Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Daniel Sampai Indonesia


__ADS_3

Happy Reading🌹🌹


"Kita langsung ke bandara saja. Makan siang didalam pesawat." Ucap kakek Kristoff kepada yang lainnya.


"Baik, kek." Jawab Daniel.


Setelah selesai meninjau pabrik, ketiganya bertolak menuju bandara Internasional Incheon untuk menuju Indonesia.


Selama didalam mobil, Daniel hanya memejamkan kedua matanya dengan menyandarkan tubuhnya.


"Kamu tidak apa, Daniel?" Tanya kakek Kristoff.


"Tidak Kek, Daniel hanya mengantuk saja." Jawab Daniel bohong.


Daniel merasakan seluruh tubuhnya lemas, setiap sendi-sendi tulangnya seakan ingin lepas dari tubuhnya.


Tapi, Daniel tahan. Dia tidak ingin melepaskan kesempatan ini, kapan lagi Daniel akan pergi tanpa kakek dan orang-orangnya.


Selama diperjalanan, hanya di dominasi percakapan antara Kakek Kristoff dan asisten Robby saja.


Tanpa terasa kini mobil yang di kendarai oleh Robby telah sampai di bandara, segera Robby keluar dan menyerahkan kunci kepada salah satu anak buahnya yang sudah menunggu disana.


Robby segera membuka jok mobil untuk mengeluarkan koper-koper yang akan mereka bawa selama di Indonesia.


"Titip perusahaan dan mansion, ya." Ucap kakek Kristoff kepada anak buah tersebut.


"Baik, siap laksanakan Tuan." Jawabnya dengan tegas.


Kakek Kristoff berjalan beriringan dengan Daniel, sedangkan asisten Robby dan bodyguard dibelakang membawa koper.


Cukup lama menunggu hingga akhirnya mereka masuk kedalam pesawat.


Kakek Kristoff duduk bersama Daniel sedangkan Robby duduk di sebrang kursi mereka.


"Rob, pesankan makan siang untuk kita bertiga." Ucap kakek Kristoff kepada asistennya.


"Baik, Tuan." Jawab Robby.


Melihat kepergian sang asisten, kakek Kristoff menoleh ke arah Daniel yang sedang melihat ke luar jendela.


"Bertahanlah." Ucap kakek Kristoff dengan menggenggam tangan Daniel.


Daniel menoleh ke arah sang kakek. Keduanya hanya saling menatap dalam diam, kembali hidung Daniel mengeluarkan darah segar.


Langsung saja, tangan penuh keriput itu menutup dan menyeka darah yang keluar dari hidung sang cucu.


Daniel kaget karena baru paham maksud dari ucapan sang kakek kepada dirinya yang baru saja meluncur dari bibirnya.


Daniel langsung menutup hidungnya dan berjalan keluar melewati kakek Kristoff untuk menuju kamar mandi yang ada di dalam pesawat.


Bahkan Daniel, tidak sadar melewati asisten Robby yang akan kembali ke kursinya.


Daniel langsung menghidupkan wastafel dan menyeka darah dari hidungnya, kali ini darah lebih banyak keluar dari kemarin.

__ADS_1


Terlihat kedua tangan Daniel gemetar, bahkan kedua matanya memanas. Mengingat, Mamanya masih belum dapat menemukan saudara kembarnya.


"Tahan Daniel, tahan. Kamu pasti bisa." Ucap Daniel pada dirinya.


Sedangkan Robby yang melihat kepergian Daniel, meneruskan jalannya menuju kakek Kristoff.


"Tuan." Ucap Robby kaget karena kedua tangan bosnya banyak darah.


Segera Robby sedikit berlari untuk meminta tissu kepada pramugari. Beruntung hanya sedikit penumpang karena mereka menggunakan business class.


Tanpa menunggu lama, Robby telah sampai dengan satu kotak tissue yang dia bawa.


Segera Robby berjongkok dan membersihkan darah ditangan kakek Kristoff, Robby tidak bertanya tentang muasal darah tersebut.


Sepertinya Robby sudah dapat menebaknya, bagaimana Daniel yang berlari dengan menutup hidungnya tadi.


"Robby." Panggil kakek Kristoff pelan.


"Ya, Tuan." Jawab Robby dengan masih membersihkan darah.


"Siapkan dokter dan apartemen selama kita disana, aku tidak ingin melihat El kembali sakit." Ucap kakek Kristoff kepada asistennya.


"Baik, Tuan." Ucap Robby.


Setelah merasa darah yang ada ditangan kakek Kristoff bersih, Robby segera berdiri dan menuju kamar mandi.


Daniel yang berpapasan dengan asisten kakeknya dengan membawa sampah tissu yang banyak di tangannya.


"Darimana, Kak?" Tanya Daniel pada Robby.


Daniel dan Robby hanya terpaut usia sepuluh tahun, Robby lebih tua dari Daniel sehingga memanggil Robby kakak.


Ayah asisten Robby sudah lama meninggal dan di gantikan oleh Robby sang anak.


Daniel hanya menganggukkan kepalanya saja, dan berjalan menuju kursi dimana sang kakek berada.


Daniel dan kakek Kristoff makan siang di pesawat dengan tenang, tidak ada percakapan yang berarti di keduanya.


Sedangkan, Robby menghubungi sekertaris perusahaan Gandratama mengenai pembatalan hotel yang akan mereka tempati.


"Akan Saya kirimkan, nomor asisten Tuan Sky kepada Anda segera." Jawab sang sekertaris.


"Baik, secepatnya Saya tunggu." Jawab Robby.


Setelah mematikan telfonnya, tidak lama Robby mendapatkan pesan masuk berisi nomor asisten Sky yaitu Gabriel.


Tanpa membuang waktu, Robby menghubungi Gabriel.


"Siapa?" Tanya Briel dari sebrang.


"Selamat siang, Tuan. Ini saya Robby asisten Tuan Kristoff." Jawab Robby sopan.


"Maaf, Saya tidak tahu. Apakah sudah sampai di Indonesia?" Ucap Gabriel sopan.

__ADS_1


"Belum, Tuan. Kami meminta tolong untuk mencarikan apartemen dan dokter penyakit dalam secepatnya." Kata Robby kepada Gabriel dengan tenang.


"Apakah ada yang sakit?" Tanya Briel yang agak panik.


"Benar, Kami meminta tolong untuk segera siapkan keduanya Tuan." Ucap Robby.


"Baik." Jawab Briel.


"Sebelumnya, Saya ucapkan terima kasih." Kata Robby sebelum Gabriel memutuskan sambungan telfonnya.


Robby hanya menghela nafas panjang dan memandangi ponsel yang sudah mulai redup cahayanya.


"Sepertinya akan sulit berhadapan dengan mereka." Gumam Robby dalam hati.


Robby mendengar dari cara bicara Gabriel sudah merasa beban di hidupnya bertambah, entah seperti dejavu atau memang para atasan memiliki sikap yang dingin dan kaku.


Segera Robby berjalan menuju kursinya dengan memasukkan ponsel di saku dalam jasnya.


.


.


.


Perjalanan yang mereka tempuh kurang lebih tiga belas jam untuk sampai di Indonesia.


Kini ketiganya turun dari dalam pesawat, kakek Kristoff menggandeng tangan Daniel seakan anak kecil yang baru sampai di tempat asing.


Daniel hanya diam, menurut saja dengan sang kakek. Karena Daniel tahu, jika kakek Kristoff sangat khawatir dengan dirinya.


"Selamat malam, Tuan." Ucap dua orang pria dengan badan kekar.


"Malam." Jawab kakek Kristoff.


"Kami urusan dari perusahaan Gandratama, Kami yang akan mengantarkan Anda dan rombongan." Ucap salah satu bodyguard.


Kakek Kristoff mengangguk, dan mengikuti kedua pria berbadan kekar tersebut bersama Daniel dan Robby yang membawa koper mereka.


Terlihat ada satu bodyguard yang sudah membukakan pintu mobil untuk mereka.


Bodyguard tersebut melakukan bow kepada tamu majikannya, sesuai budaya Korea. Bow salah satu cara menghormati seseorang.


Kakek Kristoff segera masuk dengan Daniel, sedangkan Robby duduk didepan bersama bodyguard yang menjemput mereka di dalam. bandara.


Mobil hitam tersebut mulai bergerak meninggalkan bandara dengan dinikuti satu mobil di belakangnya.


Daniel membuang pandangannya keluar jendela, terlihat gedung pencakar langit yang tidak jauh berbeda di negaranya.


Pandangannya jauh menerawang, memikirkan dimana Kristal sekarang. Sampaikan pencarian saudara kembarnya.


Daniel harus merencanakan sesuatu, agar dapat kabur dari penjagaan sang kakek dan Robby.


Hanya beberapa hari yang Daniel miliki untuk mencari keduanya.

__ADS_1


...🐾🐾...


__ADS_2