
Happy Reading 🌹🌹
Waktu terus berlalu.
Kini di perusahaan Wiratama tengah berkumpul banyak wartawan untuk meliput acara yang mengegerkan seluruh kota.
Deru mobil terdengar dan berhenti tepat di depan pintu utama perusahaan.
Terlihat sepatu mengkilat menapak lantai perusahaan, terlihat sosok pemimpin perusahaan Gandratama.
Di ikuti seorang pria yang sudah berdiri di samping pintu, keduanya berjalan dengan di jaga oleh para bodyguard melewati kerumunan pemburu berita.
Cahaya flash dari kamera terus mengarah kearah kedua pria tersebut. Hingga acara inti di selenggarakan.
Berbondong-bondong pertanyaan dari banyak wartawan di arahkan kepada pemilik perusahaan Wiratama.
Banyak stasiun TV yang meliput acara tersebut, dan menyiarkannya secara langsung.
Di tempat berbeda, di belahan dunia lain.
Terlihat gelas kaca dan botol anggur meluncur bebas ke lantai hingga membuat gelas itu pecah.
"El." Gumamnya lirih.
Suara sepatu hak tinggi menggema dan berjalan mendekat ke arah orang tersebut.
"Ya! Apa kau tidak becus bekerja! Kamu memecahkan gelas kristal mahal milikku!" Seru seorang wanita yang seusianya.
Orang tersebut tersentak kaget, "Ma.. aaf Nyonya." Jawabnya dengan menunduk dalam.
"Maaf... maaf.. jika kau sudah bosan hidup, matilah." Ucap wanita tersebut dengan menatap tajam.
Orang tersebut hanya diam seribu bahasa, tetapi gestur tubuhnya tetap melakukan bow beberapa kali.
"Dasar, benalu!" Ucap wanita itu lagi.
Suara bariton datang menghampiri keduanya.
"Ada apa sih sayang." Ucap pria tersebut dengan memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana.
"Wanita rendahan itu memecahkan gelas kristal yang baru saja aku beli pekan lalu sayang." Jawab wanita itu dengan manja.
Pria tersebut menoleh dan menatap lekat ke arah wanita yang masih menundukkan kepalanya.
"Mau bayar pakai apa kamu, hah! Bahkan harga dirimu tidak akan cukup untuk membayar semuanya!" Sentak pria tersebut kepada wanita yang berbaju lusuh didepannya.
"Maaf." Ucap wanita itu lagi.
"Sudah bersihkan, dan segera urusi anak pernyakitanmu itu." Ucap pria tersebut dengan arogant.
__ADS_1
"Sudah sayang, lebih baik kita pergi shoping saja. Dirumah memandang wanita rendahan dan anak penyakitan hanya membuat mataku sakit." Jawab wanita tersebut dengan nada sinis.
"Benar, lagipula kakek tua itu sedang pergi keluar negeri untuk beberapa bulan." Ucap pria tersebut merangkul pundak wanita yang sudah dia nikahi duapuluh lima tahun lalu.
Keduanya pergi dengan tersenyum dan meninggalkan seorang wanita yang ada di hadapan mereka sejak tadi begitu saja.
Kepala wanita itu menoleh dan menatap penuh luka kepada keduanya, bahkan air matapun sudah tidak ada lagi untuk mereka.
Hanya sakit hati dan rasa dendam yang ada di dalam hatinya.
Tanpa ketiga orang dewasa sadari, ada sepasang mata yang menatap tajam kejadian tersebut. Bahkan terlihat matanya yang memerah dan berkaca-kaca.
Lima belas menit yang lalu.
"Ambilkan aku anggur di gudang dan satu gelas kristal yang baru." Ucap Evelin dengan ketus tanpa melihat kearah wanita yang Evelin suruh.
"Baik Nyonya." Jawab Kristal patuh.
Evelin menggerakkan tangannya tanda mengusir, "Nonton berita mancanegara, siapa tahu bisa memperluas kerjasama perusahaan." Gumam Evelin pelan.
Sedangkan kini Kristal tengah berjalan ke gudang bawah tanah untuk mengambil anggur yang biasa di minum manjikannya.
Dengan segera Kristal mengambil satu botol dan berjalan keluar dari dalam gudang bawah tanah, kemudian langkah kakinya mengarah ke lemari koleksi gelas-gelas kristal yang ada di sudut ruangan.
Baru saja Kristal berjalan untuk memberikan sebotol anggur dan gelas kristal yang ada di kedua tangannya.
Pandangannya terpaku pada satu sosok pria yang tersorot di layar televisi, seketika kedua matanya berembun dan tanganya gemetar hingga membuat gelas dan botol yang ada di tangannya jatuh ke lantai.
Sedangkan kini Rose dan Gabriel tengah berada didalam ruangan dokter kandungan. Bukan Rose yang hamil, melainkan sahabatnya.
"Ah, panas sekali. Aku harus keluar mencari oksigen." Ucap Rose lirih karena melihat kemesraan pasangan yang ada di depannya.
Segera Roose pergi meninggalkan ruangan dimana sahabatnya tengah mengumbar kemesraan nya dengan suami, eh bukan. Justru suami yang tidak tahu malu itu mengumbar kemesraan di depan joblowati seperti Rose.
Rose tidak tahu jika Gabriel juga keluar dirinya, ketika berada di parkiran Rose mendapati Dave keluar dari mobil.
"Pak Dave!!" Seru Rose pada pria tampan itu.
Dave mencari sumber suara, ternyata Rose. Segera Dave berjalan menghampiri Rose dengan langkah lebar dan cepat.
"Bagaimana keadaan Putri?" Tanya Dave khawatir.
Baru saja Rose membuka mulutnya, tetapi belum sempat mengeluarkan suara indahnya sudah di jawab oleh seseorang dengan suara yang ketus.
"Tidak perlu mengkhawatirkan istri orang, khawatirkan saja dirimu sendiri." Jawab Gabriel.
"Ah, iya pak. Pak Dave harus mengucapkan selamat kepada mereka, mereka akan memiliki anak. Saat ini Putri tengah hamil muda pak." Lanjut Rose yang memberitahukan kabar gembira kepada Dave.
"Tidak mungkin! Kamu bohong kan Rose, kamu bohong!!" Teriak Dave kesetanan dengan mencengkram pundak Rose sehingga membuat gadis itu meringis.
__ADS_1
Gabriel menarik lengan Dave karena menyakiti seorang gadis, dan bogem mentah di pipi kirinya.
Rose hanya shock dengan pembicaraan kedua pria tersebut, apa selama ini Dave menyukai Putri. Cinta bertepuk sebelah tangan, berusaha memisahkan. Oh sungguh masalah yang tidak sampai dalam benak Rose.
Rose memeluk Putri yang sudah gemetar dan menangis, sedangkan Gabriel masih melihat situasi di area parkir tersebut.
Rose luruh ke tanah karena Putri jatuh pingsan, mendengan seruan suara Rose.
Gabriel langsung membopong Putri karena melihat kedua pria tersebut tidak dapat di andalkan.
Rose berlari mengikuti langkah Gabriel yang masuk kembali ke rumah sakit, terlihat guratan wajah keduanya yang sangat khawatir.
Kini Rose dan Gabriel ada di dalam satu ruangan, tepatnya didalam ruang rawat Putri.
Terlihat Gabriel berdehem untuk menetralkan sesuatu didalam hatinya bahkan sesekali mencuri lirikan.
"Apa aku harus mulai mendekatinya." Gumam Briel dalam hati.
Baru saja Gabriel ingin mengajak bicara Rose, harus di urungkan niatnya karena mendapatkan panggilan dari Sky.
Gabriel segera mengangkatnya dengan posisi memunggungi Rose, Rose yang melihatnya hanya menatap biasa saja. Karena lebih khawatir keadaan calon Ibu muda.
Yang sakit hanya wajah dan badannya, kakinya masih sehat. Kenapa seperti anak gadis minta di jemput. Gerutu Gabriel yang masih dapat di dengar Rose sehingga gadis itu tersedak air minum yang baru saja dia beli.
Gabriel hanya menatap tajam kearah gadis belia tersebut, Rose yang mendapatkan tatapan dari Gabriel melototkan matanya seakan menantang "Apa!"
"Kenapa gadis itu masih disini." Ucap Sky menoleh kearah Gabriel sesampainya di ruangan Putri.
"Rose Tuan namanya, dia menunggu Nona Putri hingga sadar." Jawab Gabriel dengan wajah datar.
"Sudahlah, cepat angkat gadis itu di sofa sana." Perintah Sky kepada asistennya.
" Kenapa tidak Tuan saja," Jawab Gabriel memerintah kembali atasannya.
"Apa nyawamu lebih dari satu Briel." Ucap Sky dengan menatap tajam kearah Gabriel.
Segera Gabriel berjalan untuk membopong Rose, dan memindahkannya ke sofa sesuai perintah Sky.
"Kenapa berat sekali gadis ini, badannya padahal kecil dan lihat dadanya saja tidak berisi. **** jangan berpikiran kotor Briel." Gerutu Gabriel dalam hatinya.
Sedangkan Rose berusaha mati-matian untuk tidak ketahuan jika dirinya pura-pura tidur.
Mendengar suara suami sahabatnya mendekat, Rose langsung memejamkan matanya agar orang mengira dirinya tidur.
"Oh my... ini otot atau batu bata." Jerit Rose dalam hati karena benar-benar menempel di tubuh depan Gabriel.
...**...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1