
Happy Reading πΉπΉ
Mobil sport merah terlihat berhenti di apartemen kelas menengah kebawah.
Stevan keluar dan menatap kertas yang berada ditangannya, alamatnya tidak salah.
Segera Stevan melangkah masuk kedalam apartemen tersebut, terlihat hanya terdapat dua lift disana.
Dengan sabar Stevan ikut mengantri untuk sampai ke unit yang akan dia tuju.
Tidak membutuhkan waktu lama, Stevan telah sampai dilantai dimana unit yang tertera dalam kertas berada. Dengan cepat Stevan berjalan menyusuri lorong apartemen dan mengamati nomor yang tertera di sana.
Hingga langkah kaki Stevan terhenti di unit paling pojok pada lantai tersebut, Stevan masih diam didepan pintu tanpa niatan untuk mengetuk.
Hingga pintu apartemen terbuka dari arah dalam, terlihat seorang wanita dengan kantong sampah ditangannya dan masih mengenakan celemek.
"Cari siapa, Tuan?" Tanya wanita tersebut karena merasa asing dengan pria yang ada dihadapannya.
"Apakah Anda kenal dengan orang ini?" Stevan menyodorkan selembar kertas ditangannya.
Wanita itu menaruh kantung sampah di lantai dan mengambil kertas dari Stevan untuk mengamati siapa yang tengah di makhsud.
"Kenapa Anda mencari pria ini?" Tanya wanita iti dengan menatap heran.
"Saya ada urusan pribadi dengannya." Jawab Stevan cepat.
"Saya rasa Anda harus merelakan uang jika dia memiliki hutang, pria ini sudah meninggal beberapa tahun lalu Saya kurang tahu tepatnya kapan." Jawan wanita itu.
Stevan kaget dengan berita kematian mantan karyawan kepala keuangan tersebut.
"Ba--- bagaimana bisa?" Tanya Stevan tergagap.
"Dia terlibat kecelakaan lalu lintas ketika pulang dari liburan. Kecelakaan beruntut hingga sampai dimuat dalam koran." Jawab wanita itu dengan cepat.
Tubuh Stevan terasa lemas, bagaimana dapat mengumpulkan bukti jika kuncinya sudah lama meninggal.
"Apakah Anda tahu dimana keluarganya?" Tanya Stevan.
"Dia tidak memiliki keluarga, karena dia yatim piatu. Saya dulu tetangganya di unit bawah kemudian apartemen ini Saya sewa karena ini bukan miliknya." Jawab wanita tersebut.
"Terima kasih." Jawab Stevan.
Wanita itu segera mengembalikan kertas kepada Stevan dan kembali mengambil sampah yang akan dia buang.
Stevan melangkah gontai menuju lift, terlihat Stevan mengguyar rambutnya kebelakang. Sekarang apa yang harus dia lakukan, saksi yang dapat dia tanyai hanya kepala keuangan tersebut.
Eve yang masih berada di kediaman Kristoff terlihat sangat gelisah memikirkan dimana perginya Stevan.
Tidak mungkin Stevan berselingkuh, yang paling ditakutkan Eve adalah Stevan mengetahui sesuatu tentang dirinya.
"Gawat! Aku harus menelfon Ayah." Ucap Eve pelan.
Eve segera mencari nomor seseorang yang dipanggil Ayah pada ponselnya.
Beberapa kali tidak di angkat, hingga panggilan kesekian kali akhirnya di angkat.
__ADS_1
π£οΈ Ayah, Stevan pergi dari rumah sejak tadi. Bagaimana jika dia mengetahui sesuatu tentangku?
π€ Ini siapa?
Jantung Eve terasa terhenti, tangannya menjauhkan ponselnya takut-takut jika memang salah sambung.
Namun benar nomor yang dia panggil adalah Ayahnya. Eve langsung menutup mulutnya dan dengan cepat mematikan sambungan telfon.
Sedangkan seseorang yang menerima panggilan Eve merasa curiga, baru akan memastikan nama yang menghubungi ponsel sang suami harus di urungkan.
"Siapa Mah?" Tanya orang tersebut.
"Ah, bukan siapa-siapa Pah. Tadi hanya panggilan dari orang yang salah sambung." Jawab bohong orang itu.
"Yasudah, Mama cepat bersiap-siap. Kita akan pergi makan malam diluar." Ucap orang tersebut.
Istri hanya mengangguk dan tersenyum, meletakkan kembali ponsel sang suami di atas nakas dan segera berganti pakaian.
Terlihat suaminya mengambil ponselnya dan terlihat bermain-main, sangistri hanya mencuri-curi lirikan lewat pantulan kaca.
Suaminya tersenyum dan tertawa dengan memandang ponsel.
"Ayah? Siapa wanita itu. Kenapa memanggil suamiku Ayah dan siapa Stevan." Gumam istri dalam hati.
...πΎπΎ...
Berganti hari.
Seo In Guk datang ke mansion untuk menemui Gabriel dan Kristal.
"Ada apa Paman?" Tanya Kristal yang baru melihat Paman Seo turun dari dalam mobil.
"Sttt--- jangan keras-keras Paman, di mansion ini tidak ada yang memanggil namanya." Ucap Kristal mengingatkan.
Paman Seo mengangguk paham dan berjalan masuk kedalam mansion bersama Kristal.
"Kenapa sepi, dimana Stevan Eve?" Tanya Paman Seo.
"Mungkin di kamar mereka atau dimana Kristal tidak tahu." Jawab Kristal jujur.
"Yasudah, cepat panggilkan El dan kita berkumpul diruang kerja Tuan Kristoff." Ucap Paman Seo.
Kristal mengangguk dan segera berjalan kekamar Gabriel.
Kini ketiganya telah berkumpul diruang kerja Kakek Kristoff, terlihat Paman Seo mengeluarkan sebuah flashdish kecil didalam tasnya.
Menancapkan pada CPU agar muncul dilayar PC milik Kakek Kristoff.
"Ini adalah pesan Nyonya terakhir mohon jangan ditolak." Ucap Paman Seo sebelum memutar sebuah video.
Kristal dan Gabriel mengangguk, PamanSeo segera memutar sebuah video dihadapan keduanya.
Gabriel dan Kristal menatap wanita paruh baya yang masih cantik didalam video itu, memperhatikan dengan seksama apa yang diucapkan oleh Nyonya Kristoff.
Gabriel mendapatkan banyak bukti yang berada ditangannya, puzzle demi puzzle telah terisi tinggal memcari bukti kuat untuk saham 10% miliknya.
__ADS_1
Ya, saham10% adalah milik Gabriel dengan wali Kristal sebagai ibunya. Mendiang sang nenek memberikan video lain kepada Seo In Guk tanpa sepengetahuan Kakek Krostoff dan asisten Robby.
Tidak hanya saham 10% perusahaan Krostoff, bahkan Gabriel mewarisi satu gedung apartemen mewah yang masih dikelola dengan baik hingga saat ini.
Terlihat Kristal masih tergugu dalam pelukan Gabriel, bagaimana bisa mendiang Ibu Mertua nyatanya begitu baik dan sangat menyayangi dirinya juga anak-anaknya.
"Tenanglah Mah, El pasti akan membuka kedok mereka semua." Ucap Gabriel.
"Jika sampai mereka tahu kamu pemegang saham 10%, pasti mereka akan mengejarmu El." Jawab Kristal dengan nada bergetar.
"Selama kita belum menemukan pengacara yang diutus nenek. Tidak akan ada yang bisa menyentuhnya Mah." Jelas Gabriel.
Kristal mengangguk namu masih terisak dengan sisa tangisannya, pikirannya kalut. Memikirkan Daniel yang masih berjuang melawan sakitnya sekasang Gabriel dalam keadaan bahaya.
"Paman, apa Paman pernah melihat pengacara mendiang nenek?" Tanya Gabriel.
"Pernah Tuan Muda, satu kali saya mengantar Nyonya sebelum beliau mengutus saya untuk mengikuti Anda." Jawab Paman Seo.
"Bagaimana ciri-cirinya? Apakah Paman tahu alamatnya?" Tanya Gabriel menuntut.
"Pesan mendiang Nyonya, orang tersebut berada disekitar kita dan akan muncul begitu waktunya tiba dengan situasi yang genting." Jelas Paman Seo.
"Orang sekitar?" Ulang Gabriel.
"Benar, Tuan Muda. Pasti saat ini orang tersebut sudah tahu jika Anda telah kembali." Jawab Paman Seo sopan.
"Benarkah?" Ucap Gabriel tidak percaya.
"Benar, meskipun Anda dan Tuan Daniel berwajah sama. Namun sifat dan karakternya sangat jauh berbeda." Jelas Paman Seo.
Gabriel hanya ber oh ria saja, "Baiklah Paman, kapan kita akan bergerak?" Tanya Gabriel.
"Saya hanya dapat menyarankan, Anda percepat pertunangan Anda dengan Nona Minzy agar memancing Nyonya Eve bergerak dengan cepat Tuan." Saran Paman Seo.
"Tapi, Daniel belum kembali." Ucap Kristal lirih.
"Biarkan Gabriel saja, Mah." Ucap Gabriel dengan yakin.
"Bagaimana dengan Minzy, kita sama saja membohonginya." Kristal mengingatkan Gabriel.
"Gabriel akan jujur kepada Minzy." Jawab Gabriel.
"Apa kamu yakin?" Tanya Kristal dengan khawatir.
"Yakin, serahkan semua kepada Gabriel." Jawab Gabriel.
Setelah menenangkan Kristal, kini Gabriel dan Paman Seo pergi meninggalkan kediaman Kristoff.
Tanpa keduanya sadari Stevan bersembunyi di balik guci besar hingga menutupi tubuhnya.
Terlihat lelehan air mata turun menyusuri wajah Stevan, pria itu menangis tanpa suara.
Selama ini sang Ibu hanya bersandiwara didepannya, terbukti jika mendiang Ibunya menyembunyikan hartanya untuk seseorang yang bernama Gabriel.
Siapa Gabriel? Apakah Gabriel anak lain dari Ibunya , Ayahnya, atau Kristal?
__ADS_1
Stevan merasa sangat pusing dengan teka-teki yang dia temukan ini, belum lagi mengumpulkan bukti agar dapat membuat Eve berkata jujur.
...πΎπΎ...