Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Kepergian Kristal


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Gabriel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali kepalanya menoleh untuk mencari keberadaan mobil Rose.


Mobil Briel berhenti ketika lampu merah, terlihat tangannya meraba tubuhnya mencari sesuatu.


"Astaga, bagaimana aku tahu sekarang dimana Rose jika tidak dapat menghubunginya." Kesal Gabriel pada dirinya.


Gabriel mencari ponselnya untuk menghubungi Rose.


"Apakah, Rose benar-benar datang ke Dave? Aku harus menculik Tante-tante itu dulu sebelum Dave datang bersama Rose." Ucap Briel pelan.


Gabriel memutuskan datang kediaman Amanda untuk menjemput sendiri Kristal.


Sedangkan mobil Rose berbelok arah jalan, karena Mang Asep ingin membeli sesuatu sebelum pulang.


Rose tidak memperdulikan Mang Asep, yang ada dipikiran Rose perasaannya saat ini.


Bukankah seharusnya Rose bahagia kembali bersama Dave, pria yang dia kejar-kejar sejak bertemu. Bahkan Dave sudah banyak berubah, meskipun ada ular keket.


Tetapi, kenapa ada perasaan tidak nyaman ketika berjauhan dengan Gabriel. Apakah Rose harus memacari keduanya?


Ishh... jangan tamak Rose! Jika memacari keduanya sudah dipastikan, kamu tidak akan hidup didunia ini lagi.


Rose menghela nafasnya dalam, perasaan Rose sedang gamang. Sebenarnya siapa yang benar-benar Rose cinta.


Rose sungguh dilema, berpisah ketika masih sayang-sayangnya dan di hibur oleh pria asing dalam hidupnya.


...🐾🐾...


"O... oh, ayo masuk dulu Tuan." Jawab Kristal terbata.


Gabriel mengangguk dan berjalan masuk kedalam kediaman Amanda, Kristal menuntunnya menuju ruang tamu untuk menunggu Rose.


"Silahkan duduk dulu, mungkin sebentar lagi Rose akan sampai rumah." Ucap Kristal pelan.


Briel hanya mengangguk dan segera mendaratkan bobot tubuhnya disofa yang berada diruang tamu tersebut.


Kristal melangkah meninggalkan Briel sendiri.


"Tante." Panggil Briel.


Jantung Kristal terasa berpacu dengan cepat, ada desiran aneh ketika mendengar pria yang mendapat julukan kanebo itu memanggil dirinya.


"I... iya, apakah ada yang Anda butuhkan?" Tanya Kristal terbata.


Tangan Kristal basah karena gugup dan tegang, ingin sekali rasanya Kristal pingsan tapi ini bukan saat yang tepat.

__ADS_1


"Duduklah, ada yang ingin Saya bicarakan." Jawab Briel kepada Kristal.


Kristal berjalan kembali mendekat kearah Gabriel dan duduk didepan Gabriel.


Terlihat Kristal memainkan tali dressnya untuk menyalurkan perasaannya.


"Apakah Tante benar-benar ingin bekerja menjadi ART?" Tanya Gabriel memastikan.


Kristal mengangguk cepat tanpa berkata.


"Saya hanya tinggal di apartemen kecil. Mungkin pekerjaan Tante tidak akan banyak. Bagaimana?" Tanya Gabriel lagi.


Kristal menundukkan kepalanya, apakah kali ini dia akan gagal untuk membuktikan jika pria yang ada dihadapannya ini adalah anak kandungnya.


"Tapi, ada satu syarat." Ucap Briel lagi.


Kristal langsung mengangkat kepalanya, terlihat matanya berbinar. Kristal berharap masih memiliki peluang agar semakin dekat dengan Gabriel.


"Bantu Saya untuk mendapatkan Rose." Jawab Briel gamblang.


Kristal berkedip sedetik kemudian menganggukkan kepalanya cepat, biarlah sekarang Kristal menuruti persyaratan Gabriel. Setelah membuktikannya, Kristal akan membawa Gabriel kembali kerumah yang seharusnya.


Briel tersenyum tipis, "Silahkan kemasi barang Anda, saya beri waktu tiga puluh menit." Ucap Briel dengan melihat jam tangan miliknya.


Kristal melebarkan kedua kelopak matanya, segera saja Kristal beranjak dari duduknya dan sedikit berlari menuju kamar untuk berkemas.


Briel menghela nafasnya dalam, semoga keputusannya kali ini benar.


Terlihat gadis yang sudah menghilangkan akal sehatnya dan memporak-porandakan hatinya. Tengah berdiri dengan menatapnya dalam.


Rose masih terpaku menatap Gabriel yang duduk disofa ruang tamu, mengingat permintaan Gabriel yang menyuruh Rose pergi kepada Dave membuat hatinya marah.


Rose membuang pandangannya kedepan dan melanjutkan jalannya menuju lantai dua.


"Kenapa gadis itu mengacuhkanku." Kesal Briel dalam hati.


Sedangkan Rose, menghentikan langkahnua diujung anak tangga. Melihat Kristal keluar dari dalam kamar membawa satu koper besar.


"Tante, mau kemana?" Tanya Rose yang kemudian berjalan menghampiri Kristal.


"Tante ingin ikut bersama Gabriel." Jawab Kristal dengan tersenyum lebar.


Rose menaikkan sebelah alisnya, bukankah pria kaku itu menyuruhku meminta tolong kepada Kak Dave.


"Tante sudah yakin ingin ikut bersama pria kaku itu? Apa tidak ingin Tante pikirkan masak-masak lagi sampai mendidih?" Tanya Rose mencoba mempengaruhi Kristal.


"Woy, gadis pendek! Kamu datang kekantorku tadi memintanya bukan, apa kamu lupa?" Ucap Briel menyela Rose.

__ADS_1


Rose menoleh kebelakang, terlihat pria kaku dengan wajah datar dengan kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana.


Rose kembali melengos tidak memperdulikan Gabriel yang tengah menatapnya dengan tajam.


"Tante, bagaimana jika kerumah kekasih Rose saja?" Ucap Rose menekankan kata kekasih.


Kristal melihat Rose dan kemudian melirik Gabriel.


Sangat lucu, lihatlah bagaimana dia cemburu. Telinganya yang memerah seperti Stevan.


Mengingat Stevan, ingin rasanya Kristal mengubur hidup-hidup pria yang tidak memiliki pendirian tersebut.


"Rose, terima kasih sudah membantu Tante sampai detik ini. Sekarang saatnya Tante harus hidup mandiri, Tante akan ikut dengan Gabriel saja." Ucap Kristal pelan dengan menggenggam tangan Rose.


Bibir Rose bergetar, hatinya sangat sedih ditinggalkan oleh Kristal. Meskipun hanya orang asing, tetapi Rose merindukan sosok seperti Kristal dikehidupannya.


Rose memeluk Kristal dan kembali menangis, "Hiks... hiks... Tante apa tidak bisa tetap tinggal disini?" Tanya Rose lagi.


"Tidak bisa, Rose." Jawab Kristal pelan dengan menepuk punggung Rose.


"Ba... bagaimana jika Tante bosan disana, dia itu pria kaku pasti Tante akan bosan dan kesal disana." Ucap Rose kepada Kristal.


Briel melotot mendengarkan ucapan Rose yang menjelekkean dirinya.


Kristal hanya tersenyum mendengar ucapan Rose, "Tante akan membuatnya menjadi lunak biar tidak kaku." Kelakar Kristal.


Tangis Rose semakin pecah, "Rose akan merindukan Tante. Sangat... sangat... merindukan Tante." Ucap Rose.


"Rose bisa datang ke apartemen, bisa mengunjungi Tante maupun Gabriel bukan?" Tanya Kristal dengan tenang.


Rose melepaskan pelukannya kepada Kristal, terlihat wajahnya sudah menekuk bahkan bibirnya sudah maju beberapa sentimeter.


"Daripada menemui pria kaku itu, lebih baik Rose menemui kekasih Rose saja." Jawab Rose kesal.


Gabriel mendelik kesal, jika digambarkan di sela-sela rambut Gabriel keluar asap tipis yang siap membakar sampai hangus.


"Baiklah, Rose bisa mengajak kekasih Rose menemui Tante di apartemen Gabriel. Bukankah begitu, Gabriel?" Tanya Kristal dengan tersenyum lembut.


Gabriel hanya menaikkan kedua bahunya saja sebagai jawaban, tatapannya masih tertuju pada gadis pendek yang menyebalkan didepannya.


"Sudah, Tante pergi dulu. Tante akan menghubungi Ayahmu saja nanti karena sekarang Ayahmu sedang bekerja." Pamit Kristal pada Rose.


Rose menganggukkan kepalanya pelan, terasa tubuh Rose lemas melepaskan kepergian Kristal untuk tinggal bersama Gabriel.


"Bisakah lebih cepat, waktuku sangat berharga." Ucap Briel dingin.


"Baiklah, maaf ya Rose. Tante pergi dulu jaga kesehatannya." Ucap Kristal lagi.

__ADS_1


Kristal berjalan menyeret kopernya meninggalkan Rose dan melewati Gabriel menuju mobil Gabriel yang berada didepan mansion.


...🐾🐾...


__ADS_2