
Happy Reading🌹🌹
Terdengar suara gemericik air didalam kamar mandi, terlihat tangan kekar tersebut tengah menggosok rambutnya yang sudah penuh dengan busa.
Gabriel tengah mandi, karena masih merasakan jetlag dengan perbedaan waktu satu jam dengan negara Indonesia.
Terlihat busa putih luruh menyusuri tubuhnya hingga berakhir dipembuangan air.
Segera Gabriel mengambil bathdrop untuk menutupi tubuh telanjangnya. Dan satu handuk kecil ditangan kanannya untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah.
Langkah lebarnya berjalan menuju arah lemarinyang berada di sudut ruangan, terlihat pakaian yang tersusun rapi didalam dengan warna yang hampir sama seluruhnya.
"Ck, Aku rasa hidup Daniel membosankan sekali." Ucap Gabriel pelan.
Pakaian Daniel lebih didominasi warna putih dan abu-abu, lalu apa bedanya dengan Gabriel yang lebih banyak memiliki pakaian warna hitam bahkan hampir semuanya.
Jika ada yang mendengar ucapan Gabriel pasti tidak akan dapat berkata-kata, bagaimana bisa pria membosankan bisa menyebut pria lain membosankan.
Gabriel akhirnya memutuskan mengenakan pakaiannya sendiri yang berwarna hitam dengan logo badan kuda berkepala manusia sedang memainkan golf.
Terlihat waktu menunjukkan pukul satu malam Korea, Briel yang sejak datang belum sempat makan apapun memutuskan untuk turun dan mencari makanan yang bisa dia dapatkan.
Suasana begitu sepi hanya ada lampu remang-remang seperti di angkringan, Gabriel berjalan mencari area dapur dengan hati-hati.
Beruntung, Gabriel dengan cepat menemukan dapur bersih dengan kemari pendingin tiga pintu.
Segera Gabriel membukanya untuk mencari makanan yang dapat dia makan, hingga gerakannya terhenti karena terdengar suara saklar lampu.
Tak
Segera Gabriel bangkit berdiri dari posisinya yang berjongkok.
Terlihat seorang pria yang masih tampan tengah berdiri menatap Gabriel yang sudah membalikkan badan hingga memunggungi pintu pendingin.
Perlahan pria tersebut mendekat ke arah Gabriel hingga langkahnua terhenti dengan jarak satu hasta.
"Apa kamu lapar?" Tanya Stevan.
Gabriel hanya dapat menganggukkan kepalanya cepat, bahkan mulutnya serasa kelu untuk menjawab.
"Duduklah, biar Ayah masakkan untukmu." Ucap Stevan dengan melewati tubuh Gabriel.
Gabriel menggeser tubuhnya karena Stevan membuka pintu lemari pendingin disebelahnya.
Gabriel masih terpaku ditempatnya, pandangannya lurus menatap Stevan yang tengah mengambil beberapa bahan makanan didalam lemari pendingin.
"Kenapa masih berdiri, duduklah." Ucap Stevan lagi kepada Gabriel.
__ADS_1
Gabriel mengangguk kaku dan berjalan di kursi meja makan. Pandangan Gabriel tidak lepas dari punggung lebar yang tengah mencuci sayuran tersebut.
Terlihat Stevan memotong sayur dan seafood, tidak lupa bawang putih dan bawang bombay sebagai penyedap rasa.
Tidak membutuhkan waktu lama, masakan Stevan sudah matang. Stevan membagi sayur dan lauk menjadi dua piring.
Gabriel hanya menatap dalam diam, lebih tepatnya menatap wajah Stevan yang baru pertama kali dia lihat sejak dirinya lahir didunia ini.
Hingga ucapan Stevan membuyarkan konsentrasi Gabriel.
"Ayo cepat dimakan." Ucap Stevan.
Stevan duduk bersebrangan dengan Gabriel dan mulai menyuapkan makan kedalam mulutnya.
Gabriel masih bergeming, tidak ingin melewatkan sedetikpun pemandangan yang ada didepannya. Bisa duduk dan makan berdua dengan Ayah kandungnya.
Stevan yang merasa dirinya sejak tadi dilihat menghentikan kunyahannya dan mendongak hingga tatapannya bertabrakan dengan Gabriel.
"Kenapa tidak dimakan, apa kamu tidak suka Daniel?" Tanya Stevan pelan.
Gabriel tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya dan mengambil sumpit untuk mencampit sayuran yang berada dipiring.
Stevan masih mengamati Gabriel hingga memakan masakannya, terbit senyum tipis Stevan karena sang anak tidak pernah ingin menyentuh masakannya.
Jangankan masakan, memanggilnya Ayah saja Stevan rasa Daniel sudah sangat jijik.
"Kapan kamu pulang, El?" Tanya Stevan yang melanjutkan makannya.
"Pelan-pelan, El." Ucap Stevan dengan mengambilkan segelas air putih.
Gabriel langsung mengambil gelas dari tangan Stevan dan meneguknya hingga tandas.
Gabriel langsung berdiri dari kursinya dan berjalan meninggalkan Stevan sendiri dimeja makan.
Stevan hanya dapat menatap sendu kearah punggung Daniel, padahal Stevan sudah senang akhirnya Daniel mau berdekatan dengannya.
Namun pikiran Stevan salah, ternyata Daniel masih sama. Selalu menghindarinya setiap saat dan waktu.
Sedangkan Gabriel langsung menutup dan mengkunci pintu kamar Daniel, hingga punggung Gabriel disenderkan kepintu.
Tangan Gabriel terlulur memegang dadanya, terasa jantungnya sangat berdebar dengan hebat. Seulas senyum muncul di bibirnya.
"Ayah." Panggil Gabriel dengan suara sangat pelan hingga hanya angin yang dapat mendengarnya.
Sedangkan Stevan yang masih dimeja makan hanya terdiam dengan menatap sisa makanan yang berada dipiring Gabriel.
Tanpa Gabriel dan Stevan sadari semua aktivitas yang terjadi tengah dipantau oleh beberapa pasang mata.
__ADS_1
Ketiga orang tersebut tidak tahu jika mereka memantau pemandangan yang ada dihadapan mereka, Kristal terharu karena Gabriel dapat bertemu Stevan.
Kakek Kristoff juga tak kalah bahagia dengan Kristal, Kakek Kristoff berharap Stevan agar cepat sadar.
Sedangkan Eve, menatap benci pemandangan yang ada didepannya.
"Aku harus segera bergerak cepat, jika semua harta jatuh ditangan anak penyakitan itu usahaku selama puluhan tahun akan sia-sia." Ucap Eve dalam hati.
Eve segera kembali kedalam kamar dengan cepat, karena melihat Stevan sudah berdiri dan meninggalkan meja makan begitu saja.
Dengan nafas memburu, Eve pura-pura tertidur dengan mengenakan selimut hingga menutupi lehernya.
Terdengar suara pintu kamar terbuka, sudah dapat dipastikan jika Stevan yang baru saja masuk kedalam kamar.
Sejenak Stevan menatap Eve yang sudah tertidur pulas diatas kasur, Stevan berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Hingga suara gemericik air terdengar, Eve langsung membuka mata dan menolehkan kepalanya ke sumber suara.
Tidak berselang lama, Stevan keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.
"Apa aku membuatmu terbangun?" Tanya Stevan lembut kepada Eve.
Eve menggeleng dengan senyumannya, "Tidak, sayang. Apa kamu baru pulang? Kenapa tidak membangunkanku." Jawab Eve dengan pura-pura menguap.
"Aku tidak ingin mengganggumu, sayang. Kembalilah tidur." Ucap Stevan tak kalah lembut.
Eve menggeleng, "Aku akan menunggumu, sayang. Segeralah pakai baju." Tolak Eve dengan suara mendayu.
Stevan tersenyum tipis dan beranjak meninggalkan Eve menuju ke arah lemari pakaian.
Stevan memutuskan untuk mengenakan piyama yang senada dengan Eve malam ini. Segera Stevan berjalan menuju kasur dan membawa Eve kedalam pelukannya.
"Sayang." Ucap Eve manja.
"Apa?" Tanya Stevan yang sudah memejamkan kedua matanya.
"Bagaimana, berapa banyak saham yang mendukung kita?" Tanya Eve.
Stevan membuka kedua matanya, "Ketua Kim mendukung kita dan beberapa pemegang saham yang lainnya." Jawab Stevan jujur.
"Apakah sudah mencapai 40%?" Tanya Eve.
"Belum, Ayah memiliki 60% saham dan masih ada 10% saham yang tidak diketahui pemiliknya." Jelas Stevan kepada Eve.
Eve langsung bangkit hingga posisinya kini duduk disamping Stevan.
"Bagaimana bisa?" Tanya Eve.
__ADS_1
Stevan hanya menggeleng sebagai jawaban jika dirinya juga tidak tahu.
...🐾🐾...