
Happy Reading 🌹🌹
Gabriel membukakan pintu untuk Sky tanpa berbicara maupun mencoba melihat ke dalam mobil.
Bahkan Gabriel meninggalkan kedua manusia yang masih duduk di kursi belakang mobil dan menuju ke arah panti asuhan.
Gabriel mengetuk pintu panti asuhan dan tidak butuh waktu lama seorang anak kecil membukakannya.
"Iya, siapa?" Tanyanya.
"Halo adik manis. Apakah Bu Siti ada?" Tanya Gabriel dengan berjongkok mensejajarkan tinggi badan mereka.
Anak tersebut terlihat menganggukkan kepalanya dan segera berlari masuk untuk memanggil Ibu panti.
Bu Situ segera berjalan cepat menuju pintu utama panti, terlihat dua sosok pria dengan stelan jas hitam dan seorang gadis yang berada di gendongan salah satu dari mereka.
"Ayo.. ayo silahkan masuk." Ucap Bu Siti kepada kedua tamunya.
Gabriel dan Sky berjalan mengikuti Bu Siti, tetapi Gabriel berbelok ke arah ruang tamu dengarkan Sky mengikuti Bu Siti yang mengantarkannya ke kamar Putri.
Terlihat Gabriel mengitari ruang tamu kecil itu, bangunan panti yang sudah tua. Terlihat dari banyaknya kayu yang lapuk dimakan usia.
Perabotan yang berada diruang tamu bahkan terlihat sangat kuno, besi-besok banyak yang berkarat.
Sejenak Gabriel menghirup nafasnya dalam, pikirannya melayang. Jika dirinya tidak bertemu dengan Ayah angkatnya dan menjadi saudara Sky saat ini, apakah dia juga harus tinggal di sebuah panti asuhan atau malah hidup serampangan di jalanan.
Pandangan Gabriel menerawang jauh kedepan, kenangan di masa lalunya bahkan dia tidak ingat. Hanya teringat sosok wanita yang mengajaknya bepergian dan pamit hingga sore menjelang.
Lamunan Gabriel terputus ketika Sky menepuk pundaknya, Briel menoleh dan terlihat Bu Siti dan Sky sudah ikut bergabung dengannya di ruang tamu itu.
"Silahkan duduk, Tuan." Ucap Bu Siti sopan.
"Panggil saja saya Sky dan ini saudara saya Gabriel." Jawab Sky tidak kalah sopan.
Bu Siti dan Gabriel sama-sama menundukkan kepalanya sesaat sebagai rasa hormat saling menyapa.
"Salam kenal, maaf saya tidak dapat hadir di acara pernikahan kalian. Karena saat itu Nana tidak ada yang menjaganya." Ucap Bu Siti yang di tujukan kepada Sky.
"Tidak apa-apa Bu." Jawab Sky pelan.
__ADS_1
Gabriel, Sky, dan Bu Siti terlihat tengah mengobrolkan sesuatu yang sangat penting. Dengan seksama Briel mendengarkan cerita dari Bu Siti.
Entah karena terbawa suasana, Briel ikut geram dengan seseorang yang diceritakan oleh Bu Siti. Tanpa sadar Gabriel menahan nafas sejenak dengan telinga yang masih senantiasa mendengarkan penuturan dari Bu Siti.
Masalah peluk akan menerpa pernikahan Sky dan Putri, Briel memikirkan bagaimana caranya agar semuanya tetap kondusif tanpa memakan korban jiwa.
Pandangan Gabriel tidak sengaja menatap ke arah Sky, terlihat tangan Sjy yang sudah terkepal kuat bahkan urat-urat di punggung tangannya terlihat.
Gabriel paham betul jika saat ini Sky tengah menahan gejolak amarahnya. Hingga akhirnya Sky memerintahkan Gabriel untuk mengulik kejadian masa lalu istrinya.
Dengan segera, Gabriel pamit undur diri dari hadapan keduanya.
"Saya pamit keluar." Ucap Gabriel.
Kaki lebarnya melangkah dengan tengah keluar dari ruang tamu bahkan keluar dari panti tersebut. Tangan kanannya terulur membuka jas bagian atas yang tengah Briel kenakan. Dirogohnya saku dalam jas dan mengambil benda pipih yang 24jam selalu bersamanya.
"Segera cari informasi sebanyak-banyaknya dan jangan sampai ada yang tahu." Ucap Gabriel tegas dan to the point setelah panggilannya di angkat oleh anak buahnya.
Gabriel segera mematikan sambungan telfonnya karena mendengar suara langkah kaki yang mendekat kearahnya.
"Briel, kembalilah ke kota dulu. Aku tidak tega membangunkan istriku." Ucap Sky yang kini sudah berhadapan dengan Gabriel.
"Baiklah." Jawab Gabriel singkat, padat, dan jelas.
"Apa kamu tidak bisa berbicara banyak terhadapku?" Sungut Sky dengan berdecak pinggang.
"Apa kau gila!" Ucap Gabriel dengan mengelus kakinya yang terasa sakit.
Sky hanya mendengus kesal tanpa ingin menjawab ucapan Gabriel, segera Sky berlalu meninggalkan Briel seorang diri.
Sungguh keduanya bagaikan sepasang kutub Utara dan kutub Selatan, sama-sama dingin tetapi tidak dapat bersatu.
"Dasar bucin laknat." Umpat Gabriel yang mendengar pintu panti terkunci dari dalam.
Gabriel berjalan menuju mobil yang mereka bawa dengan sedikit terpincang. Sesampainya di dalam mobil Gabriel menghela nafasnya panjang.
"Sepertinya besok akan menjadi hari paling melelahkan." Ucap Briel pelan.
Gabriel membayangkan, hari ini perjalanan dari kota ke pinggiran kota membutuhkan beberapa jam perjalanan. Entah Gabriek akan sampai di apartemennya pukul berapa.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus mencari penginapan di dekat sini." Putus Briel dalam pikirannya.
Segera Gabriel memasukkan kunci mobil pada lubangnya, dan memutarnya ke arah kanan agar dapat menyala. Briel menancap gas mobil dengan perlahan agar tidak menganggu anak-anak panti yang sudah tidur.
Selama di perjalanan hanya keheningan yang menemaninya, bahkan rencananya yang ingin mencari penginapan sampai dia lupakan. Karena saat ini Gabriel sudah sampai di basemant apartemennya.
Dengan langkah gontai dan wajahnya yang lelah Gabriel berjalan menuju lift yang akan membawanya menuju lantai dimana unit apartemennya berada.
Bunyi lift berdenting yang menandakan Gabriel telah sampai di lantai tujuan, Gabriel melangkah keluar dan kini sudah berada didepan unit apartemen miliknya.
Segera Briel menekankan tombol atau kode pasword pintu apartemen miliknya dan membuka pintu secara perlahan.
Lampu otomatis berwarna kuning menyala, Gabriel melepaskan sepatunya dengan serampangan karena tubuhnya sudah sangat lelah.
Gabriel meraba tembok dimana saklar lampu berada, kini ruang tengah terlihat sangat terang. Netra Gabriel melihat kearah jam dinding yang berada di atas televisi.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, Briel segera meletakkan tas kerjanya dan berjalan menuju lemari pendingin.
Dasinya dia longgarkan karena selama satu hari ini rasanya mencekik dirinya, kemeja dia gulung hingga sebatas siku.
Tangannya terulur membuka lemari pendingin dengan sedikit membungkuk, diambilnya satu kaleng soda kesukaannya.
Suara mendesis terdengar ketika Gabriel membuka tutup soda dingin itu, di teguknya soda tersebut hingga membasahi seluruh kerongkongannya.
Terlihat jakun yang naik turun dengan meneguk minuman tersebut hingga tandas, tidak berselang lama Briel bersendawa dengan keras.
"Oh, leganya. Sepertinya aku masuk angin." Ucap Briel yang membuang kaleng kosong di tangannya.
"Aku harus segera tidur sebelum pria menyebalkan itu akan merecokiku esok hari." Gumam Briel dalam hati.
Gabriel berjalan menuju kamarnya, terlihat sangat maskulin dan sepi. Benar-benar suasana pada kamar pria pada umumnya.
Sebelum mengistirahatkan mata dan tubuhnya Gabriel memutuskan untuk mandi agar otot-ototnya tidak tegang.
Cukup lama Briel mandi dan dia keluar dengan mengenakan handuk yang melilit di tubuhnya dan satu handuk kecil di kepalanya.
Briel berjalan di lemari pakaian, dia mengambil celana kolor untuk dia tidur dan bagian badanya Gabriel biarkan terbuka.
...**...
__ADS_1
Vitamin di siang menjelang sore hari. 😂😂