yang lain. Padahal sejak tadi di dalam hati Briel merapalkan do'a jika foto pria tampan itu bukan kekasih baru Rose.
Tentu saja Gabriel lebih tampan dengan pria yang ada di foto meskipun satu level di bawahnya.
"Oh, iya. Kakak mau mengajak Rose kemana?" tanya Rose setelah memasukkan HP kedalam tas ranselnya.
"Ayo turun." Gabriel memarkirkan mobilnya ke salah satu restoran cepat saji.
Rose mencebikkan bibirnya kesal, "Dasar pria kanebo." Umpatnya pelan.
Di sisi lain.
Dave mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju mansion Danuarta.
Terlihat jelas kilatan amarah dan cemburu menjadi satu.
"Baru satu hari Rose, baru satu hari kamu sudah berjalan dengan Gabriel!!" Teriak Dave di dalam mobil.
3 jam yang lalu.
"Dave, sarapan dulu." Ucap Lila kepada anaknya.
"Iya, Mah." Jawab Dave datar.
Di meja makan hanya ada keheningan sesekali suara sendok dan garbu bergesehan dengan piring.
Terlihat Lila lebih dulu menyelesaikan sarapan miliknya, dengan segera Lila beranjak dari kursi makan dan berjalan ke arah dapur.
Tidak membutuhkan waktu lama, Lila keluar dengan membawa satu kotak bekal makan siang di tangannya.
"Dave, bawa bekal ini. Mama memasak makanan kesukaanmu." Ucap Lila dengan menyodorkan kotak bekal ke arah Dave.
__ADS_1
Gerakan tangan Dave terhenti, matanya lurus menatap kotak makan yang ada di depannya dan bergantian menatap Mamanya.
"Tidak perlu Mah, Dave bisa makan diluar." Jawab Dave menolak.
"Tidak ada salahnya kamu membawa makan siang dari rumah Dave, pekerjaanmu pasti banyak. Mama tidak mau kamu terlambat makan siang dan sakit." Ucap Lila memaksa.
"Benar apa yang di katakan Mamamu." Ucap Rudi menimpali.
Dave tidak menjawab ucapan kedua orang tuanya, didalam pikirannya teringat Rose.
Ya, kotak bekal yang di gunakan oleh Lila adalah milik Rose yang belum sempat Dave kembalikan. Mungkin banyak kotak bekal yang di simpan Dave dari Rose.
"Apa Mama baru saja belanja?" Tanya Rudi dengan meminum tesnya.
"Tidak Ayah, belanja apa memangnya?" Jawab Lila heran.
"Itu." Rudi menaikkan dagunya ke arah kotak makan yang ada di hadapan Dave.
"Itu bukan Mama yang membelinya, mungkin Dave. Emm.. tapi apa mungkin Dave membeli kotak berwarna pink Ayah?" Jawab Lila dengan penuh selidik.
Dave yang mendengar ucapan Mamanya terbatuk karena tersedak makanan.
"Dave, pelan-pelan." Ucap Lila kepada Dave.
Dave meminum air putih yang ada di sampingnya hingga tandas, meskipun rasa perih dan panas menyeruak di tenggorokan dan hidungnya.
"Dave berangkat dulu." Ucap Dave yang langsung berlalu dari ruang makan dan tidak lupa membawa kotak bekalnya.
Lila yang melihat tingkah Dave tersenyum penuh arti.
"Ayah, Mama akan memulai misinya." Ucap Lila kepada sang suami.
"Jangan terlalu ikut campur urusan mereka, Mah." Jawab Rudi mengingatkan.
"Mama ingin bertemu dengan Rose." Kata Lila dengan menopang dagunya.
Sesampainya Dave di perusahaan Danuarta, segera turun dengan membawa bekal makan siangnya.
Banyak karyawan yang melihat atasannya membawa makan siang sendiri, ini benar-benar kejadian langka.
Setelah Dave masuk kedalam ruangannya, segera Dave berkutat dengan dokumen yang sudah menumpuk di meja kerjanya.
Sesekali Dave melirik kotak bekal yang ada di depannya, Dave menggelengkan kepalanya dan menutup kotak bekal dengan dokumen yang sudah dia periksa.
Dave memindahkan dokumen yang menutupi kotak bekal tersebut, Dave meliriknya lagi.
"Haiss!! Bisa gila aku! Aku harus menemuinya hari ini juga." Ucap Dave dengan mengacak rambutnya.
Segera Dave keluar ruangannya, bahkan mengabaikan rapat bulanan perusahaan untuk mendatangi kampus Rose.
...πΎπΎ...
HALO READERS
MOHON DI BACA DENGAN PENUH PERASAAN
KARENA NOBELTOON BEREVOLUSI UNTUK MENJADI WADAH PARA PENULIS AGAR MENJADI LEBIH BAIK LAGI
SEHINGGA ADA KEBIJAKAN YANG BARU
DUO KECUBUNG BERHARAP, READERS MEMBACA DENGAN BENAR DAN TIDAK MENSCROLNYA SAJA
MOHON DUKUNGANNYA, READERS DAPAT MENGHARGAI HASIL JERIH PAYAH KAMI PARA AUTOR YANG MENGETIK DAN MENG-HALU β€
__ADS_1