
Happy Reading 🌹🌹
"Tante, kenapa tidak masuk?" Tanya Rose yang berjalan ke arahnkamar Minzy dengan seorang MUA.
Nyonya Kim kaget dan langsung menghapus air matanya dengan cepat, "Sttt, jangan bilang jika aku di sini sejak tadi. Ayo masuk." Jawab Nyonya Kim.
Rose hanya mengangguk saja dengan lengan yang dipegang oleh Nyonya Kim.
"Sayang, apakah kamu sudah siap?" Tanya Nyonya Kim yang mengagetkan Minzy dan Stevan.
"Eh, Mama. Sudah." Jawab Minzy.
Nyonya Kim berjalan ke samping Stevan, "Jangan menangis, Mama tahu kamu sangat bahagia tapi menangisnya di tunda dulu." Ucap Nyonya Kim tersenyum.
Stevan menyingkir karena MUA akan memperbaiki riasan Minzy. Rose menatap keduanya dengan pandangan yang sulit di artikan.
Nasib Minzy dan dirinya sama, dihari pernikahan hanya memiliki satu orangtua saja. Rose dengan ayahnya sedangkan Miinzy dengan ibunya.
Terbesit ide gila di otak Rose saat ini, "Tante, tante mau jadi mamaku?" Tanya Rose yang membuat semua orang menghentikan gerakannya.
"Tante mau tidak jadi mamaku? Nanti biar Ayah datang melamar tante. Kalian sama-sama sendiri dan tidak memiliki pacar bukan." Ucap Rose lagi.
Nyonya Kim terbatuk-batuk mendengar ucapan Rose, "Ap-apa maksudmu Rose?" Tanya Nyonya Kim.
"Ya tante dan ayah menikah dan hidup berdua jadi tidak kesepian karena Rose dan Minzy akan ikut suami." Jawab Rose enteng.
Tak!
Stevan menyentil dahi menantunya tersebut, karena membuat orang tua merasa malu sendiri mendengar ucapan dan jawaban yang kekuar dari bibir mungil itu.
"Kenapa ayah menyentilku!" Sungut Rose.
"Kamu jangan berbicara sembarangan Rose, lebih baik kamu turun saja ke balroom." Jawab Stevan tegas.
Rose menghentakkan satu kakinya, "Rose doakan Mama Kristal mendapatkan oppa-oppa seperti yang ada di televisi." Dengus Rose dengan keluar dari kamar Minzy dengan raut wajah cemberut.
Stevan yang mendengarkannya membelalakkan kedua matanya kaget, astaga dirinya harus sabar dengan menantunya tersebut.
Minzy dan MUA yang melihat perdebatan tersebut mengulum senyum, bagaimana bisa karena ocehan gadis muda bisa membuat dua orang dewasa berwajah pias.
Rose berjalan menuju lift yang akan membawanya ke balroom dengan wajah cemberut, bertepatan dengan sang suami yang datang menghampirinya bersama Daniel.
"Sayang." Panggil Briel dengan manja.
Rose hanya diam dan langsung masuk ke dalam lift setelah pintu terbuka, Briel dan Daniel hanya saling menatap masuk ke dalam lift mengikuti Rose.
Hanya keheningan tercipta di dalam lift. Rose mendiamkan kedua pria kembar itu tanpa sebab dan akibat.
Hingga lift kembali terbuka karena telah sampai di lantai, dimana balroom acara Daniel akan di gelar.
Grep!
Briel mencekal pergelangan tangan Rose sedangkan Daniel meninggalkan mereka, karena Daniel tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga saudaranya jika tidak dibutuhkan.
Briel membalik tubuh istri pendeknya dan menangkup kedua pipi istrinya. Terlihat mata yang memerah dan berkaca-kaca siap menumpahkan air mata.
"Siapa yang membuatmu menangis, hem?" Tanya Briel dengan sorot mata tajam.
"Hiks, sayang." Akhirnya tangis Rose pecah.
__ADS_1
Briek memeluk istrinya yang terisak dalam dekapannya, "Siapa yang menjahatimu." Tanya Briel lagi.
Rose hanya diam dan menangis dalam dekapan suaminya, entah kenapa hatinya merasa sangat sedih dan ingin menangis. Padahal jika di pikir tidak ada kejadian yang membuatnya sedih hari ini.
...***...
Di balroom hotel, semua tamu undangan sudah duduk di kursi mereka masing-masing. Terlihat keluarga besar Kristoff dan Kim juga berbaur dengan para tamu.
Kedua keluarga menggunakan pakaian adat Korea Selatan yaitu Hanbok.
Hanbok adalah pakaian tradisional masyarakat Korea yang terinspirasi dari Hanfu, pakaian tradisional Cina kuno. Hanbok pada umumnya memiliki warna yang cerah, dengan garis yang sederhana serta tidak memiliki saku. Walaupun secara harfiah berarti "pakaian orang Korea", hanbok pada saat ini mengacu pada "pakaian gaya Dinasti Joseon" yang biasa dipakai secara formal atau semi-formal dalam perayaan atau festival tradisional.
Daniel berjalan maju menuju panggung setelah MC mempersilahkan mempelai pria, terlihat wajah gugup Daniel di atas panggung.
"Sttt, Daniel sama sepertimu saat menikahiku dulu." Rose berbisik di telinga suaminya dengan di akhiri tertawa pelan.
"Baru satu minggu sayang." Jawab Briel meralat ucapan Rose.
"Iya satu minggu termasuk dulu karena waktunya sudah berlalu." Ucap Rose sengit tidak ingin salah.
"Baiklah, terserahmu saja sayang." Gabriel lebih baik mengalah kepada istrinya.
"Kamu tidak iklaskan." Ucap Rose mulai drama.
Briel meraup wajahnya frustasi, entah kenapa hari ini dengan mood sang istri. Tiba-tiba menangis lalu sekarang marah, tidak mungkin hamil secepat itu bukan.
"Iklas sayang, benar apa yang kamu katakan jika hari yag sudah berlalu itu dulu." Jawab Gabriel menekan suaranya.
"Sudahlah, jangn dekat-dekat denganku." Putus Rose.
Briel terbengong, kenapa? Dirinya salah apa? Ya Tuhan, kenapa engkau ciptakan makluk paling indah di muka bumi ini dengan dikap yang sulit di mengerti. Jerit Gabriel dalam hatinya.
Kini para tamu kembali duduk dan menyantap hidangan yang sudah di sajikan oleh para pelayan sekaligus menunggu untuk maju berfoto dengan pengantin.
"Sayang."
Gabriel kehilangan Rose yang duduk disampingnya, Briel panik dan langsung mencari keberadaan istrinya. Di edarkannya oandangan Briel di meja kekuarga dan para tamu tidak ada istrinya.
"Kamu mencari siapa, El?" Tanya Stevani yang duduk di kursi bersama suaminya.
"Mencari istriku, Tante melihatnya tidak." Jawab Briel cepat.
"Tidak, mungkin dia di kamar mandi." Ucap Stevani.
Gabriel langsung berjalab cepat meninggalkan balroom menuju kamar mandi, "Si*al, kamar mandi di hotel ini sangat banyak sekali." Umpat Gabriel.
Gabriel menutuskan pergi ke ruangan CCTV guna mencari dimana sang istri pergi, agar tidak memakan banyak waktu.
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" Tanya pegawai dengan sopan.
"Dimana ruang CCTV." Jawab Briel dingin.
"Ada keperluan apa Tuan, karena tidak sembarang orang dapat masuk ke ruang keamanan." Ucap pegawai tersebut.
"Mencari istriku." Ucap Briel.
"Bisa tuliskan saja ciri-cirinya atau foto istri anda saja Tuan. Akan saya serahkan keoada petugas yang berada didalam Tuan." Kata pegawai yang mematuhi prosedur.
Briel frustasi, segera Briel menyerahkan foto Rose kepada pegawai. Terlihat pegawai yang akan memasuki ruang CCTV secepat kilat Briel juga ikut masuk.
__ADS_1
Blam
"Apa yang anda lakukan tuan, selain petugas di larang masuk!" Tegas pegawai dengan nada marah.
Briel mencengkram jas pegawai hotel, "Aku hanya ingin mencari istriku! Cepat kalian tunjukkan CCTV yang mengarah ke balroom." Jawab Briel emosi dan langsung mendorong pegawai tersebut.
Secara arogant Briel mengambil kembali foto ustrinya yabg berada di tangan pegawai hotel, diserahkannya kepada petugas keamanan CCTV.
"Mohon jangan membuat keributan." Ucap petugas keamanan dengan tegas.
Petugas keamanan segera memutar waktu yang Gabriel ucapkan, waktu sebelum pernikahan Daniel dan Minzy yang sudah selesai di situlah Rose menghilang.
Dengan tatapan mata tajam dan liar, Briel terus mengamati layar monitor yang berada dindepannya. Tidak ada Rose keluar dari balroom. Briel mencoba untuk melihat CCTV lain yang mengarah ke balroom dengan sisi yang berbeda, namun hasilnya juga nihil.
"Tidak ada istri anda keluar dari acara Tuan, mungkin istri anda hanya berjalan-jalan di sekitar balroom saja." Ucap petugas keamanan.
Gabriel meraup wajahnya yang sudah berkeringat, terlebih pakaian yang dia kenakan begitu banyak lapisan hingga membuatnya gerah.
"Baiklah, terima kasih. Maaf sudah membuat gaduh." Jawab Gabriel.
Briel berjalan keluar dengan wajah datar dan dingin, dirinya berjalan masuk ke balroom seketika hawa dingin menerpa tubuhnya yang basah karena keringat.
Kembali Gabriel mengedarkan pandangannya kesegala arah, dirinya teringat jika Rose gemar makan dan memasak.
Tidak ada di meja prasmanan, hingga seorang wanita dengan senyum cerahnya melambaikan tangan ke arah Gabriel dengan girang.
Dia adalah Rose, istrinya di temukan berada di salah satu meja tamu yang berada agak jauh dari pandangannya.
"Itu suamiku, Nyonya." Ucap Rose yang menunjuk ke arah Gabriel.
"Jadi, Anda istri dari Tuan Gabriel. Maafkan kami, kami kira Anda kerabat dekat dari keluarga pengantin." Kata seorang pria yang tidak jauh berbda umurnya dengan Ayah Nugroho.
"Begitu ya, haha." Ucap Rose malu.
Melihat suaminya mendekat, Rose segera berjalan menghampirinya. Tanpa tahu apapun Rose menggandeng lengan suaminya.
Tamu tersebut segera berdiri dan melakukan bow, tidak ada respon apapun dari Briel karena Gabriel hanya menatap lekat wajah istrinya dari arah samping.
"Lihatlah sayang, cucu mereka sangat lucu dan imut. Kamu tahu mereka kembar laki-laki." Rose terus berbicara tanpa memperhatikan raut wajah suaminya.
Meja kolega tersebut berubah menjadi hawa dingin dan mencekam, karena wajah dan pandangan Gabriel yang begitu dingin.
"Sayang." Rose mendongak menatap wajah suaminya.
Tanpa berkata apapun Gabriel meninggalkan meja kolega tersebut dengan hawa dingin yang menyelimutinya.
"Ah, maafkan suamiku. Dia mungkin merasa kurang sehat." Ucap Rose sopan.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Terima kasih sudah berbincang dengan kami, semoga Anda segera mendapatkan keturunan." Ucap sang istri dari kolega tersebut.
"Amin, semoga mendapatkan kembar seperti cucu anda yang tampan-tampan ini." Jawab Rose dengan tersenyum lebar.
Rose segera berpamitan dan menghampiri sang suami yang sedang tidak baik-baik saja. Kenapa tatapan itu kembali lagi, tatapan dan wajah dingin Gabriel saat bertemu dengannya dulu.
...🐾🐾...
...Jangan lupa mampir ke novel teman autor dinjamin membuat emosi jungkir balik. ...
__ADS_1