
Eve dan Ketua Kim terlihat tengah mengumpulkan kembali para investor yang mendukung mereka, kecuali Agung. Karena Agung bersikukuh tidak akan mendukung mereka jika tidak membereskan semua gosip yang semakin beredar seperti bola panas.
"Kami tetap akan mendukung Tuan Kristoff, tidak mungkin saat ini akan menang mendukung kalian." Ucap investor A.
"Benar, saya juga. Saya tidak ingin mati konyol karena hal yang bukan kami perbuat." Timpal investor C.
"Tenang dulu tuan-tuan, kalian jika mendukung kami maka akan tetap menang karena saya sudah memiliki saham 10% tersebut." Ucap Eve dengan tenang.
Terlihat para investor saling menatap satu sama lain seakan menanyakan kebenaran tersebut, Eve membuka sebuah map dan mengangkatnya tinggi-tinggi di hadapan para investor yang berada di depannya.
"Ini adalah bukti jika pemilik saham 10% itu adalah saya, dengan adanya saham ini maka saya ataupun Tuan Kim akan tetap bisa menduduki kursi CEO." Kata Eve dengan keras dan percaya diri.
Para investor saling berdiskusi karena mereka juga tidak ingin sampai merugi, jika sampai benar Eve ataupun Ketua Kim yang akan menduduki kursi CEO pasti mereka akan lebih banyak mendapatkan keuntungan.
"Baiklah, kami akan mendukung kalian. Secepatnya menggelar pemilihan CEO." Ucap investor B.
Ketua Kim dan Eve tersenyum lebar, terlihat wajah mereka sangat senang karena sudah membayangkan kedudukan tertinggi di perusahaan Kristoff.
"Kita akan segera menggelarnya, siapkan semuanya. Karena Ayah mertuaku tengah terbaring sakit. Dengan ini, kita dapat menggulingkannya dari kursi CEO." Ucap Eve dengan senyum licik.
Para investor yang tidak tahu mengenai Kakek Kristoff yang sakit merasa kaget namun juga beruntung, di saat seperti ini untuk menggantikan posisi CEO lebih mudah karena dapat membuat alasan kesehatan Kakek Kristoff.
"Besok kita akan melakukan pergantian CEO baik atau tanpa persetujuan Tuan Kristoff." Kata Ketua Kim tegas.
Semua investor keluar untuk menunggu hari pergantian CEO, segera utusan Ketua Kim menyiapkan semua yang diperlukan pada pemilihan pimpinan esok hari. Asisten Ketua Kim menelfon para wartawan dan juga staf perusahaan untuk menyiapkan ruang rapat di aula utama.
Terlihat Eve dan Ketua Kim tertawa terbahak di dalam mobil, mereka bahagia menantikan hari esok di mana semua akan berada di dalam genggaman tangan mereka.
__ADS_1
"Ayah akan tetap bersama wanita itu?" Tanya Eve kemudian.
"Tentu saja, ayah suudah mengurusny melalui pengacara dan semua sudah diproses. Ayah tidak takut miskin karena semua hartanya sudah atas namaku. Ayah hanya menyisakan mansion saja untuk mereka." Jawab Ketua Kim tenang.
Eve mendengus kesal, "Seharusnya Ayah keruk semua hartanya kenapa masih berbaik hati memberikan tempat berteduh untuk mereka, biarkan mereka jadi gelandangan dan hidup susah di jalanan." Ucap Eve dengan kesal.
"Bagaimanapun Minzy adalah adikmu, Ayah hanya menyisakan mansion saja bukan yang lainnya." Kata Ketua Kim dengan nada biasa.
"Antarkan Eve ke pengadilan, Eve akan menggugat cerai Stevan." Ucap Eve dengan bersedekap dada.
"Apa kamu yakin? Bukankah kamu mencintai Stevan." Tanya Ketua Kim.
"Stevan hanya mencintai Kristal sampai detik ini Ayah, Eve sudah menyerah sejak lama. Terpenting seluruh harta keluarga Kristoff akan berada di tangan Eve. Eve sanggup hidup tanpa laki-laki namun Eve tidak sanggup jika harus hidup miskin." Jawab Eve panjang lebar dengan yakin.
"Baiklah, kapan kamu akan meminta tanda tangannya?" Ucap Ketua Kim yang mulai menjalankan mobilnya ke pengadilan negeri.
Ketua Kim tertawa tidak menyangka jika anak pertamanya sangat licik seperti itu, "Bagus! Ayah sangat bangga denganmu." Ucap Ketua Kim.
Eve hanya mengibaskan rambutnya dengan bangga, "Tentu saja, anak Ayah yang berguna hanya Eve bukan yang lainnya." Kata Eve dengan wajah mengejek untuk Minzy yang tidak ada di sana.
Ketua Kim hanya mengganggukkan kepalanya saja membenarkan apa yang dikatakan oleh Eve, tidak terasa mobil yang di kendarai Ketua Kim telah sampai di pengadilan. Segera Ketua Kim mengendarai mobilnya menuju basement untuk parkir.
Keduanya keluar dan berjalan untuk menemui pengacara menggugat cerai Stevan, Eve sudah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari. Bisa di lihat ditangan Eve sudah ada amplop coklat yang berisi berkas-berkas untuk perceraiannya.
***
Rumah Sakit
__ADS_1
Rose terlelap tidur, meski saat ini Rose belum pindah di kamar rawat biasa namun sudah dapat di jenguk lebih dari satu orang.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Suryo yang baru saja masuk.
"Baik, kita hanya tinggal menunggu observasi dari dokter untuk satu hari ini." Jawab Ayah Nugroho yang menggenggam erat tangan Rose.
"Syukurlah, aku sudah menyiapkan kepindahan Rose." Ucap Suryo dengan menepuk pundak Ayah Nugroho.
"Terima kasih, aku sungguh tidak tahu harus berbuat apalagi di dunia ini jika putriku meninggal. Pasti istriku akan sangat kecewa di sana." Kata Ayah Nugroho terisak lirih.
"Istrimu akan menjaga kalian dari kejauhan." Ucap Suryo.
Ayah Nugroho menganggukkan kepalanya pelan dan menyeka air mata dengan tangan kirinya.
"Jauhkan Rose dari pria itu." Ucap Ayah Nugroho kepada Suryo.
Suryo menghembuskan nafasnya pelan, "Apa kamu yakin?" Tanya Suryo.
"Yakin, sangat yakin. Aku tidak ingin menempatkan Rose dengan pria yang berbahaya." Jawab Ayah Nugroho mantap.
"Baiklah, aku akan menemui keluarganya dan meminta pengawal kita untuk datang kemari." Ucap Suryo.
"Tidak perlu, aku sendiri yang akan menjaga putriku. Kita akan kembali secepatnya setelah dokter memperbolehkan merawat Rose di luar Rumah Sakit ini." Kata Ayah Nugroho dengan tegas tanpa bantahan apapun.
"Baiklah, aku akan menanyakan kepada dokter." Ucap Suryo.
"Jangan biarkan siapapun tahu." Kata Ayah Nugroho kepada Suryo yang akan menggapai daun pintu.
__ADS_1
Suryo hanya mengangguk saja, mungkin saat ini Nugroho sedang tidak bisa di ajak berbicara dengan kepala dingin. Tentu saja siapa orangg tua yang tidak marah karena menutupi keadaan anaknya yang tengah sekarat.