Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Kejujuran Kristal Kepada Daniel


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Terlihat tiga langkah kaki memasuki perusahaan besar di Korea.


"Robby, apa jadwalnya hari ini?" Tanya Kakek Kristoff.


"Hari ini hanya melakukan meeting dengan setiap departemen, dan lusa kita ada pertemuan dengan perusahaan di Indonesia." Jawab Robby menjelaskan schedule kepada atasannya.


"Indonesia? perusahaan apa itu?" Tanya Kakek Kristoff yang berhenti berjalan dan menoleh ke arah Robby.


"Perusahaan tersebut salah satu perusahaan terbesar di negara itu yang bergerak di bidang properti yang biasanya menangani tender besar." Jelas Robby kepada atasannya.


Kakek Kristoff menganggukkan kepalanya pelan, "Apakah mereka ingin menanamkan investasi di perusahaan kita?" Tanya Kakek Kristoff lagi.


"Sepertinya begitu, jika langsung menggandeng perusahaan ini bukankah akan mengurangi pengeluaran dalam pembelian besi dan baja, Tuan." Jawab asisten Robby.


"Benar, aku sangat penasaran. Pasti yang memimpin perusahaan sangat Cerdas tidak melewati peluang kecil." Kata Kakek Kristoff yang kembali berjalan.


Sedangkan Daniel hanya diam, mendengar negara Indonesia membuat Daniel merindukan Mamanya.


Apakah Mamanya sudah menemukan saudara kembarnya, bisa dibilang adalah Kakaknya.


Sudah cukup kepergian Kristal, Daniel akan memastikannua sendiri kali ini. Jika memang tidak dapat menemukan saudaranya, Kristal harus segera kembali ke Korea.


Mengingat percakapan terakhir sebelum melepaskan Mamanya pergi untuk mencari saudara kembarnya.


"Apa Mama pernah bercanda tentang hal yang serius El?" Tanya Kristal dengan menatap lekat wajah Daniel.


Tawa Daniel mulai surut berganti dengan wajah yang entah sulit di artikan.


"Jadi, benar El memiliki saudara kandung. Bahkan kita kembar?" Tanya El dengan wajah serius.


"Benar." Jawab Kristal singkat.


"Lalu, kenapa Mama baru memberitahuku? Kemana sekarang dia, Mah?" Tanya Daniel dengan perasaan menggebu.


Terlihat dada Daniel naik turun dengan cepat, perasaan bahagia membuncah karena dirinya memiliki saudara. Tapi dadanya sakit, jika selama ini Mamanya menyimpan rahasia sebesar ini dari keluarganya.


Kristal menggeleng pelan, tubuhnya sudah bergetar karena menangis.


"Mama tidak tahu, El... Mama tidak tahu." Ucap Kristal di tengah tangisannya.


"Apa maksud Mama tidak tahu? Hah." Kata Daniel heran.


"Ma... Mama, Mama dulu meninggalkan dirinya sendiri El." Jawab Kristal tersendat dan tangisnya semakin pecah.


Daniel terperangah, bahkan air matanya sudah menetes. Bagaimana bisa Mamanya yang seperti malaikat tega melakukan hal tersebut.


"Kenapa, Mah. Kenapa Mama tega memisahkan kami." Ucap Daniel dengan lirih.

__ADS_1


"Mama saat itu tidak memiliki pemilihan, El. Mama harus memilih." Kata Keistal yang menatap Daniel dengan berlinang air mata.


"Apa ini karena, Daniel?" Ucap Daniel lirih.


"Tidak, El... tidak, bukan karena kamu sayang." Jawab Kristal cepat.


Daniel berdiri, menghindari Kristal yang ingin memeluknya.


"Benar, ini karena Danielkan Mah. Ini semua karena Daniel yang selalu sakit sehingga membuat Mama meninggalkan saudara kembar El." Seru Daniel histeris.


"Tidak, El. Tidak! Bukan karena kamu sayang... hiks... hiks." Jawab Kristal cepat.


"Seharusnya, biarkan Daniel mati Mah. Biarkan El mati!!!!" Seru Daniel semakin tidak terkontrol.


Kristal berdiri dan memeluk erat tubuh putranya, meskipun tubuh Daniel lebih besar daripada Kristal.


"Bukan, sayang... bukan. Mama yang tidak memiliki keberanian saat itu, Mama yang salah El... Mama yang salah." Ucap Kristal yang menangis di pelukan Daniel.


Daniel menangis terlihat tubuhnya bergetar dengan hebat, "Kenapa Mah, seharusnya Mama membawa El pergi dari sini." Kata Daniel dengan suara lirih.


"Maafkan Mamamu ini El, Mama hanya wanita miskin yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan keluarga Kristoff." Ucap Kristal.


Terlihat keduanya saling diam dalam pelukan, hanya suara tangis penyesalan nan menyayat hati dari keduanya.


"Lalu, apa yang akan Mama lakukan dengan gadis asing itu?" Tanya Daniel yang masih memeluk tubuh Kristal.


"El, ijinkan Mama mencari Kakakmu. Mama melihat, teman Rose sangat mirip denganmu." Kristal meminta ijin kepada Daniel.


"Kakak?" Beo Daniel.


Kristal menggangguk, "Iya, kamu lahir selang lima menit setelahnya." Jawab Kristal dengan menghapus jejak air mata Daniel.


"Jadi, El harus memanggilnya Kakak?" Tanya El dengan wajah cemberut.


"Tentu saja, kenapa?" Jawab Kristal heran.


"Bisakah, El saja yang menjadi Kakak. Mama tidak perlu bilang jika dia lahir lebih dulu daripada El." Ucap El memberikan ide untuk Kristal.


Kristal tersenyum tipis, "Apakah, El mengijinkan Mama?" Tanya Kristal kembali.


"Berapa lama?" Tanya Daniel.


"Dua bulan, bagaimana?" Ucap Kristal.


"Kenapa lama sekali, bukankah Mama sudah melihat teman Rose yang mirip Daniel. Langsung saja lakukan tes DNA." Jawab Daniel memberika solusi tercepat.


"Tes DNA harus menggunakan rambut atau darah, El. Bagaimana bisa Mama mengambil sampel dari Papamu?" Tanya Kristal berubah menjadi sendu.


"Tenang saja, El yang akan mengambilkannya Mah." Ucap Daniel yakin.

__ADS_1


"Bagaimana caranya?" Kata Kristal.


Daniel segera berjalan menuju mejanya, terdapat gunting berukuran sedang di sana. Tanpa pikir panjang langsung saja Daniel memotonh rambutnya sendiri.


"Apakah segini cukup, Mah?" Tanya Daniel memperlihatkan rambutnya yang cukup banyak di tangannya.


"Ap... apa yang kamu lakukan El." Ucap Kristal lirih karena terlalu shock.


Daniel mendekat ke arah Kristal dan mengambil tangan sebelah Kristal.


"Ini rambut El, gunakan sebaik mungkin untuk mencari saudara El." Ucap Daniel.


Air mata Kristal kembali lolos, Kristao berfikir jika Daniel akan menolak keberadaan saudara kembarnya bahkan mungkin membenci Kristal.


"Terima kasih, El." Ucap Kristal yang sudah memeluk tubuh Daniel.


"Sudah, jangan menangis Ma. Sekarang El akan keluar dan memangkas rambut pria tua itu." Ucap Daniel yang bahkan tidak sudi menyebut nama Stevan.


Kristal menganggukkan kepalanya cepat, Daniel segera mengantongi gunting yang dia gunakan n tadi.


Sedangkan Kristal segera ikut keluar menuju dapur untuk mengambil plastik bersih guna menyimpan rambut mereka bertiga nanti.


Eve yang melihat Daniel dan Kristal tergesa-gesa untuk turun sangat penasaran, kakinya melangkah mengikuti Kristal.


"Mau kemana, Tante?" Tanya Rose memegang lengan Eve.


Eve mendelik kesal dan dengan kasar menyentak tangan kecil milik Rose.


"Pergi kamu dari sini, dasar gadis tidak ada sopan santun." Ucap Eve sombong.


"Rose disinikan tamunya Daniel, kenapa Tante yang mengusir?" Jawab Rose tanpa dosa.


"Ini rumahku, aku Nyonya di keluarga ini. Meskipun kamu tamu Daniel, aku berhak mengusirmu." Ucap Eve menggebu.


"Benarkah? Memang begitu kek?" Tanya Rose kepada Kakek Kristoff yang berada dibelakang Eve.


Eve melebarkan kedua matanya, Kek. Eve sudah tahun yang dimaksud oleh gadis pendek didepannya adalah mertuanya.


"Mungkin dia masih bermimpi." Jawab Kakek Kristoff singkat dan berlalu meninggalkan keduanya.


"Tuh, Tante lebih baik bangun dulu dari mimpi. Tapi jangan dulu, bertemu Rose di mimpi Tante ini suatu keajaiban bukan." Ucap Rose menimpali.


Eve mengepalkan tangannya kesal, dan segera kembali masuk kedalam kamarnya. Hingga suara pintu dibanting dengan keras.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


"Tante, mimpi yang indah ya!!!" Seru Rose di luar kamar dengan cekikikan.


__ADS_2