
Happy Reading 🌹🌹
Matahari mulai muncul dari peraduannya, perlahan membumbung tinggi untuk menyinari bumi. Cahaya mentari menembus kaca transparan yang menghalangi sang penghuni dari dinginnya malam.
Rose menggeliat merasakan dirinya tengah di peluk oleh seseorang, seketika kedua mata Rose terbuka dengan lebar.
"Aaa!" Rose menjerit kaget karena didepannya adalah Gabriel.
Sontak saja Briel terbangun dengan kaget, "Ada apa?" Tanya Briel dengan wajah bantal.
"Ka-kakak kenapa tidur disini." Ucap Rose.
Briel menguap, "Sayang apa kamu lupa kita sudah menikah?" Tanya Briel dengan mata yang hampir terpejam.
"Ah, benar kita sudah menikah." Jawab Rose dengan tersenyum kikuk.
"Ayo tidur lagi, aku masih mengantuk." Briel memeluk tubuh istrinya hingga keduanya kembali berbaring di atas kasur berukuran king size tersebut.
Rose berkedip cepat, merasakan terpaan nafas yang teratur dari Gabriel. Benar dirinya sudah menikah, kenapa dia sampai lupa astaga.
Rose menoleh ke arah suaminya dan memiringkan tubuhnya hingga dapat menatao wajah polos Briel ketika sedang tidur.
"Kenapa dia lucu sekali, jika seperti ini tidak terlihat galak." Ucap Rose pelan dengan terkekeh.
"Aku tau." Jawab Briel tanpa membuka matanya.
Rose mencebik kesal, "Ayo bangun sayang, aku lapar." Ucap Rose jujur.
"Lima menit lagi." Jawab Briel tanpa bergerak sedikitpun.
Rose mengerucutkan bibirnya, perutnya terasa keroncongan mengingat kejadian semalam yang selesai hampir pagi jika bukan karena Rose yang merengek untuk berhenti.
Perlahan Rose menurunkan tangan Briel yang melingkar di pinggangnya, dengan pelan Rose bergeser merasakan perih yang mulai menjalar.
"Sshhh." Rose mendesis karena kakinya terasa gemetar dan intinya perih.
Briel mengangkat kepalanya dan membuka mata bantalnya, terlihat punggung sang istri yang tidak tertutup selimut.
"Ternyata benar kata Ayah dan Kakek, jika ini sangat menyakitkan." Ucap Rose pelan yang hampir menangis.
"Mau aku bantu sayang?" Tanya Briel.
Rose menoleh ke arah belakang menatap tajam suaminya dengan mata berkaca-kaca, "Apa perlu kamu bertanya." Jawab Rose.
Gabriel turun dari kasur memungut celana kolornya yang tergeletak di atas lantai, segera dirinya berjalan ke arah sang istri.
"Apa masih sakit?" Tanya Briel lagi.
"Menurutmu." Jawab Rose sebal.
Gabriel langsung menggendong Rose menuju kamar mandi, "Menurutku tidak, nyatanya kamu selalu menjerit keenakan." Ucap Briel yang membuat Rose semakin mendelik kesal.
"Kita tidak akan melakukan hubungan sampai aku sembuh, titik." Rose berkata dengan tegas.
"Aku tidak yakin." Jawab Briel santai.
"Kenapa?" Tanya Rose yang kini sudah duduk di pinggir wastafel oleh suaminya.
"Karena aku sangat menggoda." Jawab Briel dengan pedenya.
__ADS_1
Rose memutar bolanya malas, sedangkan Gabriel menyiapkan air hangat untuk sang istri mandi.
Dengan telaten Briel melayani Rose, mengikat rambut panjang Rose agar tidak mengganggu saat gosok gigi dan cuci muka.
Gabriel kembali menggendong Rose ke arah bathup yang sudah dia siapkan sejak awal.
"Hah, nyaman sekali." Ucap Rose dengan mata terpejam.
Merasa ada seseorang kembali masuk ke dalam bathup, Rose segera membuka kedua matanya.
"Kenapa kamu masuk ke dalam sini juga sayang?" Tanya Rose kepada Briel yang sudah duduk di depannya.
"Mandi." Jawab Briel singkat.
"Kamu bisa menganti setelah aku atau di bawah shower saja mandinya." Protes Rose.
"Tidak mau." Jawab Briel kembali.
Rose mendengus kesal, terlihat Rose dengan kasar menggosok kulit putihnya.
"Marah?" Tanya Briel pelan.
"Tidak." Jawab Rose acuh.
"Jangan marah sayang, kita baru saja menikah. Aku tidak ingin menjadi duda dalam waktu singkat." Ucap Briel dengan mengelus kaki Rose yang berada di dalam air.
Rose melebarkan kedua matanya ke arah Briel, "Kamu mendoakan istrimu cepat mati." Kata Rose.
"Tidak, memangnya suamimu ini mengatakan mati?" Tanya Briel yang perlahan mendekat.
"Jangan mendekat, atau aku tendang rudalmu." Sungut Rose.
Rose mendengus saja dan membuang pandangannya kesembarang arah. Beruntung kaki Rose dibawah air tidak terbuka lebar melainkan lurus yang di pangku sebelah kaki suaminya.
"Apa masih sakit?" Tanya Briel dengan mencolek sesuatu di bawah sana.
"Sayang!" Seru Rose memukul tangan suaminya.
Gabriel tertawa melihat wajah istrinya yang kesal sekaligus malu di hadapannya, Briel menangkup wajah Rose dan kembali memangut bibir istrinya dengan mesra.
Tangan Gabriel mulai menjalar kebagian-bagian sensitif istrinya, kembali lagi dirinya mempraktikkan hasil belajar di internet sepuluh menit dan menghafal letak sensitif Rose.
Rose melenguh saat tangan suaminya meraba punggung polosnya, ciuman Briel turun ke leher jenjang Rose. Rose terbawa suasana, dia memberikan akses untuk sang suami dengan mendongakkan kepalanya.
Kedua tangan Rose meremat rambut suaminya yang mulai basah, Briel terus menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya dengan intens.
Bermain dengan bola karet kesayangannya juga menyusuri lembah di bawah sana, "Apakah masih sakit?" Tanya Briel yang melepaskan bola karetnya.
"Tidak." Jawab Rose dengan nafas memburu.
Gabriel tersenyum dan kembali menci*um bibir istrinya dengan penuh tuntutan, perlahan kaki Rose di bawah dibuka lebar oleh Gabriel dan mendudukkan Rose di pangkuannya.
Briek terus memberikan sentuhan-sentuhan ala internet. Rose bergerak gelisah di atas pangkuan suaminya.
"Giliranmu yang mengendalikan permainan sayang." Ucap Briel dengan suara serak.
"Ta-tapi aku tidak tahu." Jawab Rose pelan.
"Hemm, akan aku ajari." Kata Gabriel.
__ADS_1
Gabriel tentu saja tidak ingin terlihat bodoh di depan istri pendeknya, harga diri seorang pria bisa jatuh jika sampai tidak dapat mengendalikan permainan di atas ranjang.
Kini Rose memposisikan dirinya, memegang sesuatu milik suaminya. Briel menerjang bola karet kesukaannya karen sentuhan tangan istrinya membuatnya meremang.
Perlahan namun pasti, Rose sedikit meringis karena masih terasa perih namun teralihkan oleh kenikmatan yang di berikan oleh Gabriel.
Air yang tenang berubah menjadi ombak kecil dan kembali berubah menjadi ombak yang besar, air di dalam bathup keluar dari wadahnya hingga membasahi lantai kamar mandi.
Keduanya saling memburu puncak kenikmatan hingga akhirnya Briel membantu sang istri agar permainan cepat selesai dan ruangan itu berakhir dengan jeritan dari sepasang pengantin.
...***...
Di restoran hotel, terlihat dua keluarga tengah berkumpul untuk sarapan keluarga yang lain ada yang langsung bertolak kembali kenegara masing-masing karena memiliki tanggung jawab yang tidak dapat diwakilkan.
Namun acara makan hari ini tidak bisa di katakan sarapan karena mereka memulainya pukul sembilan pagi. Menanti sepasang pengantin yang baru tadi malam meresmikan hubungan mereka.
"Kenapa Kakak tidak segera keluar, apa mereka pingsan?" Tanya Daniel dengan wajah masam.
"Kamu pasti juga akan seperti Kakakmu sebentar lagi." Jawab Agung dengan tenang.
"Namanya pengantin baru pasti tidak akan berhenti sebelum madunya habis." Timpal Ambar dengan tertawa kecil.
"Benar, aku sudah menyiapkan obat untuk menatu kita." Ucap Kristal kepada Ambar.
Ambar terkekeh kecil, "Aku berharap Rose tetap bisa berjalan." Ucapnya.
Minzy hanya diam menyimak pembicaraan orang tua di meja makan, otaknya langsung bekerja mencerna ucapan dua ibu tersebut. Apakah dirinya juga akan seperti itu saat menikah dengan Daniel nanti, bahkan tidak bisa berjalan.
"Ada apa sayang? Apa kamu ingin menambah sesuatu?" Tanya Daniel yang melihat Minzy diam seribu bahasa.
"Eh, tidak. Aku sudah kenyang." Jawab Minzy kaget.
"Benarkah, lalu kenapa kamu hanya diam saja." Ucap Daniel menuntut.
"Tidak, aku hanya menikmati sarapanku saja sayang." Jelas Minzy tersenyum.
"Tenang saja, Nak. Nanti Mama yang akan memberitahu Daniel agar tidak berbuat kasar." Goda Ambar dengan mengedipkan sebelah matanya.
Minzy tertawa kikuk karena dirinya ketahuan tengaj traveling memikirkan hal yang sama. Danielpun jiga ikut tertawa meski tidak tahu apa yang di bicarakan oleh kedua wanita itu.
"Ayah, kita harus segera pulang. Karena meninggalkan Putri dan Langit terlalu lama dengan Sky." Ucap Ambar mengingatkan sang suami.
"Baiklah." Jawab Agung.
"Kenapa terburu-buru, bukankah cucumu bersama orangtuanya? Jadi tidak perlu merasa khawatir." Kata Kakek Kristoff.
Ambar dan Agung saling melirik, tidak mungkin menjawab jika Sky putra mereka cemburu dengan anaknya sendiri dan akan memonopoli Putri menantu mereka untuk dirinya sendiri.
"Kami hanya rindu dengan cucu saja, maklum karena cucu pertama jadi ingin terus bertemu." Jawab Agung dengan tenang.
Kakek Kristoff tertawa, "Benar, aku juga begitu saat memiliki cucu pertama Daniel. Bahkan saat bekerja di kantor ingin segera pulang untuk bermain bersamanya." Ucap Kakek Kristoff dengan wajah gembira.
Stevan hanya diam terpaku, perasaan itu pernah dia rasakan dulu namun tidak lama. Andai saja waktu dapat di putar Stevan tidak akan pernah terjebak oleh wanita ular itu.
...🐾🐾...
...Halo Readers, jangan lupa mampir di karya teman autor selagi menunggu update bab baru. ...
__ADS_1