
Happy Reading 🌹🌹
Gabriel langsung berangkat ke kantor setelah sarapan bersama sang Ibu.
Mengingat jika Minzy tidak berhasil mengundurkan rapat pemegang saham yang sudah lama direncanakan oleh Ayah dan Ibu tirinya.
Terlihat Gabriel terdiam menatap pemandangan diluar mobil dengan berfikir keras, bagaimana caranya agar dapat mengulur waktu lebih lama untuk mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Eve dan Ketua Kim dimasa lalu.
Ponsel Briel terasa bergetar didalam saku jasnya, segera Gabriel ambil tertera nama asisten Robby disana.
"Hallo." Ucap Gabriel yang menerima panggilan tersebut.
"Briel, ketua Kim memegang hampir 30%. Jika sampai saham 10% yang tidak diketahui pemiliknya jatuh ketangan Ketua Kim maka kekuatannya jauh lebih kuat untuk melengserkam Tuan Kristoff yang memegang 60% saham diperusahaan." Robby menjelaskan keadaan kepada Gabriel yang dapat diandalkan.
"Kakak, buat Minzy datang ke kantor. Briel akan menggunakan plan B." Jawab Gabriel dengan serius.
"Baiklah, apakah kamu masih berada di mansion?" Tanya Robby.
"Baru di jalan menuju perusahaan." Jawab Briel.
"Berhati-hatilah." Ucap Robby sebeluk menutup panggilannya.
Gabriel kembali memasukkan ponsel kedalam saku jas dalamnya.
Terdengar hembusan nafas yang panjang dan kasar, sebenarnya plan B ini tidak ingin Gabriel ambil mengingat jika Minzy mengira jika dirinya adalah Daniel.
"Tuan, kita sudah sampai di perusahaan." Ucap sopir keluarga Krostoff.
Gabriel segera membuka pintu dan berdiri menatap gedung yang megah dan tinggi didepannya, dengan merapikan jasnya. Gabriel berjalan masuk dengan penuh wibawa dan pesona yang dia miliki.
Banyak karyawan yang melakukan bow kepadanya, seperti kebiasaannya sejak bekerja diperusahaan Gandratama. Gabriel tetap berjalan tanpa menoleh maupun melirik siapapun.
Terlihat ruangan yang sangat luas dan terang, begitu eksklusif karena hanya orang-orang penting yang dapat masuk diruangan itu.
Terlihat diatas podium sudah ada satu mic untuk pembicara, bahkan beberapa pemegang saham perusahaan Kristoff satu per satu mulai berdatangan.
Terlihat setiap para anggota terlihat sangat tegang ada juga yang terlihat santai atau senang.
Tibalah Gabriel diruangan sang Kakek, baru saja membuka pintu sudah terlihat Ketua Kim dan juga Kakek Kristoff beserta para asisten kepercayaan mereka.
"Selamat pagi, Paman." Sapa Gabriel sopan.
"Pagi." Jawab Ketua Kim acuh.
"Duduklah, El." Ucap Kakek Kristoff.
Gabriel menurut dan segera mendudukkan dirinya diatas sofa empuk yang ada diruangan tersebut.
Dengan menyenderkan punggungnya dan juga menaikkan satu kaki di atas kaki lainnya, Gabriel sangat santai bermain dengan ponsel miliknya.
__ADS_1
Ketua Kim yang melihatnya menjadi curiga, "Apa kamu chatiingan dengan Minzy?" Tanyanya.
"Tentu." Jawab Briel singkat.
"Apa benar kalian berpacaran?" Tanya Ketua Kim lagi.
"Pasti Anda sudah tahu." Jawab Briel acuh tanpa melihat kearah Ketua Kim.
Ketua Kim mendengus kesal karena dirinya merasa tidak dihargai oleh Gabriel.
"Aku tidak akan pernah merestui kalian." Ucap Ketua Kim.
"Terserah, Saya tidak butuh restu Anda." Jawab Gabriel semakin membuat emosi Ketua Kim mencapai ubun-ubun.
"Kau!" Seru Ketua Kim.
Ketua Kim tidak meneruskan ucapannya karena tiba-tiba seorang gadis menerobos masuk dengan nafas tidak beraturan.
"Minzy?" Ucap Ketua Kim.
Minzy tidak menggubris sang Ayah justru langsung duduk disamping Gabriel yang masih asik bermain dengan ponselnya.
Ketua Kim melebarkan kedua matanya, bagaimana bisa Minzy lebih peduli kepada pria lain daripada Ayahnya sendiri.
"Ada apa sayang?" Tanya Minzy tidak sabaran.
Gabriel menoleh kearah Minzy, terlihat peluh membasahi dahi gadis tersebut.
"Kenapa kamu lari, lihat kamu jadi berkeringat." Ucap Briel membuat seisi ruangan serasa menjatuhkan rahang mereka.
Sedangkan Minzy tersipu malu dengan menggigit bibir bawahnya.
"Sayang, jika hari ini Kakekku dan aku tidak memiliki jabatan apapun diperusahaan ini. Apakah kamu tetap berada disisiku?" Tanya Gabriel pelan.
Minzy mengangguk dengan cepat, "Tentu saja sayang, aku akan terus bersamamu disusah dan senang." Jawab Minzy dengan menggebu.
"Meskipun kamu harus menerima kebencian dari Ayahmu?" Tanya Briel lagi.
Minzy tertegun sesaat bahkan Ketua Kim merasa tidak percaya dengan pertanyaan pria yang masih merapikan anak rambut Minzy.
"Itu---"
"Jika kamu tidak sanggup tidak masalah sayang, maka kita akhiri saja hubungan saat ini juga." Potong Gabriel cepat.
Kedua mata Minzy sudah bergetar bahkan menganak sungai, "Tapi---, aku tidak bisa memilih." Jawab Minzy dengan suara bergetar.
"Hidup memang harus memilih Minzy, jika kamu memilihku maka sampai akhir kita akan bersama. Jika kamu memilih Ayahmu maka kita tidak akan pernah bersama lagi." Ucap Briel panjang dengan menatap intens kedua mata bening Minzy.
"Aku---"
__ADS_1
"Stop! Cukup Daniel, jangan racuni pikiran Minzy dengan ucapanmu." Potong Ketua Kim dengan emosi.
"Kenapa, Paman? Jika Paman ingin perusahaan ini ambil saja, jika Minzy memilih Paman juga silahkan. Yang pasti, jangan biarkan Minzy menemui Saya lagi." Jawab Gabriel dengan tersenyum miring kearah Ketua Kim.
Gabriel berdiri dari duduknya dan di ikuti oleh Minzy, terlihat wajah Minzy yang sangat ketakutan bahkan menatap Ayahnya yang menatao tajam ke arah Gabriel dengan tatapan memohon.
"El duluan Kek." Ucap Gabriel.
"Ayah!" Seru Minzy yang sudah menangis.
"Nikahi Minzy secepatnya, maka aku akan mendukungmu." Ucap Ketua Kim hingga menghentikan langkah Gabriel.
Terlihat bibir Gabriel kembali tersenyum miring dan kali ini lebih lebar.
"Jika hanya terpaksa, terimakasih." Jawab Gabriel dengan menoleh hingga hanya terlihat sebelah wajahnya saja.
"Tidak, sayang. Ayah berkata dengan serius tanpa paksaan. Benarkan Ayah?" Ucap Minzy meyakinkan Gabriel.
Ketua Kim menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Segera gelar pertungangan kaliannsecara resmi bulan ini." Ucap Ketua Kim dengan tegas.
Gabriel membalik tubuhnya hingga dapat menatap semua orang yang berada didalam ruangan Kakek Kristoff.
"Kakek setuju, El. Lagipula hubungan kalian sudah diketahui publik dinegara ini." Ucap Kakek Krostoff menimpali ucapan Ketua Kim.
Gabriel menatap Robby dengan tatapan mengisyaratkan sesuatu, sedetik kemudian menatap Minzy yang sesekali masih menitikan air mata.
"Baiklah, kita akan menggelar pertunangan secepatnya." Gabriel menyetujuinya.
Minzy tersenyum dengan lebar dan langsung berlari memeluk tubuh kekasihnya tersebut dengan perasaan yang bahagia. Bahkan terasa ruangan yang awalnya tegang berubah menjadi taman bunga.
"Tapi, rapat hari ini tidak dapat di hindari. Bagaimanapun keputusan tetap berada ditangan pemegang saham." Ucap Ketua Kim mengingatkan.
"Tentu paman." Jawab Gabriel.
Semuanya kini masuk kedalam ruangan rapat pemegang saham, terlihat Stevan dan Eve juga sudah hadir disana.
Gabriel mencari keberadaan sang Ibu namun nihil, bahkan rapat yang akan dimulai tetap wanita yang sudah melahirkannya tidak muncul hingga rapat selesai.
"Ingat, ini baru permulaan. Jika pemilik saham 10% sudah kami temukan. Maka bersiaplah menjadi gelandangan." Ucap Eve dengan tajam.
Langsung saja Eve meninggalkan ruangan rapat yang membuat hatinya emosi karena belum dapat menggulingkan Kakek Kristoff.
"Sayang, apa dia benar Mamamu?" Tanya Minzy yang terlihat takut.
"Bukan, apa kamu ingin bertemu dengan ibuku?" Ucap Briel dengan mengelus kepala Minzy.
Minzy mengangguk cepat dan terlihat wajah yang sangat bahagia, "Apakah boleh?" Tanya Minzy.
"Tentu saja boleh, lagipula kita akan bertunangan." Jawab Gabriel.
__ADS_1
...🐾🐾...