
Happy Reading 🌹🌹
Gabriel terlihat merungkuk dengan tubuh yang bergetar, air matanya turun begitu saja setelah Kristal keluar.
Di otaknya seperti melihat film rusak, seakan kepingan-kepingan puzzle sudah dapat disatukan.
"Kenapa... kenapa baru sekarang Mama mencari El." Ucap Gabriel pelan.
Gabriel sudah dapat mengingat semuanya, senyum itu... suara itu... sentuhan dan panggilan itu.
Pemilik suara lembut bagaikan simfoni yang mengalun indah hanya milik satu orang, Kristal.
(Jika kalian ingat, di episode awal autor gambarkan jika Gabriel sering bermimpi atau kepalanya sakit karena berusaha mengingat masa lalunya ya)
Gabriel memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak, bahkan udara ruangan itu serasa mencekik lehernya.
Briel menelusupkan wajahnya dibantal Rumah Sakit agar meredam suara tangisan yang menyayat hati.
"Kenapa! Aaaa... Mama kenapa, baru mencari El." Ucap Gabriel dalam tangisannya.
Gabriel terus menangis, mengeluarkan perasaan sedih, kecewa, sakit dalam hatinya selama ini.
Wajah Gabriel sudah merah padam, wajahnya basah karena banyaknya air mata dan keringat yang keluar dari tubuhnya.
Briel ingin melihat Kristal sekali lagi. Melihat wajah yang selama ini begitu dia usahakan untuk dapat mengingatnya.
Ingin sekali, Gabriel merengkuh tubuh ringkih itu. Wajahnya masih sama tetap cantik, hanya sekarang kerutan di wajahnya lebih banyak.
Kenapa dengan mata itu, mata yang menyimpan sejuta kesedihan dan kesakitan. Kehidupan apa yang sebenarnya dijalani oleh Kristal sejak perempuan itu meninggalkannya begitu saja di taman bermain.
Bukankah seharusnya wanita itu bahagia tanpa dirinya, seharusnya dapat memakai pakaian yang bagus, tubuh yang berisi, wajah yang terawat.
Tapi apa, kenapa wanita itu malah terlihat menderita dibanding dirinya yang dibuang olehnya begitu saja.
Melihat itu, membuat Gabriel marah dan sedih. Marah karena wanita itu tidak hidup bahagia, sedih karena tidak dapat menyambut kedatangan Kristal dengan tangan terbuka.
Gabriel terus tergugu di atas brangkar, perasaannya seperti di cabik-cabik oleh kenangan masa lalu.
"Sayang, tenangkan dirimu." Ucap Ambar yang sudah ikut menangis karena Gabriel memukul tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Hingga suara pintu yang terbuka, membuat Ambar menoleh.
Terlihat suaminya bersama wanita yang sudah pernah Ambar temui.
"Kalian, keluar dulu." Ucap Agung kepada para dokter.
Semua dokter mengangguk dan meninggalkan keluarga Gandratama, memberi ruang untuk keluarga tersebut.
"Aaaa!!!" Gabriel berteriak dan memukul bantal yang ada dibawahnya dengannsekuat tenaga.
"Kenapa!! Kenapa baru sekarang mencariku!" Seru Gabriel dengan berurai air mata.
Kristal berjalan mendekat dengan bibir bergetar, kedua matanya masih basah karena tangisnya di ruang dokter tadi.
"El." Panggil Kristal dengan suara lembut.
Ambar ingin menjauhkan Kristal tapi di tarik oleh Agung, dan menenggelamkan istri didalam pelukannya.
"Tenang, Mah. Akan Ayah jelaskan nanti." Ucap Agung pelan dengan berbisik di telinga Ambar.
Terlihat Ambar meremat jas samping suaminya, air matanya sudah luruh begitu saja dari mata tuanya.
"El, ini Mama." Panggil Kristal lagi.
"Kenapa! Kenapa baru datang, hah!" Seru Gabriel kepada Kristal.
"Maafkan, Mama El... maafkan Mama." Ucap Kristal memohon pengampunan dari anaknya.
"Pergi! Pergi dari sini!" Usir Gabriel kepada Kristal.
Kristal menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Tidak El, maafkan Mama. Mama yang salah, Mama salah El." Ucap Kristal.
"Jauhkan tanganmu dari tubuhku." Ucap Gabriel tajam dan dingin setelah menampar tangan Kristal.
Kristal langsung bersimpuh dibawah, Kristal rela melakukan apa saja agar mendapatkan pengampunan dari sang anak.
Membuat Agung shock karena Kristal sampai berbuat sejauh itu.
"Maafkan, Mama El." Ucap Kristal lagi.
__ADS_1
"Bangun." Kata Gabriel dingin.
Kristal menggeleng, "Maafkan, Mama. Mama bisa menjelaskannya kenapa Mama meninggalkanmu di taman bermain dulu." Ucap Kristal yang berusaha tegar dan tidak menangis.
"Setelah puluhan tahun lamanya." Ucap Briel dingin.
"Maafkan, Mama El. Mama wanita yang tidak berguna saat itu, Mama tidak memiliki kekuatan untuk tetap membuatmu di samping Mama." Ucap Kristal yang kembali meneteskan air mata.
"Bukankah seharusnya kamu itu bahagia tanpa aku, seharusnya kamu memakai pakaian yang bagus, tubuh yang berisi, wajah yang terawat.
Tapi apa, kenapa kamu datang terlihat menderita dibanding aku yang dibuang olehmu begitu saja." Jawab Gabriel tajam.
"Karena, Mama miskin El. Karena saat itu dan saat ini Mama miskin, oleh itu Mama tidak bisa mempertahankanmu disisi Mama El." Jawab Kristal dengan tagas meskipun airmata juga ikut keluar.
Gabriel menatap kedua mata Kristal, keduanya sama-sama terdiam dan hanya air mata yang berbicara.
"Bahkan, jika kamu memberiku makan roti tanpa butter. Aku tetap akan memakannya, meskipun kamu memberiku air putih selama satu minggu penuh aku tetap akan meminumnya. Apa hal semudah itu, kamu sulit melakukannya bersamaku!" Seru Gabriel lagi.
Kristal diam dengan mengetatkan rahangnya, Kristal sangat marah kepada dirinya sendiri. Kenapa kedua putranya ingin hidup miskin bersamanya.
"El, kamu tidak tahu rasanya dihina dan di tindas dengan ekonomi yang rendah. Kamu harus menahan setiap hinaan yang keluar dari mulut para penguasa, bahkan Mama tidak sanggup memberikanmu permen kapas El. Hanya permen kapas seharga sepuluh ribu." Ucap Kristal dengan suara gemetar.
Kristal sangat ingat, dikala mengantarkan El sekolah melihat teman sebaya El makan permen kapas dan minum susu kotak. Kristal tidak sanggup membelikannya untuk El-nya.
Bahkan, El yang sering berverita temannya dibelikan barang baru oleh orang tuanya. Kristal hanya dapat diam dan mendengarkan, jika di tanya kapan bisa membelikan El seperti teman-temannya. Kristal hanya dapat menjawab bersabar jika punya uang.
Padahal, TK El-nya merupakan sekolah yang paling murah yang dapat di negara itu. Tetapi Kristal masih tidak sanggup untuk memenuhi keinginan El kecilnya.
Agung dan Ambar masih diam, keduanya hanya mendengarkan setiap ucapan yang terlontar dari keduanya mendengar jawaban Kristal membuat hati keduanya teriris.
Kehidupan seperti apa yang di jalani Kristal dan El dulu sebelum ditemukan oleh Agung dan Ambar.
"Apa dengan menbuangku, kehidupanmu menjadi ringan. Tidak perlu memberi makan untuk dua orang, tidak perlu memberi pakaian untuk dua orang." Jawab Gabriel dengan getir.
Kristal menggeleng cepat, "Bukan El, Mama tidak ada maksud untuk membuangmu. Semua itu karena keadaan El, keadaan yang memaksa Mama untuk meninggalkanmu. Mama tidak ingin kehilanganmu El." Ucap Kristal menjelaskan.
"Kamu sudah kehilangan dua puluh tiga tahun, kamu sudah kehilangan waktu dengan jarak puluhan tahun denganku!! Apa yang kamu bilang, tidak ingin kehilanganku? Kamu sudah kehilanganku sejak kamu tinggalkan di taman bermain kala itu!!!" Seru Gabriel dengan mata yang membulat sempurna.
Gabriel langsung beranjak dari brangkat dan berjalan cepat meninggalkan Kristal beserta kedua orang tua angkatnya.
__ADS_1
"Briel!" Seru Ambar dan Agung bersamaan.
...🐾🐾...