Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Play Game


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Kakek Kristoff dan Gabriel kini telah sampai di perusahaan, segera Gabriel berjalan keluar dengan Kakek Kristoff.


Keduanya berjalan masuk kedalam. perusahaan, banyak karyawan yang menyambut dengan melakukan bow seperti biasanya dan hanya dilewati begitu saja oleh keduanya.


Dengan menggunakan lift, kakek Kristoff dan Gabriel menuju ruangan CEO dimana kakek Kristoff biasanya bekerja hingga sore hari.


Denting lift menandakan jika telah sampai tujuan, pintu lift terbuka seiring terlihatnya seseorang didepan lift.


"Daniel." Panggil seorang wanita sexy dengan gembira.


Gabriel masih bergeming di tempatnya dengan menelisik wanita yang berada didepan pintu lift dari atas sampai bawah.


"Nona Kim, ada apa datang keperusahaan?" Tanya Kakek Kristoff sopan.


"Ah, Kakek. Maaf Minzy tidak tahu jika ada Kakek disini." Jawab Minzy tersenyum kaku.


Minzy adalah anak perempuan dari ketua Kim yang seumuran dengan Daniel maupun Gabriel, Minzy wanita yang mudah terobsesi dengan sesuatu dan harus mendapatkan dengan berbagai cara.


Seperti hari ini, setelah pertemuan Minzy dan Daniel di area golf. Membuat Minzy gencar mencul dihadapan Daniel lagi.


"Baiklah, Nona. Aku dan Daniel harus segera bekerja. Selamat menjalankan aktivitasmu." Ucap kakek Kristoff dengan tertawa pelan.


Kakek Kristoff berjalan keluar dengan diikuti Gabriel.


"Eh, Daniel."


Gabriel hanya diam dengan menatap dingin dan berwajah datar kearah Minzy.


"Bi---bisakah kita makan siang nanti?" Tanya Minzy gugup.


"Baik." Jawab Gabriel singkat dan langsung berlalu dari hadapan Minzy.


Minzy terpaku sedetik kemudian meloncat kegirangan karena berhasil mendekati Daniel. secara perlahan tanpa bantuan sang Ayah.


Minzy langsung masuk kedalam lift dengan senyum bahagianya, sedangkan Gabriel tersenyum dengan penuh arti.


Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas.


"Kek, El akan turun dulu untuk makan siang." Ucap Gabriel kepada Kakek Kristoff.


"Bawalah ini, taruh diatas gadis itu kita akan mulai mengumpulkan bukti dari kediaman ketua Kim." Jawab Kakek Kristoff dengan mengeluarkan microchip terbaru.


Gabriel langsung mengambil dan memasukkan kedalam sakunya, "Baik." Jawab Gabriel dan langsung berlalu dari hadapan sang Kakek.

__ADS_1


Dengan garis wajah tegasnya dan sorot mata yang tajam, Gabriel melangkah melewati lorong menuju lift untuk membawanya ke sebuah cafetaria di perusahaan.


Daniel melangkah keluar, sudah terlihat Minzy yang berlari kearah Gabriel.


"Aku kira kamu tidak akan datang, Daniel." Ucap Minzy dengan bergelayut manja ditangan Gabriel.


Gabriel menatapnya datar, ingin sekali mendorong gadis tersebut namun teringat tujuannya sehingga Gabriel membiarkan Minzy menyentuhnya.


"Hem." Jawab Gabriel.


"Ayo, aku sudah sangat lapar." Jawab Minzy dengan manja.


Gabriel dan Minzy berjalan melewati karyawan Kristoff dengan tangan Minzy melingkar ditengah Daniel.


Membuat para karyawan, yang mengatakan jika keduanya sangat cocok dan serasi.


Membuat Minzy semakin ponggah dan merasa dirinya sangat cantik, sedangkan Gabriel ingin menutup mulut para karyawan tersebut agar tidak lagi bersuara.


"Ingin pesan apa?" Tanya Minzy yang sudah duduk berhadapan dengan Gabriel.


"Terserah." Jawab Gabriel karena dirinya tidak tahu makanan Korea dan kegemaran Daniel.


"Baiklah, jika begitu kita pesan kimbab dan sup saja." Ucap Minzy.


Minzy segera memanggi karyawan yang berada distand makanan, dengan segera Minzy memesan makanan dan minuman yang sudah dia pilih untuk makan siangnya bersama Daniel hari ini.


Gabriel hanya menoleh menatap malas kearah Minzy yang sejak tadi banyak tersenyum.


"Apakah kamu sudah punya kekasih?" Tanya Minzy pelan.


"Belum." Jawab Gabriel cepat.


"Benarkah!" Ucap Minzy dengan mata dan wajah yang berbinar.


"Ya." Jawab Gabriel singkat.


"Jika begitu, bisakah kita menjalin sebuah hubungan?" Tanya Minzy dengan menatap wajah Gabriel dalam.


"Untuk apa?" Tanya Gabriel.


"Bukankah kita sangat cocok, kamu sebagai pewaris keluarga Kristoff dan aku pewaris keluarga Kim." Ucap Minzy membicarakan strata sosial.


"Aku bukan pewaris, kamu pasti tahu jika keluarga Kim mendukung Ayah dan Ibu Tiriku." Jawab Gabriel dengan wajah datarnya.


Minzy terdiam, memang benar apa yang diucapkan Daniel. Namun namanya Minzy tidak ada yang tidak bisa dia lakukan.

__ADS_1


"Aku akan berbicara dengan Ayah untuk membatalkannya." Ucap Minzy dengan yakin.


"Tidak perlu, aku tidak ingin membuatmu bermasalah dengan Ayah dan keluargamu." Tolak Gabriel dengan kalimat yang seakan perhatian dengan Minzy.


"Jangan tolak aku." Ucap Minzy dengan wajah memohon.


"Baiklah jika kamu memaksa, aku ingin sesuatu yang dapat meyakinkanku jika keluargamu tidak akan mendukung Ayahku." Kata Gabriel dengan mencondongkan tubuhnya hingga wajah keduanya hanya berjarak satu jengkah.


Minzy semakin terpesona bahkan kedua pipinya sudah merona dengan merah, para pegawai yang melihatnya menatap iri karena cucu atasannya sangat romantis.


Gabriel tersenyum tipis hingga tidak ada yang melihat.


"Ayahmu menyimpan sebuah dokumen yang dititipkan oleh Ibu Tiriku, dapatkah kamu mengambilnya?" Tanya Gabriel dengan suara pelan.


Kedua mata Minzy mengerjab cepat, dokumen. Sudah pasti jika surat dan benda berharga akan disimpan rapat-rapat oleh Ayahnya.


Gabriel menarik diri hingga menyenderkan tubuhnya di kursi, melihat wajah Minzy yang menjadi tidak percaya diri.


"Apa kamu tidak bisa?" Tanya Gabriel lagi.


"Eh, do---dokumen?" Beo Minzy terbata.


"Ya, jika tidak bisa lupakan saja." Jawab Gabriel tidak perlu berbasa-basi.


"Dokumen apa, aku pasti sulit untuk mendapatkannya. Karena Ayah selalu menyimpan barang berharga dengan sangat rapi dan ketat tanpa seorangpun tahu." Jelas Minzy jujur.


"Dokumen yang dapat mendukungku. Bukankah sama saja jika keluarga Kim mendukungku maupun Ayahku sendiri. Coba pikirkan, bagaimana bangganya Ayahmu jika memiliki anak yang pintar dalam mendukung. Aku sendiri juga tidak ingin memiliki wanita yang bodoh." Jawab Gabriel panjang dengan meracuni pikiran Minzy yang sudah terlanjur jatuh cinta dengan kembarannya.


Gabriel tertawa dalam hati, karena mengingat Sky yang bucin terhadap Putri hingga tidak menggunakan akal sehatnya. Dan Gabriel memanfaatkannya sekarang kepada Minzy.


Minzy terlihat menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Gabriel yang dikira Daniel olehnya.


"Baiklah aku akan membantumu, tapi jangan tolak aku." Ucap Minzy.


"Oke, aku membutuhkan dokumen-dokumennya secepat mungkin dan ini hadiah untukmu juga Ayahmu." Ucap Gabriel dengan mengeluarkan cincin juga patung Candi Borobudur didepan Minzy.


Minzy dengan cepat memgambil sebuah cincin yang bertahtakan berlian ditengah, "Apakah ini untukku?" Tanya Minzy dengan menatap Gabriel.


"Iya, jangan sampai hilang. Aku paling tidak suka orang yang ceroboh dan rencana kita jangan dikatakan kepada siapapun, aku harus memiliki orang yang dapat aku percaya." Ucap Gabriel dengan selesainya menyematkan cincin di hari Minzy.


Minzy terasa terhipnotis dengan tatapan Gabriel, hingga menganggukkan kepalanya cepat.


Gabriel memberikan senyuman terbaiknya meskipun terpaksa kepada Minzy.


"Lalu ini patung apa, Daniel? Aku baru melihatnya." Jawab Minzy penasaran.

__ADS_1


...🐾🐾...


__ADS_2