
Happy Reading πΉπΉ
Waktu terus berjalan, Minzy dan Nyonya Kim tetap menjalani kedupan mereka berdua tanpa Ketua Kim yang hanya tinggal abu dan arang bercampur dengan reruntuhan bangunan gudang tua. Sama halnya dengan Eve yang memang sudah meninggal selama di perjalanan menuju Rumah Sakit dan di makamkan di makan keluarga Kristoff karena mengingat Eve tidak memiliki keluarga.
Telihat Stevan dan Daniel tengah bersiap masuk di ruang operasi dengan di antar oleh Kristal dan yang lainnya kecuali Gabriel.
Selepas kejadian tersebut, Gabriel menenenggelamkan dirinya dalam tumpukan pekerjaan. Menyebar seluruh anak buah keluarga Kristoff untuk mencari keberadaan Rose.
Beberapa hari lalu Gabriel kembali ke Indonesia, untuk menengok anak dari Sky juga Putri sembari mencari keberadaan kekasihnya. Namun nihil tidak ada Rose di negara itu bahkan Gabriel menunggu dua hari lamanya di depan kediaman Amanda.
Hanya melihat sopir keluarga Amanda yaitu Mang Asep dan juga pembantunya Bi Asih, yang terlihat beberapa kali keluar untuk membuang sampah ataupun sekedar mengobrol di pos satpam.
Gabriel hanya menatap sendu ke arah mansion mewah yang ada di hadapannya, dirinya kembali memutuskan kembali ke Korea hingga Stevan maupun Daniel mampu memimpin perusahaan Kristoff dan Gabriel akan fokus mencari keberadaan Rose dengan bantuan dua keluarga besarnya.
Terlihat Gabriel tengah serius dalam mendengarkan persentasi setiap devisi, terlihat para karyawan lebih baik menatap layar persentasi daripada wajah Gabriel yang dingin itu.
Hingga getaran ponsel Gabriel membuat pria dingin itu dengan malas membuka ponselnya, karena getaran di ponsel Gabriel terus membuatnya terganggu.
Terdengar decakan dari bibir Gabriel hingga menghentikan karyawan yang tengah persentasi.
Gluk
Karyawan tersebut menelan ludahnya susah payah, bahkan tangannya sudah menyeka keringat yang bermunculan di pelipisnya begitu juga karyawan yang lain ikut tegang karena mendengar decakan dari Gabriel.
Robby yang melihat para karyawan tegang habya mampu menghela nafas, seakan oksigen di ruangan itu menipis karena Gabriel masih diam dengan menatap layar ponselnya.
Terlihat pesan dari nomor asing, mengirimi Gabriel sebuah video seorang wanita yang tengah melakukan terapi. Gabriel masih menyerengitkan dahinya karena tidak mengenal siapa gerangan dalam video tersebut hingga suara orang itu memanggin nama yang selama inindia rindukan.
π£οΈ Rose, lihat ke kamera.
Deg
Jantung Gabriel merasa berhenti berdetak, terlihat Rose tersenyum ke arah kamera dengan wajah yang pucat dan berlatih berjalan dengan dua orang terapis.
Briel langsung berdiri dari duduknya, membuat semua karyawan menegakkan duduknya. Tanpa berkata apapun Gabriel segera berlari keluar dengan menekan tombol telfon pada nomor asung itu.
π€ Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, silahkan coba--
Gabriel terlihat mengguyar rambutnya ke belakang, dirinya terus mencoba menghubungi nomor tersebut. Namun nihil, nomor asing itu tetap tidak aktif.
__ADS_1
"Argh!" Gabriel melempar vas bunga yang ada di meja kerjanya.
Terdengar benda jatuh begitu keras dengan kaca yang berserakan di mana-mana, nafas Gabriel terdengar memburu.
Robby yang telah membubarkan rapat devisi hari ini segera menyusul Gabriel, terlihat Gabriel sudah duduk di sofa dengan kepala menengadah menatao langit-langit ruang kantornya.
"Ada apa, El?" Tanya Robby memposisikan dirinya sebagai kakak.
"Rose ketemu, kak." Ucap Gabriel dengan lelehan air mata.
"Benarkah? Di mana?" Tanya Robby dengan wajah yang bahagia.
Gabriel menggelengkan kepalanya lemah, "Tidak tahu, ada seseorang yang mengirimkan aku video." Jawab Gabriel jujur.
Robby reflek mengambil ponsel Gabriel yang tergeletak di atas meja dan membuka pesan, Robby menemukan nomor tanpa nama di kontak Gabriel segera Robby membuka dan menutar video tersebut.
"Jadi, Rose sudah menjalankan terapinya." Ucap Robby pelan.
Gabriel menoleh ke arah Robby dengan pandangan yang rumit, "Apa maksud kakak, apa yang kakak ketahui. Jawab Gabriel dengan jujur!" Tergas Gabriel kepada Robby.
Robby menghembuskan nafasnya pelan, mungkin ini saatnya berkata jujur kepada Gabriel karena dari pihak Rose sudah membuka kode untuk Gabriel.
"Jadi, orangtua Rose meminta bantuan Kakak untuk meminjamkan pesawat pribadi mengantarkan Rose pergi ke Indonesia untuk meneruskan pengobatannya." Lanjut Robby.
Bagaikan di hantam godam dengan keras, hati Gabriel sungguh sakit dan nyeri yang di rasakannya saat ini. Kekasihnya tengah berjuang seorang diri entah di mana yang jelas bukan di Indonesia karena Gabriel sudah mencarinya ke penjuru negri itu.
"Tapi, Rose tidak ada di Indonesia. Kakak tahu sendiri sudah dua minggu lamanya Gabriel mencari jejak Rose namun tidak ada bahkan di kediaman keluarga Amanda juga sepi." Jawab Gabriel dengan tersenyum getir.
Robby menepuk pundak Gabriel penuh kasih sayang, "Kita tunggu saja hingga Rose kembali, saat ini dirinya tengah berjuang untuk kembali pulih. Jadi kamu harus sabar menantinya kembali." Ucap Robby panjang lebar.
"Tapi, aku ingin berada di sampingnya di saat seperti ini kak. Aku merasa tidak berguna." Kata Gabriel lirih.
Terlihat Gabriel sangat rapuh karena rindu yang menumpuk didalam hatinya, terlebih melihat kekasihnya yang tengah berjuang seorang diri tanpa dirinya semakin membuat Gabriel tidak berguna sebagai pria.
"Rose hanya membutuhkan waktu sendiri, posisikan dirimu di posisi Rose. Dia pasti juga tidak ingin menjadi beban untukmu lihatlah nyatanya Rose berjuang agar dapat kembali bersamamu." Ucap Robby dengan pelan.
"Sampai kapan?" Tanya Gabriel sedih.
"Hingga waktunya tepat." Jawab Robby serius.
__ADS_1
Gabriel mengambil ponselnya dari tangan Robby, jemarinya membuka kembali pesan dari nomor asing itu terlihat beberapa video dan juga foto-foto Rose yang entah sejak kapan gadis pendek itu mengambilnya.
Terbit senyum Gabriel meski tipis namun hatinya terlalu terkoyak dengan ini semua, membuat kedua matanya kembali memanas dan menitikan air mata.
"Aku akan menunggumu sampai kapanpun sayang." Gumam Gabriel dengan mengelus foto Rose.
"Ayo kita ke Rumah Sakit, mungkin saat ini operasi Daniel dan Tuan Stevan masih berlangsung." Ajak Robby kepada Gabriel.
Gabriel menghapus air matanya dengan kasar, "Apakah pekerjaan sudah selesai?" Tanya Gabriel dengan suara parau.
"Sudah, hari ini hanya rapat tiao devisi saja. Kita sudah bisa pergi ke Rumah Sakit." Jawab Robby dengan tenang.
Gabriel mengangguk dan memasukkan ponselnya ke dalam jas, keduanya keluar dari dalam ruangan CEO. Robby memerintahkan sekertaris untuk memanggil OB membersihkan ruangan Gabriel.
Sedangkan di negara Amerika, terlihat Rose masih terus berlatih agar segera sembuh. Dirinya sudah amat sangat merindukan Gabriel.
"Istirahat dulu, Rose." Ucap Ayah Nugroho.
Rose menoleh ke belakang terlihat ayahnya datang dengan membawa satu kotak kue di tangannya, "Iya ayah, Rose hanya pemanasan saja." Jawab Rose dengan tersenyum.
"Baiklah, tapi jangan memaksakan diri." Jawab Ayah Nugroho.
Rose mengangguk, "Ayah membawakan apa?" Tanya Rose dengan mata berbinar.
"Chesecake untukmu." Ucap Ayah Nugroho dengan menaikkan kotak kue di tangan kanannya.
"Yeay! Terima kasih ayah." Rose memekik riang.
"Ya ya, duduklah dengan benar." Ucap Ayah Nugroho.
Rose mengangguk dan mengangkat kedua kakinya di atas brangkar dan menaikkan meja yang menjadi satu dengan tenpat tidurnya.
Ayah Nugroho meletakkan satu slice kue di depan Rose, dengan wajah bahagia Rose memakan kue miliknya.
Ayah Nugroho yang melihat senyum putrinya membuat hatinya menjadi haru karena kini Putrinya dapat tersenyum setelah Ayah Nugroho memperlihatkan bagaimana Gabriel memimpin perusahaan Kristoff.
Ya, selama ini Suryo bertukar pesan dengan Robby di belakang Rose juga Gabriel. Saling memberikan foto dan video kegiatan dua insan yang tengah terpisah dengan jarak puluhan mil, namun Robby memang tidak pernah tahu dimana Rose berada dan Robby juga tidak ingin mencari tahu.
...πΎπΎ...
__ADS_1