Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Miskom


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Gabriel berjalan dengan cepat meninggalkan kamar mandi pria. Terdengar suara teriakan minta tolong dari Jin, namun tidak Gariel gubris.


Terlihat gadis pendeknya tengah memandangi jam tangan yang melingkar dipergelangan dengan cemas.


Ck, padahal Rose hanya biasa saja namun akan tetap salah dimata Gabriel yang sudah cemburu.


Dengan tubuh tegap dan langkah lebarnya, Gabriel berjalan mendekati meja Rose tanpa bersuara apapun.


Hingga langkah kakinya tdrhenti trpat disebelah meja bundar dengan taburan bunga mawar dibawahnya.


"Ka---"


Ucapan Rose terhenti karena yang menghampirinya bukan Jin melainkan Gabriel.


"Kenapa? Apa kamu berharap pria itu yang datang." Ucap Gabriel datar dan dingin.


Rose hanya melengos saja tidak ingin melihat wajah itu terlalu lama, "Pergilah Kak." Usir Rose pelan.


Gabriel langsung mendekal pergelangan tangan Rose hingga membuat gadis itu berdiri dari duduknya.


"Lepaskan Kak." Ucap Rose dengan meringis karena merasa panas.


Gabriel tidak menggubrisnya tanpa berkata apapun Gabriel menyeret Rose dan pergi dari restoran tersebut, Rose berjalan dengan sedikit berlari karena langkah Gabriel yang lebar berbeda dengannya yang kesusahan mengimbangi karena mengenakan sepatu hak tinggi.


"Sakit." Desis Rose lirih.


Gabriel tersadar dan langsung berbalik kearah Rose, melepaskan cekalan tangannya secara perlahan.


Terlihat lengan Rose yang memerah karena cengkraman kuat dari Gabriel.


"Maaf." Ucap Gabriel lirih.


Terlihat Rose langsung mengusap lengannya yang terasa panas dan perih secara perlahan.


Rose menepis tangan Gabriel yang akan membali menyentuhnya, bahkan terlihat langkah Rose mundur karena takut.


"Ada apa Kakak menemuiku?" Tanya Rose dengan mata berkaca-kaca.


"Rose, kita perlu berbicara." Jawab Gabriel.


"Lalu Kakak pikir Rose sedang apa jika tidak berbicara dengan Kakak?" Ucap Rose sarkas.


"Siapa pria itu?" Tanya Gabriel dengan berdecak pinggang.


Rose yang melihat wajah Gabriel mendelik kesal, kenapa juga pria tersebut menanyakan Kak Jin.


"Pria mana?" Tanya Rose kembali.


Gabriel mendengus kesal, jelas-jelas Rose tahu siapa yang tengah menjadi bahan pembicaraan.


"Jangan pura-pura tidak tahu Rose! Pria yang bersamamu tadi, siapa dia dan kenapa kamu memakai pakaian seperti ini." Seru Gabriel dengan menyentak ujung pakaian Rose.

__ADS_1



Wah, Rose terperangah kaget. Kenapa bisa pria yang sudah bertunangan tersebut sangat perduli tentangnya.


"Terserah Rose ingin memakai karung atau telanjang sekalipun bukan urusan Kakak. Kakak pergi dari sini dan jangan pernah muncul dihadapan Rose lagi." Jawab Rose tajam dan langsung berbalik badan.


Gabriel mencekal tangan Rose dan menarik hingga membuat tubuh Rose berputar menabrak dada bidangnya.


Pluk


"Aku sangat tidak suka kamu membantah dan disentuh pria lain." Ucap Gabriel berbisik ditelinga Rose pelan.


Tubuh Rose terasa meremang harena terpaan nafas Gabriel yang mengenai bulu-bulu halusnya.


Jantung Rose bahkan berdetak dengan cepat, bolehkah Rose pingsan saat ini. Oh jantung kondisikan detakanmu.


"Aaaaa... Turunkan Aku!" Rose berteriak kaget karena Gabriel mengangkat tubuh dan memanggulnya seperti karung beras.


"Berteriaklah sesukamu gadis pendek." Ucap Gabriel dengan menepuk pantat Rose dengan pelan.


"Ya!! Mesum." Teriak Rose.


Rose terus memukul punggung Gabriel bahkan rambutnya terlihat terombang-ambing, Gabriel tidak memperdulikannya. Langkah kaki Gabriel terus berjalan menuju mobilnya.


Meski sesekali mendengar bisikan dari pengunjung yang baru atau akan pergi dari restoran, Gabriel menulikan pendengarannya.


Gabriel berjalan menuju mobil, segera menurunkan Rose dan mendorong paksa agar gadisnya masuk kedalam mobil.


Gabriel mendorong pundak Rose hingga posisi Rose berbaring sedangkan Gabriel diatasnya, keduanya saling memandang dan meneliti pahatan indah ciptaan Tuhan tersebut.


"Duduk diam atau aku benar-benar akan menghukummu." Ucap Briel datar namun penuh penekanan.


Klek.


Briel memasangkan seat belt pada tubuh Rose, segera Briel mengeluarkan setengah badannya dan menutup pintu rapat.


Rose meremat seat belt yang melintang ditubuhnya dengan gemas, terlihat bibirnya melipat kedalam untuk menahan senyum dibibirnya.


(Autor yang ngetik baper πŸ˜‚)


Ingin rasanya Rose menenggelamkan dirinya ke inti bumi agar dapat berteriak sekencangnya.


Mobil Gabriel perlahan bergerak meninggalkan area restoran tersebut, sepanjang perjalanan hanya ada keheningan didalam mobil.


Rose yang membuang pandangannya dan Gabriel yang fokus menyetir dengan pikiran yang berkecamuk.


Hingga Rose melihat tulisan di papan karena telah meninggalkan area kota.


Langsung saja Rose berbalik menghadao ke arah Gabriel yang terlihat tenang dan datar.


"Kak, kita akan pergi kemana?" Tanya Rose dengan cemas.


Gabriel menolehkan kepalanya kearah Rose, terlihat kedua alis mengkerut.

__ADS_1


"Jalan-jalan." Jawab Briel singkat dan kembali fokus menyetir.


"Kenapa keluar kota, memang kita mau kemana Kak?" Tanya Rose menuntut jawaban.


"Tidur saja, jika sudah sampai akan aku bangunkan." Ucap Gabriel.


Rose mengerucutkan bibirnya dengan wajah sebal, bagaimana bisa dia tidur sedangkan sedang berada satu mobil dengan seorang pria.


"Jangan pikiran aneh-aneh, bahkan aku tidak bernafsu melihatmu." Jawab Gabriel tajam.


Nafsu sekali, ingin aku kurung didalam kamar saat ini. Omel Gabriel dalam hati.


Apa yang keluar dari mulut Gabriel tidak singkron dengan isi otaknya.


Rose mendelik kesal mendengar jawaban dari Gabriel, "Dih, seperti Kakak membuatku bergairah saja, dilihat dari sudut manapun Kak Jin paling tampan dan bertubuh kekar." Ucap Rose dengan menggebu karena kesal.


"Oh jadi namanya Jin? Pantas saja selalu hadir menjadi orang ketiga." Kata Gabriel dengan menganggukkan kepalanya.


"Siapa? Kak Jin, memang Kak Jin pembinor?" Tanya Rose yang otaknya tidak dapat mencerna ucapan Gabriel.


"Lebih dari pembinor." Jawab Briel dengan wajah serius.


"Apa?" Tanya Rose yang sangat penasaran bahkan kini tubuhnya mulai mencondong ke arah Gabriel.


Gabriel yang melihat sesuatu diantara dua bukit kembar berdehem untuk menetralkan hawa panas yang mulai datang.


Bahkan Briel terlihat menghirup nafas dengan panjang untuk tidak terbawa suasana.


"Jangan dekat-dekat! Kau bau badan." Ucap Gabriel mendorong jidat Rose hingga terdongak kebelakang.


"Apa!"


Buk


Buk


"Rose sudah mandi." Seru Rose yang membuat dirinya malu setengah mati karena ucapan Gabriel.


Sedangkan Gabriel yang mendapatkan pukulan dari Rose menghalangi dengan lengan kanannya.


"Karena kamu sudah di sentuh oleh Jin, jadi badanmu bau." Jelas Gabriel tanpa beban.


"Jin?" Ulang Rose.


Gabriel hanya berdehem saja menjawab pertanyaan Rose.


Rose yang bingung dengan ucapan Gabriel memperbaiki duduknya dan menghadap kedepan, terlihat jalanan yang nampak sepi dahn hanya sesekali saja ada mobil yang melewati mereka dari arah berlawanan.


Terlihat Rose menguap karena rasa kantuk yang menerjangnya, dengan bersedekap dada perlahan kedua mata Rose mulai memejam.


Terserah Gabriel akan membawanya kemana, jika perlu ke ujung dunia agar Briel tidak dapat kembali lagi kepada Minzy. Begitulah pemikiran Rose hingga akhirnya terlelap dalam mimpinya.


...🐾🐾...

__ADS_1


__ADS_2