
Happy Reading πΉπΉ
Gabriel dan Sky menunggu Daniel didepan pintu kamar mandi seperti seorang Ayah yang tengah menunggu anaknya buang air besar.
"Apakah sudah selesai?" Tanya Gabriel setelah menunggu beberapa saat.
"Sudah." Jawab Daniel pelan.
Gabriel langsung masuk dan merapat Daniel untuk berjalan kembali ke sofa.
"Bagaimana bisa aku dan Kakek pergi, jika kamu kembali sakit." Kata Gabriel dengan mendudukkan Daniel di sofa.
"Tidak apa-apa, Kakak pergilah bersama Kakek dengan yang lainnya. Saat ini mereka dan perusahaan lebih membutuhkanmu." Jawab Daniel.
"Apa kamu yakin?" Tanya Gabriel khawatir.
"Yakin, segera basmi para pengerat itu dan jemput aku pulang." Jawab Daniel tersenyum tipis ke arah Gabriel.
Sky menepuk pundak kedua pria kembar dihadapannya, "Kalian harus sama-sama berjuang, Daniel berjuang untuk sembuh dan kau Gabriel. Berjuang untuk mendapatkan hakmu serta Tante Kristal." Ucap Sky dengan wajah serius.
Daniel mengangguk menyetujui apa yang diucapkan Sky, "Mama pasti sangat sedih, karena Nenek menempatkan musuh besarnya didekat Mama selama ini." Ucap Daniel dengan sendu.
"Tidak masalah, Kakak yang akan membuatnya mengakui semua dosa-dosanya." Jawab Gabriel yakin.
Daniel menganggukkan kepalanya dengan pasti, dengan menggenggam tangan saudara kembarnya.
"Ayo cepat kita ke Rumah Sakit." Ucap Sky kepada keduanya.
"Siapa yang akan menjaga Daniel?" Tanya Gabriel.
"Mama." Ucap Ambar yang entah sejak kapan berada tidak jauh dari mereka.
"Mama?" Beo Sky dan Gabriel.
Ambar berjalan mendekat kearah tiga pria dewasa yang tengah berkumpul di sudut sofa.
"Iya, biar Mama yang menjaga Daniel selama Briel pergi. Ayo cepat segera berangkat." Jawab Ambar dengan suara tenang.
Gabriel tersenyum hangat ke arah Ambar dan memeluknya, Gabriel merasa sangat beruntung dapat menjadi anak angkat Ambar dan Agung.
...***...
Tibalah keempat orang tersebut di Rumah Sakit, dimana awal Daniel dirawat.
Seorang suster datang dengan membawa kursi roda untuk Daniel agar tidak lelah berjalan, dengan perlahan Gabriel mulai mendorong saudara kembarnya dengan diikuti oleh Ambar dan Sky.
Terlihat seorang dokter pria berjalan dengan cepat ke arah Gabriel.
"Kita langsung ke ruang observasi." Ucap sang dokter.
Tidak lama kemudian, mereka telah sampai diruang observasi. Daniel disebabkan diatas brangkat Rumah Sakit dan langsung diambil sempel darahnya lagi.
Dokter dengan cekatan menangani Daniel yang sudah kembali drop.
"Apakah parah, Dok?" Tanya Gabriel.
"Untuk sementara waktu, Tuan Daniel tidak boleh pulang. Kita akan benar-benar menuntaskannya hingga kangker itu mati, karena masih di stadium dua kemungkinan akan lebih mudah mematikan kankernya." Jawab dokter panjang lebar.
"Jika masih belum dapat mati sel kankernya bagaimana Dok?" Tanya Briel semakin khawatir.
__ADS_1
"Hanya satu, kita harus melakukan transplantasi sum-sum tulang belakang." Jawab sang dokter.
"Tidak! Daniel akan sembuh, Kakak tenang saja." Ucap Daniel yang langsung menolak dengan tegas.
Daniel tidak ingin, kehadirannya membuat saudara kembarnya harus mendonorkan sesuatu kepada dirinya. Bukannya tidak ingin kembali sehat, tapi Daniel terlalu lancang jika sepanjang hidupnya tidak pernah bertemu sekali bertemu sudah membuat repot.
"Baiklah, kamu harus segera sehat." Kata Gabriel memberikan support kepada Daniel.
"Pasti, aku akan melakukan kemoterapi agar lebih cepat mati sek kankernya." Jawab Daniel dengan tersenyum.
Gabriel dan yang lainnya menunggui Daniel di Rumah Sakit hingga waktu akan petang.
Hingga ponsel Sky bergetar, tertera nama sang istri di layar benda pipinya.
π£οΈ Halo, Mas. Kapan kamu akan datang ke acara Rose?
π€ Mas, akan segera kesana sayang.
π£οΈ Apa Kak Gabriel sudah berangkat.
π€ ----- π¦
π£οΈ Mas, masih disana?
π€ Ah, iya sayang. Gabriel sudah berangkat ke Korea. Baru saja pesawatny lepas landas.
π£οΈ Baiklah, Putri tunggu di hotel.
π€ Ya, sayang π
Sky mematikan sambungan telfon dan memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Apa kamu yakin tidak datang ke acara Rose dan Dave?" Tanya Sky kepada Gabriel.
"Ayolah, Briel. Setidaknya kamu berpamitan dengan mereka sebelum pergi." Bujuk Sky.
"Apa untungnya untukku." Jawab Briel tajam.
"Briel, datanglah. Kamu datang ke acara pertunangan mereka bukan berarti kamu kalah. Memang sudah garis takdirnya seperti ini." Ucap Ambar pelan memberi pengertian kepada Gabriel.
"Daniel lebih membutuhkan Gabriel, Mah." Jawab Gabriel singkat.
"Biarkan Mama yang menjaganya, pergilah." Kata Ambar kepada Gabriel
"Tidak, Gabriel akan bersiap-siap jika begitu. Karena penerbangan malam ini." Ucap Gabriel yang berdiri dari duduknya.
Ambar dan Sky hanya menatap punggung Gabriel yang sudah berjalan menjauh.
"Sky, segera susul Gabriel dan antarkan pulang." Titah Ambar kepada sang putra.
"Iya, Mah. Sky pergi dulu." Pamit Sky kepada Mamanya.
...***...
Di sebuah hotel malam ini, banyak mobil mewah yang berdatangan untuk menghadiri acara.
Acara yang di selenggarakan oleh dua keluarga secara megah dan meriah.
"Kamu sangat cantik, Rose." Ucap Putri kepada sahabatnya.
__ADS_1
Rose tersenyum, kedua matanya menatap dirinya dari pantulan cermin.
Terdengar suara pintu diketuk dari luar, Dave masuk dengan mengenakan jas dengan warna senada milik Rose.
"Sayang, sudah selesai?" Tanya Dave yang berjalan mendekat kearah Rose.
Rose mengangguk, "Sudah." Jawab Rose.
"Terima kasih, Put. Sudah menemani Rose satu hari ini." Ucap Dave kepada Putri.
"Sama-sama, Kak. Jika begitu Putri turun dulu, karena Mas Sky sudah datang." Jawab Putri yang kemudian berlalu dari keduanya.
Rose menatap punggung Putri hingga hilang dari balik pintu.
"Apa yang kami fikirkan, sayang?" Tanya Dave kepada Rose.
"Ah, tidak ada." Jawab Rose kaget.
"Ayo kita turun, para tamu undangan sudah banyak yang hadir." Ajak Dave kepada Rose.
Rose mengangguk dan segera berdiri dari duduknya, tangan kanan Dave sedikit ditekuk untuk tempat Rose menautkan tangannya.
Keduanya berjalan dengan beriringan sebagai pasang kekasih yang sangat romatis, berwajah cantik dan tampan.
Semua antensi tamu undangan tertuju pada calon pengantin yang baru saja memasuki ruangan.
Dengan ramah dan elegant. Dave juga Rose menyapa satu persatu para tamu undangan yang paling dekat dengan mereka.
Rose hanya dapat tersenyum dan sekedar menyapa say hello. Karena sejatinya ini adalah tamu sang Ayah dan juga keluarga Dave.
Rose mengedarkan pandangnya, tidak mendapati seseorang yang dicari. Hanya ada Putri dan suaminya.
Hingga suara MC terdengar mulai membuka acara.
Kini Rose dan Dave sudah berdiri diatas panggung dengan latar belakang lampu berwarna ungu muda tersebut.
"Silahkan saling bertukar cincin." Ucap sang MC.
Dave mengambil satu cincin yang sudah disiapkan kejemari kecil Rose. Kemudian Rose juga menyematkan cincin kejari Dave.
Para tamu undangan dan keluarga bertepuk tangan setelah prosesi tukar cincin selesai.
"Selamat, karena kalian sudah resmi bertunangan. Sekarang dicium dong calon istrinya." Ucap sang MC menggoda.
Dave terkekeh pelan begitu juga Rose yang sangat malu.
Para tamu undangan termasuk Putri sangat semangat untuk melihat adegan secara live.
"Cium.... cium.... cium." Ucap para tamu undangan.
Dave menarik pinggang ramping Rose dan memiringkan kepalanya, sehingga membuat wajah kecil Rose tertutupi oleh kepala Dave.
Gemuruh para tamu yang bersorak karena adegan uwu didepan mereka.
Disudut meja para tamu penting, terlihat Gabriel menatap kearah panggung hingga adegan ciuman itu selesai.
"Akhirnya kamu sudah mendapatkannya." Gumam Gabriel dalam hati.
"Karena semakin larut, sepertinya lebih romantis dengan berdansa bersama pasangan. Acara selanjutnya adalah berdansa dengan pasangan masing-masing." Ucap MC dengan riang.
__ADS_1
Suara musik klasik segera dimainkan, Dave mengajak Rose untuk turun kebawah mengajaknya berdansa. Diikuti beberapa tamu yang hadir, yang ikut larut dalam alunan musik klasik tersebut.
...πΎπΎ...