
Happy Reading πΉπΉ
Suara langkah kaki seseorang terdengar cukup menggema di sebuah mansion mewah, waktu menunjukkan pukul satu dini hari.
Kakinya melangkah menuju suatu ruangan yang selama ini dia sembunyikan dari seluruh dunia.
Tuan Kim. Tuan Kim terbangun dari tidurnya karena memikirkan seseorang yang selalu menghantui dalam tidurnya.
Terlihat wanita yang tengah tersenyum bahagia dihari pernikahan dengan teman sekolahnya, kebahagiaan itu selalu terpancar dengan jelas bagaimana wanita itu selalu tersenyum kepada semua orang yang dia temui.
Hingga akhirnya Tuan Kim ingin memisahkan sepasang suami istri tersebut dengan berbagai cara sampai kematian menjemput keduanya.
Disinilah Tuan Kim berdiri, diruang rahasia yang berada didalam ruang kerjanya.
Dengan membawa satu botol wisky dan gelas kristal, Tuan Kim duduk dengan memandang foto berukuran besar yang selalu dirawatnya dengan baik.
Terdengar suara tutup botol yang terbuka dan menggelinding begitu saja diatas meja kayu.
Desisan air keras yang terkena es batu memecahkan kesunyian ruangan tersebut, diteguknya minuman beralkohol tersebut setengahnya.
Terlihat gelas kristal digoyangkan secara memutar dan pandangan Tuan Kim tertuju pada foto Ibu dari Kristal. (Kebanyakan nama tokoh autor lupa siapa, bisa ingatkan π)
"Jika saja kamu melihatku dan tidak menilah dengannya, mungkin kita bisa hidup bahagia." Ucap Tuan Kim bernostalgia.
Terlihat Tuan Kim kembali meneguk alkohol tersebut hingga tandas dan meletakkannya dengan kasar.
Senyum miring terbit dari bibir Tuan Kim, "Sebentar lagi, sebentar lagi putri kalian akan menyusul kalian." Ucap Tuan Kim lagi.
Tuan kim meraih laci dan mengambil foto sekolah menengah atas miliknya, terlihat tatapan tajam dan kebencian disana.
"Hanya karena kamu orang kaya, kamu dapat memiliki semuanya. Lihatlah bahkan anakmu sekarang hidup terlunta-lunta sejak dulu... hahaha." Ucap Tuan Kim penuh dendam dan benci.
Tanpa disadari Tuan Kim, Nyonya Kim sejak tadi berdiri diambang pintu ruangan tersebut.
Ya, Nyonya Kim merasakan pergerakan ditempat tidur dan membuka kedua matanya perlahan setelah mendengar pintu kamar tertutup.
Dengan segera Nyonya Kim menyibak selimutnya untuk mengikuti sang suami kemana akan pergi.
Hingga melihat pintu ruang kerja Ketua Kim tidak tertutup rapat, dengan berjinjit Nyonya Kim menyelinap masuk dan hanya berdiri di ambang pintu.
"Apa kamu puas?" Ucap Nyonya Kim setelah mendengar ucapan Ketua Kim.
Ketua Kim terdiam sesaat dan menolehkan kepalanya, terlihat istrinya sudah berdiri dengan mengenakan piyama.
"Keluarlah." Ucap Tuan Kim acuh.
__ADS_1
Nyonya Kim menggeretakkan gigi dan mengepalkan tangannya, bahkan terlihat kedua matanya sudah memerah karena merasakan kesakitan untuk kesekian kalinya.
"Apa kamu begitu mencintainya?" Tanya Nyonya Kim dengan bibir bergetar.
"Apakah perlu aku jawab." Ucap Ketua Kim.
Nyonya Kim berjalan cepat dan memukul tubuh suaminya, "Brengsek! Selama puluhan tahun kamu menipuku! Apa kurangnya aku padamu hah!" Seru Nyonya Kim dengan berurai air mata.
Ketua Kim memegang tangan istrinya dengan erat, "Segalanya? Aku tidak pernah memintanya." Jawab Ketua Kim dengan sinis.
Air mata Nyonya Kim kembali meleleh, begitu teganya mulut pria yang dicintainya bertahun-tahun dengan mudah menjawab seperti itu.
"Kau bukan mencintainya tapi terobsesi kepadanya!" Seru Nyonya Kim.
Ketua Kim begitu marah mendengar jawaban Nyonya Kim hingga membuatnya langsung berildiri dari duduknya dan menamparnya.
Terasa pipi Nyonya Kim panas bahkan telinganya berdengung.
"Tutup mulutmu!" Seru Ketua Kim.
Tubuh Nyonya Kim bergetar bukan menangis namun tertawa, "Kamu memang gila! Kamu dengan tega membunuhnya, itu bukan cinta tapi sebuah obsesi!" Seru Nyonya Kim lagi.
Ketua Kim melayangkan kembalintamparannya namun gerakan tangan berhenti di udara.
"Kenapa? Ayo tampar! Tampar aku! Kamu bahkan memiliki anak dari mantan kekasihmu didesa dulu!" Tuding Nyonya Kim ke wajah Ketua Kim.
"Benar dan dengan bodohnya kamu selalu percaya apa yang aku katakan." Jawab Ketua Kim dengam tersenyum penuh kemenangan.
"Bedebah! Aku akan melaporkanmu karena pembunuhan berencana itu!" Seru Nyonya Kim dengan wajah merah padam.
"Pembunuhan? Apa kau gila, untuk membunuh seekor semutpun aku tak mampu." Ucap Ketua Kim mengelak.
Nyonya Kim langsung berjalan disalah satu tembok dan merusak gorden yang menbuat ilusi jika itu dinding.
Brak!
Ketua Kim mendelik kesal, bagaimana istrinya tahu. Hanya satu jawabannya Nyonya Kim pasti sudah tahu ruangan ini sebelumnya.
"Ah, jadi kamu sudah pernah masuk keruangan ini?" Tanya Ketua Kim dengan enteng.
Nyonya Kim sudah kepalang basah ketahuan, dilihatnya foto besar tersebut dan dengan cepat memgambil membantingnya dilantai hingga serpihan kaca bertebaran dilantai. Di injak-injaknya foto itu dan dirobek dengan paksa.
"Berhenti!"
"Aku bilang berhenti!" Seru Ketua Kim yang memandang nanar foto gadis pujaannya.
__ADS_1
"Apa! Dia sudah mati! Sudah kamu bunuh! Lucunya kamu memuja orang mati." Seru Nyonya Kim.
Ketua Kim berjalan dengan cepat dan menampar kembali bibir Nyonya Kim hingga sobek dan lebam.
Dengan kasar diampitnya kedua pipi Nyonya Kim hingga tubuhnya terpojok di dinding yang terdapat rencana pembunuhan tersebut.
Nyonya Kim memegang lengan Ketua Kim dengan erat, terlihat keduanya saling menatap dengan tajam. Pandangan Ketua Kim tertuju pada cincin yang sebelumnya tidak pernah dia lihat.
"Kau membeli cincin baru?" Tanya Ketua Kim dengan memandang cincin tersebut.
Nyonya Kim sadar dan langsung menyembunyikan dibelakang tubuhnya.
"Siapa yang memberimu hah!" Seru Ketua Kim.
Selama ini seluruh pengeluaran Nyonya Kim selalu masuk kedalam laporan Ketua Kim, meskipun hanya membeli makanan seharga seribu won tetap akan masuk dalam laporannya.
"Aku membelinya sendiri!" Seru Nyonya Kim.
"Hah kau ingin menipuku ****** sialan!" Seru Ketua Kim.
Ketua Kim mendorong Nyonya Kim hingga terjatuh dilantai, Ketua Kim dengan kasar mengambil tangan Nyonya Kim dan mengambil cincin itu dengan paksa.
Ditelitinya cincin twrsebut, terdapat tombol kecil dibawahnya. Ketua Kim tersenyum sinis.
"Ah, jadi kau bekerjasama dengan Kristoff atau Daniel?" Tanya Ketua Kim dengan nada penuh ancaman.
"Kembalikan!" Nyonya Kim menggeleng dengan berusaha merebut cincin tersebut.
Ketua Kim menaikkan tangannya agar tidak dapat dijangkau oleh Nyonya Kim.
"Apa yang kalian rencanakan?" Tanya Ketua Kim dengan menatap kedua mata Nyonya Kim dengan intens.
"Tidak ada, itu hanya cincin biasa." Jawab Nyonya Kim dengan tegas.
"Hahaha, wow. Kamu ingin bermain-main denganku?" Tanya Ketua Kim dengan suara yang berubah.
Ketua Kim menjambak rambunt Nyonya Kim dengan kasar, "Dengar, kamu lebih baik jujur sekarang atau aku akan mengatakan kepada Minzy bagaimana betapa rendahannya ibunya dulu yang menggoda seorang dosen." Ancam Ketua Kim.
Nyonya Kim menggeleng dengan wajah memohon, Nyonya Kim tidak ingin Minzy berfikir jika dirinya hanyalah sebuah alat untuk menyatukan dirihya dengan Ketua Kim.
"Atau, bagaimana jika Eve menggagalkan pernikahan Minzy dengan Daniel? Pasti kamu sudah tahu jika Eve adalah anakku bukan, Eve juga ibu sambung dari Daniel." Lanjut Ketua Kim.
"Tolong, jangan sentuh Minzy. Bagaimanapun Minzy juga anakmu." Jawab Nyonya Kim yang sudah kembali menangis.
"Apa rencana kalian?" Tanya Ketua Kim kembali.
__ADS_1
Ketua Kim terslihat tersenyum lebar setelah mendengar jawaban dari Nyonya Kim, bagaimana ketatnya perlindungan yang diberikan oleh keluarga Kristoff kepada Kristal.
...πΎπΎ...