
Happy Reading πΉπΉ
"Ayah yakin tidak berangkat di pernikahan Kak Dave?" Tanya Rose dengan wajah bingung.
"Ayah akan datang namun terlambat, karena ada urusan dengan paman Suryo." Jawab Ayah Nugroho.
"Lalu, Rose datang sendiri?" Tanya Rose menunjuk dirinya.
"Iya mau tidak mau, nanti juga akan ketemu sahabatmu Putri di sana." Jawab Ayah Nugroho enteng.
Rose mengerucutkan biburnya, "Ya jika Putri berangkat, Ayah tidak tahu bagaimana suaminya Putri. Daun yang jatuh di kepalanya mungkin sudah tinggal butiran debu." Ucap Rose cemberut.
Ayah Nugroho tergelak karena jawaban putrinya, "Ya bagus bukan, berarti suaminya sangat menjaga istrinya. Tidak ingin istrinya terluka." Kata Ayah Nugroho dengan sisa tawanya.
Rose memutar bolanya malas, "Posesive itu namanya Ayah." Elak Rose.
"Tidak masalah dong posesive dengan orang yang kita cintai sendiri." Bela Ayah Nugroho.
"Sudahlah, Rose akan bersiap untuk pergi ke acara Kak Dave dan Kak Prilly. Siapa sih sebenarnya anak Ayah." Kata Rose kesal namun lucu di mata Ayah Nugroho.
Rose berjalan menjauh dari Ayah Nugroho meninggalkan pria tua itu sendiri di ruang keluarga, Ayah Nuhroho hanya terkekeh saja hingga Rose menghilang dari pandangannya.
Ayah Nugroho segera menelfon seseorang setelah Rose pergi dengan wajah dan suara yang datar.
π£οΈ Apa kamu siap?
π€ Siap.
π£οΈ Jemput pukul tujuh malam.
π€ Baik.
Ayah Nugroho segera mematikan sambungan telfonnya, terlihat senyum Ayah Nugroho berbeda hari ini.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, terlihat Rose sudah mengenakan gaun tanpa lengan berwarna rose gold. Dengan tatanan rambut yang sederhana di hiasi sebuah pita menjadi pointnya malam ini.
"Ayah, Rose berangkat dulu." Pamit Rose.
"Hati-hati nnti Ayah menyusul." Jawab Ayah Nugroho.
"Baik Ayah."
Rose segera berjalan keluar dari mansion, terlihat mobil hitam yang asing bagi Rose. Mungkin Ayahnya membeli mobil baru begitu pikir Rose.
Mang Asep membukakan pintu untuk majikannya yang sangat cantik malam ini.
"Silahkan masuk neng geulis." Goda Mang Asep.
"Makasih, Mang." Jawab Rose dengan tsrsenyum lebar.
Rose masuk dan duduk dengan tenang setelah merasa nyaman dengan gaunnya. Mang Asep segera berlari dan masuk di kursi pebgemudi.
"Jalan pak." Ucap seorang pria.
Deg
Jantung Rose kaget, dan menolehkan kepalanya ke arah pria yang sudah duduk di sebelahnya.
"Kamu!" Seru Rose.
Perjalanan menuju tempat acara memerlukan waktu kurang lebuh tiga puluh menit lamanya, selama itu pula Rose bercengkrama dengan seorang pria yang mengagetkan dirinya.
__ADS_1
"Nona, Tuan. Sudah sampai." Ucap Mang Asep.
Pria tersebut turun dengan gagahnya, wajahnya terlihat lebih tampan ribuan kali lipat malam ini. Dia membabtu Rose turun dari dalam mobil karena gaun Rose yang cukup panjang terlebih menggunakan hak tinggi.
"Terima kasih." Ucap Rose.
"Sama-sama, ayo kita masuk." Jawab pria tersebut dengan menggerakkan lengannya agar di gandeng oleh Rose.
Rose tersenyum dan menggandeng lengan pria yang menjemputnya, jika di pandang keduanya nampak seperti sepasang kekasih namun bukan. Rose menyodorkan kartu undangan agar mendapatkan akses masuk.
"Silahkan masuk Tuan dan Nona." Ucap penjaga.
Rose dan pria tersebut melangkah masuk mendapatkan atensi dari beberapa tamu yang berpapasan dengannya, tentu semua tahu jika Rose adalah mantan tunangan Dave.
Rose bertemu dengan Lila juga Rudy, dirinya mengajak pasangan malam ini untuk menemui orang tua Dave.
Terlihat Rose cipika cipiki dengan Lila juga Rudy mantan calon mertuanya, Rudy dan Lila menerima baik kehadiran Rose karena mereka sudah sangat bahagia ternyata Dave menemukan kebahagiaannya sendiri.
"Selamat malam Om, Tante." Ucap Rose.
"Malam Rose, kamu semakin cantik saja." Jawab Lila dengan tersenyum bahagia.
"Tante juga bertambah cantik." Ucap Rose.
"Ini siapa? Calon suaminya Rose ya?" Tanya Lila penasaran.
Sama halnya dengan Rudy, keduanya kepo dengan pria yang mendapingi Rose malam ini. Kenapa bukan Gabriel setahu keduanya Rose menjalani huhungan dengan anak angkat dari Agung dan Ambar.
"Saya patnernya untuk malam ini." Ucap pria itu jujur.
"Oh begitu." Jawab Rudy dan Lila berbarengan.
"Di mana Kak Dave?" Tanya Rose terlihat celingak celinguk mencari keberadaan calon pengantin.
"Jika begitu, Rose ke tempat Kak Dave dulu ya Tante, Om." Pamit Rose.
Rose dan pria tersebut bergandengan ke arah Dave, nampak Rose mengigit biburnya dalam agar tidak tertawa dan memasang wajah polos tanpa dosa.
Ketiganya mengobrol dengan asik, seakan mencecar Gabriel tentang ucapannya tersebut hingga tidak menyadari jika seseorang sudah masuk dan berjalan ke arah mereka.
Tuk
Tuk
Tuk
"Kak Dave. " Panggil suara yang terdengar mendayu itu.
Dave menoleh dan terlihat kaget dengan kedatangan Rose, bukan. Bukan itu yang membuat mereka kaget namun seseorang yang berdiri di sampingnya.
"Kamu!" Geram Gabriel.
"Selamat malam Tuan Dave, selamat untuk pernikahannya." Ucap Robby mengulurkan tangannya.
"Ah, iya terima kasih. Ayo duduk di sini." Jawab Dave yang masih kaget.
"Selamat Kak Dave, Rose bahagia karena kakak sudah menemukan sumber kebahagiaan Kakak." Ucap Rose dengan tersenyum lembut.
"Tentu, Kakak harap kamu juga bahagia bersama pasanganmu kelak." Jawab Dave tersenyum tulus.
Sedangkan Gabriel menatap tajam ke arah tangan yang melingkar di lengan Robby. Dengan sekali teguk Briel menghabiskan minumannya.
__ADS_1
Rose yang mecuri-curi pandangan ke arah gabriel mengigit pipi dalamnya agar tidak tertawa begitu juga Robby yang mencubit pahanya agar tidak tertawa.
"Sepertinya aku harus bersiap, nikmati pestanya ya." Ucap Dave dengan tersenyum ke semua.
Dave melangkah pergi dari arena peperangan dan mempersiapkan diri untuk mengucapkan janji suci di depan Tuhan bersama Prilly.
Para tamu undangan kini duduk di kursi yang sudah di sediakan, terlihat mereka berkumpul di meja dengan orang-orang yang mereka kenal. Begitu juga di meja Sky dan Putri.
Terlihat Robby memundurkan kursi untuk Rose agar gadis itu tidak kesusahan, "Terima kasih." Ucap Rose tersenyum lembut.
"Sama-sama." Jawab Robby.
Robby yang akan duduk di samping Rose tiba-tiba tubuhnya tergeser dengan kasar, ternyata Gabriel menyela keduanya dan langsung duduk di samping Rose hingga beberapa tamu melihat ke arah mereka.
Robby menghela nafasnya panjang dan duduk di samping Sky hingga berhadapan dengan Rose.
"Kamu harus menjelaskannya setelah ini." Bisik Briel di telinga Rose.
Nafas Briel menyapu bulu halus Rose hingga membuat tubuhnya meremang, ah sensasi itu. Membuat Rose tersipu malu karena mengingat kejadian hari itu.
Robby dan yang lainnya hanya menjadi penonton kedua pasangan yang berbeda ekspresi tersebut, hingga MC mengintrupsi jika acara telah di mulai.
Rose menghadap ke belakang guna melihat Prilyy berjalan di gandeng oleh ayahnya dan di terima oleh Dave di depan pendeta. Terlihat keduanya mengucaokan janji setia sehidup semati di depan Tuhan juga para tamu undangan dan di akhiri dengan ciuman setelah menyematkan cincin.
Kedua mata Rose memanas apakah dirinya sudah sanggup untuk meninggalkan sang ayah sendiri dan mengabdi untuk suaminya kelak.
Putri menyodorkan tisu di depan sahabatnya dan segera di terima oleh Rose, dirinya menyeka air mata dengan pelan namun semuanya percuma mengingat itu membuat air mata Rose semakin deras.
Gabriel yang di punggungi oleh kekasihnya memutar tubuh Rose pelan, terlihat hidung merah dan mata yang masih terdapat sisa air mata. Briel membawa tubuh kecil Rose ke dalam pelukannya.
Robby yang melihat Rose menangis segsra berdiri, dan melepaskan pelukan Gabriel dari tubuh kecil itu. Briel menatap tajam seakan menguliti Robby hidup-hidup.
"Maaf Tuan, anda memeluk tubuh tunangan saya." Ucap Robby dengan tenang.
Semua terperangah bahkan Rose sendiri juga kaget hingga melepaskan pelukan sang kekasih. Tunangan, sejak kapan.
"Kakak bicara apa sih, Rose tidak pernah merasa tunangan akhir-akhir ini." Jawab Rose marah.
"Maaf Rose, Kakak sudah melamarmu tanpa sepengetahuan siapapun." Ucap Robby dengan wajah tenangnya.
Briel langsung berdiri dengan kasar bahkan sudah mencengkram kerah Robby, terlihat wajah Briel sedang terliput emosi.
"Jaga ucapanmu! Rose hanya milikku dan betapa lancangnya kamu melamar Rose hah! Rose itu kekasihku!" Sentak Briel tanpa memperdulikan acara pernikahan Dave.
Robby memegang kedua tangan Briel dan membalas tatapan Gabriel, "Tuan, boleh jadi anda kekasihnya namun Rose sudah sah menjadi tunangan saya calon istri saya. Saya melamarnya langsung kepada Ayah Nugroho." Jawab Robby tegas.
Buk!
Aaaaa!
Gabriel memukul wajah Robby hingga tersungkur di kantai, para tamu undangan berteriak histeris karena kejadian yang tiba-tiba tersebut.
Terkihat keduanya bergulat seperti di arena tinju, Rose tidak dapat memisahkannya sedangkan Sky hanya melihat keduanya tanpa niat untuk memisahkan.
Dave yang melihatnya hanya mampu memijit pangkal hidungnya saja, merasa sangat frustasi dengan pria kaku itu jika sudah emosi tidak melihat tempat dan waktu.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" Tanya Prilly khawatir.
"Tidak sayang, maafkan pria kaku itu ya dia memang sangat menyebalkan." Ucap Dave merasa tak enak hati.
Prilly mengangguk dan menatap ke arah kejadian yang kini sudah kondusif karena kedatangan para orang tua, ya Gabriel dan Robby di pisahkan secara paksa oleh Ayah Nugroho, Agung, dan juga Kakek Kristoff.
__ADS_1
...πΎπΎ...