
Happy Reading 🌹🌹
Rose tersenyum bahagia melihat para tamu lajang berkerumun di depan panggung pernikahannya.
Rose mengangguk kepada MC yang siap untuk memberinya aba-aba.
"Kak Robby, kenapa tidak maju?" Tanya Daniel.
"Untuk apa." Jawabnya.
"Ck, kakak kan jomblo. Siapa tau mendapatkan jodoh di sini." Ucap Daniel terkekeh.
"Huh, aku masih bisa mencarinya sendiri." Kata Robby mendengus kesal.
"Sudah umur seginu juga kakak masih sendiri saja, atau mungkin jodoh kakak belum di lahirkan?" Ucap Daniel tertawa.
Minzy mencubit lengan Daniel, "Jangan bicara seperti itu." Peringatan Minzy.
"Iya sayang, aku hanya bercanda saja dengan Kak Robyy." Jawab Daniel dengan mengelus lengannya.
"Apa Ayah saja yang maju, siapa tau Daniel dan kakak memiliki Mama baru?" Kini Daniel membuat Stevan sebagai korban selanjutnya.
"Untuk apa mencari Mama baru, jika Mamamu sudah di dekat Ayah." Jawab Stevan enteng.
Kristal hanya mendelik saja mendengar ucapan Stevan, sedangkan Stevan tersenyum saja ke arah Kristal.
"Ck, bucin." Ucap Daniel.
"Apa itu bucin?" Tanya Stevan dan Minzy berbarengan.
"Singkatan yang terkenal di Indonesia, budak cinta." Jawab Daniel penuh penekanan.
Minzy hanya menggelengkan kepalanya pelan, sedangkan Stevan hanya memutar bolanya malas .
"Kak Rose sudah siap untuk melempar buket bunganya!" Tunjuk Minzy dengan tersenyum senang.
Membuat Robby memutar duduknya karena memunggungi sang pengantin, hingga sesuatu jatuh di pangkuannya.
Tuk!
Robby terpaku sedetik kemudian berkedip cepat dengan memegang buket bunga yang sudah dia pegang.
Membuat Daniel dan yang lainnya bertepuk tangan dengan cepat.
"Wohoo!! Robby kamu sebentar lagi akan menikah." Seru Stevani yang duduk di meja sebelahnya.
"Yeay! Kak Robby menikah." Seru Daniel dengan gemas sambil menepuk punggung Robby.
Sedangkan Robby hanya diam saja dengan tubuhnya yang di pukuli pelan dengan gemas oleh Daniel. Hingga seorang gadis berjalan ke arahnya.
"Paman, ini untukku saja ya." Ucap gadis itu dengan suara gemas.
__ADS_1
Robby dan Daniel meluruska pandangannya ke arah gadis yang berdiri di depan Robby, terlihat gadis kecil berusia 10 tahunan dengan menggunakan dress untuk anak seusianya.
Robby tanpa berkata apapun menyerahkan buket bunga tersebut kepada gadis kecil itu, gadis kecil itu tersenyum senang dengan mata berbinar.
"Alice, sini." Seru seorang wanita.
"Terima kasih paman, aku Alice." Ucap gadis itu yang kemudian berlalu dengan berlari ke arah orang tuanya.
Robby mengikuti kemana gadis itu pergi, dan kedua orang tua Alice terlihat menganggukkan kepala sebagai ucapan terima kasih.
Robby masih terpaku tanpa merespon kedua orangtua gadis itu, terlihat Alice menciumi bunga dengan senyum yang membuat lesung pipinya sangat nampak dengan jelas.
"Apakah dia jodohmu kak, tapi dia masih kecil." Ucap Daniel berbisik pelan.
Robby terperanjat kaget, "Haiss, menyingkir!" Kata Robby.
...***...
Pengantin meninggalkan balroom hotel dan menyerahkannya kepada keluarga besar karena melihat Rose yang sudah kelelahan.
Gabriel dan Rose berjalan menuju kamar pengantin yang sudah di siapkan oleh Kristal, kini keduanya tengah berjalan menuju lift.
"Aaa!"
Rose menjerit kaget karena tiba-tiba tubuhnya merasa melayang, spontan Rose mengalungkang kedua tangannya yang memegang sepatu di leher Briel.
"Tu-turunkan aku." Ucap Rose.
Ya, saat ini Rose berada dalam gendongan Gabriel.
Rose menahan senyumnya, wajahnya menjadi merah padam karena merasa sangat malu dan bahagia. Rose menelusupkan wajahnya ke dada bidang Gabriel.
Briel hanya tersenyum melihat sikap malu-malu sang istri. Tanpa terasa kini keduanya telah sampai di dalam kamar.
Terlihat kamar yang sangat luas dengan kasur besar juga jendela yang menghadap langsung ke arah jalan raya hingga menampakkan lampu berwarna warni karena hari sudah malam.
Rose menggoyangkan tubuhnya, "Turunkan aku sayang." Ucapnya.
Briel menurunkan tubuh sang istri pelan, terlihat Rose terperangah kagum dengan kamar pengantinnya.
Di atas kasur besar terdapat taburan kelopak bunga mawar merah berbentuk hati, sepasang handuk di bentuk angsa di atasnya.
Terdapat banyak lilin berwarne menambah suasana semakin romantis.
"I-ini kamar kita?" Tanya Rose terbata.
Gabriek berjalan mendekati Rose dengan membuka kancing lengan kemejanya.
"Hemm, kamu suka?" Jawab Briel dengan memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Tubuh Rose merinding, sensasi ini. Rose teringat sensasi saat di dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Jangan seperti ini, aku belum mandi." Ucap Rose dengan menggerakkan lehernya.
"Tidak mandi kamu masih harum sayang." Jawab Briel yang semakin dalam menciumi leher Rose.
Rose semakin meremang bahkan ingin mende*sah saat suaminya mengigit lehernya. Rose langsung menghindar agak jauh dengan nafas yang sudah naik turun akibat ulah Gabriel.
"Sa-sayang ayo kita bersih-bersih badan dulu." Ucap Rose gugup.
"Mandinya nanti saja sayang, sebentar saja hanya sedikit." Rengek Gabriel.
"Ka-kamu bau, ayo kita mandi dulu." Kata Rose tergagap karena melihat Gabriel yang sudah melempar jasnya ke sembarang arah.
Rose memegang gaunnya yang sangat berat ke arah kamar mandi, Rose kesusahan untuk masuk kedalam kamar mandi karena gaun Rose yang sangat besar hingga berat.
Briel yang melihat istrinya kesulitan tersenyum usil, "Sini aku bantu." Ucap Briel.
"Tidak perlu, aku bisa." Tolak Rose.
Rose masih berusahan masuk dengan gaun besarnya sedangkan Gabriel sudah duduk di pinghir kasur dangn membuka kancing kemejanya satu per satu.
Akhirnya Rose menyerah, dan menoleh ke belakang terlihat Briel sudah bertelanjang dada karena kancing kemejanya sudah terlepas dengan sempurna.
Gluk!
Briel mendekat, tangannya meraih pengait di belakang gaun sang istri.
"Kenapa keras kepala sekali, kamu jadi kesusahan sendirikan sayang. Ada suamimu di sini yang siap membantu." Kata Gabriel dengan lembut.
Rose hanya mengigit bibir dalamnya saja saat tubuhnya merasakan jika tidak seketat lagi, hawa dingin dari AC mulai menyentuh kulit putihnya.
"Sudah selesai sayang." Briel membuyarkan lamunan Rose.
Beruntung Rose memegang gaunnya hingga tidak langsung melorot ke lantai dan menyuguhkan tubuh indahnya.
"Te-terima kasih." Jawab Rose terbata.
Tapi, Rose tidak bisa masuk ke dalam kamar mandi karena memang benar-benar gaun pengantinya besar dan berat. Bahkan Rose tidak habis pikir dengan kekuatan sang suami.
Jika gaun seberat ini saja Gabriel kuat menggendongnya hingga ke dalam kamar, bagaimana dengan anu.
Gluk!
Rose menelan ludahnya susah payah, seketika mengingat ucapan Kakek Kristoff dan Ayah Nugroho. Membuat dirinya tidak akan bisa berjalan selama tujuh hari. Seketika otak Rose traveling menghubungkan kekuatan Gabriel dengan dirinya.
"Tidak!" Seru Rose.
"Kenapa sayang." Briel mendekat dengan menolehkan wajah Rose
"Hah."
Gabriel yang melihat wajah istrinya pucat pasi menjadi sangat khawatir, dengan cepat mengecek suhu tubuh istrinya.
__ADS_1
"Sayang kamu sakit? Aku akan telfokan dokter untuk datang ke sini." Kata Gabriel dengan wajah cemas.
...🐾🐾...