
Happy Reading πΉπΉ
Terlihat Dave tengah melakukan meeting dengan beberapa koleganya.
Terpancar aura pemimpin yang dingin dan tegas dari Dave, bahkan pandangan matanya yang tajam dapat menikap lawan bicaranya hingga menembus hatinya.
"Sudah cukup pertemuan kali ini, kita akan bertemu satu bulan lagi." Ucap Dave sebelum dirinya berlalu dari ruang meeting.
Semua peserta meeting ikut membubarkan diri setelah Dave keluar, sedangkan sang sekertatis terlihat berjalan di belakang Dave.
"Maaf, Tuan." Ucap sang sekertari.
Dave memutar tubuhnya, "Apa." Jawab Dave dingin.
"Emm.. anu,... itu Tuan HP. " Ucap sekertaris takut dan gugup.
"Untuk apa kamu meminta HP padaku?" Tanya Dave yang sudah bersiap untuk marah.
"Bu...bukan Tuan, HP di bawa oleh Tuan kemarin." Jawab sekertaris gagap.
Dave menaikkan sebelah alisnya, "Kapan aku meminta HP milikmu." Ucap Dave bingung.
"Kemarin, Tuan mencoba menelfon seseorang." Kata sekertaris dengan lancar karena gemas.
"Oh, kamu beli saja HP yang baru dan nomor yang baru." Ucap Dave dengan mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya.
Sang sekertaris terperangah, "Tapi, Tuan..."
"Suah, ganti saja HP buntutmu itu. Kamunbebas memilih type HP yang kamu inginkan." Ucap Dave yang berlalu dari hadapan sang sekertaris.
Sekertaris Dave hanya menatap kartu dan punggung Dave yang semakin menjauh.
"Nasib, padahal aku hanya ingin mengabari kekasihku jika dapat rejeki nomplok." Gumamnya dengan menggaruk pelipis.
Sedangkan Dave, sesampainya di ruangan langsung bergegas duduk di kursi kebesarannya.
Dave membuka laci kecil yang ada di meja kerjanya dan mengambil HP milik sekertaris... oh bukan lagi, tapi milik Dave yang dibeli dari sekertaris.
"Aku kangen, kira-kira Rose sedang apa ya. Apa dia merindukanku seperti aku merindukannya." Gumam Dave.
Segera Dave menghubungi nomor Rose, panggilan pertama tidak di angkat, kedua begitu juga hingga panggilan kelima.
"Kemana gadis cerewet itu." Ucap Dave yang sudah mondar-mandir bak setrikaan laundry.
Hingga terdengar suara riuh di luar ruangan Dave.
"Menyingkir! Apa kau tidak tahu, aku kekasih bosmu!" Seru seorang wanita dengan angkuh.
"Maaf Nona, tidak ada yang boleh masuk ke ruangan Pak Dave. Meskipun Nona adalah kekasihnya, ininperintah dari Tuan Agung." Jawab sekertaris yang menghadang wanita dengan pakaian kurang bahan tersebut.
"Tidak mungkin, aku menantu keluarga Danuarta! Minggir kau, jangan menghalangiku." Seru wanita tersebut dengan mendorong sekertaris.
Hingga suara pintu membuyarkan keributan yang ada.
Cklek
"Sayang." Wanita tersebut langsung menghambur kepelukan Dave dengan manja.
__ADS_1
Sang sekertaris hanya menatap jijik ke arah keduanya.
"Cih, pantaslah di tinggalkan gadis imut itu. Kelakuannya saja minus." Gumam sekertaris yang masih dapat di dengar oleh Dave.
"Apa kau bilang." Ucap Dave menahan amarah.
"Akan saya laporan kepada Tuan Agung sekarang juga, jika wanita itu tidak pergi dari sini Tuan." Jawab sekertaris tegas.
Dave mendorong Elsa hingga mundur beberapa langkah.
"Dave." Seru Elsa tidak terima.
"Untuk apa kau datang kesini, kita sudah tidak memiliki urusan lagi. Aku sudah membayarmu waktu itu." Ucap Dave dingin.
"Aku tidak membutuhkan uangmu Dave, aku akan mengembalikannya. Aku mencintaimu." Ucap Elsa dengan wajah yang memohon.
Sang sekertaris mendengar ucapan Elsa membuat dirinya pura-pura muntah.
Elsa yang melihatnya melototkan matanya dengan tangan yang terkepal.
"Tuan, apa Anda yakin akan menerima wanita yang sudah di jajah puluhan pria?" Tanya Sang sekertaris.
"Tidak." Jawab Dave cepat.
"Baguslah dan Nona kau ingin pergi sendiri atau aku seret secara tidak hormat dari perusahaan ini?" Tanya sang sekertaris.
"Kau." Geram Elsa dengan menunjukkan jarinya kearah sekertaris Dave.
"Sudah pergi sekarang juga, aku tidak membutuhkanmu lagi." Ucap Dave yang langsung masuk ke dalam ruangan meninggalkan Elsa dan sekertaris.
Elsa menghentakkan kakinya kasar di lantai dan berjalan cepat meninggalkan tempat tersebut dengan rasa marah dan malu.
Ambar dan Bulan, yang tengah mempersiapkan pernikahan Bintang dan sebuah kejutan untuk Putri.
Ketiganya tengah melihat ke dalam untuk melihat apa saja yang akan mereka persiapkan, Gabriel yang berjalan di belakang keduanya hanya mencatat apa yang di inginkan kedua calon nenek.
"Wah, aku sudah tidak sabar melihat anak-anak kita berdiri di sana Bul." Ucap Ambar yang menggandeng lengan Bulan sahabatnya.
"Aku juga tidak sabar, bagaimana ekspresi Putri ketika mendapatkan kejutan ini." Jawab Bulan dengan menepuk punggung tangan Ambar.
"Sebentar lagi pasti aku juga akan menikahkan anakku yang satunya." Ucap Ambar dengan melirik ke arah Gabriel.
Bulan hanya tersenyum, "Aku kira anakmu yang itu betah hidup sendiri, nyatanya selama ini aku belum pernah melihatnya berkencan dengan seorang wanita." Jawab Bulan dengan terkekeh.
Ambar melepaskan rangkulannya, "Briel, apa kamu tidak suka seorang wanita?" Tanya Ambar to the point.
Gabriel yang mendengar pertanyaan Ambar menjadi tersedak ludahnya sendiri.
"Apa yang Mama tanyakan sih, tentu saja Gabriel menyukai wanita." Jawab Gabriel yang sudah merengut kesal.
"Yasudah, cepat cari kekasih dan bawa pulang. Apa kamu tidak ingin merasakan malam pertama?" Ucap Ambar semakin blak-blakan.
"Ambar." Tegur Bulan mengingatkan.
Gabriel hanya cemberut, "Gabriel sedang berjuang, yang di perjuangkan sedang pergi liburan." Jawab Briel apa adanya.
"Benarkah? Benarkah Briel.... Heyy!!! Kembali anak nakal." Tanya Ambar dengan berteriak karena Gabriel melenggang pergi setelah berkata demikian.
__ADS_1
"Wah, sepertinya kamu harus menyiapkan lamaran yang benar mulai sekarang Mbar." Ucap Bulan menggoda.
"Ah, benar. Aku belum merasakan mempersiapkan semuanya dari 0. Bagaimana kalau kita belanja sekarang?" Tanya Ambar dengan penuh semangat.
Puk
Bulan memulul pelan lengan Ambar, "Seharusnya kamu pergi dengan calon menantumu, biarkan dia yang memilihnya." Jawab Bulan.
"Tapi aku tidak tahu siapa, awas saja aku seret anak itu dari apartemennya." Ucap Ambar penuh tekad.
Sedangkan Gabriel kini berjalan menuju parkiran, hari ini Briel ingin langsung kembali ke apartemen mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Briel mulai menjalankan mobilnya meninggalkan gedung pernikahan, selama di perjalanan Briel hanya fokus menyetir.
Hingga pesan masuk membuyarkan konsentrasinya, terlihat pesan Rose di sana.
π₯ Kakak sedang di mana sekarang?
π€ Dijalan pulang.
π₯ Ayo bertemu di stasiun Gangnam.
π€ Dimana itu?
π₯ Kakak masih berada di Korea bukan?
π€ Aku di Indonesia.
π₯ Jangan berbohong!
π€ Untuk apa membohongi anak kecil sepertimu.
π₯ Dasar menyebalkan, apa kau ingat. Aku bertemu pria yang mirip denganmu, dia sangat tampan π
Gabriel langsung mengerem mendadak, beruntung mobil yang di kendarai sudah berada di depan gedung apartemen.
π€ Apa kau tidak menjaga matamu.
π₯ Tidak bisa, disini banyak orang tampan π
π€ Hanya aku yang paling tampan.
Tidak ada balasan dari Rose, "Si@l, apa aku harus menjemputnya pulang." Ucap Briel kesal.
Segera Briel memarkirkan mobilnya ke dalam basement apartemen, tangan kanannya membuka pintu mobil dan kakinya melangkah keluar.
Sedangkan tangan kirinya menekan ponselnya untuk menghubungi Rose.
Tidak ada jawaban, Briel kembali menelfon Rose kali ini Video Call.
Cukup lama Briel melakukan panggilan hingga akhirnya di angkat.
"Ha..."
"Halo, ini siapa? Di mana Rose?" Ucap Briel dengan wajah yang seram.
Sedangkan yang mengangkat panggilan Briel tangannya terlihat bergetar hebat hingga menjatuhkan ponsel Rose hingga mati.
__ADS_1
...πΎπΎ...
...JANGAN LUPA KASIH SESAJENNYA BIAR GAK SERET IDE AUTOR...