
Happy Reading 🌹🌹
Setelah acara pertungan selesai kedua keluarga kembali ke kediaman masing-masing kecuali beberapa orang yang siap tidak siap di introgasi oleh Stevani.
Terlihat Stevani bersedekap dada dengan memandang gedung pencakar langit yang berderet dihadapannya.
"Sejak kapan Ayah tahu jika Kristal memiliki anak kembar?" Tanya Stevani datar.
"Ketika tiba di Indonesia." Jawab Kakek Kristoff jujur karena sudah tidak ada gunanya berbohing dihadapan Stevani yang sudah mulai muncul tanduk tidak kasat mata.
"Bagaimana dengan Robby?" Tanya Stevani kembali.
"Sama dengan Tuan Kristoff, Nyonya." Jawab Robby dengan suara mantap.
"Jadi--- dikeluarga Kristoff tidak ada yang tahu jika memiliki cucu kembar?" Ucap Stevani dengan wajah tidak habis pikir.
"Ada, Mamamu." Jawab Kakek Kristoff.
Stevani langsung memutar tubuhnya karena merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Apa? Coba Ayah ulangi." Kata Stevani berjalan mendekat.
"Benar, Mama yang mengetahui jika Kristal memiliki Daniel dan Gabriel karena ternyata selama ini Mama hanya bersandiwara jahat kepada Kristal dihadapan kita saja." Jelas Kakek Kristoff dengan tenang.
Stevani menampilkan wajah shocknya dan melihat ke arah Kristal juga kedua pria kembar dengan ekspresi yang berbeda.
"Sebenarnya ada apa dengan semua ini, Stevani--- Stevani tidak mengerti." Ucap Stevani lirih dengan nada sedih.
"Selama ini Mamamu tahu jika Eve telah berbohong tentang kehamilannya, karena dengan kedua mata kepalanya sendiri Mamamu melihat jika Eve berselingkuh dan itu anak selingkuhannya bukan anak kandung Stevan. Namun, melihat pribadi Eve yang tega melakukan apapun akhirnya Mama memainkan peran sebagai mertua yang jahat untuk melindungi cucunya keturunan dari keluarga Kristoff." Kakek Kristoff menjelaskan beberapa yang ada didalam video yang diputar dalam ruang rawat Gabriel dulu.
Air mata Stevani luruh ternyata Mamanya tidak seburuk yang terlihat, sama halnya dengan Kristal yang tidak dapat membendung air matanya. Selama ini Kristal selalu berani kepada Ibu mertuanya karena tidak ingin di anggap wanita lemah.
"Karena wanita ular itu membuat keluarga kita harus terpecah dan salahpaham seperti ini." Ucap Stevani penuh dendam.
"Sekarang bukan waktunya bersedih, karena kita harus menggulung dua orang sekaligus." Gabriel menyela pembicaraan.
"Siapa?" Tanya Daniel yang ketinggalan informasi.
"Mertuamu dan anaknya, Eve." Jawab Kakek Kristoff.
Bagaikan disambar petir di siang hari, Stevan yang menguping didepan pintu menggenggam erat knop pintu.
Sedangkan Minzy juga sama halnya dengan Stevan, terlihat wajahnya yang pucat mendengar berita tersebut.
"A---apa anak?" Ulang Minzy dengan nada bergetar.
"Benar." Jawab Kakek Kristoff.
Air mata Minzy luruh membasahi kedua pipinya, bagaimana bisa Ayahnya memiliki anak yang sumuran dengan Mamanya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa." Ucap Minzy lirih bahkan hampir tidak terdengar.
Daniel membawa Minzy kedalam pelukannya memberikan dada bidangnya untuk bersandar, terlihat tangan Daniel yang menepuk pundak dan mengelus punggung Minzy.
Tangis Minzy akhirnya pecah, perasaan menyesakkan dada menyeruak hingga menekan ulu hati membuat semakin perih.
"Tanyalah kepada Mamamu, Kakek tidak berhak menjelaskannya karena itu adalah masalah internal keluarga Kim." Ucap Kakek Kristoff dengan menghembuskan nafas panjang.
"Jadi, Mama sudah tahu--- hiks." Tangis Minzy semakin menjadi kenapa Minzy harus mendengar dadi Kakek Kristoff bukan Mamanya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Ayah?" Tanya Stevani setelah lama diam.
"Percepat pemilihan CEO, karena Ayah yakin jika Eve dan Ketua Kim sudah bergerak dan merencanakan sesuatu kepada Kristal." Jawab Kakek Kristoff.
"Kristal? Memang apa lagi yang akan dia lakukan kepada Kristal. Apa tidak puas karena sudah menghancurkan keluarganya." Ucap Stevani dengan emosi yang menggebu.
"Mamamu meninggalkan warisan untuk Gabriel dengan wali Kristal selaku Ibunya." Jelas Kakek Kristoff.
"10% saham perusahaan dan gedung apartemen mewah yang saat ini masih beroprasi." Kata Stevani.
Ucapan Stevani membuat semua orang yang berada diruangan tersebut kaget kecuali Gabriel, bahkan Stevan terlihat masih setia berdiri didepan pintu untuk mendengarkan semua percakapan sampai selesai.
"Ba---bagaimana Kakak tahu?" Tanya Kristal yang masih terlihat kaget.
"Oh, itu. Kakak masuk kedalam kamar pribadi Eve dan Stevan, awalnya Kakak hanya ingin mencari sesuatu saja tapi apa yang Kakak temukan? Sebuah surat berharga yang tersimpan di walk in closet mereka." Jelas Stevani tanpa beban.
"Apakah Stevan tau?" Tanya Kristal lirih.
Semua orang yang berada diruangan itu kecuali Minzy yang masih sedih, kaget, sakit hati tengah menenangkan dirinya sendiri.
"Kakak memasang CCTV? Dikamar Ayah?" Ulang Daniel yang tidak percaya.
Gabriel hanya diam karena raganya duduk dikursi namun pikirannya melanglang buana memikirkan Rose dan ucapan Agung.
"Kakak!" Seru Daniel dengan mendorong tubuh Gabriel hingga Gabriel terhuyung kesebah kiri dengan tangan bersedakap dada.
Gabriel membenarkan duduknya dan berdiri, "Hais! Gak tahu." Ucap Gabriel yang mengacak rambutnya dan berjalan pergi dari perkumpulan.
"Kenapa dia?" Tanya Stevani yang memandang punggung Gabriel.
"Pasti dia sedang memikirkan Rose." Jawab Daniel jujur.
"Rose? Siapa lagi dia, kenapa banyak orang baru yang datang." Ucap Stevani frustasi sama halnya dengan Gabriel.
"Tante tidak perlu tahu, cukup fokus dengan pemilihan CEO yang akan diadakan secepatnya." Jawab Daniel.
Sedangkan Gabriel yang akan berjalan kekuar kamar langsung diam ditempat, karena melihat sebagian tubuh Stevan yang berdiri menjulang tinggi didepannya.
Keduanya saling menatap meski Stevan hanya terlihat mata sebelah kanannya, tidak ada reaksi apapun dari Gabriel maupun Stevan.
__ADS_1
Kedua pria yang berhadapan dengan terhalang pintu hanya berfikir dengan pikirannya masing-masing. Gabriel yang acuh kepada Stevan dan Stevan yang ingin merengkuh tubuh anaknya.
Betapa bahagianya Stevan ternyata memiliki dua anak kembar namun juga sedih karena selama ini tidak ikut merawat mereka bahkan tidak mengetahui jika anaknya kembar.
Hancur, tentu.
Sakit, sudah tidak terkira rasanya.
Hingga suara sepatu pantofel mendekat dan berdiri dibelakang Stevan, Gabriel baru bergerak membuka pintu kamar hotel karena yang berdiri di belakang Stevan adalah Agung.
"Ayah." Panggil Gabriel.
Stevan terlihat berkaca-kaca bahkan hampir menangis, apa dia mendengar Gabriel memanggilnya Ayah.
Stevan yang baru akan bergerak maju langsung terdiam, karena Gabriel melewatinya begitu saja.
"Apa Ayah sudah makan?" Tanya Gabriel pada Agung.
"Apa kamu ingin makan?" Tanya Agung bukannya tidak menjawab kebiasaan yang sama dengan Sky.
"Tidak." Jawab Gabriel singkat.
"Dasar, apakah kamu tidak bisa berkata panjang kepada Ayahmu ini." Keluh Agung.
Stevan yang mendengar percakapan dibelakngnya merasakan perasaan yang menyesakkan bahkan bisa membuatnya meledak saat ini juga.
Stevan memutar tubuhnya hingga terlihat dua pria berbeda usia saling berhadapan untuk berbicara.
Agung yang merasa diperhatikan segera menghentikan pembicaraannya dengan Gabriel.
"Anda pasti Tuan Stevan, salam kenal." Agung mengulurkan tangan kanannya.
Stevan sedikit tersentak dari lamunannya, "Salam kenal juga Tuan---"
"Agung Gandratama, Ayah dari Gabriel Gandratama." Jawab Agung dengan tersenyum.
Stevan mematung ditempat melihat Gabriel dan Agung secara bergantian.
"Ba--- bagaimana bisa." Tanya Stevan lirih.
Gabriel tidak menjawab hanya diam dengan wajah datarnya, rasanya sungguh malas berurusan dengan Stevan.
"Tentu bisa, karena Saya sudah menikah." Jawab Agung melawak.
Sayup-sayup mendengar suara dari arah luar kamar, membuat Stevani berjalan dengan cepat karena ingin menangkap basah orang yang ribut tersebut.
Langkah Stevani terhenti melihat jika didepannya adalah Stevan sang adik, Gabriel dan orang asing lagi.
...🐾🐾...
__ADS_1
...MAMPIR NOVEL TEMAN AUTOR...