
Happy Reading 🌹🌹
Rose telah selesai mendownload dan menscreen shoot komentar jahat yang banyak itu. Padahal Rose memiliki pengalaman dengan Bintang yang sangat tidak mengenakkan.
"Aku harus segera menelfon Putri." Gumam Rose.
Segera jemari lentik Rose, menggulir kontak yang ada didalam HPnya. Rose segera mendial nomor Putri.
Tidak membutuhkan waktu lama, panggilan Rose diangkat.
"Halo Rose, ada apa?" Tanya Putri disebrang telfon.
"Halo Putri! Cepat kamu cek media sosial kampus kita." Seru Roaw yang sudah tidak sabaran di sebrang telfon.
"Ada apa Rose, tidak perlu kamu berteriak." Jawab Putri yang sedikit menjauhkan HP dari telinganya.
"Ini.. ini.. kabar yang sangat amazing, bimbasti, dan uwouwww." Jawab Rose seperti mendapatkan jackpot.
"Apakah ada hal yang membuatmu senang di postingan media sosial kampus kita?" Tanya Putri yang terkekeh pelan mendengar jawaban Rose dengan suara lebay itu.
"Tentu, tentu.. bahkan kamu juga akan senang. Kamu ingat nenek lampir ehh bukan, gadis yang melabrakmu tempo lalu?" Tanya Rose.
"Iya aku ingat, Bintang namanya." Jawab Putri meralat ucapan Rose.
"Ck, terlalu bagus. Aku akan tetap memanggilnya nenek lampir." Ucap Rose mencebik kesal.
"Terserah, memangnya ada apa?" Tanya Putri kembali.
"Ada yang menyebarkan video amatir jika nenek lampir itu bukan anak kandung dari Wiratama dan video panas miliknya ke media sosial kampus kita." Jelas Rose panjang lebar di sebrang telfon.
Tanpa permisi sambungan telfon Rose langsung terputus, "Halo... Halo... yuhu... Putri!" Seru Rose.
Rose melihat layar HP miliknya sudah mati, "Ck dasar teman laknat, untung aku sayang." Gerutu Rose kesal.
Segera Rose beranjak dari duduknya dan berjalan kembali menuju ke kelasnya karena masih ada perkuliahan lagi.
...🐾🐾...
Di Rumah Sakit.
Terlihat Gabriel hanya duduk di kursi tunggu pasien.
Tubuh yang bersandar di tembok dengan bersedekap dada, kedua matanya dia pejamkan.
Briel berusaha mengingat sesuatu yang ingin dia ingat tetapi tidak bisa.
Kembali lagi, hanya punggung sosok wanita yang meninggalkannya hingga sore menjelang. Terlihat wanita itu menggunakan dress dan juga membawa tas besar.
Hingga tepukan di pundak membangunkan dirinya, "Kamu tidak apa-apa?" Tanya Sky yang ikut duduk di samping Gabriel.
"Tidak apa-apa, aku hanya lelah." Jawab Gabriel berbohong.
__ADS_1
"Setelah semua urusan ini selesai, ayo kita liburan. Tapi sekarang kita harus pergi dulu." Ucap Sky dengan wajah yang serius.
Gabriel mengangguk, terlihat Doni dan Rudi beserta asisten mereka masing-masing sudah berkumpul di depan ruangan Bintang.
Semuanya berjalan menuju lift meninggalkan lantai tiga, hanya keheningan disana dan kesibukan para asisten dengan tablet mereka masing-masing terkecuali Gabriel.
Iring-iringan mobil yang dikendarai ketiga pengusaha tersebut tengah melaju cukup cepat membelah jalan raya menuju mansion Wiratama.
"Apakah kamu yakin, kita akan mengikuti mereka?" Tanya Gabriel yang masih fokus menyetir.
"Ikuti saja mereka, aku juga ingin tahu apa yang terjadi menyangkut istriku." Jawab Sky dengan wajah tenang tetapi banyak guratan kekhawatiran.
Gabriel melirik sekilas melalui kaca tengah mobil mendengar jawaban dari Sky, terlihat bibir Briel tersenyum sangat tipis hingga tidak ada yang mengetahuinya.
"Akhirnya Sky benar-benar jatuh cinta kepada istrinya, tinggal aku saja yang akan mencari pendamping hidup." Gumam Gabriel dalam hati.
Tidak membutuhkan waktu lama, ketiga mobil itu telah berada di pelataran mansion Wiratama. Dengan segera para asisten membukakan pintu untuk atasan mereka.
Terlihat semua orang telah berkumpul di ruang tengah kediaman keluarga Wiratama, terlihat Doni, Roni, dan Sky terlibatbpercakapan serius bahkan memakan korban jiwa disana.
Ketiga petinggi perusahaan tengah merencanakan sesuatu, HP milik Gabriel bergetar. Dengan segera Gabriel membuka HP miliknya dengan berjalan keluar di ikuti oleh kedua asisten Doni dan Rudi.
Terlihat perubahan raut wajah Gabriel, dengan cepat Gabriel memerintahkan anak buahnya, "Hubungi bagian IT untuk menghapus seluruh video tersebut, segera!" Ucap Briel tegas dan di ikuti oleh kedua asisten yang lainnya secara bersamaan.
Ketiga asisten tersebut saling menatap sesaat, kemudian mereka kembali berjalan masuk dan melaporkan kejadian yang baru saja menimpa Bintang.
Gabriel merasa dirinya dilirik oleh Sky, seakan meremehkan kinerjanya.
Sky hanya menganggukkan kepalanya, ternyata asisten sekaligus saudara tirinya dapat diandalkan juga seperti asisten Rudi yang bernama Lin.
"Ck, lihat wajah pria bucin itu. Aku sudah menduga kehidupanku kedepannya akan lebih berat." Gumam Gabriel dalam hatinya.
...🐾🐾...
Setelah selesai kuliah, saat ini Putri dan Rose tengah berjalan menuju kelas Bintang
"Kamu mau ngapain sih nyamperin nenek lampir itu?" Tanya Rose heran.
"Tidak apa-apa, hanya ingin bertemu saja." Jawab Putri.
"Ck, bukannya dia sudah lama tidak berangkat? Pasti dia malu karena ketahuan anak pungut dan bermain panas di atas ranjang." Ucap Rose mencebik kesal.
Langkah Putri terhenti, dia menoleh ke arah Rose. Apakah dirinya melewatkan sesuatu.
"Bagaimana kamu tahu jika Bintang bukan anak kandung Wiratama?" Tanya Putri penuh selidik pada Rose.
"Heh, itu berita yang menggemparkan. Setelah video panasnya di posting seseorang dengan nama anonim, selang beberapa jam disusul juga dengan video dimana Bintang menangis dan mengatakan jika hanya dia keturunan Wiratama." Jelas Rose panjang, kemudian menunjukkan video yang dia simpan sebelum di hapus.
"Aku tidak tahu, aku hanya fokus divideo panas tersebut." Jawab Putri jujur.
Segera Putri menarik tangan Rose untuk memercepat langkah mereka, dengan nafas ngos-ngosan.
__ADS_1
Rose melihat sisi lain Putri hari ini, melihat kepergian sahabatnya segera Rose berlari untuk menyusul.
Terlihat Putri tengah melakukan telfon dengan seseorang, Rose hanya mencerna setiap ucapan yang terlontar dari mulut sahabatnya.
Segera kedua bodyguard menggiring Putri dan Rose ke arah mobil yang tadi mereka bawa.
Rose masih mencerna keadaan ini.
Mama?
Bintang?
Bodyguard?
Kini Putri dan Rose sudah duduk didalam mobil, mereka menuju kediaman Wiratama.
"Put," Panggil Rose.
"Ada apa Rose?" Jawab Putri yang menoleh ke arah Rose.
"Apa hubunganmu dengan Bintang? Kenapa kamu menelfun seseorang memanggilnya Mama? Siapa dua bodyguard ini?" Tabya Rose yang tidak sabaran.
"Satu-satu Rose jika ingin bertanya." Jawab Putri tersenyum.
"Aaa.. aku sangat bingung dengan kejadian hari ini." Jawab Rose dengan nada merengek.
"Aku dan Bintang adalah saudara." Jawab Putri pelan.
Rose hampir tersedak ludahnya sendiri, "Apa, coba ulangi." Ucap Rose dengan pura-pura mengorek telingannya dengan jari kelingking.
"Jorok!" Seru Putri dengan mendorong lengan Rose.
"Kamu jangan bercanda Put, kan aku tahu kamu anak yatim piatu. Bagaimana bisa sekarang bersaudara dengan Bintang?" Tanya Rose yang memperjelas status Putri.
Putri menghela nafas pelan, "Tapi sekarang ceritanya sudah berbeda, ternyata kedua orang tuaku masih hidup." Jawab Putri.
"Jadi, kamu keluarga Wiratama!" Jawab Rose dengan berteriak.
"Ya! Kamu ingin membuatku tuli." Sentak Putri pada Rose.
"Maaf... maaf... aku kaget. Bagaimana bisa kamu sampai dipanti asuhan?" Tanya Rose yang mulai menginterogasi.
Akhirnya Rose mendengarkan dongeng yang diceritakan oleh Putri.
(Dapat kalian baca di novel Pernikahan Kontrak Sang CEO)
...**...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1