
Happy Reading🌹🌹
"Pesawat akan lepas landas, dimohon para penumpang mengenakan sabuk pengaman."
Seorang pramugari yang baru saja memberikan pengumuman kepada para penumpang dengan suara merdunya.
Gabriel dan yang lainnya segera memasang sabuk, sesuai petunjuk sang pramugari.
Perlahan pesawat mulai bergerak lurus, hingga roda ujung pesawat terangkat. Membuat para penumpang merasakan tubuhnya terdorong kebelakang.
Gabriel menatap keluar jendela, hanya ada kegelapan dan kemerlap lampu landasan pacu pesawat terbang.
Kristal menggenggam tangan sang putra untuk menguatkan hatinya, meninggalkan cintanya bersanding dengan pria yang akan membuatnya bahagia.
Menempuh perjalanan berjam-jam hingga akhirnya pesawat telah sampai di bandara Internasional Incheon Korea.
Kakek Kristoff berjalan keluar dengan di ikuti Kristal dan Gabriel di belakangnya.
Sedangkan asisten Robby terlihat membentangkan bertuliskan.
I'm Here dengan tanda panah kearah bawah.
Kristal yang melihat Robby hanya tersenyum lebar melihat tingkah pria lajang didepannya.
Kakek Kristoff yang baru saja datang langsung menjitak kepala Robby.
"Jangan kekanakan." Ucap Kakek Kristoff.
"Maaf." Jawab Robby dengan melakukan bow.
"Sudah, ayo Ayah kita segera pulang." Ucap Kristal menengahi keduanya.
Robby dengan sigap mengambil troli koper yang tengah Gabriel bawa, dan segera berjalan sebagai penunjuk arah.
Gabriel berjalan paling belakang, mengikuti langkah ketiga orang yang berada didepannya. Matanya dengan liar melihat sekelilingnya.
Terdengar suara pintu mobil yang sudah di tutup, dengan perlahan Robby menjalankan roda empat tersebut menjauh dari bandara.
Kristal terlihat gugup hari ini, mengingat pesan mendiang Ibu Mertuanya membuat Kristal membayangkan bagaimana kejamnya orang-orang itu.
"Tenang saja, Mah." Ucap Gabriel dengan menggenggam tangan Kristal.
Kristal mengangguk meskipun tidak dapat menghilangkan perasaan takut dan kekhawatirannya.
"Tenang saja, Ayah sudah mengumpulkan orang-orang yang selama ini mendukung keluarga Kristoff." Timpal Kakek Kristoff.
Kristal sekali lagi hanya mengangguk dan menghirup nafas dalam untuk membuang pikiran negatifnya.
__ADS_1
Hingga mobil yang di tumpangi Gabriel perlahan melewati gerbang yang menjulang tinggi dan memasuki area mansion yang sangat luas.
Terlihat air mancur di tengah kolam berbentuk bundar yang besar, menjadi point keindahan taman depan.
Mobil berhenti tepat didepan pintu utama mansion, terlihat banyak pengawal yang menjaga mansion Kristoff.
Kakek Kristoff keluar dengan di ikuti Kristal dan Gabriel yang keluar dari kursi belakang.
Dengan sigap para pengawal memberikan bow dan mendekat untuk mengambil koper dibagasi belakang yang sudah dibukakan oleh asisten Robby.
"Berjalanlah disamping Kakek, El. Karena Daniel tidak pernah berjalan dibelakang." Ucap Kakek Kristoff memberitahu kebiasaan Daniel.
Gabriel menganggukkan kepalanya dan berjalan masuk beriringan dengan Kakek Kristoff, sedangkan Kristal dan Robby berada dibelakang mereka.
"Selamat datang, Ayah." Sapa Eve dengan melakukan bow.
Kakek Kristoff hanya mengangguk dan berlalu begitu saja dari hadapan Eve bersama Gabriel.
Sedangkan Kristal yang baru melewati Eve harus menghentikan langkahnya karena sebuah cekalan dari tangannya.
"Mau kemana kamu." Ucap Eve dengan ponggah.
Kristal hanya menatap datar kearah wanita yang berada didepannya, dengan kasar Kristal menyetak tangan Eve hingga melepaskan cekalannya.
"Apa urusanmu." Jawab Kristal dingin.
Gabriel yang mendengarkan dan ingin maju, ditahan oleh Kakek Kristoff.
"Cukup lihat saja, ketika tidak ada Mamamu. Baru kamu bertindak. Seperti itulah kebiasaan Daniel." Ucap Kakek Kristoff.
Gabriel harus menahan gejolak amarahnya, mengingat dirinya tengah menyamar sebagai Daniel bukan Gabriel.
"Tapi kamu lupa, aku adalah Ibu dari anak suamimu." Jawab Kristal tidak ingin kalah.
Eve mengepalkan tangannya, sialnya Kristal memakai kelemahannya yang tidak dapat memberikan pewaris bagi keluarga Kristoff.
"Sepertinya aku harus mengingatkanmu, aku tidak dapat memiliki anak karena ulahmu Kristal." Seru Eve dengan mata menajam.
Kristal mendekat dan mencondongkan tubuhnya hingga kepalanya berada di sisi Eve.
"Aku tahu, kamu sengaja jatuh saat itu. Aku memiliki buktinya tinggal kamu pilih, kamu diam dan bernafas atau aku akan memberitahukannya kepada Stevan." Bisik Kristal dengan tersenyum penuh arti.
Kedua mata Eve melebar bahkan bola matanya terlihat bergetar.
"Ba--- bagaimana bisa." Ucap Eve dalam hati.
Kristal menatap wajah pias Eve dengan senyum puas, segera Kristal meneruskan jalannya menuju kamar tanpa berkata apapun kepada Eve lagi.
__ADS_1
Kakek Kristoff dan Robby sangat senang, ternyata Kristal dapat melawan Eve dengan kemenangan telak hari ini.
Sesampainya di kamar, Kristal segera duduk disofa dengan memegang dadanya yang berdebar dengan hebat.
"Mama." Panggil Gabriel.
Kristal menoleh dengan kaget, dan membuang nafasnya lega teryata Gabriel.
"Ada apa, sayang. Apa kamu lapar?" Tanya Kristal lembut dengan menggeser duduknya.
"Tidak." Jawab Gabriel singkat.
"Lalu, ada apa El?" Tanya Kristal.
"Kemana pria itu, emmm Ayah." Jawab Gabriel dengan membuang pandangannya ke Semarang arah.
"Kamu penasaran dengan rupa Ayahmu, El?" Tanya Kristal dengan mengelus pundak Gabriel pelan.
Gabriel hanya berdehem, dirinya sangat gengsi jika mengatakan iya. Meskipun sebenarnya sangat ingin tahu rupa sang Ayah karena sejak kecil hanya wajah sang Ibu yang ada di ingatannya.
Kristal tersenyum tipis, ada kesedihan dan kegetiran. Dirinya merasa sangat bersalah kepada Gabriel maupun Stevan.
Itu semua karena perbuatan Stevan sendiri yang menginginkan anaknya untuk diberikan kepada Eve.
Namun setelah mengetahui fakta dari mendiang Ibu Mertuanya, membuat Kristal merasa semakin bersalah kepada Stevan. Bukan lagi kebencian namun rasa kasihan kepada pria yang sempat menjadi pendampingnya.
"Sebentar lagi mungkin akan pulang, Ayahmu termasuk orang yang gila kerja." Ucap Kristal pelan.
Gabriel hanya menganggukkan kepalanya saja, dan kembali kekamar Daniel untuk beristirahat.
Menempuh perjalanan yang sangat panjang dan jauh, membuat tubuh Gabriel merasa kaku. Sudah lama dirinya tidak dinas keluar negri bersama Sky semenjak Putri ketahuan hamil.
Gabriel merebahkan tubuh tinggi dan kekarnya diatas kadung king size milik Daniel.
Terlihat, Daniel begitu menyukai warna putih dan kamar yang tidak terlalu banyak pernak-pernik. Berbading terbalik dengan Gabriel yang lebih menyukai warna hitam dan mengoleksi buku tebal tentang bisnis.
"Apakah begini rasanya tinggal bersama keluarga kandung, sebentar lagi akan bertemu peria yang disebut Ayah." Gumam Gabriel pelan.
Senyum tipis muncul di bibir Gabriel yang biasanya irit bicara dan tajam ketika berucap.
Perlahan kedua kelopak mata Gabriel terpejam, mengistirahatkan tubuhnya dan memulai rencananya esok hari bersama Kakek dan yang lainnya.
Berharap Daniel yang tengah bersama Mama Ambar segera bisa sembuh, dan bisa berkumpul dengannya.
Cukup hidup bertiga atau berempat, tidak masalah untuk Gabriel. Terpenting dapat bersama dengan keluarga kandungnya.
...🐾🐾...
__ADS_1