Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Dua Minggu Lagi


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Di Rumah Sakit.


Gabriel dan Kristal masih saling menatap, Kristal menatap penuh dengan kerinduan dan penyesalan sedangkan Gabriel menatap dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Apa yang Anda lakukan?" Tanya Briel dingin.


"Ah, maaf Briel. Tan... tante hanya khawatir dengan keadaanmu." Jawab Kristal terbata.


Gabriel menyingkirkan tangan Kristal dari wajahnya dengan kasar.


"Jangan sembarangan menyentuh tubuh orang lain." Ucap Briel penuh dengan penekanan.


Kristal meremat kedua telapak tangannya dan menggihit bibir dalamnya agar tidak menangis.


"Maafkan, Tante. Bagaimana perasaanmu?" Tanya Kristal mengalihkan topik.


"Siapa, El?" Briel tidak menjawab melainkan mengajukan pertanyaan.


"El... emmm, dari nama terakhir Gabriel." Jawab Kristal beralasan.


"Aku tidak suka panggilan itu, jangan pernah memanggilku El lagi." Ucap Gabriel tanpa ingin dibantah.


Kristal mengangguk dengan cepat, didalam hatinya sangat sedih kenapa El-nya bisa seperti ini.


"Baiklah, sekarang kamu istirahat saja. Akan, Tante jaga di sini." Ucap Kristal membenarkan selimut Gabriel.


"Hem." Gabriel hanya berdehem menjawab ucapan Kristal.


Gabriel kembali memejamkan kedua matanya dengan kepala yang menoleh ke kiri, sehingga tidak menghadap ke arah Kristal.


Sedangkan Kristal hanya dapat duduk diam dengan memandang wajah Gabriel sari samping.


Di kursi tunggu pasien, Ambar dan Agung sudah duduk berdampingan.


"Apa yang ingin Ayah katakan?" Tanya Ambar kepada Agung.


"PTSD Gabriel kambuh, Mah." Jawab Agung dengan suara lirih.


"Kambuh?" Beo Ambar.


Agung hanya menggunakan kepalanya sebagai jawaban, air mata Ambar kembali terjun bebas dari mata tuanya.


"Kenapa bisa, Yah?" Tanya Ambar menuntut.


"Sepertinya, Gabriel mulai mengingat masa lalunya." Jawab Agung pelan.


"Briel akan meninggalkan kita?" Kata Ambar lagi.


Agung tidak menjawab, karena Gabriel sekarang sudah dewasa dan dapat memilih jalannya sendiri.


Mengingat, wanita yang berada didalam ruangan Gabriel mengaku jika Ibu kandungnya.


"Tidak, Ayah. Gabriel hanya anak kita, putra kita. Kita sudah merawatnya sejak kecil... hiks... hiks." Ambar berkata dengan menekan merasakan yang menyesakkan didalam dadanya.

__ADS_1


Agung merengkuh sang istri, membawa kedalam pelukannya.


"Ap... apa wanita itu, Ibu Gabriel?" Tanya Ambar yang masih berada didalam pelukan sang suami.


"Ayah, tidak tahu Mah." Jawab Agung jujur.


"Mama tidak mau Briel diambil dari kita, Yah." Ucap Ambar di tengah tangisannya.


Agung hanya dapat memeluk erat tubuh sang istri, jauh dalam lubuk hatinya. Agung juga tidak rela jika Gabriel kembali bersama keluarga kandungnya.


Tetapi bukankah, Gabriel berhak memilih, berhak bahagia. Jika Briel dapat jauh lebih bahagia ketika dapat berkumpul dengan keluarga kandungnya. Tentu saja Agung akan merelakannya dengan ikhlas tanpa memutus ikatan orangtua dan anak di antara mereka.


Klek


Terdengar suara pintu yang tertutup, Agung dan Ambar mengalihkan perhatian mereka ke sumber suara.


Kristal tengah berdiri didepan pintu ruang rawat Gabriel, terlihat wajah yang gugup bercampur rasa takut tergambar jelas di wajahnya.


Ambar menegakkan tubuhnya dan bangkit dari kursi tunggu pasien.


"Pergi... Aku bilang pergi!!!" Seru Ambar dengan raut wajah emosi.


"Mama, jangan berteriak ingat Gabriel baru istirahat didalam." Ucap Agung yang sudah memegang lengan sang istri.


"Suruh wanita ini pergi, Ayah." Kata Ambar yang kembali menangis.


Kristal juga sudah menangis, air matanya menetes membasahi kedua pipinya.


"Maaf." Ucap Kristal dengan suara lirih bahkan hanya angin yang dapat mendengarnya.


"Pulanglah terlebih dahulu, Nyonya. Dua minggu lagi kita bertemu." Ucap Agung kepada Kristal.


Kristal masih diam diri di tempatnya, pulang... pulang kemana? Baru satu hari tinggal bersama Gabriel, apakah harus kembali di kediaman Amanda.


"Nyonya, biar diantar oleh sopir kami." Ucap Agung kembali.


"Tapi... Saya tidak memiliki tempat tinggal disini." Jawab Kristal pelan.


Agung termagu, "Sebelumnya, Anda tinggal dimana sebelum tinggal bersama putraku?" Tanya Agung pelan.


"Rose, keluarga Amanda." Jawab Kristal jujur.


Agung menghela nafasnya panjang, kenapa masalahnya menjadi rumit seperti ini. Bagaimana bisa Kristal kenal dengan Rose, darimana asalnya Kristal.


"Baiklah, Anda akan di antarkan ke kediaman Amanda jika begitu." Ucap Agung.


Kristal hanya diam tidak mengiyakan maupun menolak usulan dari Agung.


Agung segera merogoh ponselnya didalam saku, menghubungi sopir keluarga Gandratama untuk segera datang ke Rumah Sakit.


"Silahkan duduk dulu, sopir kami baru dalam perjalanan ke sini." Ucap Agung.


Kristal menoleh sebentar ke arah pintu ruangan Gabriel, kemudian berjalan menuju kursi tunggu yang berada di depan kamar.


Sedangkan Agung dan Ambar juga ikut duduk, meskipun Ambar menolak keras keberadaan Kristal saat ini.

__ADS_1


.


.


.


Kristal hanya mampu menatap keluar jendela selama diperjalanan.


Hari ini, Kristal kembali di kediaman Amanda. Dua minggu lagi, dua minggu lagi Kristal dan keluarga Gandratama akan bertemu.


Sebelum meninggalkan Rumah Sakit, Agung sudah berbicara empat mata dengan Kristal. Jika sampel yang diberikannya tadi pagi, sudah diserahkan kepada dokter untuk di uji lab.


"Apakah, selama dua Minggu. Saya dapat melihat Gabriel Tuan?" Tanya Kristal dengan mata sendu.


"Sebelum hasil tersebut keluar, tolong jaga jarak terhadap Gabriel. Bagaimanapun, Saya menuntut penjelasan dari Anda dan keluarga." Kata Agung tegas.


Kristal hanya dapat meremat kedua tangannya, keluarga. Keluarga yang dimiliki Kristal hanya Daniel, sedangkan Kakek Kristoff tidak tahu tentang kebenaran jika memiliki cucu kembar.


"Baiklah, tapi ijinkan Saya melihatnya meskipun dari kejauhan." Mohon Kristal kepada Agung.


Agung mengangguk, "Selama, Anda dapat menjaga kondisinya tetap aman. Silahkan saja." Ucap Agung tidak melarang.


"Sebelumnya, Saya ucapkan terima kasih." Kata Kristal tersenyum tipis.


Agung hanya menganggukkan kepalanya saja, terima kasih untuk apa. Untuk kebaikannya selama ini membesarkan Gabriel. Gumam Agung dalam hati.


Kristal melangkah masuk kedalam mobil untuk meninggalkan Rumah Sakit.


Transportasi roda empat tersebut mulai berjalan perlahan namun pasti meninggalkan Rumah Sakit.


Agung hanya menatap diam mobilnya hingga hilang dari pandangannya.


"Nyonya, kita sudah sampai." Ucap sang sopir.


"Terima kasih, Tuan." Jawab Kristal sopan dan segera membuka pintu mobil.


"Sama-sama, Nyonya." Jawab sang sopir.


Setelah memastikan Kristal sudah turun, segera mobil keluarga Gandratama meninggalkan mansion Amanda.


Kristal hanya dapat menatap pagar yang menjulang di depannya, di hembuskannya nafas pelan.


"Dua minggu lagi Daniel." Gumam Kristal dalam hati.


Kristal melangkah ke arah bel mansion, beberapa kali Kristal menekan tetapi belum ada yang keluar.


Hingga seorang wanita paruh baya yang Kristal kenal keluar dengan berlari tergopoh-gopoh.


"Pelan-pelan saja, Bi Asih." Ucap Kristal dengan tersenyum.


"loh, Neng Kristal. Ayo... ayo cepat masuk." Ucap Bi Asih yang membuka pintu kecil samping gerbang utama.


Kristal melangkah masuk dan di ikuti Bi Asih yang sudah berjalan bersamanya.


"Orang-orang, pada pergi ya Bi?" Tanya Kristal pelan.

__ADS_1


"Iya seperti biasa, Tuan berangkat ke kantor sedangkan Non Rose pergi keluar pagi tadi." Jawab Bi Asih.


...🐾🐾...


__ADS_2