Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Hamil?


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Di kediaman Amanda, tepatnya di ruang keluarga. Tengah berkumpul keluarga Kristoff juga Ayah Nugroho dan Suryo.


Di satu sisi, Rose menangis sesenggukan karena ucapan sang Ayah.


"Rose tidak mau Ayah, Rose hanya akan menikah dengan Kak Gabriel." Ucapnya dengan suara parau.


"Lalu bagaimana lamaran Robby, Rose. Ayah kira kalian berpacaran sehingga menerima pinangan Robby." Jawab Ayah Nugroho dengan wajah sendu.


"Hiks, katakak Kak Robby jika itu semua bohong!" Seru Rose dengan tangis yang makin kencang.


"Tidak Rose, ak-aku tidak bercanda. Aku melamarmu dan ingin menjadikanmu istriku." Ucap Robby terbata.


"Breng*sek! Dia itu kekasihku, kamu taku bagaimana kami berjuang hingga detik ini dan kamu menikamku dari belakang hah!" Seru Gabriel yang kembali mencengkram kerah Robby.


"Aku tahu, tapi aku juga ingin memilikinya!" Seru Robby.


Buk!


Gabriel menghajar Robby sekali lagi, "Bede*bah!" Sentaknya.


"Ayah, Rose menolak pinangan Kak Robby!" Ucao Rose tegas.


"Tidak bisa Rose, karena tanggalnya sudah di tentukan." Jawab Suryo dengan wajah khawatir.


Perasaan Rose dan Gabriel berdenyut nyeri, membayangkan keduanya tidak bisa bersatu bahkan hingga sampai titik ini. Rose yang berjuang agar dapat berjalan kembali, Gabriel yang berjuang menantinya.


Kedua insan yang sama-sama terluka dan saling menanti seolah yakin bahwa cinta mereka akan bersatu.


Gabriel menoleh ke arah Ayah Nugroho dengan pandangan nanar begitu juga Rose yang seakan tidak percaya dengan ucapan Suryo.


"Hiks, bagaimana ini Mama. Rose tidak mau." Adu Rose pada Kristal yang memeluknya sejak tadi.


"Mama harus bagaimana, Mama juga tidak bisa membatalkannya Rose." Jawab Kristal sendu.


Gabriel berdiri dan menarik Rose dari pelukan sang Ibu, kini keduanya sudah berdiri di tengah-tengah keluarga besar.


"Kami akan menikah karena Rose sedang hamil." Ucap Gabriel tegas dan seru.


"Apa!" Ucap semua orang yang berada di ruangan tersebut termasuk Rose.


Rose meraba perut rampingnya dengan wajah heran, bahkan Rose tahu jika dirinya tengah datang bulan.


"Tap----"


Mulut Rose di tutup oleh tangan Gabriel, "Rose sedang hamil, iyakan sayang?" Ucap Gabriel degan nafas memburu karena emosi yang dia luapkan kepada Robby.


"Hah?" Rose menyerengitkan dahinya kemudian Rose mengangguk.


"I-iya benar, Rose sedang hamil muda." Ucap Rose dengan terbata.


"Rose!" Sentak Ayah Nugroho.


Rose terjingkat kaget dan langsung bersembunyi di balik tubuh Gabriel, kedua tangan saling bertautan seakan memberikan dorongan semangat.

__ADS_1


"Maka dari itu, kami akan menikah. Karena Gabriel adalah ayah dari anak yang sedang di kandung oleh Rose." Ucap Briel dengan wajah serius.


Ayah Nugroho memijit pagkal hidungnya pelan, merasa sangat pusing saat ini. Bagaimana bisa mereka mencetak anak padahal belum menikah.


"Tolong restui mereka Tuan, bagaimanapun putraku bertanggung jawab dengan apa yang mereka perbuata." Ucap Stevan kepada Ayah Nugroho.


Gabriel melepas tautan tangannya dengan Rose dan bersujud di depan Ayah Nugroho, "Tolong restui kami, Briel meminta maaf tentang kecelakaan Rose tempo lalu itu. Itu memang kecerobohan yang Briel perbuat namun Briel sangat mencintai Rose." Kata Gabriel dengan mata berkaca-kaca.


Rose juga ikut bersimpuh di samping Gabriel, "Benar ayah, Rose juga sangat mencintai Kak Gabriel. Rose akan menjadi janda perawan jika tidak menikah dengannya." Timpal Rose dengan mata bulatnya.


"Janda perawan? apa maksudnya. Astaga Rose bisa-bisanya melawak di saat seperti ini." Gumam Daniel yang terkekeh dalam hati.


Terlihat Ayah Nugroho membuang nafasnya kasar, "Di mana kalian membuat cucuku?" Tanya Ayah Nugroho pelan.


"Kamar mandi."


"Kantor."


Ucap Rose dan Gabriel bebarengan namun tidak singkron. Keduanya menoleh hingga saling menatap dengan bibir komat-kamit seakan memberi kode.


"Jawa yang benar!" Tegas Ayah Nugroho menggebrak meja.


"Kamar mandi." Cicit Rose.


Seluruh orang yang berada di ruangan itu terperangah mendengar jawaban Rose.


"Ba-bagaimana bisa kalian membuat cicit untukku di dalam kamar mandi." Ucap Kakek Kristoff seakan tidak percaya.


"Apa kamu semiskin itu tidak membawa Rose ke hotel mewah, hah! Bagaimana bisa cucu pertama keluarga Amanda di buat di dalam kamar mandi." Timpal Ayah Nugroho frustasi.


"I-itu di luar kendali Ayah." Jawab Gabriel terbata.


"Sudah-sudah, kita sudahi saja bermain dramanya. Benarkan ucapan Daniel jika Kak Gabriel dan Rose sudah mencetak cucu untuk Mama dan Ayah." Sela Daniel tanpa dosa.


Gabriel dan Rose langsung menoleh ke arah Daniel, terlihat wajah tengil menyebalkan yang ingin Rose tenggelamkan di dasar bumi.


"Jadi kamu biang keladinya!" Geram Briel.


"Kakak tidak jujur kepada Daniel, jadi begini paman." Daniel menceritakan bagaiamana pertemuan Go Eun dan Gabriel di kantor tempo hari. "Begitu, jadi terbukti ucapan Daniel tidak bohongkan?" Lanjutnya.


"Ayah, jadi semua ini hanya settingan? KDRT yang baru saja terjadi juga settingan?" Tanya Rose penuh harap.


"Iya Rose, maaf sudah membuatmu menangis. Kakak hanya membantu rancana Daniel saja." Ucap Robby menyela.


"Iya benar, namun Ayah tetap akan menghukummu Rose. Kalian jangan bertemu satu minggu sampai acara pernikahan kalian." Timpa Ayah Nugroho dengan tegas.


"Apa!" Ucap Rose dan Gabriel shock.


"Benar sayang, acara pernikahan kalian sudah di tentukan tanggalnya. Kalian tinggal mempersiapkan diri saja dan juga bayi yang ada di dalam perutmu harus di jaga." Ucap Kristal yang kini sudah berjongkok di samping Rose.


"Bayi?" Beo Rose.


"Iya, bukankah Rose sedang hamil cucu Mama." Ucap Kristal tersenyum.


"Bayi?" Beo Rose lagi seakan linglung dari dunianya.

__ADS_1


Gabriel mengehela nafasnya kasar, kenapa untuk melamar kekasihnya dengan gayanya sangat susah. Jika terakir Rose di bawa kabur oleh Ayah Nugroho sekarang para tetua sudah menentukan tanggal pernikahannya.


"Tidak bisakah Gabriel dan Rose sendiri yang mengurusnya, Gabriel belum melamar Rose." Ucap Briel dengan wajah lesu.


"Tidak bisa! Kamu ingin perut anakku semakin membesar dan membuat cucuku tidak memiliki seorang ayah, huh." Jawab Ayah Nugroho cepat.


"Bukan begitu Ayah, tapi----"


"Tidak ada tapi-tapian, kalian secepatnya menikah. Setelah itu baru Daniel. Kasian cicitku jika kalian terus mengulur-ngulur waktu." Potong Kakek Kristoff.


"Ayo Rose, kita ke kamar." Ajak Minzy.


"Biar aku saja." Cegah Gabriel.


"Kamu tetap di sini." Ucap Ayah Nugroho.


Rose mengigit bibir bawahnya karena cemas, otaknya harus berfikir dengan cepat saat ini.


"Sepertinya anak Rose tidak ingin jauh dari Papanya, Rose... huek!"


"Sayang kamu tidak apa-apa?"


"Sayang, aku. Huek!"


Gabriel langsung menggendong Rose dan membawanya pergi ke kamar lantai dua di mana kamar Rose berada.


Para tetua mengikutinya begitu juga Kakek Kristoff, mereka terlihat berkumpul dengan wajah khawatir.


"Sayang aku tidak bisa mencium bau selain dirimu, huek!" Ucap Rose lirih dan lemas setelah Briel meletakkannya di atas kasur.


Gabriel langsung mengangguk cepat dan berjalan ke arah pintu kamar Rose, "Semuanya tolong pergi dari sini dulu, Rose tidak kuat mencium bau badan kalian." Ucap Gabriel pelan.


Rose melirik ke arah pintu terlihat masih berkerumun di depan kamarnya.


"Huek!"


Sekali lagi Rose mengeluarkan suara ingin muntahnya.


Orang-orang di sana otimatis mencium diri mereka sendiri, tidak bau. Parfum yang mereka kenakan juga sama seperti hari-hari biasanya.


"Ah, mungkin Rose sudah mulai ngidam." Ucap Minzy bahagia.


Gabriel mengangguk cepat, "Benar, jadi maaf ya Briel tutup agar Rose berhenti yang muntah-muntah." Jawab Gabriel.


"Yasudah jika begitu Mama buatkan minuman hangat." Ucap Kristal yang berjalan meninggalkan kamar Rose bersama Minzy.


"Awas, jangan menyentuh anakku sampai kalian menikah!" Kata Ayah Nugroho tegas.


"Jangan biarkan cicitku kenapa-kenapa Briel, turuti semua keinginan Rose" Timpal Kakek Kristoff.


Gabriel mengangguk cepat dan menutup pintu Rose pelan karena pandangan kedua pria tersebut seakan melubangi jidatnya.


...🐾🐾...


__ADS_1


__ADS_2