Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Wanita Pembunuh


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Rose segera menelfon Ayah Nugroho tentang kepulangannya ke tanah air.


"Ayah, apakah bisa membantu Rose?" Tanya Rose ketika mengetahui panggilannya terjawab.


"Apa begitu caramu menelfon Ayahmu ini Rose?" Tanya Ayah Nugroho dengan datar.


"Maaf, Ayah. Rose sedang terburu-buru." Jawab Rose dengan tertawa pelan.


"Apa kamu membuat masalah di sana? Bukankah sudah Ayah kirimkan bodyguard untuk menjagamu Rose?" Tanya Ayah Nugroho dengan beberapa pertanyaan.


"Ada, tapi kali ini Rose meminta bantuan yang lebih urgent." Jawab Rose dengan nada serius.


"Apa itu?" Tanya Ayah Nugroho singkat.


"Pindahkan kewarganegaraan seseorang untukku, Ayah." Jawab Rose mantap.


Ayah Nugroho yang mendengar ucapan Rose, mengerutkan alisnya.


"Maksudnya bagaimana, Rose?" Tanya Ayah Nugroho yang belum paham.


Akhirnya, Rose menceritakan pertemuannya dengan Kristal. Bagaiamana akhirnya Kristal bisa tinggal di apartemen Rose selama ini.


"Apa kamu yakin dia orang baik-baik, Rose?" Tanya Ayah Nugroho setelah mendengar jawaban anaknya.


"Yakin, Ayah. Sangat yakin." Jawab Rose mantap.


"Baiklah, Ayah akan meminta bantuan orang dalam kedubes untuk membantu memindahkan data-datanya." Ucap Ayah Nugroho menyetujui permintaan Rose.


"Terima kasih, Ayah." Jawab Rose dengan memberikan kecupan kecupan kecil di HP miliknya.


Ayah Nugroho terkekeh pelan di sebrang telfon, "Siapkan semua syarat untuk berkas pemindahannya Rose. Meskipun Ayah dapat membantu, pasti ada orang yang lebih berkuasa di sana daripada Ayah." Ucap Ayah Nugroho memberikan pengertian.


Rose mengangguk paham meskipun tidak dapat dilihat oleh Ayah Nugroho.


"Baik, Ayah." Jawab Rose yang kemudian menutup sambungan telfonnya.


Kristal yang melihat Rose telah selesai menefon dengan tidak sabaran bertanya, "Bagaiamana, Rose?"


"Ayah bisa membantu kita Tante, tapi... Tante harus mempersiapkan untuk persyaratan kepindahan warganegara." Jawab Rose pelan.


Terlihat Kristal langsung terdiam, bagaimana caranya mengambil surat-surat penting itu. Mengingat bagaimana dengan ketika Stevan mengusirnya.


"Tenang saja Tante, kita pasti bisa mengambilnya." Ucap Rose menggenggam kedua tangan Keistal.

__ADS_1


Jika aku tidak dapat menggunakan. cara halus, akan aku ancam saja. Gumam Rose dengan terkikik geli karena pikirannya.


Sedangkan di kediaman keluarga Kristoff.


Terlihat Kakek Kristoff sedang berada di meja makan dengan seluruh anggota keluarga intinya.


"El, apa kau mau menemani Kakek hari ini?" Tanya Kakek Kristoff dengan memakan makanannya.


"Kemana?" Tanya El singkat.


"Main golf dengan Paman Kim." Jawab Kakek Kristoff pelan.


Eve yang mendengarkan keluarga Kim disebut-sebut merasa harus menunjukkan dirinya.


"Bagaimana jika kita ikut Ayah, sayang?" Tanya Eve kepada Stevan.


Belum Stevan menjawab, Kakek Kristoff sudah bersuara.


"Tidak, ini hanya acaraku dengan cucuku saja." Jawab Kakek Kristoff tegas.


"Tapi, Ayah. Kita sudah lama tidak pernah pergi bersama. Bahkan mungkin kami sudah lupa kapan terakhir bepergian dengan Ayah." Ucap Eve dengan wajah sedihnya.


Kakek Kristoff berdecak, "Sejak kapan menjadi kita? Aku selama ini diam karena mendiang istriku yang selalu mengajak kalian." Jawab Kakek Kristoff sarkas.


Eve mencengkram gagang sendok dan garpu miliknya dengan kuat, jika sana Ibu Mertuanya masih hidup mungkin Eve masih memiliki pelindung di rumah besar ini.


Eve tersenyum mendengar Stevan membelanya, Eve sangat yakin Stevan sudah dia peralat selama ini.


Daniel yang mendengarkan jawaban Stevan sang Ayah hanya tertawa pelan.


"Hah, dasar tidak tahu malu." Ucap Daniel pelan.


"El!" Seru Stevan yang selalu saja Daniel meremehkannya.


"Jangan panggil El, El hanya untuk orang-orang yang dekat denganku. Kalian, tidak termasuk didalamnya." Jawab Daniel tegas.


Kakek Kristoff terlihat penepuk bahu cucunya dengan perasaan bangga, jika selama ini Daniel selalu melihat dari kejauhan dan memilih menghindar.


Sekarang Daniel, mulai bisa menunjukkan taringnya di kediaman keluarga Kristoff.


"Aku akan membawa kembali menantuku ke diaman Kristoff dengan tanganku sendiri, jadi silahkan bertingkah sepuasmu Eve. Sebelum Nyonya yang sesungguhnya kembali." Ucap Kakek Kristoff yang menyeka bibirnya dengan tisu dan mulai bangkit dari kursi.


Suara gebrakan meja terdengar nyaring diruang makan, bahkan kini situasinya menjadi tegang.


"Ayah! Jangan membicarakan wanita pembunuh itu, sudah bagus dia tidak aku masukkan ke penjara dan menghirup udara bebas di kediaman Kristoff selama ini." Seru Stevan dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


Daniel yang tahu siapa yang di maksud Stevan hanya tertawa keras.


"Oh, Anda lucu sekali Tuan. Menghirup udara bebas dan kalian siksa selama tinggal di sini, apalagi ketika Kakek pergi berbisnis di luar kota maupun negeri. Wanita yang kau sebut pembunuh dan kalian jadikan pembantu itu adalah IBUKU!!!" Seru Daniel dengan membanting sendok di atas piringnya.


Terlihat Daniel dan Stevan saling menatap tajam, seolah keduanya tengah menunjukkan siapa yang paling jantan dan berkuasa di kediaman Kristoff.


Sedangkan Eve, dirinya semakin tertawa keras. Karena sudah membuat hubungan Ayah dan Anak hancur.


"Sayang, sudah. Daniel maafkan Momy." Ucap Eve dengan mengelus lengan suaminya.


"You are not mommy but monkey." Jawab Daniel dengan senyum remehnya.


Kakek Kristoff yang mendengar jawaban Daniel tertawa terbahak dan pergi meninggalkan meja makan dengan sisa tertawanya.


Begitupun Daniel yang mengikuti sang Kakek meninggalkan area perang tersebut dengan cukup puas.


Eve yang mendengar jawaban Daniel sontak dibuat kaget, bahkan hatinya terbakar karena amarah. Tetapi Eve ingat ada suaminya disini.


"Hiks... sayang, kapan Daniel akan menerimaku sebagai Momynya?" Tanya Eve dengan wajah sedih.


"Sabar sayang, sebentar lagi Daniel pasti akan dapat menerimamu." Jawab Stevan yang memeluk Eve.


"Tapi ini sudah hampir dua puluh tujuh tahun, Daniel masih belum menerimaku. Padahal dulu ketika kecil Daniel sangat dengan kita sayang. Ini pasti ulah Kristal yang menggasut Daniel sayang." Ucap Eve dengan membawa-bawa nama mantan istri Stevan.


Stevan hanya diam tidak menjawab, apakah benar Kristal sangat seburuk itu sifatnya. Bahkan sampai menghasut otak Daniel.


"Beruntung Kristal kamu usir dari sini sayang, pasti Daniel akan lebih di cuci lagi otaknya sehingga membuatnya semakin jauh dari kita. Kamu lihat sendiri, Daniel bahkan sudah mulai berani meninggikan suaranya dan mengejekku." Ucap Eve lagi dengan air mata dustanya.


Hingga Eve dan Stevan mendengar sayup-sayup suara seorang gadis di kediaman Kristoff.


"Apa kau dengar suara seorang gadis sayang?" Tanya Eve kepada suaminya.


Stevan mengangguk, "Ayo kita lihat." Ajak Stevan kepada Eve.


Stevan dan Eve keluar ke arah pintu utama kediaman Kristoff, terlihat seorang gadis yang meneriakkan nama Kakek Kristoff.


"Kakek!" Seru Rose dengan berlari.


Terlihat rambut tergerai yang terbang terbawa angin, dengan senyum lebar dan langkah yang pendek.


Gadis yang hanya mengenakan pakaian casual, baju oversize rok span pendek dan sepatu kets. Tidak lupa tas kecil yang melingar di pundaknya.


"Siapa dia sayang?" Tanya Eve kepada Stevan karena belum pernah melihat wajah gadis tersebut.


...🐾🐾...

__ADS_1



__ADS_2