
Happy Reading 🌹🌹
"Tunggu, sayang!" Seru Dave yang langsung berdiri dan mengejar Rose.
"Dave!" Elsa menghalangi Dave untuk mengejar Rose.
Dave menatap Elsa dengan tatapan membunuh, hingga membuat Elsa mundur beberapa langkah sedangkan Dave maju dengan bibir yang menyeringai.
Greb
"Wanita ja*lang, pekerjaanmu hanya sebagai wanita renda*han.Aku diam bukan berarti memberimu ruang untuk leluasa mendekatiku, jika kamu masih berani menampakkan wajahmu di hadapanmu maupun kekasihku. Aku benar-benar akan membunuhmu!" Ucap Dave dengan menjambak rambut Elsa.
Sekertaris Dave terpaku didepan pintu, melihat perubahan Dave yang menjadi seperti seorang psikopat.
Elsa yang mendapatkan ancaman dari Dave membuat tubuhnya menjadi genetar dan berkeringat dingin.
"Sa... sakit Dave." Ucap Elsa yang memegang tangan Dave.
Dave semakin menambah Elsa dengan kencang, bahkan suara teriakan Elsa yang kesakitan seolah menjadi simfoni indah di telinga Dave.
"Kakak!" Teriak Rose yang langsung menghampiri keduanya.
Dave tersentak kaget karena kedatangan Rose yang kembali secara tiba-tiba, "Sayang, aku bisa jelaskan. Aku mohon jangan salah paham." Ucap Dave dengan tangan dan suara yang bergetar.
Rose langsung memeluk tubuh Dave, terasa jika detak. jantung Dave berpacu dengan cepat bahkan kemeja Dave sedikit basah.
"Bawa pergi wanita ini, dari ruangan Kak. Dave." Ucap Rose kepada sekertaris Dave.
Sang sekertaris mengangguk dan menghampiri Elsa, beruntung tidak ada pemberontakan dari Elsa sehingga sang sekertaris dengan. mudah membawa Elsa keluar.
Sedangkan Dave masih dengan posisi dipeluk oleh Rose, hanya keheningan yang menemani mereka.
"Sayang, sebaiknya kamu pulang saja." Ucap Dave.
Rose menggeleng pelan, "Kata kakak mau makan siang, mana makan siangku. Aku sudah sangat lapar." Jawab Rose pelan.
Dave menatap netra Rose dengan sangat dalam begitu juga sebaliknya.
Dave mengangguk dan berjalan kedalam kamar pribadinya yang berada di balik tembok untuk mengambil kotak bekal yang berisi nasi goreng.
Rose berjalan kearah sofa dan menjatuhkan bobot tubuhnya dengan menunggu Dave.
Terlihat Dave keluar dari suatu ruangan dengan membawa satu kotak makan dan berjalan kearah Rose.
"Ini...." Rose merasa tidak asing dengan kotak bekal yang ada ditangan Dave.
"Ini kotak bekal milikmu dulu sayang." Jawab Dave dengan tersenyum hangat.
Rose merasa sangat terharu, ternyata kotak bekalnyantidak dibuang didalam bak sampah maupun diberikan kepada OB seperti yang Dave ucapkan dulu.
"Kenapa kamu menangis, maafkan aku. Akan aku ganti seribu kotak bekal untukmu." Ucap Dave panik yang langsung duduk disamping Rose.
Rose memukul lengan Dave pelan, "Bolehkan aku buka?" Tanya Rose.
Dave mengangguk.
Perlahan Rose membuka kotak bekal berwarna pink tersebut, alis Rose naik satu karena ada beberapa plaster disana.
__ADS_1
"Kenapa hanya plaster yang menempel disini?" Ucap Rose pelan.
"It... itu... aku tidak sengaja membantingnya dulu." Jawab Dave dengan tertawa kaku.
Rose langsung menegakkan duduknya dan sedikit berputar agar dapat menatap Dave dengan pandangan yang sejajar.
"Kenapa, Kak?" Tanya Rose dengan penasaran.
Dave hanya menggaruk rambung belakangnya yang tidak gatal.
"Sudah ayo cepat sayang, cobain nasi goreng buatanku." Ucap Dave mengalihkan pembicaraan.
Tidak mungkin Dave menjawabnya dengan jujur, kenapa dulu membanting kotak makan yang Dave kira hanya kotak makan biasa ternyata milik Rose.
Rose memgangguk saja, dan mengambil satu siap nasi goreng untuk dirinya.
Sedangkan Dave terlihat sangat serius untuk mendengar ucapan dari Rose.
"Bagaiamana rasanya sayang? Apakah Enak?" Tanya Dave dengan antusias.
"Enak, Kak. Kakak mau coba?" Tawar Rose kepada Dave.
Dave menggeleng tapi langsung mengangguk, "Suapi ya." Ucap Dave.
Rose terpaku, apakah telinga Rose tidak salah dengar. Sepertinya perlu ke THT.
"Sayang." Ucap Dave hingga membuyarkan lamunan Rose.
"Ya, Kak." Ucap Rose.
Rose tersenyum kaku.
"Maaf, sayang." Ucap Rose.
"Hemm... aku maafkan, jika kamu mengulanginya maka aku akan benar-benar marah." Ucap Dave dengan wajah yang serius dan mengancam.
"Baik, cepat sini mendekat lagi. Aku suapi." Ucap Rose dengan menarik lengan Dave.
"Baiklah sayang, karena kamu memaksaku maka aku akan memelukmu." Ucap Dave yang langsung memeluk tubuh Rose dari samping.
Rose hanya diam tidak menanggapi, sepertinya akan lebih melelahkan daripada menghadapi Gabriel.
Mengingat Gabriel, membuat pikiran Rose menjadi tidak menentu. Sedang apa pria kanebo itu, apakah dia sudah makan.
Singkat cerita.
Acara makan siang penuh drama telenovela sudah dilalui Rose dan Dave.
"Sayang, kamu ingin pulang atau menunggu bekerja disini?" Tanya Dave.
"Sepertinya hari ini aku akan langsung pulang saja sayang, tubuhku akhir-akhir ini mudah lelah." Jawab Rose jujur.
"Baiklah, biarkan diantar oleh Dimas jika begitu." Ucap Dave kepada Rose.
"Tidak perlu, Rose akan naik taxi saja." Tolak Rose cepat.
"Lebih aman jika diantar oleh Dimas daripada naik taxi." Ucap Dave kekeh.
__ADS_1
"Baiklah, Rose menurut saja." Jawab Rose akhirnya menyerah.
Segera Dave keluar dari ruangannya dan menuju ke meja sang sekertaris, yaitu Dimas.
"Dim, antarkan kekasihku pulang dulu." Ucap Dave yang tiba-tiba.
"Tapi, sebentar lagi akan ada rapat Tuan." Ucap Dimas mengingatkan.
"Undur saja rapatnya, cepat kamu antarkan." Dave tidak menerima penolakan.
Dave langsung saja meninggalkan meja Dimas begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Dimas.
"Undur saja rapatnya, cepat kamu antarkan." Ucap Dimas menirukan ucapan Dave dengan bibir yang maju.
Rose yang melihatnya terkekeh geli, sedangkan pria yang ada dibelakang Rose menatap horor kearah Dimas.
Dimas tersentak kaget melihat keduanya, "Mampus kamu Dimas." Ucap Dimas dalam hati.
"Sayang, aku pulang dulu ya. Terima kasih makan siangnya." Ucap Rose yang membalikkan badan kearah Dave.
Dave tersenyum hangat kearah Rose, "Hati-hati dijalan sayang. Aku akan sangat merindukanmu." Ucap Dave kepada Rose.
Dimas yang mendengarkan ucapan Dave pura-pura dirinya mual, entah kenapa mendengar atasannya menjadi lembut membuat telinga dan mulut Dimas menjadi gatal.
"Bye, sayang." Ucap Rose kepada Dave.
"Mari, Nona." Ucap Dimas sopan.
"Jangan sampai lecet." Ucap Dave kepada Dimas.
"Siap, Tuan. Akan saya beri perlindungan lebih menggunakan bublewrap." Kelakar Dimas kepada Dave.
Dave melotot kearah Dimas, langsung saja Dimas berlari menyusul Rose yang sudah berada didalam lift.
"Kenapa sekertarisku menjadi lebih berani membully ku." Ucap Dave pelan dengan melihat lift yang sudah tertutup.
Dimas dan Rose berjalan keluar menuju lift, karena telah sampai dibasement.
"Silahkan, Nona." Ucap Dimas yang sudah membukakan pintu untuk Rose.
"Panggil saja Rose." Jawab Rose kepada Dimas.
Dimas tidak menanggapi, karena Rose sudah masuk langsung saja Dimas menutup pintu dan berjalan memutar menuju kursi sopir.
Perlahan mobil Dimas meninggalkan perusahaan Danuarta, hanya keheningan yang ada didalam mobil tersebut.
Rose membuang pandangannya kearah luar dan Dimas fokus dengan jalan raya, mengingat pesan dari Dave.
Hingga mobil berhenti dilampu merah, Rose melihat mobil Gabriel tepat berhenti disamping mobil Dimas.
Suatu perasaan menyeruak di hati Rose, tapi Rose tidak tahu apa itu. Perasaan yang membuatnya sangat sedih dan sakit secara bersamaan.
...🐾🐾...
__ADS_1