
Happy Reading 🌹🌹
Di kediaman Gandratama, Sky dengan langkah tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan CCTV.
"Mana?" Tanya Sky dingin.
"Ini, Tuan. Mereka sudah hampir satu Minggu lamanya berada di sekitar mansion. Awalnya kami sudah curiga, tetapi mereka hanya muncul satu hari setiap satu orang dengan penyamaran yang berbeda-beda." Jelas petugas CCTV.
Sky menendang kaki pengawas tersebut hingga mengaduh kesakitan.
"Apa kalian bodoh, hah!! Sudah berapa tahun kalian ikut keluarga Gandratama. Kenapa masih bisa kecolongan!" Seru Sky dengan mata yang menatap tajam.
Semua yang berada di ruangan tersebut hanya dapat menunduk dalam, bahkan keringat sudah membasahi wajah mereka.
Pintu ruangan terbuka, terlihat beberapa orang berjas hitam masuk dengan nafas yang memburu.
"Tuan, ada informasi penting." Ucap salah satunya.
"Apalagi?" Ucap Sky frustasi.
"Tuan, keluarga Kristoff sedang menuju Rumah Sakit. Selama ini, wanita yang bernama Kristal adalah menantu dari keluarga Kristoff." Jelas mata-mata tersebut.
"Biarkan mereka menjemput wanita itu." Jawab Sky dingin.
"Tuan, baru saja Tuan Agung keluar bersama wanita tersebut dari ruangan dokter. Ada yang membobol informasi dari hasil tes DNA, di situ menyatakan jika Tuan Gabriel postif anak kandung dari wanita tersebut." Ucap mata-mata dengan jantung yang berdebar.
Sky menatap nyalang para pengawal dan mata-mata yang berada di hadapannya.
Terdengar suara tempat sampah yang membentur tembok dan akhirnya menumpahkan seluruh isinya.
Tidak lupa suara ringisan beberapa orang, Sky memukul para pengawal dan mata-matanya dengan emosi yang memuncak.
"Bodoh! Apa kalian di bayar untuk menunjukkan kebodohan kalian hah!" Seru Sky dengan suara yang menggelegar.
"Sekarang juga, kita ke Rumah Sakit." Sky segera melangkah meninggalkan orang-orangnya yang sudah berdiri dengan menyeka luka di sudut bibir dan pipi mereka.
Segera para pria yang mengenakan jas hitam berhamburan keluar dari ruangan CCTV dan berlari sebelum Sky sampai di mobil.
Putri yang melihat suaminya berlalu begitu saja hanya dapat menatap bingung, melihat banyak pengawal yang langsung berlari.
"Kenapa aku di tinggal? Bukankah, Mas Sky mengajak Putri untuk menjenguk Gabriel." Ucap Putri pelan.
Dengan perasaan kesal, Putri kembali masuk ke dalam mansion dengan perasaan sedih karena di abaikan oleh Sky.
Sedangkan mobil yang Sky tumpangi sudah hilang dari pandangan Putri.
__ADS_1
Terlihat Sky sangat gusar memikirkan Gabriel, "Apakah mereka sudah sampai?" Tanya Sky tanpa melihat ke lawan bicaranya.
"Belum, Tuan." Jawab pengawal yang tengah menyetir.
"Kecepatan tinggi." Perintah Sky.
Pengawal menurut dengan perintah Sky, menginjak pedal gas lebih dalam untuk. mengejar waktu.
Hingga, terlihat banyak mobil hitam berjejer terlihat dari pandangan mereka.
Mobil Sky berhenti tepat didepan Tuan Kristoff dan asiatennya.
Sedangkan Kakek Kristoff dan Robby menatap bingung ke arah mobil mewah yang berhenti tepat didepan mereka.
Hingga akhirnya pintu itu bergerak ke arah keluar, satu kaki kanan keliar dengan menggunakan sepatu pantofel mahal.
Sky benar-benar sudah berdiri tepat di hadapan Kakek Kristoff dan Robby.
"Tuan Sky." Ucap Robby sopan.
Sky hanya melirik dan menatap datar ke arah Kakek Kristoff.
"Jadi, Anda saudara Gabriel?" Tanya Kakek Kristoff pelan.
"Jika ingin menjemput, jemputlah menantumu." Sky tidak menjawab langsung mengultimatum Kakek Kristoff.
Sky tersenyum miring, "Hanya satu, tidak lebih." Ucap Sky lagi.
"Saya ingin menjemput cucu dan menantu, Saya." Kata kakek Kristoff tegas.
"Hanya wanita itu yang perlu Anda jemput, tidak dengan Gabriel." Ucap Sky tidak kalah tegas.
"Saya tidak berkata jika Gabriel adalah cucu Saya, berarti benar Gabriel cucu Saya." Jawab kakek Kristoff dengan senyum yang melengkung sempurna.
Sky mengepalkan kedua tangannya, sorot matanya sejak tadi tajam menatap Kakek Kristoff.
"Tuan, mohon tenang. Kami datang ke Rumah Sakit karena juga baru saja mendapatkan kabar dari anak buah kami." Sela Robby pada keduanya.
"Kalian, kalian sudah melanggar peraturan sampai mencuri informasi pasien." Ucap Sky.
"Lalu, apa bedanya dengan Tuan. Anda juga mencuri informasi seperti yang kami lakukan." Jawab Robby membalikkan ucapan Sky.
"Kau---"
"Cukup, Tuan. Aku hanyalah pria tua yang baru saja mendapatkan kenyataan jika memiliki cucu kembar. Berikan pria tua ini waktu untuk melihat cucu yang bahkan tidak pernah Saya ketahuu keberadaannya di dunia ini." Kata kakek Kristoff dengan nada bergetar.
__ADS_1
Gigi Sky bergemeletuk, kenapa melihat wajah pria tua yang ada di depannya membuat hatinya bersedih. Tetapi, Sky juga tidak rela jika sampai saudaranya kembali ke keluarga kandungnya.
"Berikan, Saya kesempatan untuk melihat dengan mata dan kepala Saya sendiri. Setelah itu, Saya tidak akan memaksanya untuk ikut bersama kami." Ucap Kakek Kristoff lagi seakan tahu kegundahan pria muda di depannya.
Tanpa kedua kubu sadari, ada seorang pemuda yang melalui keduanya tanpa di curigai oleh seorang pun.
Dengan langkah lebar dan cepat, Daniel mengendap-endap melalui kakek Kristoff dan pria yang tidak dikenalnya.
Terlihat Daniel sesekali menoleh kebelakang untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya.
Daniel berjalan menuju ruang informasi, menanyakan keberadaan pasien atas nama Gabriel.
"Sus, bisa beritahu kamar Gabriel?" Tanya Daniel dengan waspada.
Suster yang melihat penampilan Daniel, menatap curiga karena yang dikenakan adalah warna serba hitam dari atas ke bawah.
"Anda siapa?" Tanya suster menelisik.
Daniel membuka topi dan maskernya sebentar, agar sang suster tidak mencurigainya.
"Saya adalah saudara kembarnya, Saya baru pulang dari Korea karena mendengar saudara Saya jatuh sakit. Bisakah cepat berikan nomor kamar dimana saudara Saya di rawat, Sus." Jawab Daniel panjang lebar.
"Baik, siapa nama lengkapnya. Tuan?" Tanya sang sister.
Daniel terpaku, "Gabriel dari keluarga Gandratama." Jawab Daniel tanpa pikir panjang.
Sang suster menegakkan tubuhnya dan menatao ke arah Daniel lagi.
"Tuan, Anda jangan bercanda. Tuan Gabriel putra dari Tuan Agung itu hanya memiliki saudara Tuan Sky. Silahkan pergi, Saya masih harus melayani banyak pasien." Usir sang suster dengan tegas.
Daniel ingin sekali marah, tetapi dia urungkan. Daniel segera berlalu menjauh dari hadapan suster.
Daniel melangkah menuju tangga darurat karena tidak ingin di curigai oleh banyak orang.
"Daniel berfikir, suara Mama terdengar tidak jauh dari ruanganmu di rawat dulu. Berarti di lantai tiga tuangan VIP, ya hanya tinggal nomor kamarnya saja yang belum tahu." Ucap Daniel pelan.
Daniel sampai di lantai dua, terlihat sudah banyak peluh yang membasahinya bahkan nafasnya sudah tersengal-sengal karena terlalu lelah menaiki anak tangga.
"Sebentar lagi, Daniel." Ucap Daniel.
Kembali Danie melangkahkan kakinya hingga lantai tiga. Terlihat Daniel berjalan dengan mencoba mengintip di kaca bening yang ada di masing-masing pintu.
Hingga tubuhnya terpaku, melihat seorang pria yang seumuran dengannya berdiri tidak jauh dari hadapannya.
Suara tangisan dan sepatu pantofel dari arah belakang masing-masing langsung terhenti.
__ADS_1
...🐾🐾...