
Happy Reading 🌹🌹
Waktu telah berlalu, terlihat keluarga Krostoff semakin hangat dan rukun saat ini.
Demi menutupi keberadaan Gabriel, Kakek Krostoff memutuskan membeli satu lantai apartemen mewah hingga hanya Eve yang berada di mansion Kristoff.
Stevani menghukum ketiga pria yang ingin dia banting sebelumnya harus duduk dimeja makan dangan berjejer rapi seperti anak TK.
Tujuan Stevani mendekatkan ketiganya agar bisa menumbuhkan ikatan batin antara Ayah dan anak, berbeda halnya dengan Kristal yang hanya diam dan menurut dengan ucapan mantan Kakak Iparnya tersebut.
"Selamat makan." Ucap seluruh orang yang berada di meja makan.
Terdengar hanya dentingan sendok yang menemani sarapan hari ini, terlihat Stevan mencapitkan lauk secara bergantian diatas nasi kedua putranya.
Stevan tidak mengatakan apapun hanya tangannya yang bergerak, Daniel yang mendapatkan perhatian dari sang Ayah mengucapkan terima kasih berbeda dengan Gabriel yang hanya diam namun tetap memakannya.
Stevani dan yang lainnya bagaikan melihat fotocopy Stevan 100% dalam diri Gabriel.
"Wah, Kakak rasa kamu akan lelah Kristal." Ucap Stevani dengan memandang tidak percaya kearah tiga pria itu.
Kristal menolehkan kepalanya kearah Stevani, "Hem, kenapa Kak?" Tanya Kristal.
"Lihatlah , Daniel lebih banyak menuruni sifatmu sedangkan Gabriel 100% mirip adikku yang bodoh itu." Ucap Stevani dengan membuat wajah seakan prihatin.
"Aku tidak bodoh." Jawab Stevan menatap tajam sang Kakak.
Stevani bukannya takut malah melototkan matanya seakan kedua pandangan itu terdapat sedikit sengatan listrik.
"Hanya bodoh sekali." Jawab Gabriel tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Stevan hanya menghembuskan nafasnya kasar sedangkan Stevani terbahak karena sang keponakan yang membelanya.
"Aku tidak membela Tante, jangan kesenangan." Ucap Gabriel kembali.
Daniel yang sejak tadi diam menahan tawa akhirnya menyemburkan sedikit nasi dari mulutnya, sungguh mulut sang Kakak yang sangat kejam.
Stevani mendelik kesal dan ingin menggetok kepala Gabriel menggunakan sendoknya. Namunharus di urungkan karena Ayahnya angkat bicara.
"Robby sudah mengumpulkan para pemegang saham yang mendukung kita dan dengan saham 10% dari Gabriel kita dapat sedikit menyentil Ketua Kim hingga berada di posisi ketiga mengingat perusahaan Gandratama menanam saham lebih banyak darinya." Ucap Kakek Kristoff dengan mengelus dagunya pelan.
"Kapan kita akan melakukan pergantian CEO?" Tanya Stevani.
"Satu minggu mungkin, apakah terlalu cepat?" Tanya Kakek Kristoff.
"Tidak." Jawab Gabriel.
"Apakah yakin Kakek akan memberikan Mama Eve jabatan CEO, lalu---Ayah dan Kakak bagaimana?" Tanya Daniel yang memang kurang tahu informasi terbaru dari perkembangan masalah ini.
"Ayah tidak menginginkan jabatan itu, bisa untuk kalian saja." Jawab Stevan dengan suara tenang.
"Lalu bagaimana dengan Mama Eve?" Tanya Daniel.
"Dia tidak akan pernah bisa menggantikan pewaris Kristoff El, tenang saja." Jawab Stevani dengan menopang dagu sambil tersenyum.
Daniel yang melihat senyum Tantenya merasa seram sendiri, karena biasanya sang Tante lebih suka tertawa daripada tersenyum.
"Bagaimana dengan Nyonya Kim?" Tanya Kakek Kristoff.
"Mereka sudah mengalihkan seluruh harta dengan atas nama mereka sendiri, Ayah." Jawab Kristal halus.
Kakek Kristoff mengangguk, "Stevani, hubungiRobby untuk memberika Nyonya Kim dan Minzy pengawal bayangan untuk menghindarkan mereka dari kecelakaan." Perintah Kakek Kriatoff.
"Baiklah Ayah, lalu bagaimana dengan Kristal?" Tanya Stevani yang menoleh ke arah adik iparnya.
Senua orang yang ada dimeja itu memusatkan perhatiannya ke arah Kristal, berbeda dengan Gabriel dan Kakek Kristoff. Daniel dan Stevan tidak menahu tentang masalah ini.
"Ada apa dengan Mama?" Tanya Daniel.
__ADS_1
Terlihat ke empat orabg saling melirik karena bibgung bagaimana menyampaikannya kepada Daniel.
"Jawab Ayah, kenapa dengan Kristal." Ucap Stevan tagas.
"Stevan, bisakah kamu menjaga Daniel diapartemen saja." Ucap Kristal dengan menundukkan kepalanya.
Stevan dan Daniel menaikkan sebelah alisnya secara bersamaan kenapa harus saling menjaga. Gumam mereka dalam hati.
"Ada apa sebenarnya ini Ayah, kena---kenapa kalian menyembunyikan sesuatu dari kami berdua. Bukankah kita sekarang sudah menjadi keluarga yang utuh?" Ucap Stevan panjang lebar dengan wajah sendunya.
"Eve, wanita itu berencana menculik Mama." Jawab Gabriel setelah sekian lama diam.
"Karena surat yang ditemukan Tantemu?" Tanya Stevan.
Gabriel hanya mengangguk saja dan memakan nasinya yang masih ada didalam mangkuk kecil.
Stevan seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, hah bahkan Stevan tersenyum getir. Selama ini Stevan hanya memelihara manusia berhati iblis seperti Eve dan menelantarkan anak dan istrinya demi wanita itu.
Stevan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar pribadinya, semua yang berada dimeja hanya diam dengan pikiran masing-masing.
"Jangan marah dengan Ayah kalian, saat ini dia masih menenangkan dirinya. Pasti dia kaget karena baru mengetajuhui bagaimana jahatnya Eve setelah puluhan tahun. Berikan Ayah kalian ruang sendiri." Ucap Stevani pelan.
Tidak ada yang menanggapi ucapan Stevani, namun mereka mencoba mengerti dan mempososisikan jika berada di pihak Stevan.
Di sisi lain Eve dan Ketua Kim tengah mengumoulkan seluruh pemegang saham dengan cara menguncang mereka untuk berkumpul di salah satu hotel mewah dengan ruangan VVIP.
Terlihat dua puluh kursi diruangan itu sudah penuh, berarti kekuatan untuk menggulingkan pewaris Kristoff semakin besar terlihat Agung juga duduk disalah satu meja tersebut.
Ya, Agung belum kembali karena mendapatkan undangan secara mendadak dari Ketua Kim untuk mendukung Ketua Kim menjadi CEO.
Namun mata Agung menangkap jika Eve dan Ketua Kim akan saling menikam dibelakang, seperti halnya saat ini. Eve mengumpulkan nomor pribadi para pemegang saham dengan tujuan mengadakan pertemuan sendiri tanpa Ketua Kim.
Kini giliran Agung yang mengisinya, Agung tetap menuliskan nomor ponselnya untuk mengikuti permainan keduanya.
"Ada apa, Anda mengumpulkan kami semua disini Ketua Kim?" Tanya pemegang saham A.
Terdengar suara cukup gaduh diruangan, para pemegang saham terlihat berbicara dengan samping-samping mereka, bagaimanabm bisa Ketua Kim menjabat CEO jika saham yang dia tanam tidak sekuat Keluarga Kristoff pemiliknya.
"Harap tenang, kalian pasti khawatir karena saham Ketua Kim tidak sebanyak Keluarga Kristoff bukan? Kalian pasti tahu pemilik saham 10% yang tidak diketahui namanya tersebut, itu adalah saham milikku." Ucap Eve dengan mengangkat dagunya sombong.
Waa---wa---wa---wa (begitulah kiranya suara yang kembali terdengar)
Agung tertawa mendengar penuturan Eve hingga menghentikan suara riuh yang berada diruangan tersebut.
"Apakah benar seperti itu Nyonya---"
"Eve." Ucap pemilik saham B.
"Yah itu, apa ucapanmu dapat kami percaya. Karena setahuku Anda hanya menantu disana, apa mungkin keluarga Kristoff memberikan Anda saham sebanyak 10%? Bukankah itu terlalu banyak diberikan kepada orang asing." Agung bertanya namun terdapat sindiran didalamnya.
"Iya benar apa yang dikatakan Tuan Agung. Apa buktinya jika kamu memiliki saham 10% itu, bahkan sejak dulu pemilik saham itu tidak pernah diketahui identitasnya." Ucap pemilik saham C yang usianya jauh lebih tua dari Agung.
Eve yang mendapatkan pertanyaan tersebut membuat dirinya cukup terpojok.
"Tentu benar Tuan Agung, meskipun Saya hanya menantu di keluarga Kristoff namun Ibu mertua Saya begitu menyayangi Saya sebagai menantu. Beliau memberikan saham sebanyak 10% sebagai tanda cintanya untuk Saya." Jawab Eve dengan halus menekan gejolak amarahnya.
"Aku sungguh iri dengan Nyonya Kristoff, pasti hatinya sangat lapang sekali memberikan hadiah kepada menantunya saham sebanyak itu. Sepertinya aku harus meniru hal tersebut memberikan perusahaan Gandratama kepada menantuku yang akan melahirkan sebentar lagi mungkin." Ucap Agung dengan mengelus dagunya pelan.
Seluruh orang yang berada diruangan itu membelalakkan matanya, memberikan perusahaan secara cuma-cuma kepada menantunya. Wahh---apakah pengusaha itu sudah gila.
Eve tersenyum sinis mendengar jawaban dari Agung, sungguh menginjak harga dirinya.
"Aku rasa cukup bermain-main, jika kami mendukungmu apa yang akan kami dapatkan?" Tanya Agung dengan aura mengintimidasi.
Ketua Kim yang mendapatkan tatapan Agung sedikit merinding dan kaku, "Ekhm, keuntungan yang kami tawarkan adalah membuka lowongan pekerjaan bagi WNI di perusahaan kami dan juga kita akan membagi untung yang sebelumnya 70:30 menjadi 50:50 karena kami memahami Anda dan yang lain agar dapat mengembangkan perusahaan masing-masing. " Jelas Ketua Kim panjang lebar dengan wajah yang meyakinkan.
"Bagus, jika Anda tidak dapat memenuhinya beraoa pinalty yang Anda tawarkan?" Tanya Agung kembali.
__ADS_1
"Dua kali lipat dari pembagian saham tersebut." Jawab Ketua Kim cepat tanpa memikirkan ulang.
Eve yang mendengar jawaban Ayahnya mendelik kesal,bagaimana bisa dua kali lipat. Jika keuntungan satu pemegang saham 20M dalam waktu 1 bulan sudah berapa Triliyun yang harus mereka keluarkan.
"Setuju, aku ingin segera dibuatkan surat perjanjian saat ini juga." Jawab Agung dengan menjentikkan jarinya.
Para pemegang saham yang lain juga mengangguk setuju, itu adalah tawaran yang sangat menghiurkan dan menguntungkan bagi mereka.
Segera orang kepercayaan Ketua Kim berlari keluar untuk membuat surat perjanjian itu dan menyiapkan materai agar sah sesuai persyaratan MOU.
Tidak membutuhkan waktu lama surat langsung dibagikan kepada pemilik saham yang ada disana, terdengar suara goresan pena dengan suara beragam karena bentuk ujung pena yang berbeda-beda.
Orang kepercayaan Ketua Kim mengumpulkan seluruh surat perjanjian dan berlari keluar untuk memfotocopynya.
Bruk
Karena terlaku terburu-buru orang Ketua Kim menabrak seorang OB.
"Ah, maaf Tuan karena Anda berlari saya tidak sempat menghindar." Ucap sang OB
"Tidak apa-apa." Jawabnya cepat
Terlihat OB tersebut membantu memungut kertas-kertas yang berceceran dilantai, sejenak melihat surat tersebut namun langsung direbut oleh orang Ketua Kim.
Terlihat punggung orang Ketua Kim masuk kedalam lift, OB tersebut kembali mendorong troli untuk melanjutkan pekerjaannya.
Kini para pemegang saham membubarkan diri karena urusan mereka sudah selesai, terlihat Agung beranjak paling akhir karena tidak ingin berdesakan.
"Tuan Agung." Panggil Ketua Kim.
Agung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Ketua Kim, "Ya." Jawabnya.
"Terima kasih sudah mendukung Saya, Saya harap Tuan Agung dapat hadir di pemilihan CEO. mendatang." Ucap Ketua Kim dengan tersenyum lebar.
Agung hanya mengangguk, "Hubungi sekertaris Saya saja." Agung menyerahkan kartu nama kepada Ketua Kim dan berlalu tanpa menunggu jawaban dari Ketua Kim.
Ketua Kim menerima kartu nama tersebut, Eve langsung mengambil dan membaca kertas berwarna hitam metalic tersebut.
"Gabriel Gandratama." Gumam Eve pelan.
"Apa kamu kenal?" Tanya Ketua Kim.
"Eh, tidak Ayah. Hanya saja namanya sangat familiar." Jawab Eve dengan mengembalikan kartu nama tersebut.
Ketua Kim memasukkan kartu tersebut kedalam saku jasnya, "Bagaimana penculikan Kristal, jangan terlalu lama untuk mengeksekusinya." Tanya Ketua Kim.
"Eve sudah merencanakannya Ayah, tenang saja. Minggu ini Eve akan memjalankan rencananya."
"Bagus, kamu memang dapat diandalkan." Ucap Ketua Kim dengan menepuk bahu Eve dengan bangga.
Eve tersenyum lebar namun penuh dengan tipu muslihat.
... 🐾🐾...
Mama Kristal
Ayah Stevan
Tante Stevani
__ADS_1
Asisten Robby