
Happy Reading 🌹🌹
Di sebuah gedung tua yang berada tepat di tengah hutan, yang mana tempat itu adalah tempat yang pernah di gunakan saat Eve menculik Kristal agar menandatangani surat pengalihan harta waris. Di dalam gedung tersebut sudah ada dua pria dewasa dengan perbedaan umur yang cukup jauh. Tetapi, banyak anak buah yang berjaga di sekeliling gedung tua tersebut untuk memantau semua keadaan agar benar-benar aman terkendali.
Ketua Kim terikat di salah satu kursi dengan keadaan mata tertutup juga mulut yang tersumpal kain, sehingga membuatnya tidak dabat berbicara dengan leluasa. Ketua Kim hanya mampu memberontak dan berusaha melepaskan ikatan tali namun sayang saampai pergelangan tangan Ketua Kim lecet tidak dapat terlepas karena salah satu pengawal keluarga Kristoff mengikat mati tali tersebut agar sandra tidak melarikan diri.
Para pengawal memberikan hormat kepada Gabriel begitu dirinya keluar dari dalam mobil, ya setelah menumpakhan seluruh perasaan sedihnya di Rumah Sakit. Gabriel bersikeras untuk datang ke tempat Ketua Kim yang sudah membuat sang kekasih sampai lepas dari penglihatannya terlebih membuat Ibunya menderita selama ini.
Gabriel melangkah masuk dengan di ikuti Robby di belakangnya, terlihat wajah Gabriel yang tanpa emosi membuat para pengawal enggan untuk menatapnya karena sudah terdengar desas desus bagaimana sikap dinginnya ke seluruh penjuru mansion Kristoff.
Ketua Kim mendengar suara langkah kaki yang terdengar jelas semakin mendekat hingga berhenti tidak jauh dari duduknya.
"Buka." Ucap Briel dingin.
Pengawal segera membuka penutup mata Ketua Kim dan karyawan yang bekerjasama dengannya. Terlihat Ketua Kim menatap tajam ke arah Gabriel sedangkan karyawan yang menyebarkan gosip menatap takut karena Gabriel benar-benar menyeramkan saat ini di pandangannya.
Gabriel melangkah dengan pelan ke arah karyawan tersebut, terlihat pelipis karyawan sudah di banjiri keringat dan juga wajahnya begitu kusut.
"Siapa namamu." Tanya Gabriel.
"Lining." Jawabnya takut-takut.
"Di bayar berapa kamu olehnya?" Tanya Gabriel dengan tatapan menghunus.
Lining menggelengkan kepalanya cepat ,"A-aku tidak tahu apapun bahkan aku tidak kenal dengannya." Bohong Lining dengan takut.
Tawa Gabriel pecah namun terdengar suara benda jatuh dengan sangat keras, membuat Robby dan Ketua Kim terbelalak kaget melihat Gabriel langsung menendang kepala Lining dari arah kanan dengan keras membuat Lining jatuh ke lantai dengan keras.
Gabriel mendekat dan berjongkok tangan kokohnya menjambak rambut Lining dengan keras, "Apa kamu masih ingin berbohong, jika begitu terima ajalmu." Ucap Gabirel bengis.
Lining menggelengkan kepalanya cepat karena dirinya benar-benar takut saat ini, tendangan Gabriel begitu keras dan jambakannya membuat kulit Lining seakan lepas dari kepalanya.
"A-ampun Tuan, sa-saya dibayar seratus juta won olehnya." Jawab Lining cepat dengan suara yang bergetar.
"Bagus, pengawal seret dia ke kantor polisi. Aku menghukummu dengan ringan namun aku pastikan kamu mendekam di dalam penjara dengan menyakitkan." Ucap Gabriel dengan melepaskan rambut Lining kasar.
Kepala Lining yang di hempaskan dengan kasar oleh Gabriel membuat jidatnya terkena lantai hingga sedikit berdarah, Lining meringis karena merasa tubuhnya sudah sakit semua hanya mendapatkan perlakuan seperti itu dari Gabriel.
Para pengawal segera membantu Lining berdiri setelah melepaskan itakan tali dari kursi dan langsung memborgolnya agar tidak lari, ya Nyonya Kim bekerjasama dengan kepolisian untuk mengantarkan pelaku ke gudang tersebut namun tetap akan di proses sesuai hukum negaranya.
Gabriel berjalan mendekat ke arah Ketua Kim dengan menyeret kursi bekas Lining, terdengar suara yang kasar dan suasana yang semakin tegang juga mencekam. Robby hanya diam diri tidak jauh di belakang tubuh Gabriel.
Gabriel duduk dengan angkuh di depan Ketua Kim, "Aku harus memulainya dari mana?" Tanya Gabriel.
Ketua Kim hanya menggeram karena mulutnya tersumpal kain, terdengar suara tamparan yang begitu keras di dalam gedung tersebut. Gabriel menampar Ketua Kim dengan keras hingga bekas tangan Gabriel tercetak jelas di pipi Ketua Kim.
"Bicara yang jelas!" Sentak Gabriel.
__ADS_1
Gabriel sengaja mempermainkan Ketua Kim karena jelas tidak akan dapat menjawab karen mulutnya tersumpal kain, Briel membuka sumpalan mulut Ketua Kim dengan kasar, tanpa di duga Ketua Kim meludahi wajah Gabriel hingga mengenai wajah tampan tersebut.
"Anak ingusan! Kau akan aku laporkan dengan tindakan krimilan karena menculikku!" Seru Ketua Kim.
"Hahaha! Apa aku tidak salah dengar, melaporkan? Polisi saja yang menyeretmu hingga ke gudang ini." Ucap Gabriel dengan sinis.
Gabriel mengelap wajahnya dari ludah Ketua Kim dan mengelapkannya ke wajah Ketua Kim dengan menepuk-nepuknya dengan kasar, "Bedebah sialan." Seru Gabriel yang langsung memebrikan bogem ke pipi Ketua Kim yang sudah di tampar tadi.
Kepala Ketua Kim sampai terpelanting ke kiri, terasa kebas perih yang di rasakan.
"Apa maumu sebenarnya?" Tanya Ketua Kim dengan tenang.
"Mauku? Nyawamu." Jawab Gabriel dengan tajam.
"Hahaha, Nyawaku? Aku tidak ada urusan denganmu, kamu hanya anak ingusan yang tidak tahu apapun." Ucap Ketua Kim yang masih sempat tertawa meremehkan Gabriel.
"Benar, aku tidak ada urusannya dengamu. Namun kali ini urusanmu denganku pria tua, karenamu membuat nyawa kekasihku di ambang kematian!" Seru Gabriel dengan melotot tajam ke arah Ketua Kim.
"Itu bukan salahku." Jawab Ketua Kim tanpa rasa bersalah.
"Bagaimana dengan kematian kedua orang tua Ibuku? Apa itu juga bukan salahmu?" Tanya Gabriel yang sudah ingin memenggal kepala Ketua Kim.
"Hahaha, aku tidak bersalah karena bukan aku yang membunuhnya." Elak Ketua Kim.
"Benar bukan kamu yang membunuhnya namun anakmu Eve." Jawab Gabriel tersenyum miring.
"Kamu kaget?" Ucap Gabriel lagi, "Ah, apa yang sedang terjadi dengan mantan ibu tiriku itu. Sungguh malang sekali." Ucap Gabriel lagi.
Ketua Kim melebarkan matanya dan mulai memberontak dari kursi, "Apa yang terjadi dengan Eve! Dia seharusnya sudah berada di Rumah Sakit saat ini, apa yang kamu lakukan!" Serunya.
"Benar tadi dia di Rumah Sakit hanya dia sudah mati." Ucap Gabriel yang mendekat dan membisikkan kata mati di telinga kanan Ketua Kim.
Deg
Tubuh Ketua Kim membeku, kalimat mati terngiang-ngingat di otaknya. "Kau pembunuh!" Seru Ketua Kim kepada Gabriel.
"Aku bahkan belum menyentuhnya, berbeda denganmu yang jelas menjadi dalang pembunuhn orangtua Ibuku." Jawab Gabriel yang santai menjadi serius.
"Cih, aku berniat membunuh suaminya. Namun sayang sekali wanita yang aku cintai lebih senang ikut bersamanya." Ucap Ketua Kim tersenyum getir.
"Cinta? Konyol, jika kamu mencintainya tidak mungkin sampai membunuh sumber kebahagiaannya." Jawab Gabriel berdecih.
"Karena cinta aku akan melakukan apapun demi mendapatkannya, bahkan menjadi pembunuh sekalipun!" Kata Ketua Kim dengan tajam karena merasa di remehkan oleh Gabriel.
"Benar, kamu benar. Kita harus melakukan apa saja demi orang yang kita cintai. Jika begitu aku akan mengikuti jejakmu." Jawab Gabriel dengan tersenyum simpul.
"Ap---"
__ADS_1
Ucapan Ketua Kim terhenti karena merasa perutnya sakit hingga membuat ucapannya terhenti, Ketua Kim menatap tajam ke arah Gabriel yang terlihat tersenyum lebar dengan memiringkan kepalanya Gabriel berkata, "Bagaimana? Sakit?"
"Kau!"
Kemeja putih yang di kenakan oleh Ketua Kim berubah menjadi merah seiring keluarnya darah dari dalam perut, bahkan darah itu menetes karena menjalar ke tangan Gabriel yang masih memegang pisau lipat miliknya.
Tes
Tes
Tes
Entah sejak kapan Gabriel mempersiapkan pisau lipat, Gabriel menekan lebih dalam bahkan memutar pisau yang masih menancap hingga dapat mengoyak isi perut Ketua Kim.
"Rasakan, rasakan kesakitanku ini. Aku harus hidup terlunta-lunta dijalan karena menunggu Ibuku menjemput, harus di pisahkan dengan paksa dari keluargaku, bahkan tidak mengenal sosok ayah dan harus kehilangan kekasihku karena perbuatanmu." Ucap Gabriel dengan air mata yang luruh membasahi pipinya.
Gabriel menarik dan menancapkan ke bagian perut lainnya dari Ketua Kim membuat Ketua Kim menyerengitkan dahinya terlihat keringat bercucuran, "Hen-hentikan!" Ucap Ketua Kim lirih.
"Apa? Ingin lagi?" Jawab Gabriel.
Gabriel menekan lebih dalam dan kembali memutarnya hingga tubuhnya terasa di tarik dengan kasar dari arah belakang, Robby menariknya hingga menjauh dari Ketua Kim. Robby mulai curiga karena tidak ada suara yang dia dengar dari keduanya hingga pandangannya melihat genangan darah dan langsung menjangkau Gabriel.
"Lepaskan! Aku akan membunuhnya!" Ronta Gabriel.
"Cukup Gabriel." Seru Robby dengan susah kepayang memeluk tubuh Gabriel dari belakang.
"Lepaskan kak! Kemari kau!" Seru Gabriel yaang sudah terbawa suasana.
Ketua Kim terduduk lemas dengan pisau yang masih menancap di perutnya dan darah terus keluar.
"Cepat bantu aku!" Seru Robby kepada pengawal.
Pengawal segera bergerak membantu Robby, mereka tidak berani bergerak tanpa perintah majikan. Terlihat Gabriel susah melepaskan diri dari pengawal karena dirinya payah dalam berkelahi hingga Gabriel mengigit tangan pengawal dengan keras secara bergantian membuat pegangan tangan pengawal melemah.
Gabriel langsung berlari dan menendang perut Ketua Kim yang masih tertancap pisau dengan kencang dan keras, hingga membuat Robby juga ikut jatuh karena dirinya tengah melepaskan tali Ketua Kim. Pengawal memegang Gabriel yang sudah menginjak-injak Ketua Kim dengan penuh emosi.
Terlihat Ketua Kim mengeluarkan darah dari mulutnya dan dengan posisi terikan Ketua Kim menghembuskan nafas terakhirnya. Mati di tangan cucu dari wanita yang dia cintai.
Robby memeluk tubuh Gabriel, "Dia sudah mati, dia sudah mati." Ucap Robby pelan.
Terlihat nafas Gabriel begitu memburu dari naik turun dada Gabriel yang cepat, Robby membawa Gabriel melangkah jauh dari jasad Ketua Kim hingga di luar gudang.
"Bakar gudang ini." Ucap Briel dingin dengan menatap tajam jasad Ketua Kim yang tidak bergerak sama sekali di dalam gudang.
Segera pengawal mengambil dirigen bengsin dan menuangkan seluruh bengsin rata pada gudang tersebut, bahkan lantai gudang di dalam juga tidak luput dari siraman bengsin. Robby menyerahkan pemantik api kepada Gabriel untuk mengakhiri kisah ini.
Gabriel menyalakan pemantik api dan melemparkannya ke arah gudang, terlihat api menyala dan merambat dengan cepat mengenai bengsin yang sudah para pengawal tuangkan di sana. Jagoan merah melalap habis gudang tersebut terdengar suara ledakan-ledakan kecil dari dalam yang sudah di pastikan itu adalah dari tubuh Ketua Kim yang tidak bernyawa.
__ADS_1
...🐾🐾...