Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Kecemburuan Gabriel


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Apa kalian ingin mencoba menu baru direstoran hotel sebrang jalan?" Tanya Yumi.


"Ayo, Rose kamu juga harus ikut sebagai orang luar Korea wajib merasakan masakan negara ini." Jawan IU


"Hem, baiklah. Ayo." Jawab Rose.


Rose yang sudah mulai aktif masuk kuliah mendapatkan teman asli Korea bernama Yumi dan IU.


Terlihat ketiga gadis dengan paras yang ayu tengah berjalan menuju parkiran mobil.


Tidak membutuhkan waktu lama ketiganya telah sampai di depan pintu restoran hotel.


"Rose, aku mau ketoilet sebentar kamu duduklah dulu bersama Yumi." Ucap IU.


"Aku ikut." Ucap Yumi.


"Yadusah, aku akan menunggu kalian saja dulu didalam." Ucap Rose.


IU dan Yuma memberika jempol tangan kepada Rose yang menandakan jika setuju.


Rose berjalan memasuki restoran, terlihat sangat mewah dan eksklusif. Meskipun di Indonesia Rose juga sering makan di restoran mewah tapi ini berbeda.


Vibes dan suasananya belum pernah Rose temukan di negara asalnya, yang tersenyum dan mencoba mencari tempat duduk yang kosong.


Namun senyum Rose langsung luntur melihat seseorang yang membuatnya rela berjauhan dengan sang Ayah tengah memeluk seorang wanita.


Rose tahu itu adalah Minzy, sedangkan Rose bertatapan dengan mata tajam Gabriel. Cukup lama mereka bertatapan hingga Minzy memanggilnya.


"Rose." Panggil Minzy dengan melambaikan tangan.


"Itu teman Mama Kristalkan, ayo ajak dia makan bersama kita." Ucap Minzy yang tidak paham dengan situasi keduanya.


"Tidak perlu." Jawab Gabriel yang masih menatap Rose.


"Kenapa?" Tanya Minzy sedih.


"Sudah ayo makan." Gabriel memutuskan pandangannya terlebih dahulu dan duduk dikursi sebrang Minzy.


Rose menghela nafasnya panjang dan duduk dikursi yang cukup jauh dari keduanya.


"Jangan menangis Rose, jangan menangis. Ingatkamu harus selesai kuliah." Gumam Rose menguatkan dirinya.


Rose melihat daftar menu yang dia minta, hingga sepasang sepatu kets berhenti disamping meja Rose.


"Halo, apakah ini benar Rose?" Tanya seorang pria.


Rose mengangkat kepalanya dan menoleh, terlihat pria yang sangat tampan.


Membuat Rose berkedip dengan cepat bahkan sampai mencubit punggung tangannya.


"Hay!" Ucap pria itu lagi dengan melambaikan tangan didepan Rose.


"O---oh benar." Jawab Rose mengangguk namun suaranya terbata.


Pria muda itu tersenyum dan tanpa permisi langsung duduk didepan Rose.


"Kenalkan, aku Jin." Ucap pria itu dengan mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Rose menerimanya "Aku Rose." Jawab Rose kaku.


"Apakah kamu sudah memesan makanan?" Tanya Jin dengan lembut.


"Be---belum, aku masih menunggu teman-temanku." Jawab Rose jujur.


"Maaf, teman-temanmu tidak akan kembali aku meminta tolong mereka untuk membawamu kemari." Ucap Jin dengan menggaruk pipinya dengan pelan.


Rose terasa terhipnotis, "Kenapa pria ini sangat tampan!!!!" Seru Rose dalam hati.


Jin memanggil pelayan dan memesankan makanan untuk keduanya.


"Kamu suka steik?" Tanya Jin.


Rose mengangguk tanpa berkata maupun mengalihkan pandangannya ke arah wajah Jin.


"Stek saja dua dan orange jus dua." Pesan Jin kepada pelayan.


"Baik Tuan, silahkan di tunggu sebentar." Jawab pelayan tersebut.


Sedangkan Gabriel dengan kasar mengiris stek miliknya dengan tatapan menyala kearah meja Rose.


Dari awal pria itu datang, bersamalan hingga tersenyum kepada Rose.


"Cih, apa-apaan apa Rose tidak tahu malu. Dia sudah bertunangan dengan Dave tapi masih berkencan dengan pria lain." Ucap Gabriel dalam hati.


Minzy yang melihat Gabriel hanya menatap bingung, dagung steak bukannya dimakan namun hanya dicabik-cabik didalam piringnya.


Kedua mata Gabriel melebar ketika tangan Jin menyentuh rambut Rose dan kemudian mendekatkan wajahnya seakan mencium Rose.


"Tidak!" Seru Gabriel yang membuat Minzy terjingkat kaget.


"El, kamu kenapa?" Tanya Minzy dengan memegang pergelangan tangan Gabriel.


Minzy hanya mengikuti ucapan Gabriel dan kemudian berjalan bersama dengan bergandengan tangan.


Gabriel sengaja menggandeng tangan Minzy dengan melewati meja Rose yang tengah bersama pria asing.


Rose yang awalnya tertawa karena lelucon tua Jin, kembali menjadi sendu. Melihat bagaimana sayangnya Gabriel kepada Minzy.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Jin yang melihat raut wajah Rose berubah.


"Tidak apa-apa, ayo makan. Akujuga harus kembali kekampus karena masih ada mata kuliah lagi." Jawab Rose dengan tersenyum.


Jin dan Rose akhirnya makan dengan tenang, sesekali Jin menyeka noda disisi bibir Rose karena terkena saus dari steiknya.


Jika orang melihat keduanya seperti sepasang kekasih yang hanya tinggal berdua didunia ini.


Sedangkan Minzy hanya menghela nafasnya didalam mobil, sejaktadi mobil belum. Bergerakkarena Gabriel melarangnya.


Gabriel masih melihat pemandangan didalam restoran yang membuat hatinya menyalakan kobaran api, matanya memancarkan sinar leser yang siap melubangi tangan pria asing itu.


"Sudahlah, masuk saja kembali dan ajak dia pulang bersama." Ucap Minzy dengan malas.


Gabriel hanya meliriknya sinis, hatinya sedang tidak dapat dikondisikan.


Benar, ingi rasanya Gabriel masuk dan membawa paksa Rose keluar dari tempat itu, menghukumnya dengan hukuman ala Gabriel.


"Pak jalan." Ucap Minzy.

__ADS_1


"Tidak." Larang Gabriel.


"Sudah cepat jalan, bosmu sedang tidak waras." Perintah Minzy.


Gabriel menoleh ke arah Minzy dengan kedua mata yang melebar karena di panggil tidak waras.


Akhirnya mobil yang ditumpangi Gabriel berjalan meninggalkan hotel tersebut.


"Pak, keperusahaan saja tidak perlu mengantar Minzy." Ucap Minzy lagi.


Gabriel hanya diam dengan membuang pandangannya kesembarang arah, terlihat wajahnya yang masih masam karena memgingat pemandangan didalam restoran.


Kenapa juga Gabriel harus cemburu, toh yang diselingkuhi Dave bukan dirinya. Gabriel berdecak kesal didalam hati.


Sedangkan di restoran kini Rose telah selesai makan siang bersama Jin.


"Ketikkan nomormu." Ucap Jin dengan menyodorkan ponselnya.


"Oh, baik." Jawab Rose yang mengambil ponsel Jin.


"Darimana kamu kenal aku?" Tanya Rose dengan mengetik.


"Aku melihatmu saat pertama kali masuk kuliah, dan Yumi adalah adik ponakanku." Jawab Jin jujur.


Rose hanya mengangguk dan mengembalikan ponsel kepada Jin.


"Ayo aku antar kekampus, kalian tadi hanya membawa satu mobilkan." Tawar Jin.


"Em, baiklah ayo." Rose menerima tawaran Jin mengingat waktu tinggal sedikit.


Rose dan Jin masuk didalam mobil sport berwarna hitam metalic kepunyaan Jin.


Sekali lagi Rose dibuat kagum dengan mobil sport ini, apalagi disampingnya orang yang sangat tampan.


Kini Gabriel dan Minzy melangkah masuk keperusahaan Kristoff, banyak karyawan yang menyapa keduanya ketika berpapasan.


Hingga keduanya masuk kedalam lift, lift bagi jabatan eksekutif.


"Jujur saja, Rose itu kekasihmukan?" Tanya Minzy to the point.


"Bukan." Jawab Gabriel singkat.


"Tidak perlu berbohong, dari sorot mata kalian sejak aku bertemu saja sudah tahu." Ucap Minzy dengan berdecak.


"Jangan sok tau." Kata Gabriel yang melangkah keluar lebih dulu dari salam lift.


"Iyakan, jujur saja." Desak Minzy.


"Tidak." Jawab Gabriel.


"Jujurlah jujurlah." Minzy berjalan kekanan dan kekiri di belakang tubuh Gabriel.


Hingga langkahnya harus terbentur punggung Gabriel karena pria itu berhenti mendadak.


Minzy merengut kesal dan keluar dari punggung Gabriel, terlihat Ayahnya tengah berada diruangan Kakek Kristoff.


...🐾🐾...


...Jangan Lupa Votenya...

__ADS_1


...Klik hadiah dan geser. ...



__ADS_2