
Happy Reading πΉπΉ
"Rose, ayah datang." Bisik Ayah Nugroho di telinga putinya.
Air mata Ayah Nugroho tidak bisa dibendung, hatinya terlalu sakit melihat anak sematawayangnya terbaring tak berdaya dengan berbagai alat penopang hidup.
"Bangunlah sayang, ayo kita pulang dan hidup berdua saja." Ucap Ayah Nugroho kembali.
Tubuh Ayah Nugroho bertegar hebat isakan tangisnya teraedat-sensat karena perasaan yang telalu menyesakka didalam dadanya.
"Jangan tinggalkan ayah, Rose." Ucapnya.
"Ini salah ayah, seharusnya ayah tidak mengijinkanmu pergi di negara asing sendirian." Lanjut Ayah Nugroho.
Ayah Nugroho menggenggam erat tangan Rose dan menenggelampkan kepalanya di pinggir brangkar. Ayah Nugroho menangis seorang diri.
Nampak hamparan bunga di sebuah ladang yang tak terhingga luasnya, bunga-bunga mawar bermekaran dimana-mana.
Terlihat satu pohon besar yang sangat rimbun dengan dua ayunan di dahannya.
"Aku dimana, apa aku sudah mati?" Tanya Rose pada dirinya sendiri.
Rose melangkahkan kakinya dengan menjinjing sebuah gaun besar yang sangat indah, Rose terdiam dan melihat apa yang dia genggam bahkan ini sangat nyata.
Langkah kecilnya berjalan menyisiri jalanan setapak di taman tersebut, hingga langkahnya terhenti melihat sosok wanita yang tidak jauh di depannya.
Dia adalah Bunda Rose, istri dari Ayah Nugroho.
Kedua mata Rose memanas dan menitikan air mata yang sudah membuat kedua matanya berkabut.
"Bunda." Ucap Rose lirih.
Orang yang di panggil menoleh dengan tersenyum, terlihat mereka mengenakan pakaian yang sama.
"Bunda!" Seru Rose yang langsung berlari ke arah Bundanya.
Bunda Rose merentangkan kedua tangannya menyambut sang putri, terlihat Rose berlari dengan gaun yang melambai dengan indah.
Rose langsung memeluk tubuh Bundanya dengan erat, jika ini mimpi biarkan aku memeluknya sepuas hatiku.
Terasa elusan tangan dengan jari-jari lentik yang indah di pipi Rose, "Apa kabar sayang." Ucap sang Bunda.
Rose melerai pelukannya dan menatap Bundanya dengan berlinang air mata, "Apa ini mimpi, apa ini mimpi." Ucap Rose dalam tangisnya.
Sang Bunda menghapus air mata putri sematawayangnya dengan lembut, "Tidak sayang, ini Bunda." Jawab sang Bunda.
Rose kembali memeluk tubuh Bundanya seakan tidak ingin kehilangannya lagi, wanita yang menjadi rotasi hidup Ayahnya.
Kini Rose dan sang Bunda tengah duduk di ayunan bawah pohon rindang yang Rose lihat tadi. Rose banya bercerita bagaimana keadaan Ayah Nugroho dan bagaimana perjalanan cintanya.
Mendengar keadaan Ayah Nugroho membuat Bunda Rose sedih namun juga bahagia, ternyata sang suami benar-benar mencintainya.
"Rose tidak ingin kembali?" Tanya sang Bunda.
"Apa Bunda bisa kembali dengan Rose?" Tanya Rose kembali.
__ADS_1
Bunda Rose tersenyum lembut, "Tidak bisa sayang, Bunda sudah bahagia di sini. Bunda akan menunggu Ayah hingga waktunya tiba." Jawab sang Bunda lembut.
"Kenapa tidak ajak Rose, kenapa harus menunggu Ayah." Ucap Rose yang sudah berkaca-kaca.
"Sayangnya Bunda dan Ayah, Rose harus hidup bahagia ada seseorang yang sedang menunggu Rose bangun." Jawab Bunda menjelaskan.
"Ayah masih membutuhkan Rose, Bunda akan melihat kalian dari sini. Kita akan bersama-sama sampai waktunya tiba." Lanjutnya.
Rose menggeleng cepat, "Tidak Bunda, Rose ingin bersama Bunda." Tolak Rose.
Hingga terdengar suara Ayah Nugroho yang berbisik dengan suara parau membuat kedua wanita itu menengadahkan wajahnya.
"Dengar, Ayah membutuhkanmu Rose. Jangan biarkan Ayah hidup seorang diri." Ucap sang Bunda yang sudah menangis.
Perasaan Rindu menyeruak begitu saja didalam hati sang Bunda, suara yang beberapa tahun lalu dia dengar kini kembali terdengar.
Air mata Rose menetes, dirinya juga tidak bisa meninggalkan sang Ayah namun juga tidak ingin kembali berpisah dengan sang Bunda.
"Dengarkan Bunda, Rose. Ayah dan pria yang kamu cintai sudah menunggumu. Segeralah bangun dan kembali di tengah-tengah mereka, Bunda akan selalu melihatmu disini sayang. Bunda sangat mencintai kalian berdua, kembalilah Rose kembalilah." Ucap sang Bunda yang bersamaan datangbya cahaya terang hingga membuat Rose memejamkan kedua matanya.
Sring.
"Bunda."
"Bunda."
"Bunda!"
Rose berdiri dan melihat sekeliling dengan memanggin Bundanya, air matanya kembali luruh dengan memanggil-manggil Bundanya.
"Rose, Rose!" Seru Ayah Nugroho.
Orang-orang yang berada di kuar ruangan terkejut karena oara dokter yang berlari dan masuk keruangan Rose.
Membuat Gabriel, Stevani, dan Suryo langsung berdiri dengan wajah bingung.
"Rose." Lirih Briel.
Gabriel langsung berlari keruangan Rose namun di cegat oleh prawat.
Ayah Nugroho langsung menyingkir memberikan ruang pada tenaga medis, terlihat perawat menyiapkan alat pemacu jantung/pacemaker jantung.
Sang dokter langsung naik di atas brangkar Rose dan menempelkan kedua alat yang seperti setrika yang sudah dilumuri oleh gel.
"80 Joule."
Brak
Tubuh Rose seperti tersengat arus listrinhingga membuat dadanya terpelanting kedepan.
"120 Joule."
Brak
"200 Joule."
__ADS_1
Brak
"Menyingkir, biarkan aku masuk!" Gabriel memberontak karena di hadang oleh para oengawal keluarga Kristoff.
"Aku pecat kalian!" Seru Briel lagi.
Namun para bodyguard tidak bergeming karena bagi mereka yang paling di takuti adalah Stevani di keluarga Kristoff.
Suryo menarik kerah Gabriel dari belakang dan menghajarnya dengan keras, jika tadi Ayah Nugroho menyumbangkan satu pukulan tapi Suryo beberapa kali.
"Diam! Kau, kau yang membuat keponakanku sekarat bahkan meregang nyawa! Jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk kepada Rose, kau yang patut disalahkan!" Seru Suryo didepan wajah Gabriel dengan menarik kedua kerah Briel.
Didalam ruangan para dokter dan oerawat masih berusaha menyelamatkan Rose
Dokter terus mengintrupsi perawat hingga pada dosis yang paling tinggi.
"360 Joule."
Brak
Terdengar bunyi detak jantung Rose kembali, Ayah Nugroho terduduk di atas lantai karena merasa shock saat ini.
Dokter yang menangani bernafas lega begitu juga perawat, terlihat mereka menyeka keringat yang ada di dahi mereka.
"Anda tidak apa-apa, Tuan. Putri Anda masih ingin hidup." Ucap dokter yang membantu Ayah Nugroho berdiri.
"Te---terima kasih." Ucap Ayah Nugroho dengan bibir bergetar dan kedua matanya berkabut karena air mata.
"Dokter pasien sadar." Ucap perawat.
Ayah Nugroho langsung berjalan cepat hingga disamping brangkar sang putri, terlihat anaknya mencoba membuka kedua matanya dengan perlahan.
Dokter langsung memeriksa nadi Rose dan menunggu hingga benar-benar kedua mata Rose terbuka.
Terlihat kedua bola mata yang berwarna coklat terbuka, dua mata yang Ayah Nugroho rinduka.
Dokter dengan cepat menyenter kedua mata Rose untuk memeriksa keadaannya.
"Ayah." Ucap Rose sangat lirih bahkan hanya angin yang mendengar.
Ayah Nugroho langsung mensejajarkan tubuhnya dengan wajah Rose.
"Rose, ini Ayah." Kata Ayah Nugroho.
"Ayah." Ucap Rose lagi dengan air mata yang mengalir di ujung matanya.
Ayah Nugroho berdiri, "Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Ayah Nugroho.
"Pasien sudah melewati koma dan masa kritisnya tuan, pasien masih belum dapat berbivara babyak. Berikan pasien waktu untuk istirahat. Kami akan kembali memeriksa satu jam kedepan." Jelas dokter kepada Ayah Nugroho.
...πΎπΎ...
...BERI VOTE, HADIAN , RATE DAN DUKUNGAN LAINNYA YA ππ...
__ADS_1