Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Detektif Gadungan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Terlihat Gabriel hanya duduk dibalkon apartemen dengan segelas air dingin.


Daniel yang akan pergi menemui Minzy menghentikkan langkahnya dan menghampiri Gabriel.


"Kak." Panggil Daniel.


"Hem." Jawabnya.


"Sedang memikirkan Rose?" Tanya Daniel to the point.


Gabriel hanya diam dengan kening yang mmberkerut menatap gedung-gedung pencakar langit didepannya.


"Kenapa tidak mendekatinya lagi?" Tanya Daniel kembali.


Gabriel hanya memainkan gelasnya hingga terdengar es batu yang saling bergesekan dengan gelas kecil.


"Entahlah." Jawab Gabriel dengan mendesah kasar.


"Daniel dengar dari Ayah Agung, Rose didekati bebrapa pria tampan selama berkuliah disini." Ucap Daniel dengan menyandarkan tubuhnya di pagar balkon.


Gabriel ingat pernah bertemu dengan Rose direstoran kala itu, terlihat seorang pria yang memang tampan tengah bersamanya bahkan Gabriel sampai berdebat dengan Minzy karena memantau gadis pendek itu dari dalam mobil.


"Kakak pasti kenal istri Kak Sky bukan, dia sahabat dari Rose. Daniel dengar sendiri jika Rose menyukai pria tampan jadi besar kemungkinan Rose akan menjadi kekasih dari salah satu pria yang mendekatinya." Ucap Daniel lagi dengan santai.


Dering bunyi telfon dari Daniel membuyarkan pembicaraan dua bersaudara tersebut.


πŸ‘€ Hallo, Minzy.


πŸ—£οΈ Apakah kamu sudah dijalan?


πŸ‘€ Aku baru akan berangkat.


πŸ—£οΈ Hati-hati.


πŸ‘€ Iya.


Daniel mematikan sambungan telfonnya setelah menjawab ucapan Minzy.


"Sudahlah Kak, Daniel tidak akan ikut campur urusan asmara Kakak. Yang jelas jangan pernah menangis jika Rose menikah dengan pria lain pria yang akan selalu tidur dengannya." Ucap Daniel sengan terkekeh dan melangkah pergi meninggalkan Gabriel.


Mendengar ucapan Daniel, Rose tidur dengan pria lain membuat Gabriel mencengkram gelasnya dengan erat.


Oh, tentu saja hanya dirinya yang akan menjadi suami Rose. Hanya Briel yang boleh menjamah tubuh gadis pendeknya.


Segera Gabriel berjalan masuk kedalam apartemen dan meletakkan gelas dengan kasar.


Dengan langkah lebarnya Gabriel berjalan menuju kamar untuk mengambil kunci mobil. Bahkan tanpa sadar Gabriel melewati Stevani yang sejak tadi mengamati dirinya dengan memeluk satu toples kue kering.


"Gabriel mau kemana Kak?" Tanya Kristal yang baru keluar dari kamarnya.


"Entah, mereka membicarakan Rose dan gadis pendek." Jawab Stevani jujur.

__ADS_1


Kristal menahan tawa karena gadis pendek yang dimakhsud keduanya tentu saja Rose.


Kristal hanya ber oh ria dan segera pergi menuju kedapur untuk memasak makan siang mereka nanti. Stevani berjalan mengekori Kristal dari belakang.


"Memang siapa Rose?"


" Apakah kekasih Gabriel?"


"Apa dia cantik?"


"Bagaimana dengan sifatnya, apakah kamu sudah bertemu dengan gadis itu?"


Stevani memborbardir Kristal dengan pertanyaan, Kristal yang melihat tingkah Stevani hanya tersenyum saja.


"Tentu saja cantik dan baik kak, jika tidak cantik mana mingkin membuat keponakanmu seperti itu." Jawab Kristal terkekeh.


"Kakak harap Rose Rose itu tidak menyesal, tidak bisa Kakak bayangkan bagaimana jika mereka berkencan. Apakah saling mendiamkan dan berbicara dengan angin?" Ucap Stevani yang di akhiri tawa karena membayangkannya.


Kristal yang mendengar ucapan Stevani turun membayangkan dan ikut tertawa, bahkan karena lucu membayangkan sifat Gabriel dan Rose bagaikan minyak dan air membut Kristal sedikit terpingkal.


"Kakak kenapa berfikir sampai kesitu." Kata Rose yang masih tertawa.


"Sifatnya menurun dari Stevan, heihhh pria kaku yang sangat menyebalkan." Jawab Stevani.


"Beruntung Daniel tidak sekaku Gabriel, Kak." Ucap Kristal halus.


"Benar, setidaknya dikeluarga kita masih ada manusia yang normal selain aku." Kata Stevani tertawa.


Kristal hanya tersenyum dan mengambil bahan makanan untuk dia olah, semua laki-laki di apartemen ini sudah pergi dengan urusannya masing-masing hanya Kristal dan Stevani saja yang tertinggal.


"Heishh! Sial, aku tidak tahu gadisku kuliah dimana." Ucap Gabriel mengomel pada dirinya sendiri.


Gabriel memasang headset bloothot ditelinganya dan mencari nomor Daniel untuk menanyakan kampus dan apartemen Rose.


πŸ‘€ Ada apa, Kak?


πŸ—£οΈ Kirimkan alamat kampus dan apartemen Rose l, segera!


πŸ‘€ Iya, akan segera Daniel kirimkan.


Gabriel langsung mematikan telfon tanpa menunggu jawaban Daniel hingga ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk.


Dengan cepat Gabriel membuka pesan dan tersenyum lebar, baiklah kali ini harus bisa membuat Rose berada disisinya.


Segera Gabriel memasukkan alamat ke alat navigasi yang berada didalam mobil dan mulai kembali menjalankan mobil hitamnya.


Gabriel teringat setelah sehari menghajar Dave hingga babak belur, Briel pergi mengunjungi Dave kerumah sakit untuk meminta maaf dan tentunya menanyakan perihal pembatalan pertunangan itu.


"Aku--- aku sebenarnya sudah tahu jika Rose terpaksa menerimaku kembali, mungkin saat itu Rose belum menyadari perasaan sebenarnya terhadapmu dan saat kami bersama Rose baru menyadari perasaannya terlebih ketika kami bertunangan. Aku sengaja memamerkan keberhasilanku kembali bersama Rose didepanmu saat ini, Aku sendiri juga ingin memastikan apakah kalian saling mencintai? Ternyata benar kalian saling mencintai namun kamu terlalu naif dan gengsi untuk mengatakannya Briel. Aku melepaskan Rose untuk mengejarmu dan berkuliah di salah satu universitas disini, awalnya aku berfikir kalian sudah bersama ternyata Paman Agung menelfonku untuk berkunjung ke kantor dan menceritakan bagaimana keadaan kalian berdua yang saling salahpaham. Salahpaham kamu yang mengira Rose akan menikah denganku dan Rose salahpaham kau akan bertunangan dengan wanita lain." Jelas Dave panjang lebar sekaligus sebagai pengakuan dosanya.


"Benar apa yang dikatakan Dave, jika memang kamu mencintai Rose kejarlah jika memang tidak biarkan Rose mendapatkan kebahagiaannya sendiri dan kamu jangan pernah muncul dihadapannya." Prilly ikut menambahi ucapan Dave dengan tegas.


Kembali ke Gabriel, kini mobil hitam tersebut sudah berhenti didepan universitas terkenal di negaranya, terlihat jemari Gabriel mengetuk-ngetuk stir mobil karena merasa gemas.

__ADS_1


Gemas dengan dirinya sendiri yang bodoh, kenapa tidak meminta nomor ponsel Rose. Lalu bagaimana Briel mencari Rose dari ribuan mahasiswa itu.


Ishhh, sangat menyebalkan bukan. Apa cinta memang membuat otak manusia menjadi bodoh seperti ini. Gabriel merutuki Rose yang sudah membuatnya bodoh karena pada kenyataannya Gabriel adalah pria yang pintar.


Gabriel ingin menghubungi Daniel kembali namin dia urungkan, mata tajamnya menangkap sosok gadis mungil diantara kerumunan kampus.


Terlihat Rose berjalan keluar dengan seorang pria, kedua mata Gabriel mendelik kesal. Melihat Rose dan pria asing itu seperti sepasang kekasih yang sangat serasi.


Tidak! Hanya dengan Gabriel, mereka akan menjadi couple goals.


Kedua mata Gabriel tidak berkedip, terus menatap kedua manusia beda kelamin itu kemana perginya.


Rose masuk dengan teman prianya kesebuah cafe yang terletak di samping kampusnya, segera Gabriel menjalankan mobilnya menuju cafe.


"Kak Jin, ingin pesan apa?" Tanya Rose lembut dengan menatap papan menu yang berada diatas.


"Apapun, terserah kamu." Jawab Jin dengan menatap Rose dari samping.


Rose mengetuk-ngetuk dagunya dengan berfikir ingin minum dan makan apa hari ini, terlihat bibir Rose yang berubah-ubah membuat Jin gemas ingin menciumnya.


"Sabar Jin, sabar. Jangan buat dia tidak nyaman." Gumam Jin dalam hati.


Gabriel menatap tajam kearah Jin karena menatap wajah gadis pendeknya dengan pandangan buaya, ingin rasanya Gabriel menyeret Rose pergi darisana.


Kini tiba giliran Rose dan Jin yang memesan dengan cepat Rose memesan minuman dan cake yang sudah membuatnya tergiur untuk segera mencicipinya.


Pelayan dengan cepat menyiapkan pesanan Rose dan Jin yang membayar tagihan serta membawanya kemeja. Memang ada sedikit perdebatan namun Rose mengalah karena antriannya sudah banyak dibelakangnya.


Gabriel duduk di samping meja Rose dengan membaca majalah yang dia pinjam dari pelayan cafe.


Terdengar suara Rose yang tertawa, "Bagaimana bisa seperti itu sih Kak." Ucap Rose.


Gabriel yang mendengarnya berdecih, "Ck apanya yang lucu dari tebak-tebakan seperti itu." ucap Briel.


Gabriel kembali memasang telinga gajahnya untuk menguping pembicaraan Rose dan pria asing yang sudah pernah dia lihat di restoran saat itu.


"Ekhm, Rose apakah malam ini kamu ada acara?" Tanya Jin.


"Emm, sepertinya tidak Kak." Jawab Rose jujur.


"Kakak ingin mengajakmu makam malam diluar, apakah kamu mau?" Tanya Jin dengan lembut.


"Baiklah." Jawab Rose cepat.


Lagi-lagi Gabriel menggerutu, "Cih, begitu mudahkanya kamu jalan keluar dengan pria lain. Awas saja kau gadis pendek." Gumam Briel dalam hati.


...🐾🐾...


...JANGAN LUPA VOTENYA...



__ADS_1


Jin , autor pakai Cha Eun Woo karena gantengnya bosenin πŸ˜‚ biarlah dia jadi sad boy di sini 😁


__ADS_2