Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Perlahan Namun Pasti


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Ponsel Gabriel bergetar, terlihat nomor Seo In Guk ketua IT perusahaan Krostoff tengah menelfonnya.


πŸ—£οΈ Tuan Stevan baru saja menelfonku untuk melacak sebuah nomor.


πŸ‘€ Sudah ketemu?


πŸ—£οΈ Sudah dan aku yakin akan membuatmu kaget.


πŸ‘€ Siapa?


πŸ—£οΈ -----


πŸ‘€ Apa! Apa Paman tidak salah?


πŸ—£οΈ Benar, dia menggunakan nomor luar negri.


πŸ‘€ Paman, bisakah bobol data pada ponsel mereka?


πŸ—£οΈ Tentu saja tapi akan sangat berisiko mengingat bagaimana mereka.


πŸ‘€ Aku yang akan bertanggung jawab Paman.


πŸ—£οΈ Baiklah, lalu bagaimana dengan informasi ini. Apakah aku kirimkan kepada Ayahmu?


πŸ‘€ Tahan, beri alasan saja jika nomor susah dilacak atau apa terserah Paman.


πŸ—£οΈ Baiklah secepatnya akan Paman kirimkan data ponsel mereka.


πŸ‘€ Baik, Paman terima kasih.


Gabriel mematikan sambungan telfonnya, terlihat Gabriel menghempaskan bobot tubuhnya di sofa yang ada diruangan asisten Robby.


"Sungguh pria yang sangat bodoh dan aku sangat membencinya." Ucap Gabriel pelan.


Di mansion terlihat Stevan sangat marah karena sekelah ketua IT perusahaan Kristoff tidak mampu melacak nomor asing tersebut.


Eve yang mendengar benda jatuh segera menghampiri sumber suara, terlihatsebuah guci sudah pecah berserakan dalam kamar utama.


"Sayang, apa yang---"


"Pergilah." Ucap Stevan memunggungi Eve.


"Kenapa---"


"Aku bilang pergi!" Seru Stevan.


Eve tersentak kaget karena sudah lama Stevan tidak membentaknya dan hari ini serasa dejavu melihat Stevan yang kala itu sangat marah kepada Kristal.


Eve segera melangkah pergi dengan kekalutannya, "Apakah Stevan mengetahui sesuatu, bahaya. Aku harus segera bertemu dengan Ayah." Gumam Eve dalam langkahnya.

__ADS_1


Terlihat Stevan menitikan air mata ketika mendengar langkah kaki Eve yang sudah menghilang dari pendengarannya.


Kurang apa dirinya dalam membahagiakan Eve, uang, kemewahan, kehormatan semua Stevan berikan kepada Eve. Bahkan hingga menelantarkan anak dan Kristal.


Stevan awalnya tidak ingin berfikiran buruk kepada Eve, teringat satu malam Stevan kembali berbincang dengan Daniel (Gabriel) dimana mereka tengah bersitegang hingga akhirnya Daniel (Gabriel) menantangnya untuk menyadap nomor Eve.


Dan inilah yang Stevan dapatkan, suatu kebohongan besar selama ini ditutup rapat oleh Eve sudah pasti mendiang ibunya juga mengetahui hal tersebut. Mengingat bagaimana perangai kedua wanita itu kepada Kristal dulu.


Tubuh Stevan luruh kelantai, terlihat pundak bergerak naik dan turun seiring tangis Stevan yang lirih.


Tangis Stevan terhenti dan menelfon kepala HRD untuk memberikan data bagian keuangan sepuluh tahun yang lalu.


πŸ—£οΈ Cepat kirimkan data bagian keuangan 10 tahun lalu, jangan katakan kepada suapapun.


Stevan langsung menutup sambungan telfonnya, Stevan mulai mengurutkan kejadian dari beberapa tahun lalu untuk dapat mengungkap kebenaran yang sudah lama tersembunyi.


Dengan cepat, kepala HRD mengirimkan surel ke email Stevan, Stevan segera berlari ke ruang kerja sang Ayah.


Pintu segera di kunci dan menutup gorden agar tidak dapat dilihat oleh siapapun.


Stevan mendudukkan dirinya di atas kursi empuk dengan mengaktifkan PC besar yang berada didepannya.


Terlihat Stevan sudah sangat tidak sabar untuk membukanya, terdapat kata sandi ketika PC hidup.


"Sial, apa sandi Ayah." Umpat Stevan.


Stevan mencoba beberapa kali sandi namun gagal, bahkan ulang tahunnya dan mendiang ibunya juga gagal.


Stevan sedikit diam dengan menatap tajam layar PC yang ada didepannya, hingga akhirnya jarinya bergerak menekan nomor demi nomor yang ada dibenakknya sekarang.


"Tunggu aku, aku akan menebus semuanya dan kita akan menjadi keluarga bahagia." Ucap Stevan dengan bibir gemetar menahan tangisnya.


Stevan segera mengakses email miliknya dan mengunduh dokumen yang sudah dikirimkan oleh kepala HRD.


Dengan perlahan namun teliti, Stevan membuka satu persatu dokumen tersebut agar tidak terlewatkan satupun.


Hampir tiga jam Stevan duduk, hinggaakhirnya menemukan foto orang yang selalu Eve hubungi untuk mentrasfer sebulah uang yang cukup fantastis pada saat itu.


Stevan dengan cepat mencetak biodata orang tersebut agar lebih mudah mencarinya.


Stevan segera meng log out emailnya dan membereskan kekacauan yang dia buat tiga jam yang lalu agar tidak dicurigai sang Ayah.


Sedangkan didalam ruangan Robby, Gabriel terlihat tengah tertawa menonton CCTV yang sengaja Gabriel taruh secara tersembunyi diseluruh mansion Kristoff.


Ya, Gabriel yang menaruh kata sandi di PC sang kakek untuk berjaga-jaga dari kebobolan informasi yang langsung terhubung diponselnya.


Namun lihatlah hari ini apa yang dia temukan, Stevan yang terlihat tengah bermain-main dengan PC tersebut.


"Ayah... Ayah, Gabriel harap Ayah tidak memiliki penyakit jantung." Ucap Gabriel pelan.


Sedangkan Stevan kini bergegas akan pergi keluar rumah dengan mengenakan pakaian sederhana.

__ADS_1


Eve yang melihat dari kejauhan menyincingkan kedua matanya, merasa heran kenapa suaminya terlihat sangat berbeda sejak pagi tadi.


"Sayang, kamu mau kemana?" Tanya Eve yang melihat Stevan berjalan keluar.


Stevan tidak merespon panggilan itu, dirinya terus melanjutkan langkahnya untuk segera pergi.


Terdengar suara mesin mobil sport yang menyala, perlahan mobil mahal tersebut meninggalkan mansion.


Eve segera berlari kedalam kamar untuk mengejar Stevan, Eve harus tau apa yang terjadi dengan sang suami. Terlebih Eve sangat takut jika sampai Stevan mengetahui rahasianya.


"Ayo cepat kejar Tuan Stevan!" Seru Eve yang baru kembali dari kamarnya.


Sopir yang mendengar segera berlari masuk kedalam mobil dan langsung menancapkan gasnya, tanpa melihat apakah Eve sudah berada didalam mobil atau belum.


Terlihat sang sopir meneliti jalanan dengan seksama mencari keberadaan mobil sport yang digunakan oleh anak majikannya keluar dari mansion.


"Nyonya, mobil Tuan Stevan tidak terlihat." Ucap sang sopir.


Tidak ada jawaban dari arah belakang.


"Bagaimana ini Nyonya, coba hubungi Tuan Stevan menanyakan lokasinya." Ucapnya lagi.


"Nyonya."


Sang sopir dengan takut-takut melirik kaca spion tengah, namun kosong.


Segera sang sopir meminggirkan mobilnya dan menoleh setengah tubuhnya. Tidak ada Eve didalam mobil.


"Apa aku salah dengar, tapi tidak mungkin. Sepertinyaaku harus ke THT." Ucap sang sopir dengan menggaruk pelipisnya pelan.


Sedangkan Eve terlihat murka karena mobil yang akan dia tumpangi sudah lebih dulu melaju meninggalkan mansion ketika dirinya baru akan sampai didepan pintu utama.


"Sial, akan aku pecat nanti." Dengus Eve.


Sedangkan seorang pria tengah menatap tajam kearah luar ruangannya.


πŸ—£οΈ Halangi keluarga Kristoff untuk melakukan tes DNA.


πŸ‘€ Baik Tuan.


πŸ—£οΈ Berikan saja laporan palsu jika hasilnya positif.


πŸ‘€ Tapi Tuan, itu akan melanggar kode etik dokter. Jika masih menghalangi akan saya lakukan namun jika memanipulasi data itu tidak mungkin.


πŸ—£οΈ Aku akan membayarmu sepuluh kali lipat dan akan aku naikkan jabatanmu menjadi kepala Rumah Sakit


πŸ‘€ Benarkah, apakah aku dapat mempercayai Anda?


πŸ—£οΈ Benar, kamu pasti tahu jika kepala Rumah Sakit sebentar lagi akan pengsiun.


πŸ‘€ Baiklah, akan saya lakukan dan transfer limapuluh persenya terlebih dahulu.

__ADS_1


πŸ—£οΈ Kirimkan nomormu.


...🐾🐾...


__ADS_2