Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Perubahan Mood Rose


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Mansion Kristoff kembali ramai setelah kepulangan Rose dan Kakek Kristoff. Kerinduan Rose yang sudah tidak dapat di tolerir lagi, Rose mencoba menghubungi Ayah Stevan untuk segera pulang karena sudah terlalu lama berbulan madu.


Nihil, nomornya tidak aktif. Namun bukan Rose namanya jika tidak memiliki 101 ide dalam otaknya. Rose menyuruh bodyguard dari Ayah Nugroho untuk menculik Mama Kristal membawanya pulang ke mansion Kristoff.


Terlihat seoarang Stevan sudah duduk di kursi kebesaran perusahaan Kriatoff menggangtikan sang putra Gabriel, sedangkan Kristal seperti biasa melakukan aktivitasnya saat berada di mansion.


Lalu dimana orang penghancur bulan madu ala Stevan?


Terlihat Rose sedang asik bermain kuda-kudaan dengan sang suami, Rose rindu akan sentuhan nakal dari Gabriel. Begitu juga sebaliknya, Briel merindukan tubuh istri yang semakin sexy di matanya.


"Aku sangat merindukanmu sayang." Ucap Gabriel mengecup dahi Rose setelah menyelesaikan permainan.


"Aku juga, anak-anakmu juga rindu dengan Daddynya." Jawa Rose mengelus perutnya.


Cup!


Gabriel mengecup perut yang semakin membuncit tersebut, "Jagoan Daddy, baik-baik ya didalam." ucapnya bahagia.


"Kita belum tahu jenis kelaminnya, bagaimana jika mereka perempuan?" Omel Rose.


"Anak-anakku? Mereka?" Beo Briel.


"Ekhm, aku hamil anak kembar." Cicit Rose pelan.


Brieo terpaku menatap lekat wajah sang istri, Rose yang tidak mendapatkan respon apapun menjadi kecewa.


"Kamu tidak bahagia ya dengan berita ini?" Kata Rose lirih.


Gabriel menubruk tubuh pendek istrinya dan menghujani kecupan-kecupan kecil diseluruh wajah cantik sang istri.


"Aku bahagia sayang, sangat bahagia. Aku akan menjadi Daddy si kembar?" Ucap Gabriel dengan mata yang berbinar.


"Karena kembar berarti aku harus menjenguknya secara adil, kita bermain sekali lagi." Lanjut Briel dengan mesum.


Rose tidak menolaknya, hormon di dalam tubuhnya benar-benar mengikuti tingkat kemesuman sang suami. Dirinya melayani dengan senang hati, entah perasaannya membuncah bahagia karena melihat sang suami yang bahagia juga seperti dirinya.


Hingga sore menjelang, Briel terlihat keluar dari kamar mandi. Ditatapnya wajah sang istri yang terlihat kelelahan akibat jenguk menjenguk sang jabang bayi.


Seulas senyum muncul, Gabriel tidak membangunkan sang Istri dirinya segera berganti pakaian dan keluar dari kamar menuju ruang makan.


Stevan dan Kakek Kristoff tengah duduk santai diruang tengah, melihat Gabriel berjalan turun dari lantai dua dengan rambut basah dan senyum lebarnya.


"Cih, lihatlah bibirmu hampir menyentuh telingamu." Ucap Stevan mendengus kesal.

__ADS_1


"Ck, seperti Ayah tidak saja." Jawab Briel acuh.


"Kapan kamu akan kembali ke perusahaan, pekerjaan terus bertambah." Kata Stevan merengut kesal.


"Ayah baru tiga hari kenapa sudah mengeluh, nikmati saja. Lagipula Ayah ingin melakukan apa jika hanya di mansion, akan jadi beban saja." Jawab Gabriel yang berjalan ke arah dapur.


"Ya! Kau, dasar anakku!" Seru Stevan yang kehabisan kata-kata.


Kristal yang mendengarkan perdebatan ayah dan anak hanya tertawa pelan saja. Gabriel mengambil makanan yang baru saja matang menggunakan garpu.


"El, tunggu dulu. Sayurnya sebentar lagi akan matang." Kata Kristal yang melihat kelakuan anaknya.


"Briel lapar, Mah." Jawab Briel dengan mulut yang penuh makanan.


Kristal menggeleng kepalanya pelan, "Jangan terlalu banyak berolahraga." Kata Kristal terkekeh pelan.


"Demi persatuan dan kesatuan bangsa, Mah." Ucap Gabriel.


Malam menjelang seluruh keluarga Kristoff duduk berkumpul dimeja makan, tidak terkecuali Robby yang datang membawa berkas penting yang harus di tanda tangani oleh Gabriel.


"Rose belum bangun?" Tanya Kakek Krostoff.


"Belum Kek, biar saja nanti Briel akan membawa makannya ke dalam kamar." Jawab Gabriel dengan tenang.


Semuanya makan dengan tenang dan hanya sesekali berbicara, hingga seorang wanita dengan perut buncitnya turun dari lantai dua.


Briel menoleh terlihat sexy sekali istrinya, menggenakan piyama bergambar boneka beruang dengan muka bantal yang hanya cuci muka.


Rose berjalan duduk melewati Gabriel dan mendudukkan tubuhnya di kursi samping Robby, "Kakak suapi." Kata Rose.


Terdengar suara sendok jatuh dari tangan Robby, Stevan yang akan memasukkan nasi kedalam mulutnya menghentikan gerakannya, Gabriel mendelik kesal.


"Sayang sini aku suapi." Kata Briel berusaha tidak marah.


Rose menggeleng, "Rose ingin di suapi Kak Robby, Kakak suapi Rose." Jawab Rose dengan suara manja seakan merengek.


Robby berdehem menetralkan detak jantungnya astaga kenapa Rose imut sekali dimatanya.


"Baiklah, pasti ini permintaan bayimu." Kata Robby halus.


Briel melototkan kedua matanya, melihat wajah sang istri yang begitu gembira disuapi oleh Robby. Gabriel menghentikan gerakan Robby yang akan menyuapi istrinya, Rose merengut kesal.


"Ganti sendokmu." Ucap Briel.


Pelayan membawakan piring dan alat makan yang baru untuk Robby, segera Robby mengambil nasi dan lauk pauk yang di inginkan oleh Rose. Dengan senang hati Robby menyuapi Rose kapan lagi bermesraan dengan istri majikannya.

__ADS_1


Gabriel menatap tajam Robby seakan busur panah yang menghunus tepat dikepalanya.


Trang... trang...trang.


Suara sendok dan garpu senganga Gabriel bunyikan karena kesal setiap kedua orang yang ada didepannya melempar senyuman, bahkan Rose sangat sikap manja kepada Robby.


Gabriel mengambil gelas dan meminum isinya hingga tandas.


Tak!


Briel meletakkan gelas dengan kasar, berusaha menarik perhatian dari sang istri. Nihil, Rose tidak memperdulikannya dan hanya menerima suapan demi suapan dari Robby.


Kakek Kristoff dan yang lainnya diam-diam sudah menyelinap pergi dari ruang makan. Percuma menenangkan Briel di saat sudah cemburu seperti ini.


Gabriel berjalan ke arah keduanya, dirinya di acuhkan seakan patung. Briel pergi ke dapur yang tidak jauh dari ruang makan.


Brak!


Brak!


Brak!


Suara pintu lemari yang di tutup dengan kasar oleh Gabriel berharap sang istri memperhatikannya, Briel menoleh sang istri masih sibuk dengan acara makan malamnya.


Gabriel berjalan membuka pintu lemari berisi hiasan piring-piring keramik koleksi sang Kakek dan menutupnya dengan kasar.


Para pelayan yang melihat kelakuan Briel merasa spot jantung, karena itu adalah koleksi piring keramik dari dinasti kuno yang di buru oleh majikan mereka.


"Ah, Kak. Rose sudah kenyang." Ucap Rose dengan menghela nafasnya.


"Tentu saja, kamu sudah menghabiskan tiga piring nasi dan lauk." Jawab Robby.


"Oh my! Benarkan? Bagaimana jika Rose gemuk." Rose panik dan langsung berdiri dengan cepat membuat Robby dan Gabriel ngeri melihatnya.


Rose berjalan di salah satu kaca yang berada di ruang tengah, berpose ke kanan dan ke kiri melihat apakah dirinya sudah gemuk.


"Kenapa sayang, hem." Tanya Briel.


"Aku gemuk ya?" Tanya Rose.


"Wajar jika gemuk sayang, kamukan sedang hamil dua bayi." Jawab Gabriel jujur.


"Huft! Awas jika kamu selingkuh, aku akan menghajarmu." Rose mengancam sang suami.


Briel dan Robby yang ada di sana hanya diam terpaku, kenapa lagi mood ibu hamil didepannya ini.

__ADS_1


... 🐾🐾...


__ADS_2