
Happy Reading πΉπΉ
Di dalam mobil Gabriel hanya ada keheningan, "Dimana alamat rumahmu?" Tanya Briel membuka pembicaraan.
"Di jalan cinta." Jawab Rose pelan.
Briel diam, mencoba mencerna jawaban Rose.
"Kenapa diam, benar di jalan cinta." Rose menoleh ke arah Briel dengan wajah serius.
Briel mengangguk saja.
"Kenapa gadis sepertimu, malam-malam keluyuran di mall sendirian?" Tanya Gabriel yang sangat kepo tingkat tinggi.
Terlihat Rose bingung ingin menjawab apa, tidak mungkin dirinya mengatakan jika gagal kencan dengan Dave.
"Gagal berkencan?" Ucap Briel yang tidak mendapatkan jawaban dari Rose.
Rose tersentak kaget, "Ba.. bagaimana bisa Kakak tau?" Tanya Rose yang menundukkan kepalanya.
Briel menoleh ke arah Rose sekilas.
"Baju, make up, dan parfum yang kamu pakai. Sepertinya kamu menyiapkan sejak subuh." Jawab Briel tenang dengan fokus menyetir.
Rose membuang pandangannya ke arah jendela mobil, terlihat gadis itu sangat sedih bahkan hampir ingin menangis lagi.
"Ya, kakak benar. Rose hari ini seharusnya berkencan dengan kekasih Rose untuk yang pertama kali namun dia tidak datang." Ucap Rose dengan suara serak menahan tangis.
"Tidak perlu cengeng, tinggalkan saja pria seperti itu." Jawab Briel enteng.
Rose menoleh ke arah Gabriel dengan wajah cemberut.
"Rose mendapatkannya susah payah, tidak mungkin meninggalkannya begitu saja. Lagipula Kak Dave memberi waktu Rose tiga bulan untuk berkencan!!" Seru Rose yang tidak sadar mengungkapkan fakta kepada Gabriel.
Briel terlihat tenang dan tidak kaget dengan ucapan Rose.
"Kalau begitu jalani saja tiga bulanmu itu, apa kamu pikir Dave akan menyukai gadis pendek sepertimu." Ucap Brieo acuh.
Rose hanya mencebikkan bibirnya dengan tangan bersedekap dada.
"Kenapa Kak Sky berteriak, apa Kak Gabriel bertengkar dengannya atau Putri tengah bertengkar dengan Kak Sky?" Tanya Rose mengalihkan pembicaraan
"Rahasia" Jawab Briel acuh.
Rose mencebik kesal, "Apa Kakak tidak bisa tersenyum dan mengobrol lebih manusiawi?" Tanya Rose kembali.
__ADS_1
Gabriel hanya mengangkat kedua bahunya saja, tidak terasa sudah sampai di depan kediaman keluarga Rose.
"Keluarlah." Ucap Briel to the point.
Rose melebarkan kedua matanya, bagaimana bisa ada manusia sekejam ini.
"Ya.. ya... terima kasih. Aku ingin mengajakmu masuk sekedar minum teh, tetapi sepertinya Kak Gabriel tidak menyukai minuman manusia jadi aku urungkan niatku." Jawab Rose panjang lebar dengan menutup pintu mobil kencang.
Rose menghentakkan kakinya kesal, "Hih, dasar kanebo kering!" Seru Rose yang membalikkan badan terlihat mobil Briel sudah berjalan.
Rose menendang udara, "Aku doakan laki-laki sepertimu akan memiliki istri yang membuat kepalamu pusing tujuh keliling." Umpat Rose dengan menggebu.
Setelah menyumpahi Gabriel, Rose berjalan masuk dengan berjalan kasar. Bahkan bibirnya masih mengoceh tentang sikap Gabriel.
"Darimana saja Rose?" Tanya Ayah Nugroho yang duduk di sofa ruang tengah.
Rose menghentikan langkah dan gerutuannya, "Malam Ayah, Rose hanya berjalan-jalan ke mall dan menonton film." Jawab Rose menghampiri Ayah Nugroho.
"Segeralah tidur." Perintah Ayah Nugroho kepada Rose.
Segera Rose berpamitan kepada sang Ayah dan berjalan ke lantai dua menuju kamarnya.
Ayah Nugroho hanya menatap punggung putrinya dengan pandangan yang sulit di artikan.
...πΎπΎ...
Dave terlihat masih di bawah selimut tebalnya, semalam Dave pulang di seret oleh Ayahnya karena kelakuan Dave yang sudah membuat istrinya selalu khawatir.
Tidur pria lajang tersebut terusik karena sinar matahari begitu banyak masuk di dalam kamarnya.
Terlihat Mama Lila membuka penutup kaca itu dengan kasar, "Bangun." Ucap Lila dengan berdecak pinggang.
Dave mulai menggeliat didalam tidurnya, bukannya bangun pria tersebut malah menutupi tubuh hingga ujung kepalanya dengan selimut.
Lila segera berjalan dan membuka paksa selimut itu, "Astaga, Dave!!" Teriak Lila yang terbelalak kaget dengan penampilan Dave.
Bagaimana tidak membuat ibu anak satu itu spot jantung, karena Dave hanya menggunakan penutup bagian bawah saja.
"Ah, Mama. Kenapa masuk kedalam kamar Dave." Ucap Dave dengan suara parau khas orang tidur.
"Ya ampun, kau... cepat mandi dan sarapan. Lihat matahari sudah meninggi tetapi pria lajang ini masih terlelap tidur seperti putri salju." Omeh Lila kepada Dave.
Dengan rasa malas, Dave berjalan menuju kamar mandi tanpa rasa malunya.
Lila yang melihat tingkah anaknya hanya dapat memijat pelipisnya pelan, sungguh Dave kembali berulah seperti kehidupannya ketika di luar negeri.
__ADS_1
Sedangkan Rose sudah belajar bersama rekan-rekannya di kelas. Terlihat gadis itu sesekali melihat HP nya berharap jika Dave menghubungi sekedar memberi kabar.
π© Apa kakak baik-baik saja?
Akhirnya Rose mengalah dan menghubungi Dave terlebih dahulu. Detik, menit, jam tetapi tidak ada balasan dari Dave.
Terlihat Dave tengah di kantor bersama Rudi Ayahnya, berkat laporan dan bukti-bukti yang dia dapat dari asistennya Lin akhirnya Rudi memecat sekertaris anaknya dan di ganti dengan sekertaris laki-laki.
"Kenapa Ayah tidak pulang? Kemana juga sekertarisku yang lama," Ucap Dave menggerutu.
"Kamu disini bekerja Dave, bukan di tempat pela*curan. Apa kamu tidak malu, bagaimana jika karyawan tahu kelakuan beja*tmu dengan sekertarismu. Ayah tidak membutuhkan pemimpin sepertimu dan karyawan seperti sekertaris itu." Ucap Ayah Agung yang terlihat marah.
"Huh, Dave juga butuh hiburan Ayah. Bukan hanya melihat kertas dan angka seperti kumpulan semut hitam itu." Keluh Dave dengan menyenderkan kepalanya.
"Itu konsekuensi pekerjaan kita Dave, jika kamu hanya ingin bersenang-senang jadilah pengangguran tetapi jangan pernah meminta dan memakai fasilitas dari Ayah dan Mama." Jawab Agung dengan menatap tajam ke arah Dave.
"Ya.. ya... sudah Ayah bisa pulang. Sebentar lagi juga jam makan siang, sana pulang temani Mama." Usir Dave kepada Ayahnya.
"Tentu saja, Ayah menemani wanita yang Ayah cintai. Tidak seperti dirimu hanya tau bermain di atas ranjang." Omel Rudi kepada Dave.
Rudi segera berdiri dan berjalan keluar dari ruangan Dave, Dave mendengus kesal. Tentu saja Dave tahu perasaan cinta karena dia pernah mencintai Putri sejak kecil.
Dave mengambil HP nya, terlihat banyak pesan dan panggilan dari Rose.
Dave segera menelfon Rose.
"Bisakah kamu ke sini?" Tanya Dave to the point.
"Baiklah Kak, kebetulan aku memang akan mengantarkanmu makan siang." Jawab Rose senang.
"Hem." Dave segera mematikan sambungan telfonnya.
Rose yang mendapatkan telfon dari Dave, segera pergi dari kampus menuju mansionnya.
"Sepertinya aku harus menyewa kos, kontrakan, atau apartemen. Jika setiap jam makan siang aku pulang untuk memasak akan membutuhkan waktu lama." Ucap Rose pelan.
Sesampainya di mansion, Rose segera berlari masuk langsung menuju dapur.
"Bi, biar Rose yang memasak." Ucap Rose mengambil pisau yang tengah di gunakan memotong kentang.
"Nona kok sudah pulang? Ini baru jam sebelas loh." Tanya Bi Asih yang melihat jam dinding.
"Rose sudah lapar Bi." Jawab Rose asal.
...πΎπΎ...
__ADS_1